Cerita Pendek-Pendek Saja Untuk …

Tempo 25 Juni 1977. CERITA MAHMUD Jakarta, jam 05.30 pagi: Dan Mahmud, 32 tahun, melompat dari tempat tidurnya. Daerah Rawasari mulai bangun.
Ia buru-buru ke kamar mandi. Namun didapatinya bak sudah kosong. Dengan setengah mengumpat ia terpaksa meraih gagang pompa kodok. Mahmud mulai memompa air. Suaranya menderit-derit membangunkan tetangga di sebelah menyebelah. “Diamput”, seorang tetangga asal Surabaya memaki di bantalnya yang bau. Mahmud sendiri agak ogah-ogahan. Dan kini ia, 15 tahun yang Ialu datang dari Sulit air, Sumatera Barat, berfikir tentang air ledeng. Tapi tidak. Ia tak mau bermimpi. Baru saja, di minggu pertama bulan ini ia membaca di koran, bahwa dari 5,5 juta penduduk Jakarta ini baru 25 hingga 30% saja di antaranya yang sudah menikmati air bersih lewat pipa-pipa Perusahaan Air Minum (PAM) Jaya. Tiap penduduk Jakarta seharinya memerlukan 230 liter air bersih, atau 12.000 liter per detik. Padahal kemampuan PAM Jaya hingga hari ini baru sekitar 5.400 liter setiap detik. Belum ada setengahnya. Itupun belum tentu merata. Tapi di tengah kerenyit suara pompa kodok itu, di udara di atas Mahmud terbentang lamat-lamat gagasan Pemerintah DKI untuk membangun instalasi air di Pulogadung. Biayanya (pernah disebutkan Ali Sadikin) sampai berjumlah Rp 40 milyar. Untuk Mahmud? Kata Ir. Herl Prasojo, Dirut PAM Jaya: hingga tahun 2000 nanti “kebutuhan air minum di Jakarta belum juga terkejar”. Apa boleh buat Mahmud menyerah. Air bersih PAM masih jauh, air dari kincir-kincir angin yang dibangun DKI dalam rangka Proyek Husni Thamrin juga belum terdengar untuk kawasan kampungnya. Mahmud bersyukur pada pompa kodok yang sedang digenjot-genjotnya.
Dari pada air sumur atau air kali fikirnya. Seperti tetangga di sebelahnya atau paman isterinya di Kampung Melayu yang tiap hari harus mereguk air Kali Malang itu. Sukur juga bahwa tanah Jakarta “kaya air” – entah apapun rasa atau warnanya. Tapi ketika Mahmud mulai bernafas berat oleh genjotannya, pada saat itu juga sekian ratus ribu rumah tangga di Jakarta tengah bekerja, menerowong tanah untuk sumur atau pompa. Tidakkah suatu saat nanti tanah-tanah di bawah itu akan krowok? Tidakkah suatu ketika Jakarta ini, rumah-rumah dan bangunan yang molek itu, akan anjlok? Mungkin ini akan terjadi sebelum tahun 2000, atau sesudahnya. Atau besok. “Lumayan kalau peristiwa itu terjadi bersamaan waktu dengan yang bernama kiamat”, fikir Mahmud. CERITA SUMARTO Sementara bak mandi di rumah Mahmud hampir terisi penuh, di Jalan Sutan Syahrir, di wilayah yang terhormat itu, Sumarto Brotolegeno 67 tahun, mulai diganggu keringatnya.
Pensiunan residen ini, seperti dilakukannya setiap pagi, sedang beraerobik. Jalan kaki cepat. Wajahnya selalu cerah, meskipun tangannya mulai sibuk menyapu keringat di leher dengan handuk good morning. Tapi seperti biasanya pula, setiap menjelang perempatan Tjokroaminoto wajahnya mulai berkerut. Handuk tadipun mulai bertugas sebagai penutup hidung. Di sini, para penyapu jalan dari Dinas Kebersihan Kota, mulai bekerja. Debu beterbangan, hinggap di mana-mana, juga di lobang hidung bayi yang sedang tidur di kereta dorong depan bioskop Menteng itu. Juga di bulu-bulu hidung Sumarto Brotolegeno sendiri. Tentu saja dalam hati, karena ia segera teringat bahwa dia “(bekas) priyai”. Lagi lagi debu, fikirnya. Siang berdebu, malam dan pagi sesejuk ini juga berdebu. Belum lagi asap kendaraan bermotor. Untung bahwa akhir-akhir ini Jakarta sudah tampak hijau, meskipun masih jauh dari cukup untuk kota yang sekekar ini. Pohon akasia, bunga bungur dan flamboyan dan oleander mulai menyebar. Jalanjalan dan halaman rumah penduduk pun seakan mulai berlomba menghutankan diri.
Belum lagi di wilayah di mana pohon-pohon lama masih ada, meskipun Sumarto tak lagi ingat di mana ia terakhir kalinya bersua dengan pohon kenari dan pohon asam, atau melihat sarang burung manyar yang bergantungan menakjubkan. Di sini Pak Sumarto bersukur. Menurut menantunya, seorang ahli biologi, taman kota berukuran 400 x 800 m akan mampu menurunkan suhu untuk kawasannya beradius 2,5 km sampai 2,5� C. Sumarto membayangkan, jika tiap kelurahan di Jakarta mempunyai wilayah hijau seluas itu, tak mustahil suhu yang 27� C itu akan jadi di bawah 25� C. Cukup nyaman. Di pihak lain sebuah taman berukuran 300 x 400 m menurut para ahli, mampu mengurangi tumpukan debu dari 7000 partikel/liter sehingga menjadi 4000 partikel/liter. Tapi di Jakarta yang sudah sempit ini, di mana lagi akan dibangun taman-taman serupa itu? Sebab di tahun 1972 saja dari luas tanah di Jakarta yang 35.550 ha itu di antaranya sudah 25.781 ha yang telah terpakai. Berarti di atasnya telah tercogok bangunan-bangunan. Jika diperhitungkan bahwa pemakaian tanah setiap tahun di lakarta ini rata-rata 3.486 ha maka sisa dari seluruh areal tadi jauhjauh hari di tahun 1975 telah habis.
Akibatnya kemudian DKI dengan gigih menggusur sana-sini. Manakah yang lebih perlu: taman, rumah rakyat, bangunan kantor, lapangan golf? Pak Sumarto tak sempat berfikir. Keringatnya menetes. “Lagi pula saya ‘kan pensiunan”, katanya dalam hati. “Berfikir begitu untuk orang lain saja, deh”. Dan kalau pun dia berfikir, dia tahu fikirannya tak akan bisa mempengaruhi keputusan yang di atas. Zaman memang lain dengan zaman ia masih residen dulu. CERITA MINTA Minta (kita tak tahu berapa umurnya) harus buru-buru ke Kali Sentiong, beberapa puluh meter dari rumahnya. Mancing pagi? Bukan. Istilah dia: setor. Warga ibukota yang tinggal di bilangan Tangsi Penggorengan (Tanah Tinggi) ini sudah tak perlu mengeluh lagi, bahwa bersama tetangga sekitarnya, mereka belum juga mampu membuat kakus umum di lingkungan RT, bahkan kawasan RW mereka. Soalnya: akan dibangun di mana? Beberapakali rapat RT maupun RW untuk membujuk salah seorang atau beberapa orang warga agar bersedia memotong belakang atau samping rumahnya untuk kakus bersama, tak berhasil.
Soalnya lagi: siapa mau menyerahkan tanah siapa jika setiap jengkal tanah sudah tertutup oleh bangunan rumah? Untung Kali Sentiong selalu mengalir, walaupun tersendat-sendat. Bahkan ketika pihak DKI mengeruk sungai ini dan menggusur gunung sampah yang sudah bertahun-tahun membingungkan aliran airnya, toh sisa-sisa peti sabun masih tercogok di tepinya. Dalam bentuk kakus. Dengan 4 buah kaki menancap di sungai dan dua untai rantai sepeda tua sebagai penguat, warga sekitar itupun dengan nyaman memasukinya setiap hendak membuang hajat. Di situ Minta punya kebanggaan yang aneh. Partisipasi, katanya. Sebab setiap kali ia memasuki kotak kakus itu berarti ia telah menambah jumlah tinja yang terbuang di ibukota republik ini. Suatu ketika dia iseng tanya kepada kenalannya yang bekeria dalam bidang per-tinja-an di DKI: “Berapa banyak, ya anu di Jakarta setiap harinya?” Temannya – mungkin pernah dengar dari atas menjawab sambil mengunyah kue bolu: Setiap hari tak kurang dari 660.000 m3 tinja tertumpah di Jakarta ini.
Jumlah rumah itu hanya sekitar 160.000 buah saja yang mempunyai septic tank, memenuhi persyaratan maupun tidak. Adapun Minta dan para tetangganya termasuk di antara 540.000 unit rumah yang membuang tinja begitu saja: di sungai, di selokan maupun lapangan terbuka. Minta tak sanggup membayangkan bila tumpukan tinja itu menguap bersama-sama di udara ibukota ini, terhirup dengan lancarnya memasuki rongga paru-paru. Juga paru-paru asal Subang yang berada dalam tubuh Minta, buruh pabrik paku itu. CERITA WARSIDIK Di pagi hari pertengahan Juni itu mas Warsidik ke luar dari halaman stasiun Sencn sambil menjinjing dua koper. Karyawan Departemen Pertanian ini baru saja menghabiskan cuti di desa kelahirannya, Delanggu, Surakarta.
Tak begitu lama, ia sudah menghadang bis di samping Pasar Senen untuk jurusan Kebayoran dan terus ke rumahnya di Cilandak sana. Tak pula lama menunggu, 2 sampai 3 bis kota untuk jurusannya sudah ada di hadapannya. Penumpang tak begitu banyak pada bis yang dinaikinya, tapi semua tempat duduk sudah terisi. Tapi begitu kendaraan umum itu menjelang RS Cipto Mangunkusumo, penumpang berjejal. Bahkan Warsidik tak dapat melihat kedua kopernya yang ia letakkan di samping supir. Melewati satu pemberhentian bis sesudah RS itu, penumpang sudah bergayutan di bibir-bibir bis. Orang Delanggu yang semalam tak tidur di kereta-api itu mulai mandi keringat, sementara hatinya juga gelisah akan nasib kedua kopernya.
Tapi lebih celaka lagi, di perempatan dekat Gedung Wanita itu, lampu lalu-lintas mati Polisi belum tampak. Jalanpun macet. Kenderaan saling seruduk berebut jalan melintasi perempatan itu. Mas Warsidik kesal. Teringat olehnya untuk pindah bis jurusan Manggarai. Tapi iringan kenderaan jurusan itupun penuh sesak oleh penumpang. Lagi pula sama saja, jalan macet dan sama-sama merayap. Di kedua perempatan Taman Surapati dan depan Bappenas lampu lalulintas juga padam. Keadaan sama saja, semua kenderaan sama beringsut dengan beringas. Para penumpang bis memadu suara: memaki. Tapi mas Warsidik mencoba menghibur diri: siapa pula yang pantas dimaki? Ia bahkan merasa kasian pada komputer di Balaikota yang mengatur lalu-lintas itu. “Kukira komputer itu juga lebih bingung karena tak dapat merelei jalan-jalan di sini”, fikirnya. Namun lama-lama hatinya tak tahan juga. Mobil seperti tak bergerak dan suara sempritan polisi lalu-lintas belum juga terdengar mengatur jalan.
Orang Delanggu itu turut memaki tak tentu arah sambil menyapu muka danlehernya yang berkucur peluh. Ia tenggelam dalam sumpah serapah. Lebih-lebih ketika kondektur menyuruhnya agar “geser lagi sedikit”. Gila umpatnya dalam hati, geser ke mana lagi. Tapi hatinya agak lega ketika bis mulai memasuki Jalan Thamrin. Lalulintas lancar, semua kenderaan menggebu. Hanya rasa jengkelnya mengganggu lagi melihat supir bis selalu berhenti di tiap halte untuk menaikkan penumpang. Warsidik sudah tak tahu pasti di mana letak kedua kakinya berpijak. Lebih-lebih lagi, ia tak ingat kedua kopernya. Neraka bis kota ia tinggalkan begitu sampai di Blok M Kebayoran. Tapi neraka baru segera dimasukinya dalam bis Blok M – Cilandak. Itu, mulai depan pasar Blok A sampai tempat pool bis PPD semua kenderaan berjalan melata memperebutkan jalan dua jurusan yang sempit itu.
Total jenderal ketika mas Warsidik muncul di hadapan keluarganya di Cilandak, ia telah menghabiskan waktu hampir 4 jam sejak dari Senen tadi. Kopernya selamat — tapi dompetnya hilang. Uang Rp 10.000 dan surat-surat sudah tercopet. Malamnya ia bermimpi jadi supir bis, yang bersama ribuan sopir bis lain melanda sedan-sedan mewah di jalanan, terus mengejar mereka sampai ke dalam garasi-garasi mereka yang mentereng. Tiba-tiba dalam mimpi ia ketemu seseorang yang bernama Syariful Alam. Ia Humas DCI. “Begini”, ucap Syariful Alam, “di samping kita perlu menggenapkan jumlah bis kota hingga 4.000 buah, mobil pribadi diusahakan berkurang dan luas serta jalur jalan ditambah”. ltu tak mudah, jawab Warsidik. Sebab, kapan jumlah bis sebanyak itu akan tercukupi? Sekarang para pengusaha bis kota mengeluh karena usaha mereka secara ekonomis tak menguntungkan. Lalu, bagaimana orang-orang kaya Jakarta mau melemparkan mobil pribadinya untuk memilih naik bis saja? Warsidik memang pesimis – sampai ke dalam mimpi sekali pun.
Ia tidak percaya bahwa pemerintah bisa menghasilkan apa-apa dalam soal ini, selama cuma menganjurkan. Selama para pembesar atau orang kaya menumpuk mobil. Selama . . . awas subversif!, tiba-tiba terdengar suara. Warsidik terbangun. Ia ingat lagi uangnya yang hilang. CERITA ASTON Seperti halnya 80% dari penduduk Jakarta lainnya, Aston Situ lembang tinggal di bilangan kampung. Untuk mendekati 3 kantor tempatnya bekerja, sebagai supir sebuah perusahaan swasta di bilangan Kota, bersama keluarga ia mengontrak rumah di Tanah Sereal, salah sebuah kampung terpadat di ibukota ini. Tapi yang penting bagi Aston, dengan tinggal di kampung itu ia sekarang sudah dapat langsung memarkir mobil perusahaan tepat di depan rumahnya. Dulu daerah ini terkenal sebagai bagian Jakarta yang paling sering dilalap kebakaran. Kini lumayan. Menurut Aston, wajah Tanah Sereal berubah semenjak DKI melancarkan perbaikan kampung yang dikenal dengan nama Proyek Muhamad Husni Thamrin (MHT). Hingga tahun 1969, rumah saling berhimpitan malang melintang.
Kakus di rumah Memed saling timpa dengan sumur di rumah Haji Juing. Antar got dan halaman rumah sulit dibedakan. Proyek MHT yang umumnya dianggap sebagai kerja Gubernur Ali Sadikin yang paling cemerlang, telah berhasil membedah hampir seluruh perkampungan yang serba berantakan itu. Pertama sekali tentu dengan memperlebar jalan. Jika dulu lalulintas kampung hanya berbentuk gang-gang-senggol, proyek MHT membentangkan jalan : hingga 4 meter. Lalu berikutnya membuat pusatpusar air bersih, kakus umum dan got bak dan gerobak sampah sampai Puskesmas. Akibat yang kurang baik tentu ada. Rumah-rumah penduduk terpotong, bahkan ada yang habis samasekali ditelan jalan. Malahan seorang janda di bilangan Jalan Pramuka, terpaksa harus jadi babu karena rumah dan tokonya hanya tersisa 2 x 2 meter lagi dimakan jalan baru di kampung itu.
Aston tak mempedulikan itu. Ia merasa sekitarnya telah dibenahi — dan puas, sementara ini. Hanya jalan mulus di depan rumah itu selalu menyebabkan perlombaan mempercantik rumah, dengan godaan harga tanah yang semakin tinggi. “Pembenahan kampung secara planologis agaknya sudah dirampungkan oleh proyek MHT ini”, kata pak Ketua RT, mengutip kata pak Ketua RW, yang mengutip kata pak Lurah. Aston tak acuh. Ia juga tak acuh bahwa kampungkampung baru tumbuh di tepi kota. Ada yang terbangun oleh mereka yang merasa terusir dengan adanya proyek MHT, ada yang oleh tangan pendatang baru. Kerja besar untuk urusan ini tentu saja akan menyusul lagi. Sementara itu akhirnya kampung yang sudah diperbaiki toh harus disempurnakan pula. CERITA NY. RADEN FRANKY
Pada mulanya setiap pagi Nyonya Franky, penduduk bilangan ampung Melayu, selalu ragu. Apakah hari itu ia akan belanja di pasar Jatinegara, atau cukup di pasar kaki lima yang terhampar di terminal Kampung Melayu itu? Pertimbangannya adalah, sebagai isteri seorang sekretaris direktorat sebuah departemen (dan sarjana pula), rasanya kurang pantas kalau ia belanja di pasar terbuka. Apalagi yang berjualan di sini umumnya para empok yang berpakaian tak pantas. Pembelinya juga kebanyakan para pembantu rumah tangga. Sedangkan jika ke pasar Jatinegara, bukankah ia dapat membonceng mobil sang suami ketika hendak ke kantor? Ini akan kelihatan lebih cocok dengan status mereka. Tapi suatu ketika sang nyonya tahu, bahwa dengan uang Rp 500 dari pasar kaki lima di Kampung Melayu itu ia sudah sarat dengan sayur-mayur. Sementara jika ia harus ke pasar Jatinegara, ada perasaan malu pada dirinya sendiri jika hanya menghabiskan uang Rp 1.000. Lagi pula di tempat belanja yang terakhir ini ia merasa semua pengunjung pasar mengejek padanya jika hanya membeli 3 – 4 biji telor, atau menenteng cuma seekor ikan gurameh.
Sebaliknya di pasar pinggir jalan itu ia biasa membeli kemiri seharga Rp 25 atau beberapa on daging tetelan tanpa merasa canggung sedikit pun. Karena itu nyonya ini memutuskan untuk belanja sehari-hari di Kampung Melayu, beberapa ratus meter saja dari rumahnya. Namun sejak keputusan itu diambil, fikiran Ny. Rd. Franky sering diganggu pertanyaan. Bukan tentang harga-harga yang berbeda nlnyolok antara beberapa tempat di ibukota ini. Bukan pula tentang tingkat harga yang kabarnya paling tinggi di dunia. Tapi ini: buat apa membangun pasar yang bagus-bagus di Jakarta ini? Bukankah sebagian besar penduduknya masih senang belanja berbecek-becek mengenakan sandal jepit. Ia setuju ada pasar bagus, tapi jangan terlalu banyak seperti sekarang ini. Lebih-lebih selama ini terkesan, setiap pembangunan pasar baru berarti terusirnya pedagang bermodal lemah sekaligus menambah panjang deretan kaki lima. “Kau keliru, nanis”, kata suaminya, Raden Franky, suatu hari. Jakarta ini perlu diperbagus, penduduknya juga harus diajar agar menyesuaikan diri. Sebab kota ini kota dunia, alias metropolitan”.
Dan tentang kaki lima yang tak habis-habisnya malahan bertambah itu? Begini, demikian suami Nyonya Franky menjelaskan lagi. Membangun pasar di Jakarta tak mudah. Perlu areal tanah dan ini sulit apalagi tak murah. Ditambah lagi perlu modal. Jakarta perlu tanah seluas 120 ha untuk pasar ini saja, sedang yang mampu didapati Pemerinlah DKI hanya sekitar 90 ha. Terbukti kesulitamlya, kan ? Karena itu beban yang ditimpakan kepada para pedagang juga terasa berat, apa boleh buat. Hidup di Jakarta ini memang serba sulit, dik. Sang nyonya belum faham benar ketika suaminya melanjutkan pula: “Tapi jangan khawatir, nasib para pedagang kaki lima dan Pedagang-pedagang lmah lainnya selalu difikirkan. Tak lama lagi akan ada Inpres Pasar, siapa saja dapat memperoleh toko atau kios dengan sewa murah”. Lho, dari mana mas tahu semua itu? tanya si nyonya tiba-tiba. “Dari koran, karena seharian di kantor tadi kerjaku cuma membaca koran”, ucap sang suami sedikit bangga sambil mengelus-elus wasirnya. CERITA JANDA HAJI MUSA Hari Jumat berkucur hujan bulan lalu merupakan permulaan hari-hari murung bagi keluarga Haji Musa. Hari itu Haji Musa yang belum begitu tua meninggal dunia di rumah sakit umum wilayah, setelah hampir 2 minggu sakit paru-parunya kambuh dengan hebat. Bagi Nyonya Musa kesulitan pertama segera muncul, begitu almarhum dimasukkan ke kamar mayat: ongkos perawatan suaminya selama sakit. Ia belum siap menerima kematian itu. Sejak sang suami dirawat, warung di depan rumah praktis tak menghasilkan apa-apa. Bahkan jika ada, habis untuk ongkos mundar-mandir menengok sang suami. Anak-anak mereka belum ada yang mampu membantu: Sutar belum 3 bulan kawin dan masih berstatus kenek sementara truk pengangkut pasir di Cikarang. Mardi masih kursus montir radio, sedang si Ipih masih belajar di madrasah tingkat ibtidaiyah kelas 3. Apa boleh buat, sepasang gelang emas Nyonya Musa terjual Rp 45.000 pada inang-inang di kawasan Senen. Uang ini hanya tersisa Rp 3.000 lagi ketika ia menerima kwitansi perawatan almarhum di rumah sakit. Soal berikulnya, ambulans pengangkut jenazah. Setelah Mardi lobiing kiri-kanan petugas RS membisikkan: “Kebetulan ada ambulans nganggur, tapi karena supirnya sakit terpaksa memakai supir cadangan”. Dengah supir cadangan ini jenazah dapat diangkut sampai di rumah dengan tarif Rp 10.000. Baiklah. Sebab fikir Nyonya Musa, ditambah kiri-kanan toh di rumah nanti akan terkumpul juga jumlah itu. Dan benar, masih ada simpanan beberapa ribu rupiah lagi. Tapi karena supir cadangan ambulan itu masih meminta uang bensin plus uang tolong bagi pembantunya, habislah semua uang di rumah Nyonya Musa. Kematian Haji Musa masih terus dibuntuti kesulitan yang harus segera dipecahkan keluarganya. Persiapan pemakaman. Mula-mula muncul Ketua RT bersama dua orang berpakaian Hansip dari kantor kelurahan. Surat-surat tanda lapor kematian, izin penguburan, lalu permohonan menggunakan tanah pemakaman harus segera diurus. “Ongkosnya tanyakan pada kedua Hansip itu”, kata Ketua RT kepada Sutar yang baru saja muncul bersama isterinya. Ini- itu semuanya bertotal Rp 4.500. Tentu digenapkan jadi Rp 5.000,� Sutar lapor kepada ibunya. “Duilah! Apa itu sudah termasuk untuk tanah kuburan dan tetek bengek lainnya?”, tanya si nyonya. “Tentu belum”, jawab si Hansip. Hitung-hitung untuk yang terakhir ini Rp 21.000, all in, Artinya termasuk papan-papan, penggali kubur dan sewa tanah itu untuk 3 tahun pertama. Tak lama berfikir, Nyonya Musa menarik tangan anaknya yang tertua ke dalam kamar. Seuntai rantai emas di leher, sepasang giwang di leher nyonya itu dilepasnya. Yang tersisa hanya cincin kawin. Tentu ini kenang-kenangan paling berharga bagi nyonya itu dari almarhum suaminya. Sutar segera berlari ke pasar terdekat, menjualkan semua perhiasan itu. Tapi sementara itu ketika menemui beberapa orang tetangga pengelawat, nyonya Musa sempat melirik ke kedua waskom tempat meletakkan uang bela sungkawa di dekat pintu. Matanya sempat menangkap beberapa lembar ratusan dan beberapa buah uang logam di kedua tempat itu. Mudah-mudahan cukup untuk selamatan malam nanti, fikir wanita itu. Ketika Sutar menyodorkan uang Rp 32.500, pada waktu yang sama seorang pengelawat menanyakan soal kain kafan, wangi-wangian dan tukang memandikan jenazah. Semua meliputi hampir Rp 8.000. Wajah nyonya Musa tak berubah. Tapi ketika di sore hari yang basah itu jenazah sudah ditelan bumi, di BH janda haji itu hanya tersisa uang Rp 1.100. Ia tertegun di sisi kuburan suaminya, waktu seorang lakilaki berpayung mendekat. “Uang doanya, nyonya”, kata orang itu, “Berapa?”, tanya Mardi setengah tak percaya. “Bcrapa saja, karena saya mendoakan almarhum karena Allah semata-mata”. Nyonya Musa mengeluarkan lembaran Rp 500. Tapi orang itu tak mau menerimanya: “Untuk saya saja biasanya Rp 1.000, belum untuk juru kunci kuburan yangmengizinkan saya beroperasi di sini”. Seperti terharu pada dirinya sendiri, Nyonya Musa mengeluarkan semua uang yang tergulung di sela kutangnya. Ia serahkan semua. Dalam perjalanan pulang janda itu merasa tubuhnya amat ringan. api tiba-tiba ia merasa ngeri untuk mati. Ia tahu ongkos mati di Jakarta ini tak semahal itu. Namun saat-saat duka seperti ini selalu dimanfaatkan berbagai pihak. Semua dengan alasan tanah kuburan susah, bahkan “sebetulnya tempat pemakaman di sana sudah penuh tapi ada yang bisa menolong”. Memang janda haji itu faham, tempat-tempat pemakaman beberapa tahun terakhir ini banyak ditutup, digusur dan dipindahkan ke pinggiran kota. Bekas-bekas kuburan banyak yang sudah diganti dengan bangunan gedung untuk orang-orang yang masih hidup. Ia juga tahu sistim tindih yang mulai berlaku: tiap kuburan yang melewati waktu 3 tahun tak diurus akan dinyatakan hilang untuk ditempati jenazah baru. Semua ini berpangkal pada tanah yang semakin ciut di Jakarta ini. CERITA ARWAH HAJI MUSA Tentu saja jasad Haji Musa tak mau tahu kesulitan manusia hidup ketika mengurus kematiannya. Persoalan baginya hanya tinggal mempersiapkan dialog sebaik-baiknya dengan para malaikat untuk menimbang dosa dan pahalanya. Cuma di saat malam-malam yang sepi, ketika tak seorang malaikat pun mengunjunginya, arwah Haji Musa sering digoda oleh ingatannya akan problem-problem yang sedang dihadapi para tetangganya, para warga kota Jakarta di dunia itu. Di waktu malam berhujan dan air dari atas tanah merembes ke ujung jenazahnya, ia teringat akan masalah banjir yang setiap tahun merendam ibukota republik kepulauan itu. Sebagai roh, yang tak terikat oleh ruang dan waktu, ia dengan mudah melihat Jakarta dalam kilatan sejarah. Pada mulanya Jakarta memang penuh rawa dan sungai. Belahan kota sebelah utara yang lebih rendah dari permukaan laut, ditambah dengan makin rapatnya bangunan dan jalan sehingga daya serap tanah terhadapair sangat berkurang. Begitu pula, kejorokan penduduk ibukota yang seenaknya menumpuk sampah dan seterusnya: lengkaplah alasan bagi air untuk mudah menggenang di mana-mana. Arwah Haji Musa tersenyum kecut (begitulah kira-kira, sebab apa betul arwah bisa senyum?). Fikirnya, bukan saja dengan alasan ketaksanggupan biaya sehingga Ali Sadikin tak sanggup menggusur banjir ini. Tapi juga tampaknya karena niat ini semestinya sudah dilaksanakan sejak puluhan tahun lampau. Di malam-malam Jumat Kliwon yang sering dianggap angker itu, arwah Haji Musa sering melayang di udara Jakarta. Dia menghindari arwah arwah lain rupanya, entah kenapa. Dan dari atas itu ia pun menyaksikan ibukota sebuah negara yang sebagian masih gelap. Sambil mengira-ngirakan letak rumahnya, sang arwah tahu benar bahwa jika dipukul rata belum ada � kawasan Jakarta ini yang berlampu listrik. Ia sebenarnya senang, karena arwah tak begitu suka terang. Tapi kurangkah aliran listrik di sini?, tanya arwah Haji Musa kepada arwah seorang ahli listrik kemudian. “Malah berlebih”, arwah ahli itu menjawab. Si ahli itu menjelaskan lagi, bahwa rahasia kegelapan itu ada “karena PLN Pembangkit menghadapi kesulitan dalam penyalurannya”. Ketika arwah Musa melintasi Jalan Borobudur, sejenak ia tertegun di atas bubungan rumah kediaman Ali Sadikin. Beberapa hari lagi gubernur ini akan menyerahkan jabatannya. Telah berhasilkah Ali Sadikin membenahi Jakarta selama 11 tahu
n masa jabatannya? Secara ideal tentu belum. Sebab secara angka-angka, urusan sampah, kaki lima, banjir, lalulintas dan angkutan umum, air minum, pertambahan penduduk dan urbanisasi, perumahan dan segala anak cucu akibat-akibatnya masih belum Pantas benar. Lalu ia lewat di atas rumah seorang lain. Sebagai arwah ia tahu bahwa di rumah itulah tinggal orang yang akan menggantikan Ali Sadikin. Ia mengangguk-angguk. Tiba-tiba ia melihat sesosok arwah lain lewat berkelebat. “Betul, ‘kan, bapak di rumah itulah yang akan menggantikan Ali Sadikin?”, tanya arwah ini — yang rupanya arwah seorang wartawan yang dulu suka terima amplop. “Yah”, jawab arwah Haji Musa. “Tapi jangan diberitakan dulu…” (Gayanya seperti arwah pejabat). Terdengar azan. Lalu suara orang bersembahyang subuh – berjuta- juta suara orang yang menyebut nama Tuhan. Kemudian: berjuta suara yang berdoa: “Ya, Allah, balaslah jasa orang yang telah berjasa. Bimbinglah orang yang harus bekerja. Kuatkan moralnya, terangkanlah fikirannya – dan selamatkanlah Jakarta”.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: