Kiper Itu Dipanggil Kembali (Ronny Pasla)

Tempo 10 Februari 1979. BELUM berakhir karir sepakbola bagi Ronny Pasla, 31 tahun.

Kini ia diizinkan lagi main. Dan ternyata PSSI memerlukannya. Empat bulan lalu ia dijatuhi hukuman selama 5 tahun oleh pimpinan PSSI, karena terlibat dalam kasus suap di Merdeka Games, Kuala Lumpur, pertengahan 1978. Untuk sementara, ia belum mengenakan kembali kostum kiper PSSI. Tapi PSSI memberinya tugas melatih diperbantukan pada pelatih nasional, Endang Witarsa — khusus untuk menangani penjaga gawang dalam pelatnas PSSI. 

Empat bulan silam, Ronny menyangka karirnya di lapangan hijau telah berakhir. Ia tidak diperkenankan memperkuat klub, perserikatan, maupun kesebelasan nasional, selama menjalani masa hukuman 5 tahun tersebut. “Rasanya waktu itu pahit sekali,” cerita Ronny. Dalam rapat pengurus harian PSSI, 26 Januari, dicapai kata sepakat untuk merubah hukuman Ronny terdahulu. Masa skorsingnya diturunkan dari 5 tahun menjadi 2 tahun dengan masa percobaan 1 tahun, berikut klausul yang memperbolehkannya untuk bermain bola lagi di lingkungan PSSI.

Hati nurani pimpinan PSSI rupanya terganggu dengan hukuman berat yang dijatuhkannya semula. “Perubahan hukuman itu sama sekali tak ada hubungan dengan soal kiper untuk tim nasional ataupun kegiatan Galatama,” kata Sekretaris Umum PSSI, Hans Pandelaki. Ia membantah dugaan begitu di luar. “Keinginan saya untuk main lagi masih besar,” pengakuan Ronny kepada Said Muchsin dari TEMPO. “Hanya saja kondisi fisik saya sekarang memang belum memungkinkan buat aktif.”

Tubuhnya memang tampak agak gemuk dibandingkan 4 bulan lampau. Tapi dengan pengalaman 10 tahun sebagai penjaga gawang PSSI, ia masih dianggap terbaik di antara 4 kiper terpilih di pelatnas — Endang Tirtana (Persija), Sudarno (Persija), Suwarto (Persiraja). dan Taufik Lubis (PSMS). “Tenaganya masih bisa dimanfaatkan untuk beberapa tahun lagi,” ucap Pandelaki. Pada mulanya di klub Dinamo, Medan, Ronny Pasla menjadi terkenal. Setahun di sana, ia digaet oleh klub Bintang Utara, sekaligus terpilih untuk memperkuat barisan PSMS. Musim berikutnya, ia dicadangkan menjadi kiper nasional, yang waktu itu adalah Judo Hadiyanto.

Tahun 1970, ia hijrah ke Jakarta memilih klub Maesa. Kemudian ia rmasuk klub Indonesia Muda, dan menjadi karyawan Pertamina. Seperti Jongbloed Heboh kasus suap lalu tidak mempengaruhi keadaannya di kantor. Tapi, “keluarga terpukul sekali,” ujar Ronny, ayah dari 3 orang anak. “Saya betulbetul menyesal atas keteledoran dnlu itu.”

Jabatan pelatih, diterimanya dengan senang hati. Namun ia berharap bisa memperkuat klub non-amatir Indonesia Muda, yang memasuki Galatama. “Usia tak begitu mempengaruhi bagi seorang kiper. Jongbloed, misalnya, masih main pada usia 37 tahun,” ujar Ronnv. ongbloed adalah kiper utama tim Piala Dunia Belanda untuk tahun kompetisi final 1974 dan 1978. Tapi, “semua itu tergantung pada pengurus IM.”

Pimpinan PSSI dalam rapat 26 Januari itu juga meringankan hukuman bagi Timo Kapisa, Robby Binur, Suaeb Rial, Iswadi Idris, dan Oyong Lia. Semua ini juga terlibat kasus suap dalam porsi yang berbeda. Untuk 3 nama pertama, keringanannya adalah separoh dari masa hukuman dulu. Masa skorsing mereka sekarang adalah 1 tahun dengan masa percobaan 6 bulan. Sementara Iswadi dan Oyong dinyatakan bebas.

Sumber : Arsip Tempo Online

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: