Memilih Biji Kekalahan : Indonesia Juara Thomas Cup 1973

Tempo 9 Juni 1973. Indonesia mempertahankan Piala Thomas, namun di luar dugaan Rudy Hartono dikalahkan Svend Pri. Kekalahan Rudy karena beban psikologis dari keharusan memenangkan 4 partai pertandingan & faktor kel.

TAK meleset dan ramalan semula: akhirnya Indonesia berhasil mempertahankan Piala Thomas – meski tak seorang pun pernah meramalkan bahwa Rudy akan dikalahkan Svend Pri dalam partai tunggal ke — 2 di malam pertama final Indonesia — Denmark. Apa sebab Juara All England 6 kali ini kalah’? Alasan ia mengganti raket “Dunlop” dengan “Yoneyama”, musibah meninggalnya paman Rudy beberapa hari menjelang Turnamen Piala Thomas, beban psikologis dari keharusan memenangkan 4 partai pertandingan, suasana di asrama Jalan Manila pagi hari menjelang hari pertandingan — ribut-ribut soal makanan yang tidak mencukupi — hanya merupakan bahan spekulasi untuk memaafkan kejatuhan pemain nomor satu di dunia ini dalam turnamen yang paling pentin.

Dan kemanjaan yang berlebih diberikan masyarakat kepada diri Rudy serta peranan sang pacar Jane yang ikut mewarnai kehidupan pribadi Rudy plus selosin lagi alasan lainnya, nampaknya hanya merupakan spekulasi ekstra untuk memberi maaf bagi kekalahan dirinya.

Dibekali firasat. Surprise bahkan makin menjadijadi ketika veteran Muljadi dalam turnamen perpisahannya berhasil membalas kekalahan Rudy dengan cara yang paling meyakinkan dalam sejarah Indonesia memperebutkan Piala Thomas. “Kali ini mau saya mati di lapangan”, tekad Muljadi telah dibekali firasat untuk merebut kemenangannya. Tapi adakah dengan bangkitnya Muljadi — kemudian meninggalkan gelanggang selama-lamanya–berarti pula matinya “bidadari” Rudy? Dilema ini agaknya telah menerkam rasio dan sebaliknya membangkitkan emosi. Hendra Kartanegara (Tan You Hok) misalnya, begitu terpaku oleh bentuk permainan Rudy, sehingga jalan keluar yang disarankannya tak lebih dari nasihat agar “Rudy sebaiknya mengundurkan diri mumpung ia bclum terkalahkan di Kejuaraan All England”. Versi lain yang meski tak se-ekstrim bekas Juara All England 1958 ini datang dari wasit Singapura Encik Hamzah. Katanya: “Permainan Rudy makin menurun, meski lambat laun” Lalu siapa pengganti pemain yang menjelang usia 24 tahwl ini memang tidak banyak diperbincangkan. Pendeknya mereka yang terharu dengan bentuk permainan Rildy — dalam partai tunggal maupun ganda — berusaha membantunya mencari jalan keluar secara terhormat.

Merampas konsentrasi. “Tidak ada alasan untuk tidak mengakui kekalahan Rudy”, kata Zulkarnaen Kurniawan pada TEMPO, “Rudy bermain jelek, sedang Pri dalam kondisi yang baik”. Dan “yang penting sekarang bagaimana kita mencari faktor-faktor kekalahan nya”, tambah sang ayah yang turut membesarkan Rudy di dunia bulutangkis. “Dulu ketika ia dikalahkan Muljadi di tahun 1967, saya kontan merampasnya kembali ke Surabaya dan melatih anak saya sendiri. Buktinya ia keluar sebagai Juara All England, tapi sekarang….”, keluh Zulkarnaen tak dapat meneruskan apa yang hendak diucapkan.

Ia seolah kehilangan Rudy dan mengakui bahwa ia beum sempat bercakap-cakap dengan anaknya. Tapi ia sependapat bahwa Rudy terlampau berat di bebankan 4 partai, di samping tanggung-jawab lainnya yang telah merampas konsentrasinya. Tapi sebagai seorang pelatih ia lebih menekankan pada teknik dan fisik — soal mental tidak berlaku bagi kaliber kelas juara – yang dinilainya amat merosot. “Keunggulan Rudy pada kecepatan dan kecepatan Rudy berpangkal pada kedua kakinya. Inilah sebabnya mengapa samberan-samberan Rudy kendor. Soalnya fisik Rudy tidak memungkinkan dia memperkembangkan kecepatannya”, kata Zulkarnaen seraya menambahkan bahwa “dalam pembinaan fisik dan pengaturan gizi makanan nampaknya tidak sebaik yang kita persiapkan di Surabaya”. Dalam menerima kekalahan Rud dan mengomentari masa depan anaknya, ia menyerahkan pada sikap PBSI sendiri. “Terserah apakah Rudy masih diperlukan!”

Advis. Rudy masih diperlukan, itu pasti. Tapi, jika Rudy harus selalu menang dalam setiap pertandingan penting, tak seorang pun sekarang berani memberi jarrlinan. Apalagi seperti melawan Svend Pri yang hanya secara teknik, fisik dan mental telah mempersiapkan diri hanya untuk menghancurkan Rudy. Dalam situasi ini agaknya Scheele lebih bijak memberi nasehat kepada mereka yang meragukan potensi Rudy di kemudian hari. “Apa?” tanya Scheelc, “hanya karcna Rudy kalah lawarl Svend Pri kemarin saya harus memberi advis ke pada dia. Harap ingat, tidak seorang pun bisa bermain dalam bentuk terbaiknya ada setiap pertandingan. Ini yang membuat permainan bulutangkis menarik”. Sekjen IBF ini kemudian yakin bahwa dalam kesempatan lain Rudy akan muncul lagi sebagai pemenang.

Embel embel. Menang dan kalau bagi Rudy dalam final Piala Thomas memang merupakan proporsi yang timpang. Selama 7 bulan calon regu Piala Thomas Indonesia dibina dengan biaya Rp 12 juta, ia merupakan tumpuan harapan yang diperlakukan lebih dari para rekannya. Kekalahannya kali ini oleh sementara peninjau dianggap sebagai peringatan untuk mengadakan perubahan yan drastis. Bagaimana membina tanggullg jawab yang merata di antara para anggota regu. Bagaimana misalnya seoran pemain seperti Amril Nurman (lihat Box) diberi bimbingan khusus untuh menghadapi turnamen besar.

Kemenangan Indonesia terhadap Denmark 8-1 tidak terbantah merupakan kemenangan maksimal — seperti yang pernah dikatakan Sudirman. “Ter utama pers banyak yang menyerang kebijaksanaan kami menentukan komposisi regu. Tapi nyatanya siapa yang benar. Saudara telah mclihat sendiri bagaimana Muljadi dan Amril bermain”. katanya pada TFMPO. Mengenai kekalahan Rudy, “saya anggap itu biasa dan kepada Rudy saya minta dia melupakan apa yang telah terjadi”. Sekali lagi Ketua Umum PBSI ini membuktikan bahwa dia memang memiliki “tangan dingin”. Ia berhasil merebut kembali dan mempertahankan sang Piala di persada Indonesia, meski kali ini melalui trio pelatih Ridwan — Darmawan — Budiman dengan embel-embel non-playing Captain Stanley Couw.

Gara-Gara Amril

Amril Nurman bermain rubber set melawan Chaisak Thong Dejsri dalam Thomas Cup. Ia berusaha mati-matian untuk memenangkan satu-satunya partai pertandingan serta mendapat insentif sepeda motor & uang.

SELASA minggu lalu — sehari setelah Indonesia menyingkirkan Muangthai 8-1 — Amril Nurman berjalanjalan ke Blok M Kebayoran Baru dengan sepeda-motor. Di sebuah persimpangan ia terhenti oleh lampu lalulintas. Lalu apa yang terjadi selanjutnya? “Sebuah skuter dengan dua penumpang kebetulan berhenti di samping saya”, cerita Amril pada TEMPO. Dan kedua orang itu sambil menunggu tanda hijau bercerita tentang pertandingan semalam. “Indonesia hebat tapi si Amril sempat bikin kita mpot-mpotan. Brengsek dia!”. Mendengar obrolan tersebut, Amril tidak tinggal diam. “Brengsek ya dia”, sela Amril, “pokoknya kan menang”. Akan permainan Amril dalam melayani Chaisak Thongdejsri dengan rubber-set 15–8 , 7–15, 15–10 , di mana-mana penggemar bulutangkis yang mengikuti jalan pertanditgan hampir tidak percaya dengan kemajuan yang dicapainya akhir-akhir ini. “Saya bisa mengerti, Saya sendiri tidak habis pikir mengapa kaki saya menjadi kaku, pukulan ngawur. Netting lawan begitu sulit dikembalikan sehingga segala upaya saya sia-sia”. Tapi anak kelahiran Air Haji Sumatera Bara ini yakin bahwa ia akan mampu mengalahkan lawan.”Ketika kedudukan menunjukkan O–9 untuk lawan, tiba-tiba di kepala saya terbayang insentif sepeda-motor dan hadiah uang sekian puluh ribu. Tahu-tahu saya bangkit mengejar ketinggalan sampai menang”. Tentang kemenangannya itu ia membubuhi sekedar komentar: “pemain lain belum tentu bisa mengejarnya”.

Air Haji. Penuh dengan humor dan selalu kelihatan tidak peduli terhadap setiap “tekanan mental” dari mana pun datangnya, pemuda yang dilahirkan pada tahun 1948 ini, hanya mengakui ada sepotong beban yang mengganduli kakinya. “Semua pemain sudah kebagian menang, meski Mulyadi menderita kalah lawan Bandid. Itulah sebabnya saya berusaha mati-matian untuk memenangkan satu-satunya partai pertandingan”. Tak seorang pun mudah percaya bahwa dengan sikap yang serba terbuka, berterus terang dan spontan seperti yang terpancar dari pribadi Amril, ia akan terlanda demam-panggung. Lebih-lebih pada pagi harinya menjelang pertandingan Amril tidak menunjukkan gejalagejala kelainan fisik dan mental. Ia penu humor seperti biasa. Dokter Gani yang sehari-hari mencek kondisi anak-anak TC Thomas Cup Senin pagi itu memberi sebutir supradin ke pada Amril. “Nanti jam 4 sore harap lapor lagi pada saya”. Tidak jelas apa yang dilaporkan Amril kepada Dokter Gani sore menjelang pertandingan. Yang jelas debut pemain Jaya ini menggelisahkan para pengurus dan pembina serta para suporter PBSI. Orang otomatis teringat lie Sumirat. Maka sesaat setelah Svend Pri dan Elo Hansen dengan mudah mencatat kemenangan masing-masing melawan Jamie Poulson dan Bruce Rollick, di tengah berlangsungnya partai double berikutnya paratokoh PBSI memperlihatkan kesibukan luar biasa. Mereka ramai-ramai bumplek ke kamar penjualan karcis. Dari PB terlihat Sudirman, Sumarsono, Suhardjo, Sukada yang merangkap Team Manager Regu T.C. Indonesia dari pembina ada Stanley Gouw, Willy Budiman, Ridwan dan Darmawan Saputera. Sedang tokoh PBSI lainnya tercatat Pujianto, Suharso, Tjipto Karyadi, Ramli Rikin M.N. Supomo, Emon dan Mundi Gugih dari Tangkas Baru. Rudy merupakan satu-satunya pemain yang hadir Selasa malam itu. Ferry Sonneville yang berbaju batik kelihatan duduk tenang di kursi kehormatan. mengamati kejadian ini. Sementara Hendra Kertanegara atau Tan Yoe Hok kelihatan tetap duduk terpencil di sudut.

Sudah Lumrah. Walaupun pertemuan dilakukan dengan pintu tertutup, para wartawan olahraga tidak merasa syak kalau persoalannya berkisar pada susunan pemain single ke-2 dan ke-3 yang akan diajukan dalam pertandingan final melawan Denmark. Ke-3 pemain itu adalah Mulyadi, Amril Nurman dan Iie Sumirat. Kedudukan Mulyadi nampaknya cukup kokoh la diharapkan dapat mengumpulkan satu biji kemenangan dari Elo. Tapi dalam menentukan pilihan antara Amril dan Iie ada dua pihak yang bertentangan: Pengurus Besar PBSI ingin menampilkan Iie sedang para pembina para coach tetap mempertahankan Amril. Yang pertama berpendapat bahwa Iie pasti akan lebih baik dari pada Amril dan dipanggilnya Iie kembali ke Senayan memang dimaksudkan untuk berjaga-jaga terhadap kondisi ke dua pemain single tadi. Sedang yang belakangan mempertahankan Amril dengan alasan bahwa kegugupan sudah lumrah melanda setiap pendatang baru. Kekuatan “mental” Amril untuk mengejar ketinggalan 0–9 sampai berbalik menjadi kemenangan dalam rubberset dijadikan dasar pertimbangan pula. Konon dari balik dinding tempat perundinRan yan berlansung selama tengah jam itu, juara gebrakan meja sampai terdengar ke kuping petugas di luar. Dan suara gebrakan itu ternyata berhasil menggertak unsur-unsur PB untuk memberi mandat penuh kepada para pelatih untuk menyusun pasangan lawan Denmark di final. Konon Rudy sendiri berpihak pada para pelatih atau mungkin juga sebaliknya.

Lesu Mental. Antek-antek PBSI lainnya juga terpecah dalam dua pola pendapat tersebut. Barangkali ada baiknya dalam saat-saat yang kritis, mereka menengok sebentar pada peristiwa-peristiwa di TC. Adakah bijak membebankan lie Sumirat yang oleh para pembina dan pelatih sendiri diberi cap “angin-anginan” untuk memulihkan kepercayaan team dari rasa keraguan ? Dan yang terpenting, tentu saja kesanggupan dan kemauan Iie untuk memikul tugas tersebut. Bukan mustahil anak yang berpredikat “lesu mental” ini akan lebih merasa terombang-ambing tak menentu dari pada andaikata ia dipasang sejak pertandingan lawan Muangthai. Juga pergantian dengan lie bukan tidak mungkin bisa mengganggu kekompakan regu.

Akhirnya semacam ikrar dibikin bersama. Tanda-tangan dari semua hadirin memperkuat keputusan rapat luar-biasa itu dengan hasil: komposisi regu Thomas Cup Indonesia tetap tidak berubah. Dalam undian tanggal 30 Mei di Istora – sesaat setelah Denmark memukul Kanada 9–0 Amril Nurman tetap menduduki jabatan single ke-3. Peristiwa ini se kali lagi memberi kesan ke pada awam bahwa dalam suasana krili PBSI selalu berpedoman “ringan sama dijinjing, berat sama dipikul”, meski cara penyelesaian seperti itu bisa ditafsirkan sebagai tipu daya meloloskan diri dari tanggungjawab Kata seorang pelatih (yang tidak kebagian pakaian seragam team) “Tanggungjawabnya merata, tap fasilitasnya berbeda”. Dan ia pun yang tak mau disebutkan namany berpesan pada TEMPO: “Nanti kalau sudah selesai Thomas Cup baru akan saya bongkar isi perut mereka”.

Rudy Hartono Menjawab

Rudy Hartono menyesalkan kritikan wartawan yang menghubungkan kekalahannya lawan Svend Pri dengan masalah pribadi & tuduhan suap. Kemenangan tidak ditentukan oleh faktor teknis saja. Hari naas pasti terjadi.

SEJAK Rudy dikalahkan Svend Pri (12-15, 15-5, 15-17), ia kelihatannya selalu menghindarkan diri dari pertanyaan-pertanyaan para wartawan. Rabu malam 6 Juli minggu lalu ia kedapatan bersama seluruh pemain team Piala Thomas memenuhi undangan makan malam di sebuah restoran di Jalan Blora. Dari pertemuan Rudy dan wartawan TEMPO, Lukman Setiawan, keesokan harinya berlangsunglah wawancara resmi di TC PBSI di Jalan Manila Senayan.

Ikut hadir dalam wawancara tersebut dokter Gani, dokter team Piala Thomas Indonesia.

TEMPO: Bagaimana anda menerima kekalahan dari Svend Pri dalam final Piala Thomas ?

Rudy : Saya menerima kekalahan dengan kesadaran bahwa setiap pemain terbaik pada suatu saat pasti akan mengalami kekalahan seperti yang saya alami Hanya sukar untuk meramalkan kapan “hari naas” itu akan terjadi. Saya akui, pada waktu itu saya kalah.

TEMPO: Apa reaksi Anda tehadap sorotan pers yang ditujukan pada permainan dan pribadi Anda baru-baru ini?

Rudy: Prinsip saya kritik apa saja boleh. Tapi menuduh saya makan suap, itu keterlaluan dan tak perlu saya layani. Juga membawa-bawa pacar saya sebagai faktor kekalahan saya keterlaluan. Biarlah itu semua menjadi tanggungjawab saya. Jangan orang yang tak bersalah disangkutkam Saya harap lain kali soal permainan dan soal pribadi dapat diletakkan pada proporsinya sebelum Anda melancarkan kritik dan analisa.

TEMPO: Sekarang kembali ke soal permainan. Anda amat sportif dalam menerima kekalahan. Kalah, ya kalah, karena Svend Pri bermain baik. Tapi saya ingin Anda menjawab lebih mendetail. Misalnya kelebihan teknis Pri dan kelemahan Anda ketika Anda melayaninya ?

Rudy: Svend Pri memang kuat dalam smash. Tapi apa perlu saya memperinci ciri-ciri permainannya? Kemenangannya malam itu bukan semata-mata faktor teknis saya: seperti netting saya banyak yang nyangkut, smashnya tanggung saya kembalikan. Hal-hal semacam itu biasa terjadi. Dan yang terpenting, menurut saya ia dalam pertandingan tersebut berhasil merampas inisiatif dalam mengendalikan tempo permainan, sehingga agresivitas saya hilang.

TEMPO: Mengapa anda sampai kehilangan inisiatif dan agresivias?

Rudy: Anda harus melihat pertandingan tersebut dari hubungan regu, bukan individu. Dukungan dan harapan yang dilimpahkan kepada saya secara moril dan materiil belakangan ini memang merupakan fasililas dan hiburan bagi saya. Tapi sebaliknya ia juga beban yang tidak kecil. Ditambah pula dengan anggapan dan perhitungan “di atas kertas” bahwa saya akan pasti memenangkan seluruh partai pertandingan yang saya mainkan, merupakan unsur-unsur yang turut pula mempengaruhi inisiatif dan agresivitas saya. Dalam kondisi seperti itu kelihatannya justru dipergunakan Pri sebaik-baiknya untuk memperkembangkan permainannya dan memanfaatkan smash-smashnya ke titik kelemahan saya. Soal siapa yang berkembang dulu permainannya amat menentukan dalam pertandingan yang tegang.

TEMPO: Dalam istirahat dua hari menjelang final lawan Denmark kabarnya Anda masih melakukan latihan fisik dan stroke yang cukup melelahkan, apakah benar demikian ?

Rudy: Bagi pemain-pemain seperti kami, latihan fisik dan stroke menjelang pertandingan penting lebih banyak diartikan untuk relaks yang tujuannya sekedar melepaskan ketegangan fisik dan mental. Saya kira semua pemain mempunyai feeling sejauh mana mereka dapat dilakukan latihan-latihan menjelang pertandingan yang dimaksud. Latihan semacam itu masih harus dibuktikan secara ilmiah untuk dikatakan tidak baik.

TEMPO: Apakah Anda merasa jemu-bulutangis ?

Rudy: Sulit untuk mengatakan demikian, karena bulutangkis adalah bagian dari kehidupan saya. Tapi kalau diingat-ingat kegiatan saya sejak 1972 sampai sekarang, saya menarik kesimpulan bahwa saya perlu menjalankan istirahat total. Dalam arti kata dalam istirahat ini saya kembali ke bangku kuliah mengejar ketinggalan study saya, di samping sekedar memelihara hobby bulutangkis.

TEMPO: Kabarnya Anda akan pergi ke Singapura untuk belajar bahasa Inggeris sambil melakukan coaching bagi team Singapura?

Rudy : Tidak benar. Yang benar adalah, saya minggu depan (12 Juni) akan melawat ke Singapura bersama-sama team Piala Thomas Indonesia untuk melakukan pertandingan cksbibisi di sana. Setelah itu saya akan kembali ke Jakarta.

TEMPO: Barangkali masih ada hal-hal yang belum ditanyakan tapi ingin Anda sampaikan melalui wawancara ini ?

Rudy: Saya kira sudah cukup. Sekali lagi: menuduh orang makan suap, mengkaitkan kegagalan saya dengan tunangan saya dan melemparkan sebab-sebab kekalahan dengan alasan-alasan sepele memang enak dibaca dan didengar, meski bagi yang bersangkutan bisa mematikan. Saya yakin bukan maksud mereka berbuat demikian. Itulah sebabnya saya menerima kekalahan dan kritik-kritik dari para wartawan dengan hati lapang. Sebagai penutup saya hendak mengingatkan halal yang luar biasa yang bisa saja terjadi dalam suatu turnamen besar, meski misalnya kemungkinan tersebut berbanding I lawan 100. Misalnya dalam final Piala Thomas 1964 di Tokyo ketika itu siapapun merasa yakin bahwa Erland Kops yang sudah leading 14-7 dengan mudah dapat merebut kemenangan dari Ferry Sonneville, tapi apa yang terjadi adalah sebaliknya : Sonnevile mengejar ketinggalannya dan mencapai kemenangan.

Sumber : Arsip Tempo Online

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: