Teknik Melawan Wasit (Sea Games 1977)

Tempo 10 Desember 1977. EKOR kegagalan PSSI membawa pulang medali SEA Games IX masih menghantui kemenangan Kontingen Indonesia yang muncul sebagai “Juara Umum.”
Ketua Harian KONI Pusat, Suprayogi, tampaknya tak menyangkal.”Tampaknya tanpa medali sepakbola, di mata kalian kemenangan kita kurang lengkap, ya,” kata Suprayogi kepada Herry Komar dari TEMPO. Pekan lalu ketika membawa Kontingen Indonesia melapor ke Presiden, Suprayogi telah menentukan sikapnya terhadap PSSI. “Untuk sementara sepakbola tidak akan diikutsertakan ke Asian Games.” Tapi vonis itu masih bersyarat. “Kecuali PSSI dapat menimbulkan kejutan-kejutan. Bukankah masih banyak turnamen seperti Annversa Cup dan lainlain menjelang Asian Games,” kata Suprayogi kepada para wartawan di Istana Negara. Membangkang Dalam hubungan dengan kericuhan pertandingan Indonesia-Muangthai, Suprayogi tak lupa menyinggung perlunya “kuat otak” di samping “kuat otot.” Maksudnya sudah tentu, bila wasit berat sebelah, janganlah para pemain lantas terbawa oleh arus emosi dan melawan wasit. Dengan begitu pernyataan Ketua Harian KONI itu boleh ditanggapi sebagai tindakan menghukum PSSI. Dus dalam hal kericuhan itu pihak PSSl jugalah yang salah — sesuai dengan keputusan Panitia Disiplin. Putusan sementara itu agaknya tak pula luput dari arus emosi Ketua Harian KONI itu. Kabarnya, ketika pihak Organizing Committee SEA Games memperoleh berita bahwa Indonesia menarik diri dari pertandingan berikutnya lawan Burma untuk memperebutkan tempat ke-3 dan ke-4, Ketuanya, Datuk Hamzah, lantas mengirim sepucuk surat kepada Suprayogi. Dalam surat itu Hamzah minta bantuan pribadi Suprayogi supaya anak-anak PSSI dapat memainkan sisa pertandingan lawan Burma. Agar sesuatu dapat berlangsung den,an lancar sesuai dengan jadwal. Rencana pertandingan itu sendiri ditentukan jam 10 pagi waktu setempat. Pagi itu juga sekitar jam 9 Suprayogi menemui Sekretaris Komite Olimpiade Indonesia, Suworo, di kamarnya di Hotel Federal. Mereka kemudian menghubungi pimpinan Kontingen Gatot Suwagio di kampus Universiti Malaysia. Maksudnya supaya Iswadi dkk diinstruksikan turun ke lapangan. Tapi nampaknya pihak PSSI maupun pimpinan Kontingen kompak: tak mungkin rnemainkan pertandingan lawan Burma, karena soal waktu yang mendesak. Sebelumnya Chef e Mission Gatot Suwagio pernah menyatakan bahwa anakanak bola secara “mental dan fisik” sudah tak mungkin lagi memainkan sisa pertandingan. Dan rela mempersilakan Burma meraih medali perunggu. Begitulah, pasal lain di samping “melawan wasit,” PSSI agaknya membangkang terhadap instruksi Ketua Harian KONI. Bisa Fatal Adalah Ali Sadikin juga yang dalam waktu hampir bersamaan menanggapi pemyataan Suprayogi. “Kalau tidak boleh emosi, jadi malaekat saia,” katanya dengan penuh emosi pua. Ketua umum PSSI ini yang juga turut Kontingen melapor kepada Presiden Suharto, tampaknya Pasrah saja atas keputusan Ketua KONf yang tidak akan mengirim tim Indonesia ke Asian Games. Tapi ia tidak sependapat kalau para pemain sebagai manusia tidak boleh naik emosi. Tapi satu hal tak bisa dibantah, siapa pun wasit yang memimpin pertandingan, entah dia Othman Omar, entah diaSudarso, emosi tak pernah menang. Bahkan menjerumuskan. Baik-buruk seorang wasit–begitu dia diterima sebagai pemimpin pertandingan — adalah risiko bagi dua kesebelasan yang bertanding. Karenanya pernyataan Ali Sadikin yang ingin membela tim PSSI SEA Games, dalam jangka panjang bisa merusak para pemainnya sendiri. Kebiasaan membangkang terhadap wasit, menendang-nendang, membentur, malah menunjukkan sikap cemooh terhadap seorang wasit — seperti yang sering kita lihat di Senayan — bisa fatal bagi satu kesebelasan yang bertanding di luar negeri. Mengoreksi wasit yang paling efektif bukan di lapangan hijau tapi lebih tepat di belakang meja team managers’ meeting atau Disciplinary Committee. Di sini pula tempatnya untuk melawan privilese tuan-rumah. Kedudukan tim sepakbola dalam tubuh kontingen SEA Games Indonesia memang agak eksklusif. Bagi masyarakat tanpa sepakbola Kontingen Indonesia seolah tidak lengkap. Apapun harga yang dituntut tim PSSI, masyarakat penggemarnya akan mengusahakan. Noblesse oblige. Dan, jangan lupa, tim yang dibawa Acub Zainal ke SEA Games itu diberi imbalan keuangan sesuai dengan prestasi para pemain setiap kali pertandingan. Insentif itu seyogyanya membawa konsekwensi yang lebih berat bagi disiplin pemain. Oleh karena itu langkah Acub untuk meneliti kembali peristiwa “Andi Lala menabrak Wasit Othman Omar,” merupakan jalan keluar yang paling objktif di kemudian hari. Lepas dari Othman benar atau salah, pemain PSSI sudah waktunya dihajar untuk mengindahkan keputusan wasit, selama permainan berlangsung. Meskipun waktunya kini terasa berat dan mencoreng muka – karena melawan arus opini suporter PSSI – tak bisa lain jika PSSI mau dengan aman menuju ke singgasana kejuaraan. Kelemahan PSSI akan diincar lawan terus. Digoda, dipancing dan diintrik barangkali. Mumpung belum menjadi karakter (melawan wasit), pengalaman di Kuala Lumpur merupakar pelajaran yang paling dasar untuk menumbuhkan kekebalan terhadap perlakuan curang. Dan menjadi juara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: