Panggilan Segar Bagi Pelatih (berdirinya GALATAMA)

Tempo 20 Januari 1979. PROFESINYA tak lagi bakal menyedihkan. Klub non-amatir yang terhimpun dalam Liga Sepakbola Utama (Galatama) telah meniupkan angin segar bagi pelatih nasional, Sinyo Aliandu, 39 tahun. Ia dikontrak oleh klub Tunas Jaya dengan bayaran Rp 400.000 per bulan mulai Januari ini. Jika dibandingkan dengan apa yang diterimanya sewaktu melatih tim nasional, angka penghasilan itu memang sedap. Di PSSI, ia hanya mendapat honorarium Rp 150.000 per bulan. Maka ia memilih dunia Galatama. “Melihat prospek yang baik dari Galatama, saya yakin bahwa orang bisa hidup dari melatih,” ujar Sinyo.

Berasal Flores, Sinyo memulai karier di lapangan hijau sejak kecil. Pada usia 18 tahun, ia menjadi pemain inti bond Perseden, Denpasar. Tiga musim kemudian, ia digaet oleh Persebaya, Surabaya. Tahun 1963, ia bergabung dengan Persija, Jakarta, yang membawanya ke dalam tim nasional. Ia bermain untuk PSSI dari 1964 sampai 1969. Sesudah itu ia mencoba menjadi pelatih. Pernah dibimbing oleh drg. Endang Witarsa, Mangindaan, almarhum Tony Poaknik, dan Detmar Kramer, pelatih Federation Internat10nale de Football Issociation (FIFA) dari Jerman Barat, ia mengasuh klub Indonesia Muda, Tunas Jaya dan Jayakarta. Dalam putaran kompetisi Persija (1975-1978), ia berhasil mengantar Jayakarta ke tangga juara. Dari penanganannya yang terhitung lumayan di berbagai klub itu Sinyo diangkat pula untuk melatih Persija dan PSSI. Ia bahkan diberi kepercayaan untuk mengasuh tim Pra Piala Dunia bersama Tony Pogaknik. Tim ini kesandung di Singapura. Pebruari 1977, PSSI menempati urutan ke4 dari 5 peserta Pra Piala Dunia itu, di bawah Hongkong, Singapura. dan Malaysia.

Sinyo diberi kepercayaan menangani tim nasional bukan hanya karena pengalamannya di dalam negeri. Ia juga belajar di Sekolah Pelatih IFA di Kuala Lumpur selama 3 bulan pada tahun 1974. Dua tahun kemudian, ia berkesempatan pula untuk memperdalam cara melatih, sekaligus mempelajari manajemen sepakbola profesional di Inggeris dan Eropa Barat. “Melihat pengalamannya itu, Tunas Jaya membayar Sinyo selayaknya, kata Beniardi dari pimpinan klub itu. Wewenang Besar? Adakah itu berarti bahwa Tunas Jaya harus menjadi juara kompetisi Galatama7 “Mereka tidak menentukan demikian,” jawab Sinyo. “Suatu keberhasilan tidak seluruhnya tergantung dari seorang pelatih. Tapi harus ditopang pula oleh kemampuan, bakat, kesehatan, dan kehidupan pribadi pemain, serta organisasinya sendiri.”

Jalan untuk mengangkat klub Tunas Jaya bagi Sinyo, ayah dari 3 orang putera, bukan tak lapang. Beniardi sendiri sudah memikirkan faktor sampingan yang disebut Sinyo tadi. Untuk 21 pemain non-amatir Tunas Jaya, ia kini mengeluarkan biaya Rp 1,25 juta sebulan. “Kalau nanti mereka diasramakan ongkosnya sekitar Rp 2,5 juta,” cerita Beniardi. Gaji pemainnya nanti bergerak dari Rp 100.000 sampai Rp 150.000 sebulan. Dan mereka akan digembleng 8 x 2 jam seminggu. Bagi Sinyo pribadi, kontrak penting sekali. Dia ingin bekerja sesuai dengan hak dan ke wajibannya. “Saya menyarankan agar masalah teknis di lapangan diserahkan sepenuhnya seperti pelatih-pelatih di Eropa,” katanya.

Keinginan untuk mendapat wewenang yang besar sebagai pelatih, juga menggoda Endang Witarsa, 62 tahur. Tapi — berbeda dengan pelatih asuhannya, Sinyo — Witarsa mengatakan ia tak mau dibayar atau dikontrak. “Saya hanya ingin mengukur kemampuan saja. Witarsa kini menggarap klub Warna Agung yang non-amatir. Di situ dia mendapat peluang besar buat bekerja secar profesional pula. Ia bisa melatihnya pagi, siang, dan sore hari selama 5 atau 6 kali seminggu. Sedang di klub amatir seperti UMS, baginya sulit untuk diterapkan sistim itu. “Paling banter 2 atau 3 kali seminggu, itupun hanya sore hari saja,” lanjut Witarsa. “Sebab mereka harus mencari nafkah pula.” Witarsa mengaku menjalankan praktek sebagai dokter gigi hanya untuk iseng-iseng. Tapi kenapa menolak untuk mengeduk uang lewat kepandaian melatih? “Kalau semua pelatih menjadi profesional, klub-klub sepakbola bisa bangkrut, dong,” alasannya. Ketika di PSSI ia hanya mau menerima uang saku bila ke luar negeri saja — $ 5 sehari — sama dengan pemain.

Pensiunan dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia ini mengawali kecintaan pada sepakbola sebagai pemain di Malang. Kemudian ia main di Surabaya sambil kuliah di FKG. Ia lupa dalam klub apa ia bergabung. “Yang pasti, saya adalah pemain gelandang,” kata Witarsa yang berjodoh dengan teman sekuliahnya, drg. Kartika. Endang ini mengaku memetik nama Witarsa dari bekas pemain Persib, Bandung, Aang Witarsa — orang Sunda asli.

Warna Agung yang ditanganinya itu mengeluarkan Rp 7 juta untuk biaya rutin setiap bulannya. “Kalau bukan orang yang gila bola, mana mungkin mau mengeluarkan uang sebanyak itu,” kata Endang. Di situ, wewenangnya terbatas. Dalam mengambil keputusan penting menghadapi suatu pertandingan, katanya, “Saya harus selalu berunding dengan 2 orang pelatih lainnya.” Rahasia Dengan adanya sistim kontrak, baik untuk pelatih maupun pemain di Galatama, persaingan untuk memberikan gaji pun ikut naik. Tapi tak semua klub terbuka membicarakan soal ini. “Itu rahasia. Pokoknya, cukup,” kata pimpinan Perkesa, Acub Zainal ketika ditanya berapa honor pelatihnya, Chairudin Siregar maupun pemainnya. Pokoknya, Galatama menarik minat banyak pelatih. Juga Maryoso, pelatih Persiraja dari Banda Aceh kelihatan ingin bergabung dengan klub-klub Galatama. “Cuma belum ada tawaran,” katanya. Namun dia berharap segera kembali ke Jakarta.

Tempo 03 Februari 1979
Tarik-menarik Bisnis Sepak Bola
MAKIN dekat kompetisi Galatama makin ramai pasaran sepakbol non-amatir itu. Terakhir klub Pardedetex disebut akan muncul dalam kompetisi itu — kini direncanakan 17 Maret. Klub dari Sumatera Utara, pimpinal T.D. Pardede yang dikenal sebagai “Bapak Sepakbola Prof Indonesia” itu telah berani merekrut pemain top. Antara lain John Lesnusa dirayunya supaya keluar dari Warna Agung. Lesnusa tadinya adalah pemain harapan Warna Agung yang pernah mencetak beberapa gol untuk kemenangan Persija. Untuk mutasi pemain begitu, Dr Pardede sendiri berdiplomasi dengan pimpinan Warna Agung, Benny Mulyono.
Tapi bukan Lesnusa saja yang diincernya. Sunardi “Kuping”, Budi Riva, Ruly Nere, Marsely Tambayong dan Yopie Saununu — semua dari Warna Agung -ingin ditarik Dr Pardede pula. “Terserah mereka, ” kata Mulyono. “Setahu saya, mereka masih setia pada Warna Agung.” Lesnusa, menurut spekulasi di luar, memperoleh uang transfer Rp 1,8 juta. Honornya lebih tinggi, tentu saja, dari Pardedetex. Tidak jelas berapa. Mana Pelatihnya? Jayakarta, klub yang bernaung di bawah Yayasan Jaya Raya, yang juga memasuki Galatama sedang menghadapi problem lain. Dua asisten pelatihnya Arliz dan Wimpie Pranta — mengundurkan diri berbareng. Dua bulan sebelumnya, pelatih utamanya — Sinyo Aliandu — pindah ke klub lain. Namun Ketua Jayakarta, Frans Hutasoit, yang juga sibuk dalam jabatannya sebagai Ketua Bidang Pembinaan Tim Nasional di PSSI, membantah. “Saya sendiri belum tahu,” katanya pada TEMPO mengenai keperglan tlga pelatihnya.

Sambutan buat Galatama di luar dugaan. Januari, masih masuk permintaan menjadi anggotanya. Terakhir tercatat Batik Keris Football Club dari Solo. Mungkin kesebelasan ini nanti bertanding dengan seragam batik? Klub Jaka Utama dari Lampung tak ingin ketinggalan. Pimpinannya meminta masa pendaftaran yang berakhir Januari supaya dapat diperpanjang sampai pertengahan Pebruari ini. Jaka Utama rupanya menyusun kekuatan sebelum memastikan menjadi anggota Galatama. Klub Perkesa di bawah pimpinan Acub Zaenal serta pelatih Chaeruddin dan tim manajer Acep mengumpulkan 9 pemain muda dari Irian Jaya. Berkedudukan di Bogor, Perkesa mendapat dukungan keuangan dari pengusaha Eddy Kowara. Ia memang belum memiliki star, tapi dengan menyajikan “mutiara hitam” dari Indonesia Timur, ia sudah cukup komersiil.

Dari Surabaya, pembantu TEMPO Ibrahim Husni melaporkan bahwa PS Mitra yang masih termasuk Kelas I Persebaya menyatakan ikut Galatama. Sebagai Yayasan, Ketuanya Djaelani, sedang tim manajernya M. Hidayat yang dulu terkenal sebagai Tan Tiong Mo, eks pemain depan Naga Kuning dan Persebaya tahun 50-an. Bagi Hidayat, mendapatkan pemain tidak terlalu sulit. Hamid Asnan, Soebodro, Rusdi Bahalwan, Wayan Diana dan Purnomo dari PS “Asyabab”, Joko Malis dari PSAD, Joni Fahamsyah, Ketut Suripto dari Indonesia Muda — semua itu menjadi inti PS Mitra. Beberapa pemain dari Ujung Pandang didekati Mitra juga. Honor pemain, menurut Hidayat, berkisar antara Rp 150 dan Rp 300 ribu per bulan. Untuk yang belum berkeluarga disediakannya asrama plus makan gratis. Bagi yang sudah berkeluarga disediakannya rumah kontrakan dan ongkos rumah-tangga. Sponsornya adalah New International Amusement Center yang dipimpin Wenas. Ko-sponsor antara lain disebut Agip Oil dan Suzuki.

Klub lain yang berambisi besar dalam Galatama tercatat Tunas Inti. Klub ini titisan dari POR & S Tunas Jaya — dipimpin oleh Beniardi dan Latif Harris Tanoto. Meskipun ia belum memiliki bintang lapangan, tokoh Sinyo Aliandu yang diberinya honor Rp 400 ribu per bulan berfungsi sebagai “merek dagang” yang bonafid. Beniardi, sehari-hari Direktur PT Tempo (farmasi) memilih Yayasan sebagai badan hukum. “Di yayasan, keuntungan kita berikan pada pemain,” katanya pada Herry Komar dari TEMPO. Modal pertama dia harapkan dari donatur. Tapi Beniardi-lah penggerak modalnya. Dalam menghadapi kompetisi Maret nanti, minggu ini para pemain Tunas sudah akan masuk TC lalu try-out ke Jawa Tengah. Beniardi berharap, “semoga bisa menggeser salah satu dari tiga besar Jayakarta, Warna Agung dan Indonesia Muda.”

Bisnis Tulen Klub BBSA (Bangka Biliton Sport Association) yang pernah mengalami masa jayanya di tahun 50-an, kini jatuh ke divisi I Persija. Tapi dengan munculnya Tjoeng Djunantoro, tokoh lama, sebagai Direktur Umum PT BBSA Tama tim ini diramalkan akan kuat. Dipilih nya bentuk PT, menurut asisten tin manajer Imam Suwartoyo, karena sepakbola non-amatir sudah seharusnya dilihat dari kacamata bisnis. Berapa honor pemainnya? “Sediki lebih rendah dari standar umum Rp 150 ribu,” kata Tjoeng. Tapi ia menyebut kan adanya bonus dan premi dari setiaF pertandingan. Juga dicadangkannya 20% saham untuk para pemain. Tiga nama dari eks Persebaya yang telah beken Slamet Pramono, Hartono dan Bud. Santoso akan menjadi pemain inti BBSA Tama. Dengan modal Rp 25 juta, PT BBSA Tama dikaitkan pula dengan usaha di bidang kontraktor dan leveransir. Targetnya di lapangan hijau sederhana saja: asal tidak menjadi juru kunci. Tapi ia bermaksud pula untuk mendatangkan pemain dari luar negeri dan membuka industri jasa sepakbola. Ia akan membangun lapangan sendiri di Sarengseng, Depok.

PS Indonesia Muda juga memasuki Galatama dengan bentuk koperasi. Pelatihnya Suwardi Arland. Tim manajernya Dimas Wahab, leveransir Pertamina. “Koperasi itu sifatnya gotong-royong dan ada unsur membina kesejahteraan anggota,” kata Ketua Umum Soerowo. Banyak pemainnya adalah karyawan Pertamina seperti Johanes Auri, Suaeb Rizal, Junaedi Abdillah. Bentuk koperasi tak membahayakan status mereka di Pertamina. Modalnya berasal dari koperasi yang ditunjang 600 anggota TIM di Jakarta, kata pengurusnya pada Widi Yarmanto dari TEMPO.
Klub Arselo mendadak mengorbit dalam sepakbola nasional. Bukan karena prestasinya, tapi karena peran pendirinya Sigit Suharto, putera Kepala Negara. Arseto resmi berbentuk PT. Direkturnya adalah Bambang P. Laksono Pusoro. Komisarisnya antara lain Sigit Suharto Sebagai tim manajer merangkap misi teknik dan pembinaan adalah Ismet, mahasiswa Teknik Elektro UKI. Meskipun tidak mentargetkan juara, Yudo Hadianto yang melatih Arseto mempunyai tekad bahwa asuhannya “tidak akan mengecewakan penonton dan minimal masuk tiga besar.” Para pemainnya antara lain Novrizal Chai, Putu, Yunus Purwanto, Teguh, Amrizal Rachman dan Bambang. Yang lebih senior adalah Abdul Kadir dari Persebaya dan Ronny Sarbini eks Jayakarta. Honor di situ dirahasiakan.

31 Maret 1979
Bisnis bola sepak bola mulai diperdagangkan…

PAGI-PAGI dua orang petugas pajak sudah menunggu di kantor PT Tempo, Jalan Kebun Sirih. “Untuk memeriksa recette pertandingan kemarin barangkali,” ujar Kostaman, bendahara klub Tunas Inti yang pekan lalu bertanding melawan Niac Mitra di Stadion Menteng. Tunas Inti di bawah asuhan Sinyo Aliandu membuat kejutan hebat. Ia berhasil mengimbangi Niac Mitra dengan permainan bersemangat dan berdisiplin tinggi, meski akhirnya kalah 0-1.

Tak pernah sebelumnya publik Menteng yang terkenal cerewet itu terpukau dari awal sampai peluit terakhir berbunyi. Taksiran orang tak kurang dari 8000 penonton hadir. Karcis VIP dijual Rp 2000, tribun kanan-kiri Rp 1500 dan berdiri di timur dan belakang gawang rata-rata Rp 500. Tapi dari secarik kertas yang terketik rapi, Kostaman membaca bahwa yang terjual cuma 3296 lembar karcis dari berbagai kelas. Tidak ada separuh dari 8000 helai yang diedarkan. Hasil bruto menunjuk angka Rp 2.866.000. Dari pendapatan kotor itu dipotong pajak tontonan 10%. Kemudian biaya sewa lapangan Rp 10.000. Karena hasil bruto itu melebihi satu juta rupiah, menurut ketentuan Persija yang empunya stadion, penyelenggara dikenakan ekstra 10% lagi. Setelah itu masih dipotong biaya keamanan Rp 200.000 dan tentu saja biaya siluman lainnya.

Jadi dugaan orang bahwa Tunas Inti ketiban rejeki besar, impian belaka. Konon Niac Mitra kurang percaya dengan recette itu. Apalagi jawatan pajak, tentunya. Pertandingan pertama Galatama bagi Beniardi, Ketua Tunas Inti, berarti juga awal dari bisnis bola yang sebenarnya. Dia memperhitungkan harga cetak karcis Rp 8 selembar yang pencetakannya harus dilakukan oleh pihak pajak pula. Menjelang pertandingan dia pasang iklan di Berita Buana dan Pos Kota. Sedang di daerah Menteng dia sebarkan pamflet pertandingan. Pajak tontonan dia panjar lebih dulu Rp 750.000 untuk jumlah 8000 lembar yang diperkirakan laku terjual. Tiga hari menjelang pertandingan, tim Tunas Inti dia pindahkan dari kompleks Ragunan ke Hotel Orchid Palace di Slipi. “Masa lawan tinggal di Hotel Sari Pacific, anak-anak kita di Ragunan. Psikologis tidak baik, bukan?” ujar Beniardi yang sehari-hari Managing Director PT Tempo.

Dari seberang sana di Stadion Utama Senayan, Jakarta Arseto menjadi penyelenggara pertandingan pembukaan. Ada drumband, ada olkes tiup ABRI dan ada tendangan kehormatan oleh Menteri Kesra Surono. Diperkirakan yang hadir di malam pertama (17 Maret), tak kurang dari 45.000 penonton. Sedang di hari kedua yang dibasuh hujan jumlah penonton anjlog sampai sekitar 12.000. Karcis VIP Barat Rp 5.000, VIP Timur 3000, kelas I Rp 2.000, II Rp 1.000, III Rp 300 dan anak-anak Rp 100. Berapa recettenya? Hari pertama terjual 33.415 lembar dengan hasil bruto Rp 17.506.400. Sedang di hari kedua hanya 8.159 lembar dengan Rp 3.694. 200. Untuk total 41.5i4 lembar yang terjual dari berbagai kelas diperoleh omzet Rp 21.200.600.

Sewa lapangan di Stadion Utama Senayan, berkapasitas 100.000 orang, lebih berbelit. Untuk sewa lapangan berlaku tarif 10% dari omzet setelah dipotong pajak tontonan. Tapi ada tarif minimumnya. misalnya, untuk pertandingan nasional 1 kali pemakaian maksimum 2 jam, Rp 500.000. Untuk pertandingan internasional 1 kali pemakaian Rp 650.000. Untuk sekali latihan tanpa lampu, maksimum 2 jam, berlaku tarif Rp 25.000. Dengan lampu 2 jam tambah Rp 47.500. Jadi berapa hasil bersih Arseto? Sampai akhir pekan lalu belum ada pengumuman resmi ataupun tidak resmi dari pihak Arseto. Tapi ada kabar, bahwa Arseto memperoleh laba sedikit (?). Pengeluarannya total meliputi Rp 18 juta. Tapi ada pula yang mengatakan, “Arseto tidak untung, juga tidak rugi” alias kit.

Dari Bogor, pertandingan Perkesa 78 lawan Pardedetex (20 Maret) membawa cerita lain. Stadion Pajajaran yang punya daya tampung 2.000 orang duduk, 13.000 berdiri kebobolan beberapa pintunya. Pertandingan itu paling banyak mendapat kunjungan penonton sepanjang sejarah persepakbolaan Bogor. Panitia mencatat lebih dari 15.000 penonton. Bagaimana panitia berhasil menjaring demikian banyak penonton? Ketua III Panitia Penyelenggara pertandingan Galatama Bogor, Wiryadi SH mengatakan ada 3 hal yang mensukseskan kompetisi Galatama di Bogor. Pertama, sepakbola Galatama soal baru. Kedua, promosi kuat. Ketiga, Perkesa 78 sudah melekat di hati orang Bogor. Dalam hal promosi Perkesa 78 sungguh beruntung. Kebetulan Ketua Panitia setempat adalah Kepala Staf Korem. Maka para Danramil pun aktif membantu mempromosikan kompetisi Galatama ini. Tapi ketika diminta recette yang konkrit, Wiryadi hanya mengatakan bahwa “karcis yang terjual hanya 40%.” Karcis VIP atau duduk Rp 1.500, berdiri Rp 400. Data selanjutnya masih dalam proses administrasi agaknya.

Sewa lapangan dan pengelolaannya oleh klub yang menjadi tuan rumah atau panitia penyelenggara merupakan masalah tersendiri. Di daerah, konon tarif sewa naik mendadak. Pendapatan dari kareis umumnya tidak sesuai dengan jumlah penonton yang hadir. Sulit bagi tim tamu yang hanya kebagian 25% dari hasil netto menerima kenyataan ini. “Start sudah baik, tapi kita perlu terbuka,” kata Ketua Pelaksana Galatama Syarnubi Said. “Saya tidak keberatan semua pemasukan dan pengeluaran diumumkan kepada masyarakat untuk langsung dinilai.” Tapi apa pula yang mau dinilai bila di depan mata Ali Sadikin sendiri, satu kampung orang menerobos masuk pintu VIP. “Sangat menjengkelkan,” komentar Ali Sadikin mengenai penjagaan pintu masuk. “PSSI seolah sebuah usaha sosial yang padat karya, menghidupi orang lain saja. Karena itu saya persilakan klub mengatur penyelenggaraan sendiri. Saya harap mereka dapat memberi pelajaran untuk perbaikan di dalam tubuh PSSI.” PSSI sendiri mencukai 10% dari hasil kotor pertandingan Galatama setelah dikurangi pajak tontonan.

Apa reaksi klub-klub yang telah bertanding mengenai Yecette di beberapa tempat, belum resmi diumumkan. Tapi untuk menghindarkan saling curiga, Benny Mulyono dari Warna.Agung menyaran supaya pada stadion yang bakal menampung kegiatan Galatama dilengkapi dengan “pintu bernomor” (turn stile). Pintu kerangka besi itu berputar dengan angka setiap kali didorong orang masuk. “Jadi kita mendekati angka yang objektif dalam hal jumlah penonton. Dan rasa saling curiga dapat kita hindarkan,” kata Benny. Tapi bagi Wenas, pimpinan Niac Mitra Surabaya, bisnis bola tidak dikaji ketat seperti Beniardi dari Tunas Inti. “Hanya hobi kok. Tak pernah terpikir bola untuk bisnis. Tiga tahun lalu kami sudah mendirikan Yayasan Mitra yang bergerak di bidang olahraga,” kata pengusaha hiburan yang berkumis tebal ini. Bersama Ketua Persebaya, Joko Sutopo yang juga menjadi penasehat klub Niac Mitra, Wenas toh sedang memperjuangkan pembangunan stadion bola di Surabaya. Kapasitasnya setengah dari Stadion 10 Nopember 20.000 penonton saja.

Tentu Wenas kini mulai melihat potensi Niac Mitra makin tinggi untuk bisnis Galatama. Kesebelasannya kini memimpin putaran pertama kompetisi Galatama. Dalam jangka panjang, stadion milik sendiri akan lumayan menguntungkan. Apalagi, menurut Wenas, simpatisan Niac Mitra tersebar di Jawa Timur. “Kami tinggal di (hotel) Sari Pacific (Jakarta berkat sponsor simpatisan kami juga.” Dari 14 klub yang ikut kompetisi Galatama, tak satu pun yang memiliki stadion sendiri. Namun beruntung sekali, misalnya, klub Tidar Sakti yang berafiliasi pada pemerintah daerah Magelang. Ketuanya, dr Moch. Subroto yang kebetulan Walikota Magelang. Dialah juga pimpinan PT Tidar Sakti — perusahaan Pemda — yang mensponsori klub Tidar Sakti. Dalam putaran pertama saja Tidar Sakti dengan Stadion Abu Bakrin Magelang akan bertindak sebagai tuan rumah 9 kali. Bagaimana dengan yang lain? Dengan membubungnya tarif sewa stadion, siapa lagi kalau bukan pimpinan PSSI sendiri turun tangan dan mencari jalan keluar bersama pemerintah daerah yang menguasai lapangan bola?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: