Bintang Baru ? (Lius Pongoh)

lius pongohTempo 03 Maret 1979. DALAM seleksi pemain untuk turnanen All England di gedung C Senayan, Jakarta, seorang pemain muda, belum begitu terkenal, mengalahkan Heryanto Saputra — jago yang mempecundangi Luan Chin dari RRC dalam Asian Games VIII, Bangkok.

Lius Pongoh, 18 tahun, pelajar kelas II IPS di sekolah khusus olahragawan SMA Ragunan, bukan hanya mengalahkan Heryanto. Juga pemain nasional, Hadianto, dan Hastomo Arbi. Ia cuma tersisih oleh Dhani Sartika, pemain cadangan tim Piala Thomas (1976). Prestasi itu telah mengantar Lius ke dalam tim Indonesia untuk kejuaraan All England di London Maret ini bersama Liem Swie King, Dhani Sartika, Christian Hadinata, Ade Chandra, Tjuntjun, Johan Wahyudi, Heranto Saputra, dan Kartono. Di bagian puteri tercatat nama Verawaty Wiharyo, Tjan So Gwan, Theresia Widyastuti, Ruth Damayanti, dan Imelda Wiguna. “Papa mendorong saya,” kata Lius. Ayahnya, Darius Pongoh adalah pelatih bulutangkis untuk anak-anak di klub Tangkas.

Lius mulai muncul di gelanggang pertandingan tahun 1968, ketika berumur 8 tahun, dan meraih medali perunggu untuk nomor anak-anak dalam kejuaraan bulutangkis DKI Jakarta. Di tingkat nasional, dari partisipasi permainanya dalam turnamen di Medan (1975), ia terpilih di antara 9 pemain bulutangkis putera yang dipersiapkan dl Ragunan. Mulai tahun ajaran 1977, di sekolah Ragunan itu Lius berlatih pagi-sore selama 5 hari dalam seminggu. Di bawah asuhan pelatih Ridwan, ia telah terpilih mengikuti kejuaraan bulutangkis remaja di Genting Highland, Kuala Lumpur, dan merebut juara ganda bersama Bobby Ertanto.

Musim berikutnya, ia meraih medali perak dalam kejuaraan bulutangkis pelajar ASEAN di Singapura. Kemudian ia menjadi juara nasional junior 1978 di Semarang. Lius, tinggi 164 cm dan berat 57 kg, tidak memimpikan yang muluk-muluk dalam turnamen All England. “Lolos dari babak pertama saja sudah syukur,” katanya. “Maunya saya sudah tentu lebih lari itu.” Melihat lawan-lawan yang bakal dihadapinya, antara lain Fleming Delf, Svend Pri, Thomas Kihlstroem, harapan bagi Lius memang tidak akan terlalu besar. Kurang Tinggi Untuk tim Piala Thomas, Mei depan? “la memang seorang pemain berbakat,” komentar juara All England, Liem Swie King. Tapi, “untuk memperkuat tim Piala Thomas, dibutuhkan pemain-pemain yang lebih berpengalaman.”

Menurut King, calon pemain Piala Thomas Indonesia 1979 tak akan banyak berbeda dengan regu 1976. Waktu itu, tim Indonesia terdiri dari Rudy Hartono, Liem Swie King, Iie Sumirat, Tjuntjun, Johan Wahyudi, Christian Hadinata, dan Ade Chandra. “Mungkin untuk turnamen Piala Thomas berikutnya, ia terpilih,” tambah King. King mengatakan bahwa Lius masih punya banyak kelemahan untuk menjadi pemain top. Antara lain, disebut King soal teknik dan mental, di samping tinggi badan Lius masih agak kurang. “Tinggi badan seorang pemain banyak pengaruhnya dalam melancarkan smash yang mematikan serta menutup lapangan permainan,” lanjut King. Ia sendiri, tingginya 174 cm. Syamsul Alam, Koordinator Komisi Teknik PBSI Jaya sependapat dengan King. “Untuk menambah tinggi badan itu, saya anjurkan Lius berenang,” katanya. Tinggi badan Lius masih bisa bertambah karena usianya masih muda.

Sumber : Arsip Majalah Tempo Online

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: