Detik Bergesernya Komposisi

Ferry Sonneville

Ferry Sonneville

Materi pemain Indonesia dalam turnamen Thomas Cup IX terkuat dalam sejarah. Agar tercapai hasil yang maksi mal, Rudy ditunjuk sebagai vice captain. Krisis memuncak ketika berlangsung pertemuan soal komposisi tim.

AKHIRNYA Scheele tiba, disertai Betty sang isteri dan sebatang tongkat menopang langkahnya yang pincang. “Yang terang hari ini saya sudah datang”, katanya pada pers, menolak alasan kalau fihak OC yang menyebabkan keterlambatan Sekjen IBF ini. “Kami menghendaki satu dunia yang bersahabat”, katanya menjawab pertanyaan reporter TEMPO, Renville Imatsier, mengenai kemungkinan RRT mengambil bagian dalam Turnamen Thomas Cup yang akan datang. Ia mengambil contoh Jerman Barat dan Jerman Timur yang duduk berdampingan di forum IBF. Tapi sampai sekarang belum ada permintaan dari RRT sendiri. Dan Scheele menambahkan bahwa masuk nya RRT bukan berarti Taiwan harus keluar — sampai dengan ketentuan IBF.Beranjak ke turnamen Thomas Cup yang sedang berlangsung, Scheele yang masih bercucuran peluh oleh panasnya udara Kemayoran, mengatakan: “Indonesia seharusnya favorit, tapi kemungkinan bisa saja terjadi yang tak terduga seperti Thai bisa mengalahkan Malaysia .”

Vice Captain.

Syahdan? hari Jumat siang itu (25 Mei) tidak terlihat Presiden IBF, Ferry Sonneville turut menyambut kedatangan Sekjennya. Jam 1 siang ia terikat janji berwawancara dengan Kepala Desk Olahraga TEMPO, Lukman Setiawan. Tapi ia baru tiba di kantornya di tingkat atas gedung KONI satu seperempat jam kemudian. Seperti biasa Ferry berpakaian rapi – berdasi tanpa jas. Dari air mukanya terlihat ada masalah yang belum terpecahkan. Melalui pembantunya ia mengangkat telepon menghubungi Liason officer OC, Edeng Sulaeman yang berpangkal di Kartika Plaza untuk menanyakan kedatangan Scheele dan Nyonya. Ia menghubullgi Sudirman, tapi diterima pembantu Ketua Umum PBSI, Drs. Muljono. Akhir nya ketenangan makin pulih dan gagang telepon kini menghadapkan Ferry berdialog- dalam bahasa Belanda – dengan Non-playing Captain Stanley Gouw. Kita barusan berkumpul bersama anak-anak. Mengapa anda tak datang”, begitulah kira-kira Ferry menegur Stanley.

Antara jam satu dan jam dua itu keluarga PBSI agaknya sedang di puncak krisis. Jam 4 sore – kemudian ternyata tertunda sampai keesokannya jam 9 pagi drawing komposisi team akan diadakan dan langsung dipimpin Honorary Referee Scheele. “Saya ingin dalam detik-detik ini Captain selalu dekat dengan anak buah dan kalau bisa tinggal bersama mereka”, katanya pada TEMPO. “Meski pun di atas kertas tahun ini material pemain kita tercatat paling kuat dalam sejarah Thomas Cup, tapi untuk mengamankan kemenangan kita harus berusaha maksimal”, tambah Ferry. Ia terbayang andaikata 10.000 penonton berkeplok tangan dan gemuruhnya menimbulkan suatu situasi yang tak terkontrol, kemudian timbul sesuatu yang harus diatasi, “saya kira hanya Rudy yang bisa bertindak ccpat. Menghubungi Honorary Referee untuk turun tangan.” Protes-memprotes memang lazimnya dilakukan Captain. Tapi dalam melancarkan protes tersebut di samping harus menguasai peraturan, harus tepat pula timingnya. “Kalau begitu saya usulkan Rudy sebagai Vice Captain”, katanya menjawab pertanyaarinya sendiri. “Mana diperbolehkan peraturan”, tanya TEMPO. “Bisa diatur dan lawan pun boleh berbuat demikian”. Ferry mencari keseimbangan antara seorang “tokoh PBSI” dan “tokoh IBF”.

Empat mata.

Pertemuan dengan Rudy cs Jumat siang itu dijalan Manila Senayan — tanpa kehadiran tokoh PBSI lainnya — memang melahirkan sesuatu yang baru dan surprise. Dugaan orang bahwa Amril akan bermain sebagai single ke 2 ternyata digeser ke single ke 3. Komposisi lainnya tetap. Tapi Ferry mengingatkan bahwa dalam soal komposisi team, ia hanya mengajukan saran yang akhirnya terserah pada putusan pimpinan PBSI. “Ini mengingat saya telah lama tidak kontak langsung dengan para pemain”. Meskipun dalam komposisi Mulyadi sebagai single ke – 2 lebih memberikan kemantapan pada bekas Captain Regu Thomas Cup Indonesia ini. Malamnya sebelum undian komposisi regu berlangsung, konon Rudy berbicara empat-mata dengan Muljadi. Apa yang dibicarakan mudah diduga. Selentingan menyatakan bahwa Denmark akan memprotes setiap perubahan komposisi dari “wirzrling team” yang maju ke final. Peraturan memang tidak ada. Barangkali kebiasaan Inggeris lagi. Itulah sebabnya dalam komposisi pemain di semi-final lawan Thai, akan tetap tidak berubah di final – kecuali andaikata terjadi sesuatu yang tak memungkinkan satu atau dua dari ke-6 pemain kedua regu yang bersangkutan turun ke gelanggang. Dengan komposisi ini strategi Indonesia membebankan Muljadi dan Amril minimal dan paling buruk bisa memperoleh sebiji kemenangan dari 3 pertandingan. “Syukur kalau dalam ke tiganya kita menang semua”, kata pelatih fisik Ridwan.

Enam tahun yang silam Ferry di vonnis sebagai penyebab kekalahan Indonesia dari Malaysia. Kini di forum yang sama ia mewakili Scheele sebagai Honorary Referee dalam undian Kanada-India. Dan sebagai Presiden IBF ia menerima piala Thomas dari Ketua Umum PBSI, Sudirman, untuk secara resmi di perebutkan. “Turnamen Thomas Cup ke — IX ini membangkitkan kenangan yang baik. Dan selaku administrator Of the game merupakan kepuasan bagi diri saya”. Tapi sebagai warga PBSI nampak nya kepuasannya belum sempurna bila ia luput dari saat-saat tegang untuk mempertahankan Piala Thomas untuk kesekian kali, meskipun perbuatannya bisa menimbulkan interpretasi lain dari kalangan awam.

Sumber : Arsip Majalah Tempo Online

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: