Sandera Dan Sindroma Stockholm (RMS )

Tempo 25 Maret 1978. 3 Maret yang baru lalu gerombolan RMS beraksi kembali dan menyandera 70 orang di kantor gubernuran Drene, Assen, di Negeri Belanda. Tapi syukurlah kecemasan dan rasa takut yang mencekam lelaki, wanita dan anak-anak itu, tidak berkepanjangan. Besoknya pasukan Marinir sudah berhasil melumpuhkan perbuatan jahat teroris.

 

Bagaimana perasaan dan terutama reaksi seseorang yang tersandera, mungkin menarik untuk diketahui. Pemerintah Belanda sendiri, sejauh yang dapat diketahui, belum pernah melakukan penelitian ke arah itu. Tetapi Amerika Serikat sudah melaksanakan penelitian terhadap perasaan dan reaksi seorang sandera, termasuk akibat buruk kejadian itu terhadap kesehatan. Selain untuk kepentingan ilmu pengetahuan, hasil penelitian itu kemudian dipergunakan dalam program latihan personil Amerika yang akan ditugaskan di seberang lautan.

 

Mengajari mereka tentang bagaimana harus beraksi kalau suatu ketika disandera. Penelitian mengenai reaksi dan perasaan sandera tadi dilakukan oleh Dr Frank M Ochberg dari National Institute of Mental Health. Ia memilih Gerard Vaders, laki-laki yang jadi korban penyanderaan tanggal 2 Desember 1975 di dalam kereta-api dekat Beilen, Negeri Belanda. Ketika itu Vaders dipilih oleh gerombolan RMS untuk dijadikan perisai hidup terhadap petugas-petugas keamanan, kalau-kalau mereka melepaskan tembakan. Kecewa Ia juga dipilih untuk dijadikan korban yang akan ditembak mati apabila tuntutan teroris tidak dipenuhi pemerintah Belanda.

 

“Pada malam kedua mereka mengikat dan menjadikan saya sebagai perisai hidup lagi. Seorang teroris, yang nampaknya paling psikopat, memberitahu bahwa saat saya untuk ditembak mati sudah ditetapkan. Besok pagi. Reaksi pertama saya, yalah mencoba berunding dan memberi dalih agar saya dibiarkan hidup. Tetapi kemudian saya berpendapat lain. Saya anggap usaha macam itu justeru akan memperkuat pilihan mereka atas nyawa saya.” Begitulah kata-kata Gerard Vaders dalam rangkaian penelitian Dr Frank Ochberg. Kemudian bekas sandera itu bercerita lagi:

 

“Pikiran saya berbalik untuk berusaha melarikan diri saja. Satu tangan saya memang agak longgar ikatannya. Tapi yang satu lagi terikat ketat dan rasanya tak cukup waktu untuk melepaskannya. Karena itu lantas saya berketetapan hati untuk menghadang kematian dengan berani.” “Tetapi anda tak jadi ditembak. Bagaimana perasaan sekarang?” tanya Ochberg. “Terus terang saja, kecewa.” Gerard Vaders juga menceritakan bahwa keesokan paginya ia tak jadi ditembak. Begini. Pagi menjelang saat pembunuhan akan dilakukan, ia minta tolong seorang sandera untuk menyampaikan pesan-pesan terakhir kepada keluarganya yang terdiri dari seorang isteri dan seorang anak-angkat.

 

Dalam pesannya itu ia mengungkapkan perasaan kesal, karena gagal menjadi seorang ayah dan seorang suami. Ia ceritakan pula tentang kerukunan rumahtangganya yang sedang diancam perpecahan akibat ketidak-cocokan antara isteri dan anak angkatnya. Agaknya kisah hidup yang kurang bahagia itu telah membangkitkan belas kasihan pada anggota gerombolan RMS. Sejak itu Vaders tidak diikat lagi. Dan gerombolan tadi mengatakan kepadanya bahwa mereka akan memilih orang lain saja untuk dibunuh.

 

Jatuh Cinta Ochberg mengikuti perkembangan Vaders sampai setahun kemudian, dan mencatat bahwa pasiennya itu sering menderita sakit perut dan berat badannya menurun tak bisa dipulihkan. “Reaksi Gerard Vaders,” ujar Ochberg, “merupakan contoh ketenangan dalam menghadapi teror.” Ochberg, ahli kesehatan jiwa tersebut, juga menyelidiki korban-korban teror yang lain. Antaranya korban penyanderaan di sebuah bank, di Stockholm.

 

Dari pengamatan terhadap sandera ini, ia mengemukakan adanya suatu persamaan gejala pada mereka sewaktu jadi sandera. Gejala yang disebutnya sebagai Sindroma Stockholm itu ialah adanya persamaan perasaan antara teroris dengan si sandera. Perasaan takut, saling tidak mempercayai dan kejengkelan terhadap penguasa. “Semua orang yang pernah disandera punya perasaan semacam itu,” ka ta Ochberg. Para sandera yang semula benci pada teroris lama-kelamaan dapat berubah menjadi kasihan dan bahkan seorang sandera di Stockholm itu jatuh cinta. Setelah dibebaskan, untuk beberapa lama perasaan benci pada pemerintah makin berkurang.

 

Sedangkan rasa kasihan kepada penyandera dapat bertahan lebih lama. Dari sekian banyak korban teror yang diselidiki Ochberg, hanya Sir Geoffrey Jackson, dubes Inggeris untuk Uruguay yang tidak terserang Sindroma Stockholm. Menurut kisahnya, duta besar ini memang berusaha untuk tidak terjerumus ke arah berperasaan sama dengan teroris ia bersikap tetap mengidentifikasikan dirinya sebagai wakil pemerintah Inggeris. Ia tak bersedia bergaul terlalu erat dengan Tupamaros yang menyekapnya.

 

Sumber : Arsip Majalah Tempo Online

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
text-align:justify;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: