Ghaddafi: wajah dan tangannya

Tempo 11 Juni 1977. BERPANGKAT kapten berusia 27 tahun tanpa pertumpahan darah, Muammar Ghaddafi berhasil menggulingkan Raja Idris pada tanggl 1 September 1967.
Hubungan internasional pertama yang dilakukannya setelah mengambil alih kekuasaan adalah dengan Mesir. Kepada utusan khusus Mesir. Mohamad Heikal, yang datang ke Libya pada hari terjadinya kudeta, Ghaddafi berkata: “Beritahu Presiden Nasser bahwa revolusi ini kami lancarkan untuknya. Dia boleh mengambil apa saja dari sini dan menanbahkakannya kepada bagian dunia Arab yang lain untuk digunakan dalam peperangn”. Pada hari yang sama. Ghaddafi yang sebelumnya sama sekali tidak dikenal. bahkan juga di kalangan bangsanya yang berjumlah hampir 2 juta, mendesak Mesir untuk menerima Libya dalam suatu pergabungan. Nasser yang punya pengalaman pahit dengan kegagalan Republik Persatuan Arab — penggabungan Suriah dan Mesir tentu saja tidak teramatt bergembira menerima desakan anak muda yang tiba-tiba muncul itu. Sebelum sampai memikirkan desakan Ghaddafi. Nasser bahkan masih diliputi macam-macam perasaan terhadap nasib Raja Idris berada di Turki untuk berobat ketika digulingkan – yang selalu bersikap baik dan memberi bantuan banyak kepada Mesir. (Di masa pemerintahan Sadat kemudian, Raja Idris mendapat suaka dan izin tinggal di Mesir). Dengan menggunakan kekayaan Libya 850 milyar rupiah per tahun dari hasil minyak – Ghaddafi yang diangkat jadi Kolonel setelah berhasil memimpin kudeta, merasa yakin bisa membujuk Nasser yang memang lagi mengalami kesulitan ekonomi. Bersama dengan negara-negara Emirat teluk Parsi dan Arab Saudi, Ghaddafi kemudian menjadi penyumbang tetap perekonomian Mesir. Nasser bukannya menolak gagasan persatuan. Cuma saja cara radikal macam yang diinginkan oleh Ghaddafi dianggap tidak praktis oleh Nasser. Kendati demikian persiapan ke arah suatu penggabungan dipersiapkan juga dengan cara yang amat moderat. Di tahun 1970 dalam suatu kerja sama Libya, Sudan, Suriah dan Mesir, penjajagan dalam kerja sama di berbagai bidang kebudayaan dan pendidikan telah dirintis sebagai langkah permulaan ke arah persatuan yang sempurna. Gerak lambat ini jelas tidak memuaskan darah muda Ghaddafi. Nasser yang amat disegani oleh Ghaddafi selalu bisa menenteramkan semangat meluap-luap anak muda ini. Tapi kematian Nasser secara mendadak di tahun 1970 kemudian ternyata mengubah perjalanan sejarah di Timur Tengah. Anwar Sadat yang menggantikan Nasser adalah tokoh yang memang tidak terlalu disegani oleh Ghaddafi. Tapi masalah terbesar yang membawa kedua tokoh ini ke dalam perpecahan yang menyeluruh dan pahit adalah kebijaksanaan baru Sadat yang dinilai oleh Ghaddafi sebagai suatu “politik anti Nasser”. Sadat yang ingin menunjukkan identitasnya sendiri menempuh cara yang tidak selalu sama, bahkan banyak bertentangan dengan almarhum orang yang digantikannya. Sebagai misal, orang-orang yang dipenjarakan oleh Nasser, dilepaskan oleh Sadat orang yang dicintai oleh Nasser seperti Mohamad Heikal, digeser oleh Sadat dari kepemimpinan harian Al-Ahram, dan menggantikannya dengan Hasan Amin, orang yang dulu disingkirkan oleh Nasser. Hubungan Mesir dengan Amerika Serikat yang diputuskan oleh Nasser, dipulihkan oleh Sadat hubungan istimewa Moskow-Kairo diobrak-abrik oleh Sadat. Meski tidah bisa mengharap terlalu banyak kepada Sadat, Ghaddafi toh tidak langsung patah arang. Barangkali tanda kekecewaan itu bisa dilihat pada peranan internasionalnya yang makin lama makin menonjol, hal yang sukar dibayangkan bisa terjadi jika saja Nasser masih hidup. Mula-mula Ghaddafi membereskan urusan dalam negeri yang ditinggalkan oleh rezim Raja Idris. Nasionalisai perusahaan minyak, pengosongan dan pengambil-alihan pangkalan-pangkalan asing dari tangan Inggeris dan Amerika Islamisasi hukum dan kebiasaan sehari-hari yang kadang-kadang dinilai terlalu ketat oleh hanyak peninjau. Dan sembari masih tetap tinggal di tangsi militer Azizia. Ghaddafi toh menyibukkan diri melakukan pembangunan perumahan dan prasarana bagi rakyatnya yang jumlahnya memang tak banyah. Segala kegiatan dalam negeri ini tidak jarang dikontrol sendiri oleh Ghaddafi yang sering melakukan perjalanan dalam penyamaran yang mengingatkan banyak orang pada gaya Sultan Harun Al Rasyid di Bagdad dulu. Ghaddafi yang menurut Mohamad Heikal. Mencoba menyatukan pengaruh Nabi Muhammad dan Presiden Nasser pada dirinya, bertindak sebagai pemimpin yang fanatik Islam di dalam negeri, dan sebagai nasionalis Arab ke luar negeri. Namanya yang menjadi penghias halaman depan koran-koran di berbagai penjuru dunia barangkali harus dinilai bahwa memang tidak mudah menyatukan sifat dua tokoh penting itu dalam diri seorang anak muda. Tentang tindakan-tindakan keras Ghaddafi di dalam negerinya memang tidak terlalu banyak dipersoalkan dunia internasional, tapi tindakannya ke luar menarik perhatian luar biasa. Setelah kecewa dengan langkah lambat penyatuan dengan Mesir, Ghaddafi yang amat dirasuki oleh semangat Nasser mulai menoleh ke arah Tunisia. Presiden Tunisia yang tua, sakit-sakitan dan amat berorientasi ke Barat, labib Bourguiba, adalah orang yang terlalu hati-hati untuk jatuh ke kancah pengaruh Ghaddafi. Tapi tidak urung, seorang menteri Tunisia akhirnya korban juga oleh pengaruh Ghaddafi. Menteri yang terpengaruh oleh gagasan bersatu dengan Libya itu akhirnya dipecat oleh Bourguiba. Gagal dengan Tunisia, Ghaddafi tibatiba menengok ke arah Laut Tengah. Malta di awal tahun tujuh puluhan bertekad membebaskan diri dari pangkalan-pangkalan militer Inggeris. Ini berarti hilangnya sejumlah besar uang yangbiasa disetorkan London ke Don Mintov, penguasa pulau itu. Ini kesempatan baik, pikir Ghaddafi. Sebuah pesawat khusus dikirim ke Malta untuk menjemput Mintov. Pembesar itu kemudian pulang dari Tripoli dengan sejumlah uang. Dengan pulau ini Ghaddafi juga gagal mencapai persatuan, tapi usahanya tidak sia-sia Paling sedikit Malta telah dinetralkan oleh uang minyak dari Libya. Sekali memasuki gelanggang politik dunia, Ghaddafi tidak tanggung-tanggung. Pada bulan Pebruari 1972, Presiden Idi Amin, yang gagal mendapat bantuan tambahan dari Israel yang sejak lama membantunya, mampir di Tripoli. Menceritakan kegagalannya mendapatkan bantuan $ 10 juta dari Tel Aviv, Ghaddafi memberinya $ 6 juta. Tentu saja dengan syarat. Kemudian semua orang tahu syarat itu ketika dari Entebbe, beberapa waktu kemudian, Idi Amin memutuskan hubungan dengan Israel. Ketika kemudian pasukan Israel menghancurkan pesawat-pesawat terbang Uganda dalam penyerangan ke Entebbe untuk membebaskan sandera Yahudi yang dibajak dalam penerbangan Air France dari Athena di tahun 1975, Ghaddafi dengan cepat menggantinya dengan pesawat-pesawat tempur Mirage buatan Perancis. Hal ini tentu saja memarahkan Perancis karena melanggar persetujuan yang menyebut bahwa pesawat itu tidak boleh diberikan kepada pihak ke tiga. Tapi ini bukan pelanggaran pertama yang dilakukan oleh Libya. Ketika pecah perang ‘Yom Kipur’ pada bulan Ramadhan Oktober 1973, pesawat-pesawat yang sama juga dipergunakan oleh Mesir untuk menggempur Israel. Di Afrika, Ghaddafi tidak cuma membantu Uganda. Sejumlah negara di benua hitam itu juga menerima uang dari Tripoli. Akibat operasi Ghaddafi bisa terlihat dengan jelas pada putusnya hubungan antara Israel dengan sejumlah besar negara Afrika. Secara terus terang Ghaddafi menjelaskan kepada wartawan Newsweek bulan September yang silam. “Kalau kami bisa mengirim senjata ke pasukan-pasukan pembebasan di Afrika bagian Selatan, kami tentu akan melakukannya. Jika secara geografis kami berdekatan dengan negara rasialis Afrika Selatan, secara terbuka kami akan memeranginya”. Meski tidak berdekatan secara geografis dengan Irlandia, misalnya, orang toh tahu bahwa Ghaddafi memberikan bantuan kepada perjuangan Irlandia Utara. Demikian pula dengan pergolakan penduduk Islam di Pilipina Selatan dan Muangthai Selatan. Jauh sebelum Ghaddafi mengutuk pemerintahan Marcos pada konperensi Menlu-Menlu Islam di Benghazi bulan Maret 1973, bantuan keuangan dan senjata ke Pilipina Selatan dari Tripoli telah mengalir. Tokoh yang disebut sebagai perantara waktu itu adalah Tun Mustapha, Menteri Besar Sabah. Hingga saat ini para pemimpin Mindanao dengan aman mendapatkan perlindungan di Libya. Bahkan perundingan antara pihak pemberontak dan pemerintah Manila berlangsung di bawah pengawasan Ghad
dafi sebagai ketuanya. Dalam konperensi Menlu-Menlu Islam yang berlangsung di Tripoli bulan silam, Ghaddafi menyesalkan gagalnya perundingan kedua pihak yang bersengketa. Sebuah sumber dalam konperensi itu menyebut bahwa berkat kerja keras delegasi Malaysia dan Indonesialah maka konperensi tidak sampai mengutuk pemerintahan Marcos. Ini menunjukkan betapa besarnya peranan Libya dalam urusan Pilipina Selatan itu. Kunjungan Imelda Mlarcos ke Tripoli tempo hari tidak bisa lain kecuali ikut menunjukkan besarnya peranan anak muda itu di kawasan selatan Pilipina. Agak kurang menyolok adalah keterlibatan Ghaddafi di Muangthai Selatan Di kawasan bergolak yang tadinya milik Sultan-Sultan Melayu itu, pergolakan memang tidak seseru di Pilipina Selatan. Baik karena kontrol tentara pemerintah maupun karena tingkat pengorganisasian diri dari kalangan pemberontak yang masih tidak teratur, semuanya menempatkan Ghaddafi dalam posisi yang masih sulit campur tangan sebagai yang dilakukannya di Pilipina Selatan. Masih dalam solidaritas Islam internasional, Ghaddafi terang-terangan memberikan bantuan kepada pemberontak Muslim Eriteria. Kepada para peserta Menlu-Menlu Islam di Tripoli bulan silam, Ghaddafi mengungkapkan, adalah Libya yang mempersenjatai Front Pembebasan Eriteria, “memperkuatnya dan mendorongnya berjuang dalam masa pemerintahan Kaisar Haille Selassie”. Alasan menyokong FPE masa itu: “Menggelorakan revolusi total di Ethiopia yang dengan demikian menghancurkan feodalisme, agen-agen yang dibiayai negara-negara asing dan lembaga-lembaga yang menindas rakyat Ethiopia yang merupakan pusat-pusat Zionisme, kolonialisme dan spionase. Kaisar itu menyatakan dirinya turunan Hebrew dan mempunyai ikatan dengan Zionisme”. Pakistan yang juga Islam tidak luput pula dari bantuan Ghaddafi. Bantuan itu menjadi amat besar artinya setelah kawasan timur Pakistan memisahkan diri dalam bentuk negara Bangladesh. Dahulu banyak sekali pemasukan yang diterima Pakistan dari kawasan timur itu, sehingga pembentukan Bangladesh merupakan pukulan besar bagi keuangan Islamabad. Begitu besar terimakasih Presiden Zulfikar Ali Bhutto kepada Libya hingga sebuah stadion di Pakistan diberi nama stadion Muammer Al Ghaddafi. Akan halnya bantuan terhadap gerilyawan Palestina, sudah tentu tidak akan mengherankan lagi. “Kami mempersenjatai orang-orang Palestina. Kami menganggap ini perbuatan yang adil dan kami menganggap hal itu sebagai tanggungjawab suci kami”, kata Ghaddafi pada suatu kesempatan. Tapi melllbantu orang-orang Palestina bagi Ghaddafi tidak cuma dalam hal perjuangan ke arah pembebasan wilayah yang diduduki oleh Israel. Gerakan-gerakan internasional – pembajakan dan penyanderaan – yang dilakukan oleh orang-orang Palestina itu juga mendapat dukungan langsung maupun tidak langsung dari Lybia. Berkali-kali terjadi pembajakan yang dilakukan gerilyawan Palestina berakhir di Benghazi atau Tripoli. Juga orang-orang Palestina yang dibebaskan dari tahanan berbagai negara di Eropa – kasus Abu Daud yang dibebaskan oleh pemerintah Perancis tahun silam – selalu diterbangkan ke Libya, diterima dengan baik di sana kemudian tidak terdengar lagi beritanya. Tapi yang merepotkan adalah jika sasaran dari kegiatan Palestina itu adalah pihak Arab sendiri. Meskipun disangkal oleh Libya, tapi negara-negara Arab bersangkutan selalu mengaku punya bukti terhadap keterlibatan Libya dalam aksi-aksi Palestina di berbagai tempat. Yordania tidak bisa melepaskan Ghaddafi dari ikut bertanggungjawab dalam peristiwa pembunuhan Perdana Menteri Wasfi Tal di Kairo pada tahun 1971. Namun yang paling gawat adalah tuduhan Presiden Sudan Numeiry atas keterlibatan Ghaddafi dalam operasi orang-orang Palestina terhadap Kedutaan Besar Arab Saudi di Karthoum, ibukota Sudan beberapa tahun silam. Penyerangan itu mengakibatkan tewasnya sejumlah diplomat, antara lain Dubes Amerika, yang kebetulan hadir pada pesta di gedung tersebut. Sejak kejadian itu, hubungan Sudan-Libya memburuk. Beberapa bulan silam, suatu percobaan kudeta yang gagal di Karthoum juga dihubung-hubungkan dengan Ghaddafi. HUBUNGAN buruk Libya-Sudan tidak terpisahkan dengan hubungan yang sama antara Mesir dengan Libya. Ghaddafi yang terus juga mendesak dilakukannya penggabungan Mesir-Libya lama kelamaan mendongkolkan juga Anwar Sadat yang enggan melakukan gagasan yang didesak-desakkan pemimpin muda dari Libya itu. Bosan menanti prosedur yang berbelit-belit. pada bulan September I973, Ghaddafi mengorganisir long march sejumlah 40 ribu orang Libya ke Mesir. Dengan pengerahan massa ini Ghaddafi berharap bisa melunakkan Sadat. Tapi Presiden Mesir yang waktu itu bersiap-siap menggempur Israel tidak terlalu acuh akan ulah Ghaddafi. Tentu saja Ghaddafi juga dongkol. Begitu dongkolnya sehingga ketika pecah perang Mesir-Israel Oktober 1973, Libya tidak ambil bagian. Sehabis perang, ketika Sadat menenma Menlu Henry Kissinger sebagai penengah, Ghaddafi makin marah. Terang-terangan ia menuduh Sadat sudah menjual diri kepada imperialisme Amerika. Terjadi ketegangan antara Libya-Mesir. Puncak ketegangan itu adalah pada 18 April 1974. Pada hari itu sejumlall orang bersenjata melakukan penyerbuan ke Akademi Teknik Militer Mesir di Kairo. Melukai 11 orang dan menewaskan 27 orang, para penyerbu tersebut kemudian mengaku sebagai agen Libya yang dikirim untuk membunuh Presiden Sadat yang hari itu diperkirakan akan datang ke tempat yang diserbu tersebut. Sehari setelah penyerbuan, untuk pertama kalinya surat kabar Al Ahram menyerang Ghaddafi secara terang-terangan dan kasar. Pemimpin redaksi Al Ahram, Hasan Amin, orang yang menggantikan Heikal, menulis: “Ghaddafi adalah orang gila dan penjahat”. Dan arang yang lapuk itu pun akhirnya patah sama sekali. Hilangnya harapan Ghaddafi untuk menyaksikan negerinya bergabung dengan Mesir bukan saja menimbulkan kebencian yang amat sangat pada dirinya terhadap Anwar Sadat, tapi sekaligus juga memberi lebih banyak kesempatan baginya untuk memainkan peranan internasional. Di bulan September tahun silam, Ghaddafi sudah tidak bicara lagi mengenai persatuan negara-negara Arab melawan Israel, tapi sembari berbicara tentang revolusi massa di seluruh dunia, ia juga mengakui dirinya sebagai ‘revolusioner internasional’. Masih tetap seorang Islam yang keras, kini ia telah melakukan hubungan yang amat mesra dengan Moskow. Hubungan buruk Uni Soviet dengan Mesir dimanfaatkan dengan baik oleh Ghaddafi. Begitu takutnya Sadat pada “kegilaan” Ghaddafi yang akhir-akhir ini mendapat bantuan Soviet, sampai-sampai sejumlah pasukan Mesir awal tahun ini ditarik dari front Sinai dan ditempatkan di perbatasan Libya-Mesir. Kini wajah revolusioner Ghaddafi itulah yang membayang di mana-mana. Juga di Indonesia. Memang belum pernah ditemukan bukti yang kongkrit. Tapi ketika surat kabar Singapura, The Straits Times, pada 13 Mei lalu mengutip Menlu Adam Malik sebagai menyebut adanya “golongan ekstrim Islam di Indonesia yang dicurigai mendapat bantuan asing”, orang pun tiba-tiba teringat pada Ghaddafi. Menjelang pemilu yang lalu, Menteri Penerangan Mashuri bahkan telah menyebut adanya pengakuan dari sementara orang yang ditangkap, yang mengharapkan adanya kapal selam asing yang mendrop senjata kepada Komando Jihad di Jawa Tengah. Pada saat itu orang pun lantas teringat pada Ghaddafi. Adanya tuduhan tentang Komando Jihad yang mula-mula muncul menjelang pemilu tahun 1971 dan memuncak menjelang pemilu 1977 yang lalu, secara samar-samar telah dikaitkan oleh sementara orang di Jakarta pada revolusionerisrne Ghaddafi. Tapi kendati penangkapan sudah dilakukan terhadap sejumlah orang yang dicurigai – pemeriksaan yang mendalam kabarnya juga telah dilakukan – hingga kini toh masih belum jelas juga duduk perkara Komando Jihad itu. Dan jika demikian halnya soal terlibat tidaknya Ghaddafi dalam urusan dalam negeri Indonesia, tentu saja masih amat sulit diketahui.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: