Pelajaran Baru Untuk Putri

Tempo 10 Desember 1977. KEMENANGAN regu bulutangkis Indonesia di SEA Games (6 emas, 2 perak, 1 perunggu) malah membikin dada PBSI sesak.
Rupanya kekalahan Verawati dan Ivana dalam kejuaraan perorangan — masing-masing kalah dari Sylvia Ng dari Malaysia dan Patam Sirisriro dari Thailand — tak tercerna begitu saja. Soalnya kedua pemain itu merupakan andalan utama PBSI dalam menghadapi turnamen Piala Uber pada bulan Mei 1978. Vera, Ivana, Tati Sumirah dan kedua pasangan ganda masing-masing Regina Masli/Theresia Widiastuti dan Vera/lmelda Wiguna sebagai regu ternyata belum dapat menanamkan kepercayaan bahwa mereka mampu mempertahankan Piala Uber yang direbut Minarni dkk pada tahun 1975. Ini paling tidak kesan para suporter PBSI dari gelanggang SEA Games, dan diperkuat oleh pelatih PBSI Willy Budiman. Menyinggung kekalahan Verawati, Budiman mengembalikan kelemahan pemain jangkung ini pada semangat bertanding. “Dia kurang tekun dan tidak ngotot,” kata bekas pelatih PBSI itu. “Seandainya Vera memiliki sifat ngotot yang pernah diperlihatkan Ferry Someville saja, saya kira persoalannya lain.” Vera memang harus belajar dari Ferry. Tapi apa kata Rudy Hartono? Ia menilai bahwa “Vera masih perlu diperas sedikit lagi untuk menjadi pemain yang mantap. Segala-galanya dia punya.” Sementara itu Ivana, juara Junior Puteri Nasional, tampaknya sedang mengalami grafik menurun. “Permainannya ternyata belum stabil dan footwork-nya belum teratur,” komentar Budiman seraya mengingatkan bahwa dengan material yang ada sekarang, babak final perebutan Piala Uber sangat mengancam kedudukan regu puteri kita. Di partai ganda, kekompakan Regina Masli/Theresia Widyastuti yang muncul sebagai juara SEA Games, dalam turnamen Juara-Juara akhir pekan lalu, terpaksa tunduk pada pasangan Imelda/Lene Keppen. Pasangan Indonesia/Denmark itu distel secara kebetulan. Namun dalam permainan mereka sempat mengajukan kerjasama Regina/Tuti. Kritik serupa bukan tidak pernah dilancarkan kepada regu Piala Uber Indonesia 1975. Tapi waktu itu kelemahan teknis tim diimbangi dehgan dukungan para suporter PBSI di Istora Senayan. Faktor psikologis inilah yang merubah kondisi regu Indonesia waktu itu. Pada babak final di Selandia Baru keadaannya pasti lain. Di sana suhu mulai dingin. Suasana lapangan sudah barang tentu berbeda dengan di Istora. Verawati percuma saja melirik kepada orangtuanya atau Eddy Yusuf (malam pertandingan Juara-juara Eddy banyak memberi kode kepada Vera yang mengalahkan Koppen) untuk minta bantuan. Ketergantungan regu puteri pada seseorang pengasuh memang berlebihan. Ini diakui oleh pengurus PBSI yang tak ayal lagi mengadakan perombakan dalam pembiriaan pelatnas. Tahir Jide yang nampaknya sudah jenuh dengan kehidupan pelatnas mengundurkan diri. Penggantinya pelatih fisik Sukartono, juga dari Bandung. Untuk pelatih teknik regu puteri tercatat nama Dannawansaputra dan Pujianto untuk putera. Dua pemain puteri baru dimasukkan ke pelatnas, masing-masing Tjan So Gwan dan Nelly Urayama. Tapi yang penting dalam formasi pengasuh ini, tercantum pula nama Eddy Yusuf yang ketika masih pemain terkenal pandai helimplovisasi”. Keunggulannya menginginkan lawan yang lebih kuat dengan cara-cara non-teknis nampaknya akan merupakan pelajaran baru buat anak-anak pelatnas. “Ya kita kan harus pakai otak juga, bukan fisik melulu,” begitu kata Eddy mengomentari pemain sekarang yang kebanyakan repot latihan fisik melulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: