Akhir Lakon Bardosono

Tempo 20 Agustus 1977. NAMA Bardosono akan tak banyak disebut-sebut lagi. Akhir pekan lalu, ia tak lagi jadi Ketua Umum PSSI. Lakonnya yang kontroversiil berakhir.
Ia naik ke kursi Ketua Umum PSSI dengan cara yang dipaksakan: proses pemilihannya dipercepat sehari sebelum jadwal. Alasan pimpinan sidang, Kosasih Purwanegara SH: agenda musyawarah yang menyangkut organisasi telah selesai. Agar peserta kongres bisa istirahat esoknya, kata Kosasih, kenapa pemilihan formatur, orang yang sekaligus akan memegang tampuk pimpinan organisasi, tidak dilakukan waktu itu saja? Forum memang tidak menampik permainan yang telah diatur rapi tersebut-kecuali wakil Irian Jaya. Dan terpilihlah Brigjen Bardosono secara aklamasi menggantikan pendahulunya, Kosasih Purwanegara SH. Itu terjadi dalam Kongres PSSI di Yogya, akhir Desember 1974, yang banyak dikecam itu. Tapi perjalanan karir kepemimpinannya di PSSI ternyata tidak licin. Tak sampai setahun, ia ditinggalkan oleh trio Sutjipto Danukusumo-Kamaruddin Panggabean-Hans Pandelaki — kelompok yang tadinya mendukung Bardosono. Dalam kepengurusan PSSI, mereka masing-masing menjabat Ketua Bidang Organisasi, Ketua Bidang Kompetisi, dan Sekretaris Umum. Dalih pengunduran trio SPP itu: tidak bisa lagi bekerjasama dengan Bardosono. Memandang Angker Bardosono Turun trio SPP, naik Dono Indarto, Muhono SH, dan Yumarsono. Tapi perubahan wajah kepengurusan tersebut tidak memberi arti banyak bagi organisasi. Bardosono yang mendapat pengukuhan sebagai mandataris kongres lewat musyawarah PSSI di Medan, awal 1975 kian tak terkendali. Setiap ketidak-sesuaian pendapat mengenai kebijaksanaan organisasi dilikwidirnya dengan senjata mandataris. Sehingga para pendampingnya hampir tak punya arti sama sekali. Di mata umum, Bardosono pun segera kehilangan pamor. Karena guyon-guyonnya yang tak terduga. Misalnya, ketika PSSI Garuda tersisih dalam turnamen Merdeka Games di Kuala Lumpur, pertengahan 1975 dengan kekalahan menyolok, ia menyebut hal itu sebagai strategi PSSI dalam menhadapi kejuaraan Pra Piala Dunia di Singapura, Pebruari lalu. “Kalah 100-0 pun tak apaapa. Biar lawan salah duga dengan kekuatan kita di Singapura nanti,” demikian salah satu contoh jawaban Bardosono. Strategi Bardosono itu ternyata tidak ditopang dasar yang kuat. PSSI kalah total di Singapura. Mereka hanya berhasil mengelakkan diri dari kedudukan juru kunci. Urutan juara adalah Hongkong, Singapura, Malaysia, Indonesia, dan Thailand. Lepas peristiwa di Singapura itu, kewibawaan Bardosono sebagai Ketua Umum kembali diuji oleh gejolak organisasi. Dono Indarto, Sumantri, Ketua Bidang Administrasi, dan Yumarsono turun pentas mengikuti jejak trio SPP. Alasan pengunduran diri mereka pun tak jauh berbeda. Intinya, masih soal kerjasama dengan Bardosono. Melihat gelagat buruk yang melanda PSSI itu, KONI yang selama ini berpegang pada prinsip ‘tidak mencampuri urusan rumah tangga induk organisasi’ akhirnya tak berdiam diri. Tepat pada Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 1977 lalu sikap KONI terhadap PSSI lalu dituangkan dalam dua alternatlf. Pertama, adakan kongres luar biasa. Kedua, Ketua Umum PSSI diminta mengundurkan diri. Batas waktu pun diberikan 15 Juni 1977. Alternatif KONI itu dijawab Bardosono, 4 hari kemudian dengan melimpahkan wewenang pimpinan harian kepada Muhono SH, Ketua Bidang Kompetisi. Tapi pelimpahan jabatan itu sama sekali tidak meredakan tuntutan bond untuk mengadakan kongres luar biasa. Dalam rapat paripurna PSSI akhir Juli lalu desakan itu kembali menggema. Cuma tidak begitu gemuruh. Yang bersuara keras hanya wakil dari Jakarta, Sumatera Utara, dan Irian Jaya. Akan daerah lain tampak enggan untuk bersuara lantang. Mungkin juga lantaran mereka masih memandang angker Bardosono – sebagian besar perserta mendapat pengarahan dari Ketua Umum PSSI tersebut sebelum sidang dimulai. Pertemuan yang berlangsung selama 2 malam itu hanya melahirkan Komisi 7 yang diketuai oleh Abdurrahman Setyowibowo dari Jakarta. Kelompok inilah yang kemudian menetapkan diada kannya kongres luar biasa di Semarang, tanggal 13 s|d 14 Agustus lalu. Persoalan lain segera timbul setelah ketetapan itu. Masalahnya adalah sekitar kehadiran Bardosono dalam kongres luar biasa. Ketua Komwil Khusus Jakarta, Erwin Baharudin berpendapat Ketua Umum PSSI sebaiknya tidak usah hadir di sana. Ia kuatir kehadiran Bardosono akan mempengaruhi jalannya sidang. Tapi kecemasan Erwin itu segera lenyap ketika 3 hari menjelang kongres, Presiden memberhentikan Bardosono sebagai Sekretaris Pengendalian Operasionil Pembangunan dengan hormat. Ia dikembalikan ke Hankam. Ali Tanpa Kran Meski Bardosono tidak lagi berkantor di Bina Graha, tapi di Semarang ia tetap berusaha jadi ‘lakon’. Ia hadir di sana untuk membacakan surat pengunduran dirinya dan laporan pertanggunganjawab. Tapi oleh sidang ia hanya diberi kesempatan ‘minta diri’. Ia tampak agak kurusan. Namun humornya tak berkurang. Sesungguhnya ia dapat mempercepat dan memperlancar sidang dengan menyampaikan pengunduran dirinya pagi-pagi. Tapi kepada Lukman Setiawan dari TEMPO yangmenemuinya di Hotel Metro, Semarang ia mengatakan (dengan guyon, tentunya): “Kalau yang gampang bisa dibikin susah, kenapa tak dibikin susah,” ujar Bardosono yang memilih tanggal 13 Agustus sebagai akhir kepemimpinannya di PSSI. Maksudnya: persoalan PSSI ini sebetulnya begitu mudah diselesaikan, hanya saja orang membikinnya jadi sulit. Agaknya dasar itulah yang membuat dirinya melakukan ‘pembalasan.’ Pembukaan kongres luar biasa diadakan di gedung Pancasila tanggal 12 malam. Setelah Bardosono minta diri, segala sesuatunya selesai, sudah Sekalipun pembicaraan mengenai hutang PSSI sebesar 79 juta rupiah sempat menyita tempo perdebatan yang lama. Masalah itu pula yang diminta kejelasan oleh Ali Sadikin sebelum menerima jabatan formatur dan sekaligus menjadi Ketua Umum PSSI untuk periode 1977-1981. Setelah pimpinan sidang Joko Sutopo, Ketua Persebaya menjelaskan segala sesuatu itu menjadi tanggungjawab pengurus lama, barulah Ali Sadikin lega. Ketika menerima kepercayaan tersebut, Ali Sadikin, seperti biasanya, tak mau meluncurkan janji-janji muluk kepada pemilih. Ia hanya mengatakan bahwa langkah pertama yang akan diambilnya adalah melakukan perbaikan dan penegakan disiplin organisasi serta menciptakan iklim kerja keras. “Saya cuma berjanji akan jadi Ketua Umum yang baik seperti juga dulu sebagai Gubernur,” kata Ali Sadikin kepada Lukman Setiawan. Akan sumber dana, ia menjelaskan bahwa dirinya tak bisa menjanjikan kran-kran tertentu. Bardosono dulu mengatakan, dia punya 7 kran donatur. Sambil tertawa, Ali berucap: “Krannya sudah pindah ke Mang Ihin.” Orang yang disebut Ali Sadikin itu adalah Solihin Cautama Purwanegara, bekas Gubernur Jawa Barat yang menggantikan kedudukan Bardosono sebagai Sekdalobang. Ali Sadikin juga tak lupa dititipi pesan oleh Ketua Umum yang lama – pesan disampaikan kepada TEMPO oleh Bardosono sebelum tahu siapa yang akan jadi penggantinya. Pesan itu berbunyi: Pimpinan PSSI yang akan datang harus memberikan prioritas pendidikan dan latihan kepada pemain, pelatih, dan wasit di pusat maupun daerah untuk menjamin kelansungan hidup dan meningkatkan mutu persepak-bolaan dengan tujuan membentuk tim yang kuat dan tangguh. Bardosono menekankan masalah itu, karena “inilah yang belum selesai saya kerjakan,” katanya. Ia juga menekankan agar pimpinan PSSI yang baru dapat memberikan perhatian dan waktu semaksimal mungkin. Sehingga kesulitan dapat diatasi pada waktunya. Dan, “inilah kelemahan saya selama memimpin PSSI, lantaran kesibukan saya,” tambah Bardosono. Menarik nafas sebentar, ia lalu menutup pembicaraan dengan kalimat: “Ingat PSSI masih hutang pada saya 44 juta. Karena itu atas jaminan saya.” Hal penting yang lahir dari kongres luar biasa PSSI adalah soal perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PSSI. Antara lain, adalah soal penggunaan istilah mandataris – klausul yang memberi wewenang besar pada Bardosono. Juga diterimanya 2 anggota baru: bond Jakarta Selatan-Barat (Selbar) dan Jakarta Timur-Utara (Timut).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: