Ratu Adil Akan Diadili (Kasus SAWITO )

Tempo 30 Juli 1977 R. SAWITO Kartowibowo, 46, orang yang dituduh mau ‘menggulingkan Kepala Negara’ dengan ‘gerakan Sawito’, menjelang bulan Puasa awal Agustus nanti akan diajukan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
Diamankan bulan September 1976, ia sudah 10 bulan ditahan di RTM. Berkas perkaranya yang setebal 10 sentimeter bersampul kuning, minggu lalu diserahkan oleh Kejaksaan Tinggi Jakarta kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Ia dituduh melakukan tindak pidana subversi (primer), merencanakan makar menggulingkan Kepala Negara (subsider), menyerang nama baik Kepala Negara (lebih subsider), menyiarkan kabar bohong (lebih subsider lagi). Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, HM Soemadijono SH sendiri akan tampil sebagai hakim ketua didampingi dua hakim anggota: John Z. Loudoe SH dan Anton Abdurrachman Putera SH. Sedang P Mappigou SH dan Julius Dahlan SH (keduanya dari Kejaksaan Agung) bertindak sebagai jaksa penuntut umum dan jaksa pengganti. Meskipun ada tujuh saksi yang akan diajukan, tapi tokoh-tokoh seperti Hatta, Hamka, Kardinal Darmoyuwono TB Simatupang dan RS Sukanto – yang dulu menandatangani ‘Dokumen Sawito’ – menurut Jaksa Agung Ali Said tidak akan diajukan sebagai saksi. Berdasarkan pengakuan terdakwa, keterangan saksi-saksi dan bukti-bukti yang terkumpul, menurut keterangan Jaksa Agung depan DPR ‘7 Juni lalu. ‘gerakan Sawito’ terbagi atas empat tahap. Tahap spirituil, politik praktis pengenalan ide dan pematangan. Tahun 1972, kata Ali Said Sawito sudah menginjak tahap politik praktis. “Ia menyarankan Merah Putih dipasang vertikal dan lambang Garuda dirubah sedikit, kepalanya mengarah ke depan,” kata Jaksa Agung. Konon, mendengar itu, Bung Hatta diam saja – yang oleh Sawito ditafsirkan sebagai tanda setuju. Setelah itu, kata Jaksa Agung, Sawito lantas menghubungi Mayjen (Purn) Ishak Djuarsa di jalan raya Bogor-Jakarta. “Dan pada tahap pematangan, bulan Juli 1976, Sawito mengadakan pertemuan di villa Bung Hatta, Megamendung,” ujar Ali Said. Dalam pemeriksaan sementara, Sawito juga menceritakan bagaimana ia mendapat ‘wangsit’ yang memerintahkannya melakukan lelono-broto (perjalanan bertapa) ke beberapa gunung antara lain Gunung Muria di Jawa Tengah sebelah utara. Van Gennep Dan Ratu Adil Tak lama kemudian datang Albert van Gennep, seorang warganegara Belanda yang pernah lama tinggal di Indonesia. Katanya, ia juga mendapat ‘wangsit’ untuk ‘melantik’ seorang Ratu Adil yang tinggal di Bogor. Dan Ratu Adil itu: Sawito. “Ini menyedihkan, bahwa Ratu Adil dilantik oleh . . . ,” Ali Said tak melanjutkan kata-katanya. Sang Ratu Adil kini memerlukan pembela untuk tampil di meja hijau. Selasa 1 Juli lalu, nyonya Nuning Nugrahaningsih Sawito, isterinya, minta agar Mr. Yap Thiam Hien, advokat kawakan itu, bersedia menjadi pembela suaminya secara gratis. “Surat kuasanya baru ditandatangani Jum’at 22 Juli oleh suami-isteri itu. Dan sehari kemudian saya minta ijin Pengadilan untuk bertemu dengan terdakwa,” kata Yap ketika ditemui oleh Widi Yarmanto dari TEMPO di Speed Building, kantornya. Yap akan tampil gratis. “Advokat itu kan seperti dokter Kalau pasien tak mampu, apa dipaksa harus tanya. Semula terbetik berita sibuan SH – pimpinan majalah yang tahun 1965 pernah menawarkan diri menjadi Menteri Penurunan Harga itu — yang akan membela Sawito. “Pak Hadeli memang ada menawarkan diri kepada saya. Yang jelas saya sudah menghubungi Peradin dan LBH untuk membantu,” kata Yap lagi. Jauh sebelumnya, kabarnya nyonya Sawito malah pernah pula menghubungi Buyung Nasulion dari LBH. Tapi sampai minggu lalu Yap sendiri yang mengaku sebagai “advokat kolot dan tua” belum bisa menyebut siapa-siapa yang bakal mendampinginya. Selain perkara Sawito, dipersiapkan pula berkas empat orang lainnya – seorang di antaranya ABRI — yang dituduh terlibat ‘gerakan Sawito’. Mereka itu: Mr. Sudjono, 73, bekas Dubes di Jepang, Brazil dan Swedia tahun 50-an Mr. Iskaq Tjokrohadikusumo, bekas Menteri Keuangan tahun 50-an drs. Singgih BBA, yang semasa muda menculik Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok. Yang seorang, Mayjen (Purn) Ishak Djuarsa, bekas Panglima Siliwangi dan Dubes di Kamboja, karena perkaranya bukan wewenang Mahkamah Agung,ditangani oleh Mahkamah Militer.
13 Agustus 1977

Sawito: perjanjian dengan siluman

RADEN Sawito Kartowibowo, 45 tahun, tertuduh dalam perkara gerakan Sawito” yang terkenal itu, bergaji Rp 5.000 sebulan. Itu menurut keluarganya, yang tinggal di tempat kediamannya di Jl. Tampomas, Bogor. Sawito pegawai golongan III-C Departemen Pertanian yang sekarang sudah dibebastugaskan. Juga isterinya, Nuning Nugrahaningsih, 34 tahun, sudah diberhentikan dari tempatnya mengajar di Perguruan Kolik Regina Pacis, Bogor. Wanita ini sekarang lebih sering tinggal di tempat keluarga di Tebet Barat atau Mampang Prapatan, Jakarta. Di Rumah Tahanan Militer, menunggu persidangan yang rencananya dimulai pertengahan Agustus ini, Sawito tampak agak kurusan. Sudah beberapa bulan ia dipindah dari ruang tahanan VIP ke ruang biasa. “Tapi ketika masih di VIP dulu toh kasur, selimut, harus bawa sendiri,” kata seorang pemuda keluarga Nuning, yang minggu lalu ditemui TEMPO di Bogor. Apakah Sawito tetap merasa dirinya sebagai Ratu Adil? Ya. Ia merasa berhak atas warisan tahta kerajaan Majapahit. Bahkan merasa ditugasi “membuka jalan baru bagi Nusantara” – juga seluruh jagad raya. Ia telah “dinobatkan” sebagai Ratu Adil setelah sebelumnya melakukan lelono broto ke beberapa gunung dan tempat-tempat keramat di Pulau Jawa menemui “penguasa Kahyangan” dan arwah raja-raja Majapahit. Dan setelah itu juga “bertamu ke Situ Panjalu istana Prabu Banjaransari alias Sang Hyang Prabu Cakradewa, raja Galuh pertama yang konon cucu Prabu Jayabaya dari Kediri di abad XII. Bagi orang luar, kisah seperti itu memang musykil. Apalagi upacara “penobatan sebagai Ratu Adil” di rumah Mr. Sudjono, 73 (bekas Dubes di Swedia) di Ciawi, 12 km dari Bogor. Upacara pertama hari Minggu pagi 10 September 1972. Yang kedua Sabtu malam 16 September 1972. Maka inilah hanya serangkaian cerita, yang memang boleh membawa anda ke alam “lain”. Upacara itu seolah reuni raja-raja Jawa yang akan menyerahkan mahkota dan tahta kerajaan Majapahit kepada Sawito, yang dipercaya sebagai salah seorang keturunan mereka. Ada R.M. Trisirah almarhum, mertua Sawito (66 tahun) sebagai Raden Wijaya alias Prabu Brawijaya I – raja Majapahit pertama sedang isterinya sebagai permaisuri. Ada pula Albert van Gennep (76), orang Belanda, sebagai Brawijaya II dan isterinya, Francien (51) sebagai Tribuwana Tungga Dewi yang kemudian naik tahta sebagai Brawijaya III. Adapun Brawijaya IV adalah Prof Suyono Hadinoto bekas dubes di Argentina. Tapi juga hadir “arwah” Amangkurat – salah seorang dari raja Mataram II yang dianggap menitis pada diri R. Said Sukanto, bekas Kapolri. Lalu siapa Brawijaya V, raja terakhir Majapahit? Tak lain Sudjono sendiri, tuan rumah. Itu seml disetujui mereka sendiri. Prof. Suyono misalnya mengaku: puluhan tahun yang lalu ia menerima “berita gaib” di Yogya bahwa Erlangga, tapi sekaligus juga Hayam Wuruk alias Brawijaya IV, menitis dalam tubuhnya. Sedang Sudjono selama tiga malam bermimpi dinobatkan sebagai Brawijaya V di Mojowarno, ibukota Majapahit. Ia merasa dirinya titisan Wikramawardhana (1389-1429). Untuk meyakinkan dirinya ia membuka-buka buku sejarah. Tapi malah Sawito dan isterinya yang meyakinkannya Maka tenteramlah ia. Beberapa jam sesudah “penobatan” ia bertambah yakin pula, ketika mendapat “wangsit” bahwa yang menjadi raja adalah tiisan Raden Bondan Kejawen alias Lembu Peteng, anak Brawijaya V. Tahulah ia kemudian, mengapa dalam penobatan itu ia begitu terharu: karena yang dinob atkan adalah anaknya sendiri, walaupun “anak spirituil”, yakni Sawito. Adapun van Gennep, yang lahir 1901 di Yogya, sejak kecil konon mampu melihat yang gaib-gaib. Ia seperguruan dengan Sukanto, pimpinan Orhiba, dalam perkumpulan kebatinan Divine Life Society di Jakarta. Ia pernah mendapat “wangsit” bahwa dalam salah satu inkarnasi di masa lampau ia menjadi Brawijaya II. Tapi di zaman Orla, “sang Prabu” sempat ditahan di Glodog dan Gang Tengah selama sembilan bulan. Untung ia percaya penahanan itu merupakan berulangnya karma. Katanya, dulu kemenakan Brawijaya II yang bernama Tanca pernah gagal merebut kekuasaan dengan mencoba membunuh sang Prabu. Ia dicincang oleh Gajah Mada. Yng menarik: van Gennep percaya bahwa Tanca kemudian menitis ke dalam tubuh Presiden Soekarno. Tapi menurut versi Sawito, Tanca memang telah membunuh Brawijaya II, karena isterinya yang cantik dianggu oleh sang Prabu. Agak ruwet? Itulah cerita Sudjono sendiri. Ia menulis naskah setebal 166 folio berjudul Mission Impossible – mengisahkan lakon Sawito sejak pertama kali menerima “Wangsit” sampai dinobatkan sebagai “Ratu Adil”. Catatan Sudjono amat menarik. Bahasanya lugu tapi lengkap, tidak kalah dengan hasil kerja seorang reporter yang pandai berkisah. Misalnya cerita tentang “penobatan” hari pertama, yang juga berarti “penerimaan duta Yang Maha Kuasa”. Dan sang duta adalah van Gennep, yang dianggap menjadi sah statusnya lantaran ia memiliki “tanda bukti yang meyakinkan”. Apa? Sebilah keris kecil, sepanjang 15 Cm, yang ditemukan van Gennep di Jalan Jawa Jakarta tahun 1960. Anehnya, meski diceritakan keduanya belum saling kenal, tapi begiu berhadapan, van Gennep dan Sawito saling berpelukan. Sawito yang kemudian percaya bahwa van Gennep adalah “alat Illahi”, menyatakan kedatangan sang duta telah diterimanya. “God chata aim, God chata aim. Ma God chata ma aim,” ucapnya, diulang oleh van Gennep. Sudjono menulis: “Setelah van Gennep melakukan beberapa macam sembah, ia mendekati tempat berdiri Sawito. setapak demi setapak sambil menatap satu sama lain dengan pancaran mata yang tajam. Ketika berhadapan dengan jarak selangkah di depan Sawito, van Gennep meletakkan tangan kanannya di atas pundak kiri Sawito. sedangkan tangan kiri membuat isyarat-isyarat di sekitar kepala Sawito yan dibalas oleh Sawito dengan memukulkan tangannya beberapa kali ke atas pundak van Gennep. Dan akhirnya dengan tangannya yang bebas masing-masing ditempelkan ke hati masing-masing.” Kemudian Sawito mulai bersabda, tulis Sudjono, sementara van Gennep tunduk menghamba. “Saya serahkan segala-galanya, raga, jiwa dan roh kepada Guruji,” kata van Gennep kepada Sawito. Guruji adalah Guru Jagad alias Bathara Guru. Sayangnya, Jolono, tokoh siluman yang dalam cerita lama menyimpan mahkota Kerajaan Majapahit, tidak muncul waktu itu. Menurut Sawito, itu barangkali lantaran R.M. Trisirah sebagai Brawijaya I tidak hadir. Dan R.M. Trisirah yang dipercaya menyimpan kotak mahkota, ketika itu memang masih di Sala. Lalu disepakati untuk bertemu lagi minggu berikutnya, Sabtu malam 16 September 1972. Sudjono melukiskan pertemuan itu: Ratu Add dan Prameswari berdampingan duduk di kursi paling depan menghadap pintu masuk, dengan punggung menutupi TV. Di sebelah kanan berderet menurut urutan keprabonan masing-masing, Brawijaya I sampai V. Kali ini pertemuan diadakan di halaman belakang, di bawah pohon cemara. Tanpa lampu. Ke-11 orang itu “mempersatukan tenaga” dengan saling berpegangan tangan. Tak lama kemudian, mereka (kecuali Nyonya Sudjono) konon melihat kehadiran itu Jolono. “Kepalanya kira-kira tiga kali sebesar manusia biasa, tetapi mukanya tidak menyeramkan, bahkan dapat diterka adanya senyum simpul di bibirnya. Saya taksir kepalanya berada lebih lima meter di atas tanah, tetapi kakinya tidak nampak,” tulis Sudjono. Tentang kotak kuno yang disimpan Trisirah, menurut Sudjono ternyata hanya berisi beberapa helai kertas dengan tulisan yang tak terbaca, dan beberapa benda kecil yang tak memberi petunjuk apa pun. Meski begitu, mereka percaya Jolono muncul justru lantaran kotak itu. Dan dengan begitu Sawito, yang rnulai saat itu bertambah gelar dengan Hyang Manu. sekali lagi bersabda. Apa yang diucapkannya yang berhasil direkam Sudjono – tampaknya ak banyak menyimpang dari yang juga difikirkan anggota-anggota grup kebatinan itu. Yaitu perlunya membuka lembaran sejarah baru di Indonesia, yang menurut mereka keadaannya kini kurang melnuaskan. Bahkan mereka juga merasa akan diberitahu oleh arwah rajaraja Jawa: di mana harta karun Kerajaan terpendam. Itu niscaya bisa melunasi hutang-hutang negara sekarang . . . Namun yang agaknya mengkhawatirkan ketika mereka berdiskusi tentan “bendera kerajaan Nusantara”. Jum’at Wage 22 September 1972, mereka bertemu di bungalo milik Mr. Iskaq Tjokrohadisurjo, bekas Me
nteri Keuangan di Cikopo. Bagi van Gennep, warna merah adalah lambang materi, putih lambang spirit. Jadi warna merah seharusnya diikatkan pada tiang, tidak horisontal seperti sekarang melainkan vertikal. Sebaliknya Sawito. Baginya merah lambang keberanian, putih kebenaran dan keadilan. Jadi warna putihlah yang mestinya diikatkan pada tiang. Belum ada keputusan. Untunglah Sabtu pagi jam 4 dinihari, Sudjono bermimpi mendapat wangsit. Ia menulis: ” . . . saya melihat bendera kita dalam bentuk yang sekarang ini berkibar dengan megah di angkasa . . . Kemudian saya tekuk tiangnya dari titik pangkal bendera di bawah putihnya, sehingga merupakan sudut siku 90 derajat tanpa memutuskan tiangnya. Dan selesailah proses perubahan bendera kita. Ternyata yang menempel pada tiang adalah warna putih dan yang melambai-lambai dengan megah dan tampak dari jauh adalah warna merah.” Tapi kalau anda percaya kebatinan, harap hati-hati masuk pekarangan rumah Sawito. Sudjono mencatat, bahwa 21 September 1972 jam 2.30 dini, Sawito kedatangan barisan pengawal pribadi bernama Nogo Surogo Mahpati, yang siap berjaga-jaga. “Kepada saya Sawito memperlihatkan sketsa yang telah dibuatnya dari wajah sang senopati: gagah perkasa, tampan, berkumis tipis pendek, berewok tipis dan berjenggot sedikit. Tidak menakutkan tetapi cukup berwibawa,” tulis Sudjono. Catatan Sudjono memang terperinci sebab ia juga ikut dalam rombongan Sawito mengadakan perjalanan dari gunung ke gunung sejak Mei hingga Desember 1972. Dialah pula yang membiayai seluruh “ekspedisi” itu. Bahkan sempat memotret beberapa peristiwa. Cerita dimulai ketika Sawito memperlihatkan buah karyanya berupa dandanggulo dan sinom (bentuk-bentuk puisi Jawa) kepada Sudjono. Meskipun karangan Sawito kurang bermutu, nyatanya Sudjono terpikat. Barangkali lantaran di situ Sawito menceritakan pengalamannya mendapat “wangsit”. Bahkan Sudjono seakan menyamakan karangan Sawito dengan karya Ronggowarsito. Yang jelas, Sawito memang menuliskan pengalamannya di situ. Tanggal 14 April 1972 ia mendapat “wangsit” diperintahkan mencabut tumbal yang ribuan tahun lalu ditanamkan oleh Ajisaka alias Syeh Subakir di Gunung Tidar, Magelang. Untuk tugas itu ia harus membawa keris pusaka Damar Murub dan kendi pratolo yang berparuh empat. Ternyata kemudian kedua benda itu – konon tanpa setahunya – sudah lama disimpan oleh Trisirah di Sala. Nah, di Tidar itu Sawito merasa bertemu dengan Syeh Subakir itu. “Pada saat itu Subakir memperlihatkan wajahnya yang tampaknya mirip U Nu, bekas Perdana Menteri Birma,” kata Sawito sebagaimana dikutip Sudjono. Maka perjanjian antara Subakir dengan Semar (konon penjaga kamtibmas di seluruh Nusantara) sejak itu batal, lantaran kedudukan Semar sudah digantikan Sawito. Di situ Sawito memerintahkan segenap siluman untuk melaksanakan tugas keamanan dan kestabilan di Nusantara. “Perjanjian dengan Subakir ialah supaya Nusantara itu dapat menjadi makmur dan adil. Ternyata setelah ribuan tahun berlalu, kemakmuran ada tetapi keadilan tidak ada,” ujar Sawito. Tapi ketika Semar menampakkan diri, wajahnya seperti orang Indonesia . . . Sesudah itu Sawito dan rombongan menuju Borobudur. Tapi hanya Sawito seorang yang naik ke candi, dari arah timur. Ia merasa diperintah untuk menatap wajah sang Budha yang menurut perasaannya sedang tersenyum kepadanya. Perjalanan dilanjutkan ke Pemancingan, sebelah selatan Sungai Opak, sebelah utara Prangtritis, Yogya. Di sana mereka “bertemu” dengan Kiageng Arisboyo, pelarian Majapahit ketika Islam mulai masuk Jawa. Rombongan peziarah itu percaya bahwa sejak itu Arisboyo bertugas sebagai Kepala Pusat Inter Komunikasi Seluruh Dunia Halus di Nusantara. “Badannya kekar, langsing, pandangannya tajam. Pakaiannya serba hitam seperti warok Ponorogo, berkumis besar dan tampak berwibawa,” tulis Sudjono. Setelah itu mereka ke Mesjid Demak. Di sana Sawito bersembahyang lohor membelakangi tiang yang dipercayai sebagai dibuat oleh Sunan Kalijaga. Kemudian sembahyang sunnah dua kali di tempat imam, yang konon tempat Syeh Siti Jenar dikuburkan. Ketika mereka ke makam Sunan Kalijogo di Kadilangu, tak seorang diizinkan masuk oleh juru kuncinya – meskipun Trisirah menyebut bahwa Sawito salah seorang keturunan wali terkenal itu. Perjalanan berikutnya ke Rahtawu Kudus, di lereng Gunung Muria. Penduduk Rahtawu ternyata beragama Budha, pantang mempergelarkan wayang kulit – mereka percaya bahwa tokoh-tokoh pewayangan adalah nenek-moyang mereka. Mereka merasa keturunan langsung Pendawa Lima. Di sana rombongan ingin “bertemu” dengan 3 tokoh pewayangan: Palasara, Sakri dan Abiyasa. Di puncak Gunung Rahtawu (1.522 meter) mereka bersemedi mengelilingi sepokok pohon beringin tua. Duduk bersila berdempetan. “Sambil membakar dupa dan masing-masing membasahi dahi, hidung, kedua telinga luar dalam, kedua telapak tangan dan tenggorokan dengan minyak wangi, kami mengheningkan cipta dengan maksud menghubungi roh-roh parahyangan yang bersemayam di sana.” Sawito “menagih janji”: sekarang juga Indonesia supaya menjadi negara yang tata-tentrem karta raharja – sambil menancapkan keris Pulang Geni dan sehelai surat yang disebut Jamus Kalimasada, yang konon ditemukan Trisirah 30 tahun lalu di Rahtawu pula Ketika itulah, menurut Sawito. ia mendengar jawaban: “Ananda, kamu akan memegang pucuk pimpinan negara yang adil.” Mereka kemudian ke Gunung Saptorenggo, sebelah timur laut Rahtawu. Dalam perjalanan Sawito “menerima wangsit.” Buru-buru ia mencatat. Isinya? Susunan kabinet: kepala negara, wakil kepala negara dan lima pembantu kepala negara . . . Di puncak gunung, jam 17.10, Sudjono menemukan benda kecil berwarna kuning tua, yang ternyata “gambar muka seorang tua dengan senyuman lebar yang menyegarkan hati.” Jam 3.30, dalam sebuah upacara semadi, terjadi keajaiban. Sudjono menulis: “Dari antara kedua batang pohon itulah turun berturut-turut tiga cahaya menyelorot lari angkasa dengan sudut kira-kira 60 derajat langsung menuju ke arah Sawito.” Esok paginya, di bawah tempat Sawito semalam duduk, mereka menemukan sekeping batu tipis 6,5 x 4,5 x 1 Cm. “Setelah dicuci tampak dengan jelas profil Sawito pada balik sebelah dan di balik lainnya jelas tergores wajah Yesus Kristus dengan hidung mancung yang lurus dan jenggot panjang yang lebat,” tulis Sudjono. Sementara itu di sana Trisirah juga berhasil mendapat sebatang kayu hutan yang jarang ditemui, yang rencananya kelak akan sangat berguna bagi Sawito: untuk dibuat tongkat, sarung keris, palu sidang dan tongkat komando. Selain itu Sawito juga berhasil mendapat tiga biji buah lo (buahan hutan). Menurut Trisirah, dengan begitu Sawito mendapat “tiga wahyu sekaligus” sebagai pendeta, raja, dan tentara. Yang paling menarik barangkali upacara di Hutan Ketonggo. Tanggal 20 Juli 1972 sore, mereka sampai. Jam 23.00, seperti yang mereka percayai. akan dilangsungkan upacara penyerahan kekuasaan kerajaan dari Kamajaya kepada Sawito. “Semua orang lainnya harus mundur sejauh mungkin dari tempat kehormatan utama itu, sebagaimana mestinya dalam upacara besar kenegaraan,” tulis Sudjono. Di sana sekali lagi Sawito mendapat batu tipis bergambar dirinya dan Kristus. Baik di Muria maupun di Ketonggo, hampir semua anggota rombongan konon merasa sedang menghadiri upacara kenegaraan. Ada suara kapal terbang, jet, mobil. “Sebelum jam 23.00 kami sepanjang malam itu menyaksikan atau melihat berbagai macam cahaya seliwar-seliwer, hilir-mudik, datang dan pergi ke mana-mana sekitar tempat kami berkemah. Ada yang seperti lampu-lampu mobil yang berderet-deret melalui jalan besar membawa tamu agung yang datang ke tempat itu,” tulis Sudjono. Bahkan menurut cerita Sawito, dalam serah-terima kekuasaan Kerajaan Manik Kumala dari Hyang Kamajaya (raja sementara) kepadanya, ia juga sempat mengadakan inspeksi barisan kehormatan segala. Kini giliran Nuning, isteri Sawito. Nuning juga “dinobatkan oleh roh halus.” Tanggal 22 Juli 1972 mereka berangkat ke Simo, 12 kilometer sebelah utara Magetan, di lereng timur Gunung Lawu. Dengan pusaka keris Kyai Naga Piturun, dalam bersemedi Nuning katanya berhasil mendapat titisan Sang Ratu Dyah Mekarsari, wanita muda jelita anak Brawijaya I. Ia juga dikenal dengan nama Puteri Simo. Beberapa saat kem
udian mereka bersiap-siap tidur di kemah. Tapi Trisirah memberitahukan bahwa Sang Prabu Tambang Prana – ayah angkat Dyah Mekarsari – mengundang mereka “menginap di istana.” Maka ketika tidur, mereka pun konon bermimpi jalanjalan di istana yang megah. “Nuning bercerita bahwa ia masuk ke istana bersama suaminya dan Sita melihat-lihat di dalamnya, jua ia terbang menjelajah angkasa, mengunjungi beberapa teman di beberapa tempat, antaranya di Bogor . . . ” tulis Sudjono. Dan sekarang sampailah Trisirah menobatkan dirinya sendiri sebagai Brawijaya I. Tanggal 23 Juli 1972 rombongan menuju Kelurahan Karang Gupito, di lereng timur Gunung Lawu, hanya beberapa kilometer dari Simo. Menurut Trisirah, roh Raden Wijaya alias Brawijaya I menetap di puncak Lawu sebagai Sunan Lawu. kemudian menitis ke tubuh Panembahan Supadma di gunung Kendini, Yogya. Tahun 1906 sang Prabu berkenan “pindah ke dalam tubuh R.M. Hermans Wiryodiningrat alias R.M. Panji Trisirah. Pendeknya, malam itu tiga roh sekaligus merasuk dalam tubuh Trisirah: Brawijaya I, Sunan Lawu dan Panembahan Supadma. Belum selesai. Perjalanan dilanjutkan ke Mahameru, di puncak Gunung Semeru dekat Malang, Kamis Pahing 27 Juli 1972. Mereka sampai di Desa Ranu Darungan dan berkemah dekat sebuah danau. Reportase Sudjono menarik: “Suasana di sekitar danau tenang tetapi sangat angker… Meskipun kami tiba jam dua siang matahari saat itu terselubung mendung sehingga menimbulkan suasana yang menekan. Suhu kami ukur: 25 derajat Celcius. Satu setengah jam kemudian sudah turun menjadi 20 derajat, jam 18: 15 derajat dan jam 4 pagi 8 derajat. Kami berusaha mencari tempat . . . “. Pendek cerita. di puncak Mahamem itulah, mereka percaya, Hyang Yama Sejati, Dcwa Mahameru, akan turun menemui Sawito di tepi danau. Sawio “sang Guruji” dan “Penguasa Baru” jagad raya — termasuk kawasan puncak Mahameru yang dianggap gunung tertinggi di dunia akan menyampaikan “Perintah Harian” kepada Dewa Mahameru yang sejak saat itu tunduk pada Ratu Adil. Alkisah, tibalah saatnya rombongan ke Situ Panjalu. Ciamis menghadap Sang Hyang Prabu Cakradewa, cucu Jayabaya, yang nama pribadinya Saputro, persis nama kecil Trisirah (TEMPO 16 Oktober 1976). Mereka berangkat dari Ciawi 21 Desember l972. Ada 8 orang: Trisirah Mr. Iskaq Tjokrohadisurjo, Sawito, Sudjono, dengan isteri masing-masing. Kali ini Trisirah mengenakan pakaian serba hijau konon kesukaan Prabu Cakradewa. Singkat cerita, di sana mcrcka (kccuali Mr. Iskaq, yang barangkali kurang percaya) berhasil “bertemu muka” dengan pihak parahyangan. Roh halus itu, sebagaimana ditulis Sudjono mengutip cerita Trisirah. “Bersepakat untuk bekerja sama dalam menunaikan tugas yang kita hadapi dalam rangka perubahan zaman ini. . . membantu segala perjuangan yang kita lakukan untuk menyelamatkan kehidupan bangsa dan negara.” Dan dalam tafakurnya Trisirah juga ‘menerima” uang logam RI tahun 1961 bernilai 50 sen, yang kemudian disampaikan kepada Sawito. Itu lambang akan didapatkannya harta benda kerajaan. “Sementara itu waktu sudah menjelang tengah malam. Satu per satu kita masuk ke dalam tenda menurut protokol seperti semula. Walaupun hawa dingin dan lembab ditambah tanah yang agak basah di bawah terpal dan kasur kapuk rasanya menembus sampai ke atas, namun kelima penghuni tenda itu segera tidur lelap . . . ” Barangkali saja, kalau memang segala wangsit dan pengalaman yang musykil itu benar, Sawito dan tokoh-tokoh itu akan menjadi orang-orang besar di dunia jin atawa makhluk halus . . .

05 November 1977

Ini Eksepsi Sawito (Atau Pleidoi)

KINI giliran Swito Kartowibowo 46, untuk bicara, setelah lebih dari setahun dibicarakan orang. Mulai dengan asalamualaikum dan bismillah ia menyanggah tuduhan jaksa dan menyatakan keberatan diadili. Eksepsinya, 46 halaman, dibacakannya dengan suara tetap selama lebih dari tiga jam pada 27 Oktober lalu di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Sebelumnya ia dituduh oleh jaksa Mapigau, pada tanggal yang tak disebut secara pasti, telah melakukan kejahatan subversi. “Tuduhan yang demikian itu salah sama sekali dan naif,” kata Sawito. Ia justru merasa dirinya sebagai penjaga nusa & bangsa” serta “pemberantas subversi.” Sawito termasuk salah satu Panitia Kembali ke UUD ’45, 1957, yang menghasilkan Dekrit Presiden 1959. “Tuduhan melakukan subversi ekonomi pun omong kosong belaka. Tidak ada stagnasi ekonomi dalam bentuk apapun yang saya lakukan.” Ia juga tak pernah merasa berbuat jahat dengan membentuk kelompok atau gerakan yang mengganggu ketertiban umum. Juga tidak berbuat makar dengan aksi bersenjata. “Tak ada sebutir peluru pun yang meletus. Bahkan tak ada air teh yang tumpah dari cawan,” katanya. Tapi bagaimana dengan fakta-fakta yang dikemukakan jaksa – berupa macam-macam surat: seperti Surat Menyongsong Pemerintah Adil Indonesia, Konsep Surat Pelimpahan sampai Surat Pernyataan Memaafkan Almarhum BK? Enteng saja Sawito menangkisnya. “Di sini jaksa terkecoh oleh konsep-konsep surat yang sudah tidak dipakai dan atau dibatalkan yang sangkanya hendak digunakan.” Urutan pembuatan konsep itupun dibentangkan oleh Sawito. Surat menyongsong Pemerintah Adil Indonesia, misalnya, konsep kasarnya dibuat oleh Tommy Darmadi yang konon untuk menanggapi pidato Presiden pada tahun baru 1976 (tentang musibah dan keprihatinan nasional). Korektornya, menurut Sawito, adalah Mayor Jenderal M. Ishak Djuarsa (bekas Pangdam di Aceh dan Dubes di Yugoslavia) dengan beberapa tambahan: minta maaf bila tulisan/gagasan, itu tidak berkenan di hati Presiden dan jangan sampai tuduh’ subversi. Jadi, menurut Sawito “bukan saya yang harus dimintakan tanggungjawab — dan lagi saya menyimpan surat itupun tidak.” Lalu Surat Menujul Keselamatan. Menurut Sawito adalah tanggungjawab bersama para penandatangannya: Dr. Hatta, Kardinal J. Darrnojuwono, TB Simatupang, Hamka R. Soekanto (eks Kapolri) dan Sawito sendiri. Jika hal itu merupakan pelanggaran hukum, “maka tuduhan harus ditujukan kepada kami semua ….” Adapun Surat Pernyataan Memaafkan Almarhum BK pemrakarsanya adalah Sawito sendiri. “Tapi dikoreksi dan ikut diteken oleh Pak Hatta,” katanya. Tujuannya, “menghindarkan hukum balas dendam dan terwujudnya gagasan membangun suatu mausoleum Dwitunggal Proklamator Kemerdekaan.” Suhu Magma Dengan berdiri tegap di hadapan majelis hakim yang diketuai HM Soemadijono SH, siang itu Sawito mencoba mengungkapkan ‘gerakannya’. Ia ditahan pada 14 September 197 oleh Jaksa Agung, “berdasarkan informasi BAIKIN”. Sawito geram menyatakan: “Saya dapat pastika di ini, bahwa Jaksa Penuntut Umum sendiri tidak mengetahui, yang semula memberikan laporan kepada BAKIN sesungguhnya kamu sendiri.” Demikian juga info kepada Jaksa Agung, “satu dan lain hal atas adanya hubungan kerjasama dan saling tukar menukar informasi.” Jadi yang mengeluarkan perintah penahanan, menurtlt Sawito, “teman seiring.” “Padahal Bapak Jaksa Agung sendiri adalah yang membantu kami di belakang layar dan yang menyatakan bahwa, benar Mandataris MPR dan keluarga melakukan perbuatan melawan hukum.” Dan, lanjutnya, sebelum ia ditangkap ia telah mendapat tahu: “Pihak Kejaksaan Agung diam-diam telah mempersiapkan tuduhan terhadap Bapak Suharto di kemudian hari bilamana beliau nanti telah tidak menjabat lagi.” Akhirnya Sawito menghantam Jaksa Agung. “Patut mendapat perhatian, mengapa Jaksa Agung memberi data tentang tercelanya Mandataris MPR, justru .menangkap/menahan untuk kemudian mengajukan saya ke pengadilan?” Sawito menuduh Jaksa Agung mempunyai maksud terselubung. Sebab tampilnya Sawito di Pengadilan, katanya, “sudah barang tentu akan membuka tabir yang menyangkut Mandataris MPR.” Yang dilakukan Sawito, begitu pengakuannya di pengadilan, sebenarnya hanya bekerja sama dengan almarhum Domopranoto (eks Wakil Ketua MPR/DPR) “menyiapkan” jalur penyelamat demi Negara dan Kepala Negara sendiri.” Pemrakarsa menurut tertuduh, adalah Domopranoto. Yang mempersiapkan segala sesuatunya Sawito, dengan “biaya dan fasilitas dari MPR ? Sebab, menurut Sawio, almarhum Domopranoto ada menilai: “Suhu magma MPR setiap saat bisa menimbulkan letusan yang dahsyat dan sukar dibendui.” Tapi jalur penyelamat itu hanya akan digunakan jika keadaan darurat dan bila disetujui oleh Presiden dan MPR. Tokoh dalam ‘jalur penyelamat’ itu sudah ditunjuk oleh Dbmopranoto: Bung Hatta dan Kardinal Darmojuwono. Itulah sebabnya, dengan yakin Sawito bilang, “gerakan Sawito itu tak ada.” Isyu tentang gerakan itu, “hanya pola khayalan Sudharrnono SH (Sekretans Negara).” Karena, katanya, Su&armonolah yang menyebarluaskan tentang adanya Sawito. “Dan itu merupakan perbuatan subversi.” Maka, “dengan resmi saya menggugat Bapak Sudharmono telah melakukan kegiatan subversi.” Seru Eksepsi Sawito tampaknya sudah komplit bagaikan pembelaan (pleidoi). Akhirnya ia menolak untuk diadili di pengadilan. Yang berhak mengadilinya, katanya, “karena ini merupakan perkara Mandataris MPR, ya MPR sendiri.” Ini cocok dengan eksepsi pembelanya, Mr. Yap Thiam Hien, Yap berpendapat: perkara Sawito ini perkara politik yang dianggap menghantam pemerintah. Jadi pengadilan, yang hakim-hakimnya masih bekerja di bawah eksekutif – gaji, promosi, anggota korpri dsb — tak patut mengadilinya. Yap bertanya — dan minta jawaban hakim sebelum sidang dilanjutkan: Apakah hakim ada kepentingan pribadi? Apakah hakim sudah menentukan sikap bagi dirinya sendiri tentang kebersalahan Sawito? Apakah terdakwa akan diadili tanpa prasangka? Penonton sidang Sawito banyak sekali terdiri dari berbagai kalangan. Dengan sabar mereka mengikuti perdebatan Yap dengan Hakim Ketua mengenai hukum acara. Beberapa kali pengunjung ber,tepuk tangan menyambut beberapa pernyataan Sawito. Bahkan mereka berteriak: “terus . . . terus . . . !” ketika jaksa menghendaki Sawito menhentikan eksepsinya yang tentunya dianggap tak relevan. Beberapa kali juga “gerrr ….!” ketika Sawito memberikan tekanan-tekanan kocak ketika membacakan eksepsinya. Hakim pun tampaknya memberikan kesempatan leluasa kepada tetdakwa untuk bebas bicara. Hanya tim pembela, Yap, Soenarto, Nurbani Yusuf A. Rachman Saleh, dan A. Tamrella, agaknya masih enggan mengemukakan eksepsinya, sebelum suasana persidangan jernih. “Sampai hakim mau menjelaskan lebih dulu kedudukan Sawito,” kata Yap. Sidang berikutnya, tampaknya, akan tetap seru. Dalam permohonannya Sawito minta dihadapkan para saksi — mulai Presiden Suharto, Jaksa Agung Ali Said, Adam Malik, Kepala BAKIN Yoga Sugama, Letjen Ali Murtopo, sampai putera Presiden Sigit Suharto, Bung Hatta, Uskup Bogor Harsono dan SK Trimurti. Ada-ada saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: