Tony Poganik Meninggal dunia

Tempo 27 Mei 1978. SUATU hari di akhir April yang lalu Tony Poganik masih menyapa seorang wartawan. Ia menghimbau para rekan pers untuk membantu usahanya. “Bagaimana memassalkan sepakbola bocah sebagai dasar untuk menopang pembentukan tim-tim nasional yang tangguh.” Ia kemukakan hal itu dengan bersemangat. Ia sendiri mendatangi kantor Gelora Senayan yang baru berganti pimpinan dari R. Sumantri kepada Gatot Suwagio. Kepada pimpinan Gelora Senayan yang baru ini Tony membeberkan rencananya untuk membina sepakbola bocah. Untuk itu ia memerlukan sebidang lapangan. Para calon anggotanya, menurut Tony, akan dengan sendirinya membanjir. Apalagi konsepnya telah mendapat persetujuan pimpinan PSSI. Dalam hal keuangan ia hanya mengatakan “ada seseorang yang mau membantu.” Ia tak mau menyebutkan nama dermawan itu. Pelatih nasional Yugoslavia ini datang ke Indonesia 22 tahun yang lalu. Di sini ia mengawali karier sebagai pelatih tim Nasional Indonesia, dan mencatat prestasi gemilang ketika tim PSSI dapat menahan tim Soviet Uni 0-0 dalam pertandingan pertama di Olimpiade Melbourne 1956. Ia dianggap sebagai pencetus pengeterapan sepakbola modern di Indonesia. Tapi sayang pada tahun 1962 tim yang dipersiapkan untuk Asian Games dilanda “Skandal Senayan’. Para pemainnya kena suap. Tony tampak kecewa dan mulai menarik diri dari kegiatan sepakbola. Tony kemudian pindah ke Bali. Di sana ia membuka penginapan “Waru Laut” di Kuta. Sepakbola hampir tersingkir dari kehidupan sehari-hari. Tapi ketika sepakbola Indonesia makin merosot mutunya, nama Tony mulai disebut-sebut suporter PSSI. Ia tergugah untuk tampil kembali dalam pentas sepakboIa meskipun tidak berhasil. Tim asuhannya, Iswadi dkk, gagal dalatn babak penyisihan Kejuaraan Dunia 1978 di Singapura bulan Pebrari tahun lalu. Ia tidak putus asa. Tony yang kini telah 65 tahun ingin mulai dari bawah lagi. “Sepakbola bocah” ini dianggapnya dapat menolong mengangkat nama PSSI dalam jangka panjang. Untuk itu ia tak segan bersahabat dan merintis kerjasama dengan Benny Mulyono yang menganut paham profesionalisme dalam sepakbola. Konon pada Benny, Tony pernah mengucapkan bahwa ia tak peduli apakah sepakbola itu prof atau amatir bukan soal, asal dapat meningkatkan sepakbola Indonesia, itu sudah cukup. Program jangka panjang dari bawah itu ternyata dihadang usia Tony yang kurang panjang. Hari Minggu siang pekan lalu ia mendadak mendapat serangan jantung hingga meninggal. Almarhum meninggalkan seorang isteri, Ny. Zdenka Poganik dan seorang putera di Amerika Serikat. Tony yang resmi menjadi warganegara Indonesia tanggal 13 Mei baru lalu, kini dibaringkan di pekuburan Jatipetamburan, Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: