PSSI Garuda Runner up Piala Raja 1984

Tempo 14 Januari 1984. TAK ada orang yang menaruh harapan ketika dia bertolak pertengahan Desember lalu menuju Bangkok. Malahan ada yang mengkhawatirkan jangan-jangan Filipina, yang sepak bolanya dianggap paling lemah di Asia Tenggara, akan dapat giliran membabat Indonesia.

Tetapi nyatanya PSSI Garuda, yang dianggap tim kelas II itu, membuat sentakan dengan tampil sebagai runner up Piala Raja, setelah ditundukkan 0-3 oleh tuan rumah Muangthai, 5 Januari lalu. Di tengah-tengah hujan kekalahan yang bertubi-tubi dialami Indonesia belakangan ini, prestasi Garuda itu melegakan. Kekalahan tiga gol dari Muangthai di final lebih baik dari tim nasional yang ditumbangkan 5-0 oleh tim yang sama, di SEA Games, Juni lalu, di Singapura. Australia Barat, yang dianggap tim paling kuat yang diundang pamtla Piala Raja, ternyata disingkirkan Garuda dengan 2-1 di semifinal. Padahal, tim dari benua sebelah selatan itu juga yang mencukur 1-0 tim persiapan Pra Olympiade di Senayan, September tahun lalu.
Jangankan kalah dari Filipina, tim yang terdiri dari pemam di bawah 23 tahun ini menggasak Filipina dengan 7-0. Kedudukan runnzer up di Piala Raja itu mengembalikan prestasi yang pernah dicapai Indonesia tahun 1969. Sedangkan setahun sebelumnya, Sutjipto dan kawan-kawan merebut kedudukan pertama ketika kejuaraan tahunan untuk mencari dana guna membiayai proyek-proyek amal Raja Bhumipol itu dimulai. Waktu masih akan membuktikan apakah keberhasilan di Bangkok itu bukan semata-mata karena keberuntungan.
Tim ini dibentuk tahun 1981 dan merupakan gabungan pemain-pemain berbakat, yang ditemukan dalam pertandingan invitasi yunior waktu itu, ditambah dengan beberapa pemain bekas Galasiswa Ragunan. Pernah tampil tahun 1982 di Piala Presiden di Korea Selatan, tapi ia rontok sebelum lulus dari babak penyisihan. Begitu pula tahun lalu, tak sempat berkutik dalam Kejuaraan Yunior Bangkok Pertama. Namun, di bawah arahan pelatih asal Brail, Barbatana, sejak Juli lalu, agaknya tim ini menemukan jalannya ke puncak.
Ketika tampil di Stadion Nasional Bangkok, kesebelasan ini ternyata memesonakan. “Sangat mengejutkan. Koran-koran Muangthai memberi komentar bahwa Kesebelasan Garuda bisa berbahaya pada tahun-tahun mendatang karena para pemainnya masih muda,” kata Pravech Rattanapian, sekretaris Piala Raja, kepada koresponden TEMPO di Bangkok, Yuli Ismantoro. Menurut koran Bangkok Post, Garuda yang muda ini telah menunjukkan kemampuannya “untuk membawa sinar kembali” kepada kejayaan Asia yang pernah dicapai Indonesia.
Muangthai yang telah mengalahkan Garuda 2-0 pada babak penyisihan pool, bagaimanapun, setingkat lebih baik. Piyapong Pue-oun, andalan tuan rumah dan disebutkan sebagai striker terbaik Asia sekarang ini, tetap turun memperkuat timnya sekalipun kakinya masih cedera. Bekerja sama-dengan Vorawan Chitawanich yang bermain dengan cerdik, Piyapong menjadi ujung tombak yang merobek-robek pertahanan Garuda yang dikawal dengan fanatik oleh Marzuki. Sampai menit ke-20 babak pertama, anak-anak Garuda masih mampu mengimbangi kecepatan lawan yang bermain dengan umpan-umpan panjang. Asuhan Barbatana ini, yang maju dengan umpan-umpan pendek dan menyerang dari sayap, memperoleh sebuah peluang emas, tapi gagal menyarangkan bola.
Dalam babak berikutnya, terlihat Garuda menjadi lelah. Tapi tim yang tampil di final ini, sebagaimana dikatakan Barbatana, bukanlah Garuda yang sebenarnya. “Mungkin karena Sain dan Sofie tidak ada,” kata pelatih itu, yang menurut kabar dibayar sekitar US$ 10.000 per bulan. Sain Imris “dipenjarakan” di pinggir lapangan karena sudah dua kali diberi kartu kuning. Sofie cedera ketika berhadapan dengan Singapura. Dua pemain sayap itu termasuk penyerang yang sering menghasilkan gol bagi Garuda. Tapi dari pertandingan itu, Barbatana menemukan bintangnya, Hermansyah, yang berkali-kali membendung serangan Muangthai.
Barbatana sendiri menyebutkan kurangnya pengalamanlah yang menjadi sebab utama kekalahan Garuda. Pandangannya itu dibenarkan bekas pemain nasional Sutjipto Suntoro, yang sekarang menjadi ketua komisi evaluasi pembinaan PSSI. “Mereka sering terlihat kurang tenang menghadapi bola, juga dalam mengumpankannya,” kata Sutjipto. Dia mengusulkan agar tim yang dipersiapkan untuk SEA Games XIII di Brunei Darussalam ini mencari lebih banyak pengalaman bertanding di luar negerl. Operan-operan pendek yang dlpertontonkan pemain Garuda dipuji Graham Oughton, manajer tim Australia. Dia menyebutkan, kemahiran perorangan pemain Garuda lebih baik dan tim mana pun. Tetapi, katanya, secara kolektif tim Indonesia masih memiliki kekurangan. “Besar badan faktor yang penting sekali. Tim Indonesia harus mempunyai beberapa orang yang berbadan besar untuk ditempatkan di posisi yang vital. Tapi umumnya mereka sudah bermain baik. Penuh semangat dan agresif,” katanya.
Selama setengah tahun melatih di sini, Barbatana beranggapan, Indonesia memiliki potensi pemain, mengingat luasnya minat masyarakat terhadap sepak bola. “Soalnya, tinggal mencari yang berbakat untuk kemudian dilatih,” katanya. Pelatih Brazil itu memang belum punya pengalaman banyak dengan manajemen sepak bola di sini. Sembari memuji kepemimpinan Sigit Harjojudanto selama ini, Barbatana mendesakkan betapa pentingnya suatu manajemen yang efektif “Yang memberikan pelatih kebebasan memilih pemaim-pemaim. Termasuk memberikan pelatih kebebasan memilih cara mendisiplinkan mereka,” tuturnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: