Rudy Kalah, Tapi Menang Untuk Promosi (Final All England 1978)

Tempo 25 Maret 1978. SUASANA di kamar pakaian tim bulutangkis Indonesia di Empire Pool Wembley, London, seusai pertandingan final tunggal putera All England Sabtu 18 Maret petang, terasa penuh haru. Liem Swie King 22 tahun) yang baru saja meraih gelar juara, duduk lepas di kursi. Kepalanya menundak dalam. Ia menangis. Haru lantaran menang. Di kursi lain, tak jauh dari King, finalis Rudy Hartono, 28 tahun, tengah melepas kaos kaki. Tampak agak lelah. Tak banyak komentar, sekalipun waktu menerima medali penghargaan, ia banyak mengobral senyum. Rasa haru tetap mencekam sampai isak King terhenti. “Saya dikasih menang sama Rudy,” bisiknya serak. Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulutnya menjawab pertanyaan pers. Setelah itu baru ia mengungkapkan kekuatiran dirinya sebelum memasuki arena pertandingan. “Ketika masuk lapangan, hati saya masih was-was,” kata King. “Peluang saya untuk menang tak lebih dari fifty-fifty. Anda lihat sendiri, Rudy seorang pemain yang ulet dan matang.” Kecemasan King memang berdasar bila dikaitkan dengan 2 kali penampilan Rudy yang mengantarnya ke babak final. Dalam pertandingan pertama ia berhasil mengalahkan perempat-finalis Swedia, Sture Johnson, setelah melewati 64 menit saat-saat menegangkan syaraf. Betapa tidak Rudy masih ketinggalan 4 angka pada saat lawan cuma membutuhkan 1 untuk menutup permainan. Ditambah lagi titik kritis harus dilewatinya dengan raket pinjaman Widyastuti (8 raket yang dibawa Rudy putus talinya dalam partai ini). “Hanya seorang maestro yang mampu melakukan itu,” komentar sepakat penonton begitu Rudy memastikan kemenangannya. Angka akhir pertandingan tercatat 15-9, 10-15, dan 18-17. Tidak Jelek Di babak semi final, lawan yang disingkirkan Rudy adalah pemegang gelar juara 1977, Fleming Delfs dari Denmark. Menurut pengamat bulutangkis, sekiranya yang jadi finalis adalah Delfs, bukan mustahil nasib malang seperti tahun lalu akan merundun King kembali. Memang, nyali siapa yang tidak akan ciut menghadapi penampilan Rudy yang luar biasa itu? Tak terkecuali King, tentunya. Tapi betulkah kemenangan itu telah dihadiahkan Rudy pada King? “Siapa bilang?”, bantah Rudy. “King telah bermain dengan baik sekali. Dan ia pantas jadi juara.” Lepas dari kekalahan Rudy atas King dalam final itu, kehadirannya di Empire Pool Wembley tahun ini pantas untuk disambut. Karena ia telah membuktikan dirinya sebagai maestro bulutangkis dan sekaligus pemain profesional sejati. Tidak dalam arti pemain bayaran. Melainkan bahwa olahraga bisa menjamin kehidupan layak. Dari kacamata olahraga, kegiatan dalam iklan seperti dilakukan Rudy memang tidak jelek. Apalagi bisa menopang kehidupan ekonomi dan sekaligus mampu mengkatrol prestasi. Satu penamplan yang cukup luar biasa: seorang atlit yang absen 1 � tahun mampu mencapai prestasi puncak dengan persiapan cuma 4 bulan, kalau keinginannya tidak ditopang oleh motivasi lain di luar sekedar menjadi juara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: