Tunas & Dompet Keluarga

Tempo 26 Februari 1972. Kejuaraan bulu tangkis kelompok umur PBSI Jaya berakhir. Ada sejumlah pemain cilik yang berbakat seperti The Liang Sin dan Mulyadi. Tapi masalah selanjutnya pada pembinaan. Soalnya: lelurangan dana.

 

BERACHIRNJA kedjuaraan bulutangkis kelompok umur PBSI Djaya, menggembirakan buat sang djuara, namun tjukup memusingkan kepala bagi kaum ibu. Betapa tidak. Anaknja jang kini meraih kemenangan, terasa kian memerlukan pembinaan – kalau orang tuanja betul-betul menginginkan putranja berbitjara digelanggang internasional, seperti Rudy, Muljadi, Minarni dan Retno Kustijah misalnja. Dan untuk pembinaan jang memerlukan biaja ini, bagi si ibu berarti harus menjisihkan sebagian dari anggaran dapur untuk pembeli bulu angsa. Karena untuk mengharapkan pembinaan dari PBSl Djaya, sementara ini suatu hal jang belum mungkin. Masalahnja “Uang”, seperti dibisikkan Tambunan, Ketua PBSI Djaya kepada Herry Komar reporter TEMPO. Satu kata jang tjukup membuat PBSI Djaya berada dipusat sorotan masjarakat. Sebab masjarakat tahu betul bagaimana Ali Sadikin mentjari duit untuk mengedjar prestasi bagi dunia olahraga. Tidak salah bila mereka menjorot PBSI Djaya, karena perkembangan olahraga bulu tangkis diibukota dirasakan makin mundur.

Hidjrah. Dengan hilangnja Mintarja Djakarta baru punja Ade Chandra. Disamping beberapa pemain putri jang kini mendjadi inti regu Uber Cup: Taty Sumirah, Regina Masli, Poppy Tumengkol, Intan dan Utami Dewi jang masing-masing hidjrah dari Udjung Pandang dan Surabaja. Setelah itu PBSI Djaya harus menunggu dalam djangka waktu tahunan, karena “djurang antara pemain senior dan junior terasa djauh sekali”, udjar Tambunan. Untuk menutupi kekurangannja ini Tambunan berkilah bahwa fasilitas jang dipunjai PBSI Djaya dibandingkan dengan Djawa Timur baru kelihatan madju beberapa tahun belakangan ini. Sebetulnja kekurangan Djakarta dibandingkan dengan Djawa Timur bukan dalam soal hall, tapi soal dedikasi. Dan mengenai ini Tambunan pun membuka suara: “Saja tidak mungkin menuntut banjak dari pengurus, karena mereka tidak digadji” Sajang Tambunan tidak tahu, bahwa pengurus PBSI Djatim djuga bekerdja dalam kondisi jang sama. Djelaslah bahwa apa jang disorot masjarakat memang suatu kenjataan.

Minggu jang lalu, di Istora Senajan kepiluan hati masjarakat ibukota mulai terobati. Dalam kedjuaraan kelompok umur benih pemain jang bisa diharapkan membela nama Djakarta, tjukup banjak. Asalkan pembinaan terhadap mereka diperhatikan. Tapi siapakah jang akan membina mereka? PBSI Djaya ataukah perkumpulan masing-masing? Tampaknja masalah pembinaan itu masih terletak pada jang disebut belakangan. Namun apa daja paduan suara dari masing-masing perkumpulan bergema sama: Uang.

Patungan. Jusuf, Ketua II PB Djanaka jang berkata, pembinaan tanpa biaja tidak mungkin akan memberikan hasil jang baik. Sementara ini untuk PB Djanaka pengurusnja saling patungan. Amplop gadji jang sudah masuk dompet istri terpaksa dikurangi lagi. Lantas kemanakah larinja bantuan Gubernur untuk pembinaan olahraga? “Mungkin menjangkut diatas, sebab uang tersebut tidak pernah turun kebawah”, udjar Jusuf. Maksud Jusuf sampai sekarang perkumpulan-perkumpulan belum pernah menjitjipi uang-nja Bang Ali Kemudian Direktur Istora Senajan itu-pun menambahkan: “Kami tidak berharap banjak dengan bantuan itu, tjukuplah bantu shuttlecock-nja sadja. Dan mereka boleh menuntut prestasi”.

Memang nasib perkumpulan-perkumpulan bulutangkis sedikit menjedihkan. Mereka bagaikan “kerbau perahan jang punja susu, tanpa punja nama”. Tidak semua orang tahu bahwa Rudy Hartono itu berasal dari PB Radjawali, Surabaja atau Regina Masli jang dilahirkan oleh “PG 16”. Masjarakat hanja mengenal ini arek Surobojo dan jang kedua orang Betawi. Sebagaimana pengundjung Istora jang terpukau oleh pemain tjilik Muljadi, 10 tahun dalam partai perorangan melawan The Liang Sin, 9 tahun tanpa mengetahui perkumpulan mana jang menemukan mereka.

The Liang Sin jang kini mendjadi anggota PB Warga, Kebon Djeruk mulai mengenal raket 4 bulan jang lalu. Dengan lapangan jang tidak memenuhi sjarat jang terletak disebuah gang di Petak Sembilan disanalah ia berkenalan dengan permainan Badminton. Jang kemudian mengantar pemain kidal itu kebabak terachir sebelum ia dipukul dalam suatu nbber-set oleh Muljadi, putra M. Jusuf dengan angka 15-6 15–17 dan 15-10. Baik The Liang Sin maupun Muljadi jang sama-sama dikelas 4 saling bertekad untuk mendjadi Rudy Hartono baru – suatu tjita-tjita jang mungkin bisa dilaksanakan asalkan pembinaan terhadap mereka dilandjutkan. Apalagi melihat The Liang Sin jang tidak dilahirkan dari kalangan petjinta bulutangkis.

Bajam. Berlainan dengan Muljadi, PB Djanaka jang sudah mendjadi djuara untuk kelompok umur beberapa kali. Tahun 1970 ia mendjadi djuara ganda Djakarta Pusat, disamping meraih partai perorangan pada kedudukan kedua. Untuk tahun 1972, Muljadi jang berpasangan dengan Aumedi, putera Hamidi wartawan. Antara kali ini menduduki tempat ketiga dengan mengalahkan pasangan A. Akbar dan A. Zaman dengan angka 15–12 dan 15–7. Sebaliknja The Liang Sin jang berpasangan dengan Lie Tek Fong dari Djakarta Barat memukul pasangan A. Budiman dan Pudjadi Djakarta Pusat dengan angka 18- 13 dan 15–6. Apa jang menarik dari kedua pemain tjilik ini adalah sikap mereka bertanding seperti sikap orang jang telah berpengalaman sadja. Misalnja untuk mengatur napas mereka saling memperbaiki tali sepatu ala Eddy Jusuf atau menghapus keringat seperti kebiasaan Tan Aik Huang.

Dan bukan hanja itu. Bakat-bakat jang muntjul di Senajan, dikelompok putera terlihat pada Remadja Putra, Taruna Putra, Dewasa Putra. Begitu djuga untuk kelompok puteri masih banjak jang memerlukan bimbingan. Bahkan untuk Dewasa Putra terdjadi suatu jang tak disangka: Amang dari Djakarta Barat jang pernah ikut dalam turnamen ABC tahun jang lalu dipetjundangi oleh Nandang dari Djakarta Pusat dengan angka 15–11 dan 15–6. Dikelompok putri ada Verra, Lena, Cynthia, Titi N dan lain-lain. Akan dibiarkankah tunas-tunas ini mati sebelum mekar? Tentu masjarakat akan berkata: djangan! Tapi, tangan-tangan pembina belum kelihatan mengulur, sementara PBSI Djaya belum siap menerima mereka. Dan bagi orang tua jang ingin melihat anaknja mendjundjung nama bangsa digelanggang bulutangkis internasional, agaknja perlu bersiap-siap untuk mengganti menu bajam dengan bulu angsa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: