Piala uber perlu iklim segar

Tempo 13 Agustus 1977. SUPERMASI bulutangkis puteri Indonesia tak ayal kini sedang terancam. Bayang-bayang menakutkan itu tercermin dari prestasi yang muncul dalam PON IX, pekan lampau.
Meski turnamen menampilkan pemain muda usia seperti Ivana, Wong Mei Fong, maupun Tiwuk Lestari, tapi mereka kesandung dalam pertarungan yang tak imbang dengan pemain puncak Verawaty, Tati Sumirah. Sri Wiyanti Imelda, Utami Dewi, maupun pasangan ganda Theresia Widyastuti dan Regina Masli. Kecuali Verawaty. Sri Wiyanti serta minus Minarni, kelima nama lainnya adalah pemain inti yang memboyong lambang supremasi bulutangkis wanita, Piala Uber dalam percaturan beregu dunia di Istora, Senayan, Juni 1975 silam. Harapan Ikut Melorot Dua tahun lalu maupun sekarang, pergeseran prestasi di kalangan kaum hawa tersebut memang tak berobah banyak. Selain penampilan Verwaty, juara nasional perorangan 1976 yang tetap mempertahankan ketrampilannya dalam PON IX sebagai peraih medali emas. Juara PON VIII tahun 1973 dipegang oleh Tati Sumirah. Tapi yang merisaukan kini adalall pemain andalan tersebut memperlihatkan grafik kebolehan yang menurun. Misalnya, Verawaty. Sejak menjadi runner-up dalam invitasi bulutangkis Asia di Bangkok, Maret 1976, ia hampir tak memperlihatkan lagi kcjutan serupa di peringkat kejuaraan internasional. Dalam turnamen All England 1977, ia hanya mampu mencapai ronde ketiga. Ia kalah atas Paula Kilvington, pemain Inggeris yang tak begitu terkenal dalam rnaraton set: 11-0, 9-11, dan 6-11. Juga Tati Sumirah dan pasangan Theresia Widyastuti/Regina Masli mengalami nasib serupa di sana. Bertolak dari kemerosotan mutu pcrmainan itu, harapan yang tersisa bagi tim puteri Indonesia untuk mempertahankan Piala Uber, Juni 1978 tampak ikut melorot. Mengingat pemain yang bakal turun ke Selandia BarLI, tempat pertandingan Piala Uber tak akan berkisar dari materi di atas. Dengan pemain tersebut. peluang bagi Indonesia dalam menglladapi regu Inggeris maupun Jepang – kedua tim ini diramalkan sebagai calon penantang dan punya kans yang besar untuk menjadi juara – tak lebih dari 30 banding 70. Minarni Masih Bisa Peluang yang tipis itu masih bisa dikatrol menjadi 50-50. Persyaratannya, beberapa nama yang mungkin terpilih tersebut susunannya dirobah secara drastis. Untuk pasangan ganda. Widyastuti harus diceraikan dari Regina Masli, dan kemudian dijodohkan kembali dengan Imelda Wiguna. Karena dua nama yang disebut pertama, tak lagi memperlihatkan ketrampilan yang tangguh. Regina yang gemuk tampak sudah kehilangan sentuhan maupun kecepatan dalam membaca permainan lawan. Ia kelihatan sudah merasa mapan sebagai pemain ganda terkuat di Indonesia untuk saat ini. Sehingga variasi pemlainannya menjadi tumpul. Widyastuti pun tak lebih dari itu. Tapi Widyastuti masih mempunyai potensi sebagai pengatur serangan. Penempatan bolanya masih baik seperti dulu. Permainannya akan lebih hidup, jika ia dikembalikan berpasangan dengan lmelda. Sebab secara perorangan, Imelda mempunyai kelebihan dalam segala hal dibandingkan Regina. Baik dalam strokes maupun smash yang mematikan. Hubungan pribadi keduanya pun cukup intim. Akan pasangan lain dalam pertandingan Piala Uber, pasangan ganda meraih 4 angka kemenangan — calonnya adalah Verawaty dengan Sri Wiyanti atau Minarni. Bekas ratu bulutangkis Indonesia yang disebut terakhir ini masih bisa diharapkan, asalkan ia mau mengorbankan waktu lebih banyak untuk latihan. Bukankah Etsuko Toganoo ataupun Hiru Yuki, bintang All England 1977 seangkatan dengan Minarni? Sekiranya Minarni, 33 tahun, sanggup memulihkan kondisinya sebaik penampilan dalam turnamen Piala Uber, 1975 mutu ketrampilannya bermain ganda dengan Verawaty cukup meyakinkan untuk meraih angka. Variasi pemlainannya masih bisa diandalkan sebagai pengatur serangan, sementara Verawaty berperan menjadi tukang smash setiap pengembalian lawan. Akan pasangan bayangan Verawaty/Sri Wiyanti sebetulnya juga potensi yang meyakinkan. Hanya saja, Sri Wiyanti kurang pengalaman dibandingkan Minarni. Tapi jelas akan lebih baik, jika Verawaty dikawinkan dengan Tati Sumirah seperti yang dicoba PBSI Jaya dalam PON IX. Pasangan Verawaty/Tati Sumirah meraih medali perak PON IX setelall dikalahkan oleh Widyastuti/Regina Masli. Tapi medali perak PON IX itu bukanlah ukuran kemampuan pasangan untuk diterjunkan ke kejuaraan internasional. Kelemahan gandawati Jakarta ini terletak pada Tati Sumirah. Ia adalah tipikal pemain tunggal yang sulit menjalin kerjasama pasangan. En Bloc Untuk pemain tunggal, pilihannya pun tak banyak. Orangnya adalah Verawaty, Sri Wiyanti, Widyastuti dan cadangan tempat bagi Ivana. Tiga nama pertama telah teruji kemampuannya. Karena mereka sering kalah-menang dalam perbedaan angka yang kecil. Dan punya pengalaman internasional yang banyak. Cuma Ivana yang agak kurang sedikit. Tapi ia adalah bintang yang sedang menanjak dan berbakat. Tapi nama-nama bayangan itu tidak akan ada artinya, bila suasana mandul di kalangan Pengurus Besar PBSI tak terobati. Penggemar maupun pemain-pemain top PBSI di belakang pengurus sedang melancarkan kampanye agar pengurus lama memberi kesempatan pada generasi yang lebih muda untuk memegang kembali PBSI. Tapi nampaknya ini sulit tercapai. Karena dalam Kongres PBSI yang berlangsung di Pandaan Jawa Timur tanggal 10 dan 11 Agustus, pengurus lama en bloc akan mempertahankan diri …. sampai tua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: