Yang Terjatuh Di Kaki PBSI

Tempo 4 Maret 1972. Tiga pemain bulu tangkis Nunung, Iie Sumirat dan Amril tidak mengikuti seleksi persiapan All England PBSI juga telah mencoret mereka di pusat latihan. menurut sekjen PBSI Sumarsono, mereka tak disiplin.

 

ALL England, “Mekah”nja bulutangkis. Kesanalah perhatian diarahkan. Ketjuali Rudy Hartono sang Djuara-bertahan jang akan mempertaruhkan gelarnja, pemain-pemain terbaik dari seluruh Indonesia pun dihimpun di Senajan untuk memperebutkan djatah pengiriman PBSI.Selasa malam tanggal 22 Pebruari jang lalu, puntjak ketegangan meledak: seleksi hari kedua partai tunggal terpaksa batal. Apa gerangan jang terdjadi? Konon beberapa pemain muda seperti Nunung, Iie Sumirat dan Amril Nurman termakan oleh issue koran jang menjebabkan mereka mengambil putusan untuk tidak mengikuti seleksi selandjutnja.

Pagi hari berikutnja Stanley Gouw, Kordinator Coach PBSI menerangkan kepada TEMPO, bahwa pendjatahan 8 orang seperti jang tersiar dikoran dan TV tidak benar. “Sebab”, katanja, “Pengurus PBSI berusaha terus menambah djumlah pemain jang akan dikirim ke All England” Ketiga pemain tersebut lalu ditjoret dari daftar TC PBSI atas dasar: tidak disiplin. Benarkah demikian? Reporter Herry Komar menurunkan laporan berikut: Udara jang mendung diatas langit Senajan, ternjata tidak mendinginkan kepala 3 pemain nasional kita jang dipanggil untuk mengikuti seleksi persiapan ke All England Sebab mereka telah berketetapan hati untuk tidak melandjutkan seleksi terachir, sebelum nama-nama pemain jang akan dikirim ke London diumumkan. Soalnja? “Buat apa kita main lagi”, udjar Nunung jang menemui reporter TEMPO Selasa sore dipinggir djalan Polo Air, “toch orang jang akan dikirim sudah ditentukan”. Begitulah kedjadiannja sehingga meritjuhkan seleksi hari kedua.

Amril Nurman, Nunung dan Iie Sumirat jang pada malam pertama telah memainkan pertandingan dengan hasil: satu kali kalah dan satu kali menang. Di Selasa malam itu muntjul di Hall C bagaikan orang jang mau menanton sadja. Dengan kaki beralaskan sandal, mengenakan tjelana pandjang dan memakai batik tanpa membawa raket, mereka lalu mengambil tempat duduk diantara penonton. Sementara Iie Sumirat masih sadja berbenah-benah diwisma dan belakangan datang dengan pakaian parlente pula serta memakai baret Walawa. Itupun setelah didjemput oleh Willy Budiman dengan mobilnja.

Udara. Kemudian tiga sekawan inipun dipanggil oleh Sudirman jang didampingi oleh Stanley Gouw, Willy Budiman, Sumarsono dan Sudharto Sudiono, Ketua III KONI Pusat, dan meminta alasan mereka mengapa tidak mau melandjutkan seleksi. “Soalnja, buat apa kita buang-buang tenaga oom”, djawab Nunung dengan suaranja jang kebil, “kita ‘kan tidak akan dikirim djuga”. Dengan sengit Sudirman balik bertanja: “Dari mana kalian tahu, bahwa kalian tidak akan dikirim”, udjar Ketua PBSI itu sambil mengernjitkan alisnja. “Pokoknja kita tahu, deh”, balas. Nunung pula. Dan perdebatan berachirlah disana, karena Sudirman telah memberikan kata putus: “Kalian ini tidak disiplin”. Konon pengurus telah bersepakat pula untuk mengeluarkan tiga sekawan ini dari Training Centre.

Nunung jang setelah pertemuan itu memberikan tjerita dibalik berita. Adalah- suatu hari Sumarsono, Sekdjen PBSI berkundjung ke Polo Air. Dan berbitjara dengan Muljadi bahwa runner-up All England ini sudah pasti akan dikirim ke London. Benar atau tidaknja penangkapan Nunung namun kenjataan sedjak berita itu sampai ketelinga Muljadi, ia mulai ogah-ogahan mengikuti latihan. Dan Amril Nurman sehabis melalap Nunung dalam suatu rubber-set 15–17, 15–9 dan 15–11 dihari pertama, ketika duduk santai dipinggir lapangan memberikan tjerita lain pula kepada TEMPO . Mereka bertiga, Amril, Nunung dan Iie meminta kepada Muljadi agar bekas djuara Asia ini ikut dalam seleksi sedjak hari pertama. Tidak seperti sekarang ini jang memakai sistim segi-tiga, dimana pemenang satu dan duanja baru dihadapkan pada Muljadi. Dan apa djawab anak Rambipudji ini? “Saja ini sudah tua. Kalah atau menang toch saja akan dikirim djuga”. Dan inilah udangnja dibalik kata Sumarsono. Kalau tidak, kenapa Muljadi sampai berani bilang begitu?

Dr. Gani. Walaupun Sudirman pernah menga1akan bahwa Muljadi sekarang ini berada dalam kondisi terbaik namun sudah mendjadi rahasia umum keberhasilan Regu Indonesia dalam Turnamen ABC tahun lalu sedikit banjak berupa saham Dr. Gani – jang terpaksa mengeluarkan sertipikat resmi, agar Muljadi dalam menghadapi Tan Aik Huang dapat diganti oleh Christian. Tapi dalam hubungan dengan seleksi ke All England ini, nampaknja Pengurus terpaksa memperhitungkan kondisi Muljadi di Surabaja jang selama ini sering dirundung urusan keluarga. Selamatnja Muljadi tahun jang lalu ditambah dengan penilaian Sudirman jang konon tidak pernah datang ke-TC, bukanlah djaminan bahwa pemain tua ini tiak mungkin akan tersungkur ditangan Iie atau Nunung maupun Amril. Sebab pengalaman sadja bukan djaminan bagi seorang untuk mendjadi djuara, karena faktor usia djuga menentukan. Mungkin alasan jang diberikan Iie Sumirat inilah jang paling mendekati kebenaran bahwa kalau mau djadi pemain djanganlah tanggung-tanggung. Djika kita sudah mendapat nama, orang akan terpukau oleh nama itu. “Kalau pengurus PBSI sudah begitu, pajah deh”, tambah Iie.

Diatas semua itu, jang menarik adalah perihal Nunung, mahasiswa FE Usakti jang kini duduk ditingkat dua. Ia dipanggil masuk TC setelah beberapa hari kedjuaraan kelompok umur PBSI Djaya berlangsung. Dimana pemain jang bertubuh ketjil ini terdaftar sebagai peserta dan telah main dua kali. Kepadanja didjandjikan bahwa pengiriman pemain ke All England adalah berdasarkan hasil seleksi pertandingan. Dan itulah jang mendorongnja untu beradu nasib di Hall C. Tapi setelah kenjataan jang dialaminja, lain daripada jang diimpikannja, ia-pun menjesali dirinja berkali-kali. Disamping kehilangan kesempatan untuk mendjadi Djuara Djakarta, kuliahnja djuga berantakan selama mondok di Polo Air. Itulah jang membuat Nunung berketetapan untuk pulang kerumah, sementara perlgurus PBSI belum terpikir untuk bertindak kesana. Karena, ini disampaikan Nunung sebelum pertemuan di Hall C jang tidak menggembirakan itu.

Terpantjing. Erwin Baharuddin, Ketua I KONI Djaya jang ingin melihat kemadjuan anak-anaknja, sendja itupun datang ke Senajan. Dipintu masuk ia sudah disambut oleh Stanley jang kemudian berbisik-bisik entah apa jang dibitjarakan. Jang pasti tidak akan menjimpang dari masalah Nunung dan Amril. Begitu pertandingan malam itu berachir dipintu keluar–ia berdjumpa dengan orang jang ditjarinja. Amril dan Poppy Tumengkol sedang berbitjara dipinggir lapangan. Dan marahpun dilampiaskan kepada anak-anaknja jang telah mengambil keputusan setjara sepihak itu, tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dia. Dan wartawan-pun ikut mendjadi sasaran Ketua I KONI Djaya ini dengan alasan bahwa Nunung dan Amril terpantjing oleh berita koran. Dengan tjepat Nunung mendjawab: “Saja mendengar berita sehabis seleksi. Mana ada koran malam”. Baik Nunung, Amril maupun Iie Sumirat mengatakan hahwa mereka sampai kepada putusan terachir itu setelah mereka menimbang-nimbang dengan akal jang sehat. Dan bukan dengan emosi.

Keputusan telah diambil. Djandji telah diikrarkan bahwa mereka tidak seorangpun jang mau main lagi untuk seleksi ini. Dan hal itupun menimbulkan tanda tanja dibenak masjarakat. Siapakah sebetulnja jang mendjadi biang keladi dalam setiap keritjuhan? Karena ini bukan untuk pertama kalinja bagi PBSI. Sebelum ini masih ada “Peristiwa Djaliteng” dan kedjadian-kedjadian lain jang tidak pernah sampai ketelinga masjarakat. Sukartono, pelatih PBSI Djabar mengatakan kepada TEMPO jang menemuinja di Djalan Golf, bahwa semua itu adalah tanggung djawab Pengurus. “Djalan lain tidak ada selain pengurusnja diganti”, demikian Sukartono jang sekarang bersama Djamiat di PSSI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: