Kalah tapi tak kaget (Piala Uber 1978)

Tempo 27 Mei 1978. TIM Piala Uber Indonesia kalah. Jepang pemegang supremasi buluangkis wanita beregu sejak tahun 1966, merebut kembali Piala yang dimenangkan Indonesia pada tahun 1975 di Istora Senayan. Tapi kekalahan dalam final di Selandia Baru itu tak lagi mengejutkan seperti kemenangan regu Indonesia 3 tahun yang lalu. Penggemar bulutangkis di Tanah Air ternyata tak salah duga: mereka telah siap dengan kekalahan itu. Sehingga tak tampak tetes air mata seperti yang berderai di kamar pakaian regu Indonesia di Auckland. Dalam pertandingan yang berakhir 2-5 untuk Jepang itu, peluang 50-50 seperti yang diperhitungkan pelatih Christian, hanya bertahan sampai 4 partai pertama. Di layar TV Ivanna menjadi bulan-bulanan smash Kondo. Pukulan lobnya lemah. Latihan intensif di pelatnas selama 3 bulan tidak pula menambah kelincahannya. Debutnya dalam tim Piala Uber ini berakhir menyedihkan 3-11, 3-11 untuk Kondo. Berbeda dengan Ivanna, Verawaty menemui Hiru Yuki, juara All England 1976, dalam bentuk yang lain. Vera tampil sebagai penjinak yang matang. Tak tampak Vera itu orang baru dalam kompetisi Piala Uber. Santai-santai saja ia mengecohkan Yuki yang sering mati langkah. Itukah kemenangan karena kematangan mental? Skor 11-3, 11-4 ini menyamakan kedudukan 1-1. Partai ketiga antara Tjan So Gwan, juga pendatang baru, melawan Atsuko Tokuda tak menambah harapan. Tjan menggantikan kedudukan Tati Sumirah yang karena cedera tak dapat turun bertanding. Tiga tahun lalu Tati mengalahkan Tokuda di Istora 11-5, 11-2. Tapi kali ini pemain muda Jepang itu makin ganas dan makin cermat. Tjan juara Junior Indonesia dibikin tak berdaya dan tunduk dengan 5-11, 4-11. Tiga partai tunggal yang berakhir 1-2 itu memang sesuai dengan bidikan PBSI. Itu maksimal, kata seorang pengurus PBSI. Tak ada yang patut disalahkan. Lalu bagaimana dengan ke-4 partai ganda yang di antaranya 3 harus dimenangkan Indonesia? Pertanyaan ini untuk sementara dijawab pasangan Verawaty/Imelda lawan Emiko Ueno/Yoshiko Yunekura dalam tiga set: 10-15, 15-3, 15-12. Sampai di sini keadaan 2-2 dan harapan untuk menang berkobar lagi. Sisa pertandingan berikutnya adalah cerita kekalahan. Theresia Widiastuty/ Regina Masli dikalahkan Michiko Takada/Atsuko Tokuda 10-15, 8-15 Verawaty/Imelda — Takada/Tokuda 5-15, 7-15 dan terakhir lagi-lagi Theresia/Regina ditundukkan Ueno/Yunekura 11-15, 2-15. Terlalu kejam memang mengharapkan prestasi luar biasa dari sebuah regu yang baru mengalami peremajaan. Tapi kekalahan dalam ketiga partai ganda Indonesia cukup mencanangkan bahwa peremajaan pemain ganda pun sudah waktunya digalakkan.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: