Lain Depan, Lain Belakang (PSSI vs SPARTAK MOSCOW)

Tempo 19 November 1977. DEBUT Ali Sadikin di lapangan hijau lumayan, meski belum sepenuhnya memenuhi harapan.
Turun dengan seluruh pemain eks tim Pra Piala Dunia PSSI, jamahan trio Acub -Suwardi Piter nampak meraih sesuatu yang tadinya ditakuti belum terpulihkan: semangat bertanding dan stamina. Karena dalam soal teknik, siapa pun maklum, mereka bukanlah anak kemarin yang harus disuapi cara menendang bola atau menyundul bola. Tapi dalam soal kerjasama menggedor gawang Kesebelasan Spartak Moskow, tampak sekali PSSI SEA Games masih kehilangan itu “sentuhan akhir” (finishing touch): gawang lawan sudah ternganga, tapi penyelesaian melenceng. Bukankah ini cerita lama yang selalu menjadi santapan suporter PSSI? Cerita lama atau bukan, rasa penasaran yang menjalari 60.000 penonton Senayan, Sabtu malan1 pekan lalu, tak bergeming jauh dari unsur ketaktisan suatu kesebelasan yang seyogyanya lebih dewasa ketimbang lawanllya yang masih bergetah. Kita mulai saia kisah PSSI SEA Games dari lini belakang. Tak Muda Lagi Ronny Pasla yang absen sejak PON IX, nampak berusaha keras meyakinkan penonton bahwa dia lebih mantap dari Sudarno yang belakangan ini lebih sering dipakai Persija. Loncatan, sergapan dan posisi di bawah mistar tak perlu didiskusikan lagi. Ia memang lebih unggul. Kesulitan yang jarang-jarang ia alami dari barisan penyerang Spartak, terletak pada gerakannya yang kini agak lamban. Tangkapannya tidak selengket dulu. Karena faktor yang terakhir ini ia sempat menimbulkan adegan scrimmage yang mendebarkan di daerah gawangnya, meskipun pada akhirnya bola dapat terhalau keluar. Seandainya scrimmage itu melahirkan gol untuk lawan kesalahan tidak pada orang lain kecuali pada Ronny yang dalam dua kali mencoba memegang bola, dua kali pula melejit dari rangkulannya. Simson Rumahpasal dan Yohannes Auri seperti biasa memperlihatkan permainan rutin. Banyak melakukan overlapping dan tidak terpedaya oleh ulah anak-anak Moskow yang bergerak tak ketahuan arahnya. Poroshalang Oyong Liza dan Suaib Rizal yang agak ke depan sampai hari ini merupakan pasangan terbaik. Dengan catatan, jika Oyong tidak tergoda meninggalkan garis helakang, sementara Suaib masih perlu meningkatkan kemampuanllya mendistribusi bola. Barisan belakang itu sayangnya kurang diimbangi oleh rekan-rekan di muka. Makin ke depan makin lemah. Di garis tengah, PSSI yang berpolakan 4-3-3, mengisinya dengan Sofyan Hadi, Junaedi Abdillah dan Kapten Iswadi Idris. Sejak Nobon dan Suhatman tidak terpilih, nampaknya Iswadi berusaha mengisi peran yang bersifat mematahkan lawan di medan tengah. Tapi karena dia bukan superman, kerepotan itu hanya menghabiskan tenaga. Iswadi malam Minggu itu tak muda lagi. Menjelang 30 tahun tampaknya sang usia enggan menopang semangat tempurnya. Sementara itu tak banyak perubahan terjadi pada gaya Junaedi. Ia lebih banyak memusatkan p^rhatiannya kepada penyerangan. Yang agak di luar dugaan adalah penampilan Sofyan. Sekali terjadi tendangan bebas di muka gawang Ivakine. Iswadi yang melakukarl tendangan dengan manis membuat.gerak tipu: seolah-olah bola diberikan kepada Risdianto yang memotong masuk, sementara seorallg pemain Spartak membuntuti Ris. Pada saat ini Sofyan menjadi bebas. Ia langsung berhadapan agak miring dengan Ivakine. Tapi sayang kerjasama antara Is dan Ris ini tidak mendapat penyelesaian Sofyan sebagaimamana mestinya. Bola ditendang melenceng. Ternyata Sofyan memang kurang fit. Di diganti Anjas Asmara. Penggantian ini tidak merubah langgam penyerangaa yang selalu kandas di muka gawang lawan. Malah Anjas seolah kehilangan kemampuannya membaca jalan permainan. Ia memang lincah. Tapi karena kelebihan bergerak, permainannya sering kehilangan arah. Boleh Coba Titik kelemahan PSSI mencapai puncaknya pada kedua pemain sayap Hadi Ismant, dan Andi Lala. Kalau Risdianto sebagai ujung tombak silih berganti dijaga ketat oleh dua pemain terbaik Spartak, Samokhine dan Bondarev, maka kedua sayap PSSI praktis bisa terbang bebas karena kedua back Spartak merupakan titik lemah mereka. Terutama Hadi yang bermain di kanan luar. Begitu sekali dia terlepas di sayap kanan dan memggiring bola dalam tempo tinggi, seolah hanya gawang tok yang dilihat. Dia tidak melihat apakah ada Iswadi dan ndi Lala yang telah siap untuk menerima umpan. Karena posisi Hadi sendiri sukar melepaskan tembakan. Kecuali asal main hantam seperti yang dia lakukan itu. Pada saat-saat kritis ini orang lalu berpaling pada Yopie Saununu. Dan Hadi Ismanto nampaknya lebih tepat di pasang sebagai back. Boleh coba! Seyogyanya setelah pertandingan berlangsung 20 menit, pengasuh PSSI sudah harus turun tangan menarik Hadi Ismanto dan mengisi tempatnya dengan Iswadi. Dari sisi ini Iswadi pasti mendapat pelu yang lebih banyak. Tapi siapakah yang akan mengisi posisi Iswadi di lini tengah? Itulah soalnya kalau Sofyan tidak fit, Timo Kapisa belum meyakinkan, Anjas bukan kwalitas “tukang pukul,” sedang Nobon atau Suhatr nan dicutikan. Kemenangan 1-0 yang lahir d Iri kaki kanan Iswadi merupakan satu gerakan yang cantik. Tapi problim daya serang dan lini tengah tetap menghantui PSSI. Lebih-lebih jika cedera Risdianto tidak bisa pulih dalam waktu dekat. Seandainya pertandingan dengan Spartak Moskow itu juga merupakan ujian buat para wasit PSSI, Wasit Sutoyo dan Hakim Garis Oo Suwardi boleh merasa lulus. Tapi harus menjadi penyesalan Hakim Garis Soedarso Hardjowasito dari Jakarta. Soedarso bukan wasit baru. Ia berkwalifikasi wasit FIFA. Tapi ketika Risdianto menyambut bola di depan gawang Ivakine dengan dihalangi oleh Bondarev, Ris tidak menyundul bola ke gawang. Ris meninju kulit bundar. Perbuatan itu memang membelakangi wasit. Tapi jelas di depan mata Soedarso. Apa yang dilakukan oleh hakim garis kita itu ia menunjuk bola ke sudut kanan. Pertanda bukan kena tangan, tapi tendangan sudut. Keterlaluan. Hal lain yang baru menjelang PSSI melawat ke SEA Games adalah soal insentif. Dari hasil bersih pertandingan pekan lalu, kabarnya 12,5 persen dibagikan pada para pemain — dan mudah-mudahan para pengasuh juga kecipratan. 7,5 persen diberikan kepada klub yang pemainnya dipakai PSSI. Udara segar ini semoga bisa melancarkan para pemain meningkatkan “sentuhan akhir” di muka awan lawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: