Hobi Buas. Jangan Panik Ya ! (Citarum Rally 1977)

Tempo 11 Juni 1977. 7 APRIL 1975, Citarum tiba-tiba menjadi buas. Gelombang besar sungai yang penuh legenda itu segera menerkam satu-satu dari ke 29 perahu karet peserta Citarum Rally I yang baru lepas dari garis start.
Beberapa perahu jenis Mark 10 yang berawak enam orang itu terlempar. Bahkan ada yang terbalik dan rnengurung penumpangnya di dalam. Dan hari itu tercatat lima peserta dari empat team yang berlomba telah gugur. Lomba arus deras yang baru pertama kalinya itu dilaksanakan ternyata telah minta bayaran mahal. Wanadri sebuah perkumpulan penempuh rimba dan pendaki gunung sebagai penyelenggara tentu saja tidak menduga akan terjadi musibah itu. Sekalipun sebenarnya dalam latinan dan tes yang dilakukan kepada peserta sebelumnya, sudah jatuh dua orang korban. Beberapa pengamat menyebutkan belum sempurnanya panitia penyelenggara (misalnya, lemahnya regu penyelamat), turut membantu jatuhnya korban-korban itu. Namun harus diakui juga kondisi alam dengan debit air yang mencapai 615 m3 perdetik (merupakan debit iair yaulg tertinggi tahun itu) akibat hujan yang turun terus menerus malam sebelumnya, memang dianggap di luar kekuasaan manusia. Lantas, bagaimanakah persiapan Citarum Rally II yang akan berlangsung 18 – 20 Juni ini ?
Medan Berbahaya
Iwan Bungsu, Ketua Panitia, menyebutkan adanya tiga faktor yang dapat menentukan apakah perlombaan itu bisa sukses atau tidak, faktor peserta, penyelenggara dan faktdr alam. Peserta akan diseleksi secara ketat. Selain hanya ABKI, Wanadri dan peserta umum yang telah memperoleh pendidikan penyusuran sungai yang boleh turut, mereka pun diwajibkan mengikuti tes fisik dan tes mental. Tes fisik misalnya berenang sepanjang 200 M dan menyelam selama satu menit. “Peserta umum dibatasi”, ucap Iwan. Karena itu kalau dulu peserta yang ikut hampir 30 tearn (dari 70 regu yang mendaftar), sekarang akan dibatasi sampai 20 team saja 1 tim terdiri dari 3 orang.
Sementara itu Wanadri sendiri sudah berkali-kali mengadakan survei sungai dan survei darat. Maka selain cara-cara penyelamatan mendapat perhatian khusus, juga medan sungai yang akan digunakan untuk perlombaan hanya terdiri dari dua etape. Karena seperti penyelenggaraan dua tahun lalu, tahun sekarang pun etape a tidak akan dipakai. “Medannya buas dan regu penyelamat di daerah itu pasti tak bisa berfungsi”, ujar Iwan memberi alasan. Namun walaupun etape III (Warungjeruk sampai finish di Jatiluhur jarak 30 Km dengan waktu tempuh sekitar sembilan jam) praktis aman dan hanya merupakan adu otot untuk mendayung saja, etape I (dari jembatan Rajamandala sampai Bayabang, jarak 23 Km dengan waktu tempuh sekitar tiga jam) masih tetap terbuka terhadap kemungkinan kecelakaan.
Ada 10 tempat berbahaya di etape ini, yang kalau dijumlah panjangnya sekitar hampir enam kilometer. Misalnya Leuwiteurep sepanjang 200 M, Leuwi Ririwa sepanjang 750 M, Leuwi Jurig sepanjang 200 M, serta setelah Muara Cibodas, sebelum Babaka Garut dan Parung Cigenteng yang rata-rata memiliki daerah berbahaya sepanjang lebih dari satu kilometer. Lima korban yang jatuh ketika Citarum Rally I dulu, terjadi belum setengah jam dari garis start. Mereka dibanting gelombang antara Leuwi Teurep dan Leuwi Lengkep justru di bagian yang hanya memiliki daerah berbahaya sekitar 250 M saja.
Debit Air Sedang Nampaknya untuk memperkecil kemungkinan kecelakaan tadi, penyelenggaraannya pun dipilih minggu ketiga bulan Juni ini. Karena berdasarkan data hidrometri yang dipeleh dari Direktorat Penyelidikan Masalah Air, Departemen PUTL, dapat disimpulkan debit air sedang sekitar akhir Mei sampai Juni. Artinya debit air Citarum tidak terlalu tinggi seperti pada bulan Januari s/d Mei dan September s/d Desember, serta tidak terlalu kering (rendah) seperti pada sekitar Juli dan Agustus. Namun Citarum bukan sungai yang ulahnya bisa diramal. Sekali pun musim kemarau, bila turun hujan sekali saja, tinggi muka air dalam waktu hanya enam jam bisa naik sampai dua meter. Karena itu perlombaan hanya akan dilangsungkan bila tinggi muka air tidak lebih dari dua meter (idealnya tinggi muka air antara 1,7 sampai 2 M, sedangkan ketika berlangsung Citarum Rally I, tinggi muka air 5,54 M).
Dalam penyelenggaraan yang sekarangpun, seperti juga penyelenggaraan yang dulu, pihak panitia bukan tidak yakin terhadap regu-regu penyelamat yang disediakan. Tapi menurut Iwan, pada setiap kecelakaan yang terjadi, penyelamatan yang terbaik adalah penyelamatan oleh diri sendiri dan oleh regunya. Panik, misalnya berusaha melawan arus atau pusaran air, hanya akan mempercepat kematian. Barangkali percobaan yang dilakukan oleh pasukan Baret Merah di muara Citanduy, Cilacap, patut diperhatikan. Seekor anjing yang dilempar ke pusaran air, karena meronta-ronta, langsung terhisap ke dalam. Tapi ketika sebuah batang pisang yang tak bergerak, ketika terbawa putaran, akhirnya keluar sendiri.
Si perwira itu mencoba sendiri dan terjun menuju pusaran air. Tanpa bergerak dan tersedot ke dalam pusaran, hanya dalam tiga kali putaran saja tubuhnya kemudian terlempar lagi ke atas. Selamat. Begitupun bila terbawa arus deras. Panik hanya akan menghabiskan tenaga. “Biarkan saja tubuh terbawa, sambil berpikir untuk mencoba melakukan penyelamatan”, ujar Iwan.
Lima korban pada penyelenggaraan yang pertama dulu, dua karena kesalahan sendiri (mengikat tubuhnya ke perahu dengan cara yang salah, dan panitia tidak teliti mengontrol kesalahan ini) tiga diduga karena kurang siap mental dan panik. Bakal ada korban Iagi tahun ini? “Kami tidak mengharapkan”, ujar Iwan. Olahraga ini memang baru dikenal di sini, namun penuh risiko. Tapi kadang-kadang terasa aneh. Buat apa mereka masih malu melakukannya?
Arsip Majalah Tempo Online

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: