Merubah Kiblat Ke Eropa ?

Tempo 31 Maret 1973. Dipertanyakan apakah kiblat dunia bulu tangkis akan berpindah ke Eropa. di Edinburg, regu Asia yang dianggap bukan tandingan Eropa, digulung regu Eropa 8-2, termasuk kekalahan beruntun Rudy Hartono.

KEINGINAN Rusia, Presiden Asia Badminton Confederation untuk membuktikan supremasi dunia bulutangkis Asia bukan jangkauan’ Eropa memang sudah lama tak tertahan. Impian itu di Stadion Meadowbank, Edinburgminggu lalu gagal berantakan. Regu Eropa memukul mutlak team Asia: $-2. Di balik kekalahan team Asia tersebut timbul pertanyaan, adakah xegu yang kalah ini merupakan team inti yang visa diandalkan membela nama Asia? Meski terdaftar nama-nama: Rudy Hartono, Christian, Ade Chandra, Tjuntjun, Bandid Jaiyen, Sangob Rattanusorn, Hiroe Yuki, Etsuko Takenaka, Taty Sumirah dan Utami Dewi. Tapi tanpa: Tan-Aik Mong, Punch Gunalan, Noriko Tagaki rasanya team ini belum patut untuk di adu membawa Asia ke pintu kejayaan.

Mengingat lawan-lawan yang diturunkan tuan-rumah adalah pemain-pemain pilihan Eropa. Kata Stanley. Gagalnya team Asia di Edinburg tidak akan menarik untuk di perbincangkan, kalau saja Rudy Hartono tidak kalah di sana. Setelah menyerah pada Sture Johnson di Oberhausen, Jerman Barat di babak serrii final untuk kedudukan: 2-15 dan 5-15. Seminggu kemudian is kesandung Svend Pri dalam suatu rubber set: 15-13, 6-15 dan 11-15. Ini merupakan kekalahan ketiga buat Rudy dan kemenangan kedua untuk Svend Pri setelah tahun lalu juga memukul lawan yang sama di Glasgow: 15-11, 9-15 dan 5-15. “Saya percaya, kali ini Rudy betul-betul kalah”, kata’ Stanley Gouw, Ketua Komisi Teknik PSSI pada TEMPO: Dugaan, Stanley Gouw diperkuat oleh permainan Rudy yang mengungguli set `pertama dan penyerahannya pada Set-set berikutnya.

Menilai kekalahan Rudy Hartono dalam beberapa turnamen sampingan menjelang ke All England, tidakkah ini merupakan pertanda bahwa masa kejayaannyahampir berakhir? Terasa sebagai, sesuatu yang sulit buat memberikan jawaban tanpa melihat pertandingan itu sendiri. Kendati beban mental yang di pikulnya dalam predikat juara dunia memang ada. Tapi seberapa jauh is menindih harapannya untuk menang, itulah yang sukar pula buat diketahui. Jika dipakai ukuran’ pengalaman yang lalu, rasanya mental Rudy, tak perlu di ragukan. Namun tidak berarti dengan sendirinya Rudy tak mungkin akan tergelincir. “Saya juga kuatir dengan hal demikian,” tambah Stanley Gouw. Kecemasan Stanley betapapun juga kekuatiran yang meliputi masyarakat. Apakah tidak ada dalang tertentu yang ingin menjatuhkan supremasi Rudy di All England liwat jalan lain? Melihat Rudy turun di Edinburg dalam keadaan flu. Ditambah dengan keinginan Rusia untuk tetap menurunkannya, sementara Komisi Teknik PBSI kurang menyetujui, memperkuat dugaan itu.

Apalagi membaca ketidak langgengan PBSI menjelang turnamen Bombay 1972 dan kerapatan Ketua ABC dengan daratan Eropa, bukan mustahil Rusia biang gara-garanya. “Mungkin, sekali”, ujar Ketua Komtek PBSI. Lain tidak. Sementafa tidak kurang pula kalangan lain berpendapati bahwa Rudy, dengan kekalahannya itu sedang mencoba memhikin kondisi psikologis dalam masyarakat, agar tidak terlalu kecewa seandainya toh ia, harus kalah. Stanley Gouw meragukan anggapan yang belakangan ini. Namun bagaimanapun kedua masalah dl atas punya hubungan keraguan dan kebenaran. Kalau dicoba menyelusuri tingkat – permainan Rudy yang satu kelas di atas peserta-peserta turnainen All England. Orang memang tak guns berprasangka. Meski Rudy harus menjawabnya dengan memboyong piala All England untuk ke-6 kalinya. Jika pekan ini Rudy telah membuktikan kebolehannya, namun kekalahannya di Edinburg tidak luput memberikan kesan yang kurang baik terhadap nama Asia. Karena opini ‘ publik telah terbentuk oleh pertandingan antar: benua yang, tidak wajar itu. Bahwa: jago-jago Eropa bukan tandingan orang Asia.

Bagaimanapun masyarakat tidak akan mengerti tentang andil Tan Aik Mong don pasangan Noriko Tagaki/Hiroe Yuki dalam hal ini. Mereka adalah juara Asia don juara perorangan serta ganda puteri All England. Menggantikan kedudukan nya dengan pasangan Utami Dewi/Taty Sumirah – keduanya tidak pernah bermain ganda – terasa janggal sekali untuk mempertahankan nama suatu benua. Demikian juga -dengarj- pasangan cainpUfan kudy Hartono/Etsukti Takenaka yang turun tanpa saling,rhengenal langgam permaman masing-masing. MasaIah kekalahan, team Asia pada pertandingan antar benua ini – menurut Stanley pertandingan persahabatan – terasa di atur sedemikian rupa. Sehingga masyarakat menj’adi tabu: bahwa: pemain-pemain terbaik Asia telah tersungkur di tangan pemain Eropa. Lain tidak. Pukulan mental. Adakah dengan keadaan ini kiblat dunia bulutangkis akan berpindah ke Eropa? Barangkali keinginan arsiteknya memang begitu. Kepada TEMPO Ruia memang pernah menyampaikan niatnya: “Biar kita, tahu siapa yang terkuat di antara kita: Asia atau Eropa”. Langkah pertama bagi Eropa untuk merubah kiblat memang sudah sukses. Dengan demikian paling tidak mereka mengharapkan kejadian ini akan merupakan pukulan mental buat pemain-pemain Asia sebelum turun ke All England. Kalau sampai beban itu menjadi penyebab ketidak-bolehan, pemain-pemain Asia di gelanggang Wembley. Ini betul-betul celaka karena Rusia.

 Sumber : Arsip Majalah Tempo Online

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: