Jayakarta juara kompetisi Persija 1978

Tempo 12 Agustus 1978 Jayakarta Menang Taktik TAK kurang 20.000 penonton yang memadat di stadion Menteng, Jakarta hari Kamis, 3 Agustus malam berdebar-debar menantikan saat penobatan juara kompetisi Persija. 2 kesebelasan, Jayakarta dan Indonesia Muda, yang me-ngantongi nilai kemenangan sama 48 untuk 29 kali pertandingan kecuali jumlah gol, kembali berhadapan di lapangan. Perbandingan gol buat Jayakarta adalah 102-17. Untuk IM 67-17. Bagi Jayakarta, dalam putaran pertama mcngalahkan IM 2-0, hari itu menang atau seri tak ada bedanya. Tapi bagi IM seri atau kekalahan akan menutup peluang jadi juara. Target mereka harus menang. Tapi tekad IM untuk menang itu, sayang tidak ditopang lewat cara-cara taktis. Mereka bermain gugup dan tegang. Padahal buat mereka, hasil seri atau kebobolan 100 gol pun tak ada pengaruhnya. Tetap di tempat kedua. Dalam posisi seperti ini, mereka seharusnya bermain habis-habisan. Namun itulah yang tidak dilakukan. Serangan yang mereka lancarkan ke daerah Jayakarta sama sekali tidak konsistens. Mengapa Suparyono? Gerakan mengurung Jayakarta dalam areal permainan yang sempit memang mereka lakukan. Tapi sifatnya sporadis. Begitu bola dikuasai musuh mereka tampak gelagapan dalam menyelamatkan pertahanan. Untuk kembali memegang kendali permainan dibutuhkan lagi waktu yang panjang. Andaikata IM bisa membaca kegugupan Jayakarta, bagi mereka kalah berarti kehilangan gelar, mungkin keadaannya jadi lain. Lihatlah permainan back kanan Jayakarta, Harry Muryanto. Ia kelihatan seperti kehilangan sentuhan malam itu. Berkali-kali lawan lolos dari penjagaannya. Agak disayangkan kelemahan itu tidak bisa dimanfaatkan IM dengan baik. Sekiranya tugas untuk menerobos rusuk kanan pertahanan Jayakarta itu diserahkan pada Robby Binur bukan Suparyono, barangkali kiper Sudarno akan lebih repot. Sekalipun Binur sedikit kaku untuk posisi kiri luar, namun gebrakannya lebih bermutu ketimbang Suparyono. Ia lebih lincah dan berani menghadapi lawan dalam permainan keras. Kalaupun Binur mau tetap dipasang sebagai penyerang kanan, kenapa tidak Junius Seba saja yang dipasang menempati posisi Suparyono dari awal? Bukankah ketimpangan pola penyerangan IM lebih banyak terletak pada kelemahan di rusuk kiri? Akan Jayakarta persoalannya tak begitu banyak, memang. Buat mereka cuma bagaimana menjaga gawang jangan sampai kebobolan, dan kalah. Dalam kedudukan demikian, gaya permainan apalagi kalau bukan pola 4-4-2 — sistim yang mengutamakan pertahanan. Mereka berhasil. Ketika wasit Muhiddin meniup peluit panjang, tanda permainan usai, pada skor kacamata (0-0) jadilah mereka jayakarta pada putaran kompetisi 1975-1978. Sukses ini adalah keberhasilan kedua bagi Jayakarta di Divisi I. Gelar pertama mereka rebut dalam putaran 1973-1975.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: