Widyastuti Muncul Lagi

Tempo 3 Nopember 1973. PBSI memanggil kembali Theresia Widyastuti memasuki TC. Setelah disisihkan dari TC dengan dalih soal mental, Tuti berhasil membuktikan kemampuannya dalam PON VIII. Materi pemain putri minim.

AWAL tahun 1972. Hati-hatin itu nyaris mengawali lembaranlembaran kelabu dalam kehidupan Thercsia Widyastuti. Tersisihkan dari Training Centre team Piala Uber Indonesia degan dalih “soal mental”, Tuti tampak dirundung kekecewaan yang tak tahu kepada siapa akan dikeluhkan. Dengan langkah lunglai ia meninggalkan wisma di Jalan Polo Air, sementara matanya menatap sayu para penghuni seolah minta pamit untuk tidak akan kembali lagi. “Ketika itu hampir saja Tuti mengambil keputusan untuk menggantung raket selamanya, oom”, ujar Widyastuti mengungkapkan sisa-sisa kesedihannya kepada TEMPO.

Sejak kepulangannya ke Yogya, Tuti memang tidak kembali lagi ke sana. Ia menyibukkan diri mengejar pelajaran-pelajaran sekolahnya yang tertinggal selama ia di Jakarta. Sampai suatu hari ia mundur setapak dari keputusannya yang lama dan mulai mengayun raket kembali. Meski terbatas dengan latihan 2 x seminggu, kebolehan Tuti ternyata belum pupus sama sekali. Pertengahan Oktober tahun lampau, ia membuktikan diri dalam turnamen Piala Munadi di Semarang ketika puncak musibah sedang menimpanya. Ibunya meninggal dunia di Yogya menjelang akhir kejuaraan, cuma menyempatkan Tuti menjenguk jenazah yang akan berangkat ke kubur. Tapi dukacita itu tidaklah mengurangi tekadnya malahan merangsangnya untuk meraih kemenangan. Dan Tuti berhasil. Sekaligus ia membuktikan bahwa sikap mentalnya yang selama ini diragukan oleh pembina PBSI adalah sangkaan yang kurang berdasar sama sekali.

Boleh diandalkan. Muncul dalam barisan kontingen Yogyakarta. nasib Widyastuti memang tak begitu mujur di PON VIII. Namun gaya permainan yang diperlihatkannya cukup membuka mata PBSI untuk memanggilnya kembali. Memasuki TC World Invitation Badminton Championships 1973 — invitasi ini kemudian dibatalkan oleh International Badminton Federation – Tuti bukanlah pilihan yang meleset. Ia telah merepotkan pemain Piala Uber Tati Sumirah dan Utami Dewi dengan penempatan bola-bola terarah dan smash yang mematikan. Kendati Tuti harus mengakui keunggulan pengalaman Tati Sumirah dalam rubber-set 1 – 11, 11 – 10 dan 11 – 12, tapi ia tak membiarkan Utami Dewi mengembangkan pola permainannya. Widyastuti mengunci Utami Dewi dengan straight-set 11 – 6, 11 – 5. Di samping itu ia masih mencatat 2 kemenangan lain atas Sri Wiyanti (11-7, 11-4) dan Siswandiyati (11-3, 11-6). “Sedikit waktu lagi saya yakin Tuti merupakan pemain yang boleh diandalkan”, komentar pelatih fisik Drs (STO) Abdulsalam, “baik untuk single maupun double “

Titik tolak pemikiran Abdulsalam berpangkal dari disiplin dan kemampuan fisik Widyastuti yang ditopang usia muda (18 tahun). Selain itu “ia juga bisa membaca taktik lawan di samping kontrolnya yang baik”, sela Aziz memperkuat argumentasi rekannya Abdulsalam. Menahan juara PON VIII Poppy Tumengkon Regina Masli (15-11, 15-11) dan pasanan Retno Kustiyah/Imelda (15-2, 11-14), kedua pasangan yang semula mencoba mendikte lawan dengan pola permainan cepat diselingi tipuan-tipuan memperdaya kali ini tak ampuh di tangan Widyastuti/Sri Wiyanti. Bahkan saat Retno Kustiyah/Imelda berhasil meninggalkan mereka 9-0 pada set kedua, kendali permainan masih dipegang oleh pasangan Tuti/Sri. Dengan tempo yang tinggi mereka terus mencecer Retno Kustiyah yang mulai beranjak tua dan tanpa memberi kesem patan pada Imelda untuk membalasnya. Set kedua yang diramalkan diraih Retno Kustiyah/Imelda – saat mana mereka memimpin sampai angka 14-9 ternyata masih diakhiri lawan.

Jangan dikecewakan. Pasangan Poppy Tumengkol/legina Masli yang mempunyai kelebihan pada drop-shot yang tajam dan smash yang menghunjam lantai pun tak dapat mengembangkan permainannya. Terlebih bila Tuti berada di bagian depan lapangan perminan, sambaran raketnya yang cepat tidak memberi kesempatan pada lawan kembali pada posisi semula, sehingga variasi pukulan menyilang dari Poppy hampir tak jalan sama sekali. Kalaupun kembali, bola yang menaik tinggi itu sudah ditunggu oleh Sri Wiyanti untuk di-smash. “Mereka bermain baik sekali”, ujar Regina Masli memuji pasangan rekannya Widyastuti/Sri Wiyanti.

Menjabar pola permainan ganda – untuk partai tunggal sementara ini tidak akan berkisar dari nama-nama: Tati Sumirah, Theresia Widyastuti, Utami Dewi dan Sri Wiyanti – mencari pasangan pengganti Minarni/Retno Kustiyah dalam team puteri Indonesia memang agak sulit. Dalam penilaian masingmasing pemain secara terpisah, peninjau-peninjau olahraga berkecenderungan untuk mencoba Widyastuti dengan Imelda. Kendati dilihat sepintas lalu langgam permainan Imelda memang tampak lebih mantap dibanding Sri Wiyanti, tapi bagaimanapun faktor psikologis yang sudah terjalin antara Widyastuti dan Sri Wiyanti akan berkaitan dengan prestasi mereka selanjutnya. Barangkali untuk menolong dan memanfaatkan potensi Imelda, rasanya akan lebih baik seandainya ia dipertemukan dengan Intan bukan dengan Retno Kustiyah seperti sekarang ini.

Masalah inventarisasi pemain-pemain puteri saat ini memang terasa mendesak buat PBSI. Tanpa memasukkan WIBC 1973 ke dalam agenda pertandingan, turnamen All England, Asian Games dan kontes Piala Uber sudah menghadang Indonesia dalam tempo yang dekat. Dalam kelangkaan materi pemain yang bisa diandalkan pada waktu yang pendek, pemanggilan Theresia Widyastuti patut disambut dengan kelegaan.

Sumber : Arsip Majalah Tempo Online

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: