Jakarta dan Ambisi Soekarno

Indonesian President Achmad Sukarno Calming down Protesters, 1952, Jakarta, IndonesiaOleh Alwi Shahab. Ketika awal Januari 1808 Gubernur Jenderal Marsekal Willem Daendels mulai berkuasa di Hindia Belanda, dia menghancurkan benteng dan kastil Batavia. Termasuk di antaranya istana yang pernah ditempati 34 gubernur jenderal sebelumnya.Penghancuran ini sesuai perintah Raja Lodewijk Bonaparte, adik Kaisar Napoleon Bonaparte saat Nederland berada di bawah kekuasaan Prancis. Daendels diminta untuk memindahkan ibu kota Hindia Belanda yang kala itu berpusat di kota tua sekitar Pasar Ikan. Alasannya, daerah itu tidak sehat. Dia bisa memilih Semarang atau Surabaya. Tapi, Daendels hanya memindahkannya ke Weltevreden yang jaraknya belasan kilometer di selatan kota tua.

Dia menjadikan Rijswijk (Jl Veteran) dan Noordwijk (Jl Juanda) yang diapit oleh kanal Ciliwung, daerah pertokoan kebanggaan warga Eropa.  Bersama Pasar Baru mengimpor produk-produk Eropa. Di sana terdapat beberapa hotel cukup baik dan sejumlah tempat hiburan warga Eropa seperti Gedung Harmoni.

Ambisi Daendels dapat diwujudkan dengan membangun jalan raya Anyer -Panarukan (1.000 km). Di kala itu belum ada alat-alat berat. Alhasil, batu-batuan dari sungai dan gunung diangkut dengan sapi dan kerbau. Dia juga membangun alun-alun dan taman terbesar di dunia yang kini bernama Monas. Belanda menamakannya Koningsplein (Lapangan Raja). Sedang Daendels yang kesetiaannya terhadap Prancis tak diragukan, menamakannya Champ de Mars.

Ketika Indonesia terpilih sebagai tuan rumah Asian Games IV (1962), Bung Karno yang tampaknya tidak begitu senang terhadap peninggalan Belanda, melebarkan jalan raya Jl Thamrin dan Jl Sudirman. Dia memindahkan pusat kota Eropa daerah Rijswijk dan Noordwijk ke arah selatan. Dengan membangun dan melebarkan Jalan Thamrin dan Sudirman.

Penyelenggara Asian Games di masa Soekarno mengakibatkan sebuah ledakan pembangunan dengan dibangunnya beberapa bangunan penting di kedua jalan tersebut. Jalan Thamrin dan Sudirman oleh Soekarno dijadikan sebagai pintu gerbang Jakarta menggantikan Weltevreden (Rijswijk – Noordwijk)
di masa Belanda.

Di kedua jalan ini, dibangun Hotel Indonesia berlantai 14, Jembatan Semanggi, Kompleks Olah Raga Senayan termasuk Gelora Bung Karno, yang kala itu merupakan stadion terbesar sejagat. Tahun itu menjadi bukti pembangunan masjid terbesar di Asia (Istiqlal), jalan raya By Pass, sebuah planetarium, toko serba ada Sarinah, gedung Pola sekalipun harus membongkar kediamannya di Jl Proklamasi 56, tempat proklamasi kemerdekaan dikumandangkan 17 Agustus 1945.

Soekarno uga membangun gedung pencakar langit tertinggi di Asia (kala itu) Wisma Nusantara berlantai 29. Di air mancur depan HI dibangun Patung Selamat Datang yang kini menjadi pusat kegiatan aksi dan demo serta Patung Pemuda di Senayan. Sementara rencana membangun Soekarno Tower yang ambisius dan merupakan menara tertinggi di Ancol tidak terwujud. Soekarno keburu hengkang dan keadaan ekonomi tidak mendukungnya.

Trem bagi Bung Karno dianggap terlalu mengingatkan masa kejayaan Hindia Belanda. Dia menginginkan sebuah transportasi dalam tanah (metro) sebagai ganti trem. Seperti layaknya kereta-kereta bawah tanah di negeri maju. Bahkan, dia tidak memedulikan permintaan wali kota Sudiro agar jangan seluruhnya jaringan trem di bongkar. Wali kota dari PNI ini minta  dipertahankan jaringan Jatinegara – Senen yang padat penumpang.  Sementara penggantinya, Gubernur Sumarno menyatakan siap membangun kereta bawah tanah dengan membongkar Stasiun Senen.

Tapi, ketika trem dihapuskan angkutan umum seperti bus dan oplet tidak dapat menampung penumpang yang makin memadati Ibu Kota. Trem Jakarta merupakan peninggalan Batavia Verkeer Maatchappij (BVM) yang pada 1954 menyerahkan seluruh asetnya pada Pemda DKI.

Jakarta pada masa demokrasi terpimpin adalah kota yang sibuk. Selain AG, setahun kemudian (1963) diselenggarakan Ganefo (Games of the New Emerging Forces) guna menyaingi Komite Olimpiade Internasional. Tamu-tamu asing, termasuk kepala pemerintahan terutama dari negara sosialis banyak berdatangan. Dan Soekarno, ingin membanggakan Jakarta sebagai kota perjaungan kekuatan NEFO (New Emerging Forces – kekuatan negara-negara anti-Nekolim).

Koningsplein (rakyat menyebutnya Lapangan Gambir), oleh Soekarno telah dirancang menjadi Monumen Nasional (Monas). sebuah tugu yang melambangkan perjuangan rakyat Indonesia dalam membebaskan diri dalam penjajahan. Tapi, ketika Soekarno merancang Monas, lapangan yang luasnya 100 hektar ini dipenuhi berbagai lapangan dan bangunan. Lapangan IKADA (Ikatan Atletik Djakarta) yang pada tahun 1950-an menghasilkan pemain-pemain bola terkenal, dihancurkan. Untuk kemudian digantikan dengan Senayan.

Terdapat pula sebuah gedung pertemuan umum dan bioskop Deca Park yang juga harus disingkirkan. Di sini juga terdapat Gedung Pusat Telepon Gambir dan Press Club. Kantor Polisi Komisariat Jakarta Raya yang berdiri sejak masa Belanda dengan nama Hoopbiro dipindahkan ke Kodak Metro Jaya di Semanggi. Sejumlah lapangan bola dan hoki yang terletak di depan balai kota sekarang ini juga digusur.

Proyek Soekarnon seperti Monas, Masjid Istiqlal, Gedung Conefo (kini DPR-MPR), dan Wisma Nusantara hanya dapat diselesaikan jauh setelah masa Soeharto berkuasa. Masjid Istiqlal baru selesai 1978.

One thought on “Jakarta dan Ambisi Soekarno

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: