King Jadi Raja (Juara Asian Games 1978)

liem-rudy

Rudy Hartono dan Liem Swie King

Tempo 23 Desember 1978. Dalam final perorangan, King sekali lagi menjatuhkan juara RRC, Han Tsien. Penampilannya mantap. Sejak ronde pertama, ia tak pernah kehilangan satu set pun. Juga dalam menghadapi Luan Chin, juara dunia versi Federasi Bulu tangkis Dunia (WBF) di semi final, King menang bersih. Pertarungan antara kedua finalis yang berbeda kiblat ini tampak berjalan alot. (Indonesia adalah anggota Federasi Bulutangkis Internasional — IBF). Tak ada bola dari King yang dilepas begitu saja oleh Han Tsien. Set pertama dimenangkan King, 15-7, dengan 18 menit. Dalam set lanjutan, Han Tsien sempat memburu King 5-6, setelah ketinggalan 1-6. Tapi Han Tsien tak lama bertahan. Setelah bola berpindah tangan, ia kelihatan tak kuasa menahan tekanan. Dan King melaju dengan 7 angka tambahan. Sampai di situ, Han Tsien memperkecil ketinggalan lagi menjadi 11-13. “Agak gugup juga saya dibuat Han Tsien,” ujar King kemudian. Set ini diakhiri King 15-11 dalam 13 menit.

Melihat penampilan yang memukau itu, koran Bangkok Post, 20 Desember, tak ayal menurunkan judul menyolok: “Liem Swie King is shuttle king. ” Betulkah King raja bulutankis? Juara All England 1959, Hendra Kertanegara pernah memuji King, juara All England 1978. “Ia punya pukulan tak terlihat yang menyesatkan ala Finn Kobero dan Svend Pri,” kata Kertanegara. “Tipe permainan yang kurang kita punyai di sini.” Kobero dan Pri adalah pemain andalan Denmark. Hou Chia Chang, bintang RRC yang kini bermain ganda bersama Yu Yao Tung berpendapat lain. “King pemain baik,” kata Chang kepada Lukman Setiawan dari TEMPO. Tapi, “dalam soal pukulan (dia) masih kurang.” Pukulan King kurang keras? “Tidak. Bukan itu,” lanjutnya. “Fisiknya kuat, kakinya kuat, pukulannya keras. Cuma bila diajak bermain rally, pukulannya itu-itu saja. Tak banyak variasi.”

King, lahir di Kudus, 28 Pebruari 1956, memang agak kurang memberikan variasi pukulan bila diajak rally. Ia beberapa kali keteter sewaktu dibawa Han Tsien atau Luan Chin dalam beradu ulet. Ketika King pertama kali mengorbit di tahun 1974, pelatihnya, Agus Susanto, tampak sudah menyadari kekurangan anak asuhannya. “Lawan main jelek, ia juga jelek,” kata Susanto. Di AG VIII, King beruntung berkat pengalaman. Keteter dalam rally, diimbanginya dengan permainan cepat. “King memang unggul dalam kecepatan,” komentar pelatih RRC, Wang Wen Chiao. “Itu dimungkinkan karena staminanya bagus.”

Penampilan bulutangkis Indonesia, umumnya tidak mengecewakan. Di AG VII, Teheran 1974, mereka cuma membawa pulang 2 medali emas atas nama pasangan Tjuntjun/Johan Wahyudi dan ganda campuran Christian/Regina Masli. Sekarang mereka memboyong 4 dari 7 medali emas yang diperebutkan – 1 dari beregu putera dan 3 melalui nomor perorangan. Pemenang 3 nomor yang disebut terakhir ini adalah Liem Swie King (tunggal), Christian/Ade Chandra (ganda putera), dan Verawaty/Imelda Wiguna (ganda puteri).

Sumber : Arsip Majalah Tempo Online

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: