Bung Karno lagi Menilai Bung Karno, Setelah Blitar

Sayuti Melik

Sayuti Melik

Tempo 30 Juni 1979. Edi, 20 tahun, dari udik di Subang, mengenal Bung Karno hanya dari cerita orang-orang tua. Juga Jaka Budi, 17 tahun, murid SMA di Jakarta dan anak seorang panglima Kodam, hanya tahu Bung Karno dari teman-temannya, yang ikut grup musik Swara Mahardhika pimpinan Guruh Sukarno. Bila Edi menyangka Bung Karno adalah “orang sakti yang ‘punya banyak jimat”, Jaka menganggap Bung Karno, ‘yah, bagaimana, ya, lumayan, deh.’ 

Itu pendapat anak muda sekarang. Tapi baik kita dengarkan pendapat orang-orang yang mengenal Almarhum, sebagai berikut: SAJUTI MELIK Sajuti Melik, kini anggota DPR fraksi Karya Pembangunan, menjelang 70 tahun umurnya. Di pertengahan 60-an ia dikenal sebagai penulis risalah panjang “Belajar Memahami Sukarnoisme”, suatu tafsiran tentang ajaran Bung Karno. Pada saat itu, fikiran Bung Karno dalam pidato Manifesto Politik dan lain-lain praktis merupakan semacam “Kitab Suci” bagi seluruh kekuatan olitik yang ada. Siapa yang dianggap menyeleweng kena “ganyang.” Namun penafsiran tentang ajaran itu menimbulkan bentrokan, terutama antara yang pro-komunis dengan yang bukan. Sajuti termasuk yang terakhir.

Tapi tulisannya yang disiarkan oleh lebih 50 koran non-komunis, kemudian ternyata dinyatakan “terlarang”. Koran-koran itu kena tindak. Sajuti, yang dalam umur 18 tahun sudah dibuang pemerintah Belanda ke Digul dan “dibesarkan dalam paham Marxisme”, tetap menolak penafsiran Marxis atas ideide Bung Karno. Ia dikucilkan, hingga meletusnya peristiwa G-30-S. Suasana politik berbalik sama sekali setelah Orde Baru lahir 1966. “Sesudah Bung Karno jatuh, orang yang tadinya menyembah-nyembah lantas memaki-maki. Saya sendiri tetap menghargai. Padahal dulu waktu ia masih berkuasa sayalah yang berani menentang konsep Nasakom (persatuan Nasionalis, golongan Agama dan Komunis). Saya katakan Nasakom itu tidak betul, yang betul adalah Nasasos — “sos” dalam arti “sosialis”, yaitu sosialis yang menghargai nasionalisme dan agama. Komunis tidak menghargai agama. Tak mungkin bersatu.

Bung Karno terjebak dalam perangkap strategi PKI. Terjebak karena dia tidak tahu. Waktu itu Bung Karno melihat kekuatan yang nyata ada dua, PKI dan ABRI Supaya selamat, keduanya dirangkul. Tidak tahunya, PKI dan ABRI bentrok. Dan kalau keduanya bentrok, yang di atas itu jatuh. Siapapun yang menang. Seandainya PKI menang, Bung Karno juga akan jatuh. Bung Karno menganggap PKI bisa menurut. Tapi tidak bisa. Kelemahan Bung Karno adalah ia suka disanjung. Dan PKI pintar menyanjungnya. Tapi saya tetap menghargainya. Bung Karno juga yang membawa kita kembali ke UUD ’45.

Maria Ulfah

Maria Ulfah

MARIA ULFAH SUBADIO Maria Ulfah Subadio, kini 67 tahun, pernah menjadi Menteri Sosial di tahun-tahun awal usia Republik. Ia tokoh Kowani (Kongres Wanita Indonesia). Suami Maria Ulfah adalah Subadio Sastrosatomo, pemimpin PSI yang dipenjarakan Bung Karno. Mereka menikah waktu Subadio dalam status tahanan. “Saya amat kagum kepada Bung Karno semasih jadi mahasiswa di Negeri Belanda. Saya membeli dan membaca karangannya, Indonesia Klaagt Aan atau Indonesia Menggugat. Sebagai aktivis dan seorang pemujanya, saya bungkus baik-baik-buku itu ketika kembali ke Indonesia, dan berhasil lolos dari pemeriksaan. Waktu itu buku itu terlarang di Indonesia.

Di zaman Jepang baru saya berhasil bertemu dengan Bung Karno. Pertama kali di gedung pertemuan, sekarang gedung Departemen Penerangan Jalan Merdeka Barat, Jakarta. Kedua kalinya ketika bersama beberapa tokoh wanita saya diundang Ibu Inggit (isteri Bung Karno waktu itu) ke rumah kediamannya yaitu Jalan Pegangsaan Timur atau Jalan Proklamasi sekarang. Waktu itu belum zaman merdeka. Ibu Inggit baru pulang bersama Bung Karno naik becak. Bung Karno lalu ikut duduk bersama kami.

Ah, di situlah terjadi suatu hal yang tak terduga-duga. Ibu Inggit menceritakan riwayatnya dan minta diri karena mau kembali ke kampungnya. Kami pun jadi mengerti ia tak mau dimadu. Mendengar cerita Ibu Inggit, kami pun tak kuasa bicara sepatah pun kecuali menangis semuanya. Tapi Bung Karno tampak tenang saja, sembari sekali-sekali membetulkan duduknya. Kekaguman saya memang sedikit berkurang setelah terjadinya peristiwa itu. Tapi kemudian saya bisa mengerti. Alasan Bung Karno mengawini Fatmawati karena dari Ibu Inggit ia tak bisa punya anak.

Sukarno and FamilySaya pun jadi teman baik, juga dengan Fatmawati. Tapi kemudian kekaguman saya mulai luntur, ketika Bung Karno berniat kawin lagi dengan Hartini. Apalagi alasannya? Bukankah dia sudah punya isteri yang cantik dan anak-anak yang lengkap? Nah, ketika ia toh melaksanakan niatnya untuk kawin lagi, saya tak lagi mengaguminya. Dan mulai ragu akan dirinya sebagai pemimpin yang perlu memberi contoh kepada rakyatnya. Ya, dia memang orang besar, tapi anggapan saya terhadap almarhum sebenarnya zakelijk saja. Artinya, tak merasa kehilangan seorang pemimpin.

JENDERAL (Pens.) NASUTION

Tentang A.H. Nasution tidak banyak diperlukan perkenalan kembali. Ia pernah bekerja dengan Bung Karno sebagai perwira tinggi ABRI yang memegang kunci penting di pemerintahan — tapi penuh dengan

pasang surut. Di bawah ini kutipan dari Nasution: “Memanglah selama bertugas dulu ada kalanya saya dalam keadaan akur dan tak akur dengan Bung Karno. Di masa saya pelajar di Bandung, saya telah edarkan dua bukunya terkenal di asrama. Seorang teman yang tertangkap basah membacanya ditindak oleh direktur.

Sebagai pemuda saya pernah tinggal satu straat (jalan) dengan beliau di Bengkulu dan selalu kagum mendengarkan uraian beliau. Tapi di akhir masa Jepang, ketika saya sebagai salah seorang pimpinan pemuda dan Barisan Pelopor di Bandung, kami agak kecewa, mengapa beliau masih rajin berbicara Asia Timur Raya sebagai keharusan geopolitis bagi kita. Padahal sikap fasisme militer Jepang sudah tegas, Pemuda telah berkali-kali bentrok dengan Jepang. “Di masa revolusi fisik, . . . walaupun kami kecewa, beliau tak ikut bergerilya dalam Clash II (1948), namun saya yakin Sukarno-Hatta tak bisa diganti.

nasution

Tanggal 1 Agustus 1948 Pak Dirman yang saya dampingi, di depan Presiden tetap menolak politik pemerintah, sehingga kami pamit dengan sama bercucuran air mata, karena Bung Karno-lah yang menyatakan akan berhenti. Pak Dirman sendiri sebenarnya sudah meneken permintaan berhenti. Saya ajukaan bahwa persatuan pimpinan nasional dengan pimpinan ABRI lebih penting dari soal politik pemerintah. Syukur Panglima Besar (Sudirman) setuju, surat tak diteruskan. Tanggal 1 Oktober 1965 (beberapa jam setelah beberapa jenderal TNI-AD diculik oleh pasukan Gestapu), Jend. Harto, sesuai dengan standing order Angkatan Darat otomatis harus menjadi Pd. Panglima Angkatan Darat.

Tapi dari (tempat perlindungannya di) Halim, Presiden Sukarno mengumumkan, bahwa Presiden langsung memegang komando AD. Jend. Pranoto jadi caretaker. Dengan proses tadi terasa sejak 1952 Bung Karno ingin langsung memimpin ABRI . . . Dari pengalaman saya dengan kepemimpinan beliau, terbuktilah kebenaran ajaran agama, bahwa prinsip-prinsip yang diyakinilah yang mustinya memimpin kita. Pribadi pemimpin kita ikuti selama ia committed (bersetia) kepada prinsip itu.

Bagaimana pun, Bung Karno adalah pemimpin yang besar. Beliau sudah masuk dalam penjara unuk kemerdekaan Indonesia, sebelum saya sadar akan perjuangan kemerdekaan. Walaupun saya pribadi telah jadi sasaran beliau terus menerus sejak mulai kampanye Nasakom, namun saya tetap sadari jasa beliau untuk kemerdekaan dan identitas nasional adalah besar.”

Sitor

Sitor

SITOR SITUMORANG Penyair ini, 55 tahun, dulu tokoh organisasi kebudayaan Partai Nasional. Ia sejak Demokrasi Terpimpin bermula sampai menjelang meletusnya peristiwa G-30-S, sangat menonjol di kalangan atas politik. Ia ikut memimpin kampanye menyerang para seniman penandatangan Manifes Kebudayaan yang dicetuskan di tahun 1963 — misalnya H.B. Jassin, Zaini, Rendra, Taufiq Ismail. Manifes itu kemudian dinyatakan “terlarang” oleh Bung Karno dan para penandatangannya tersingkir dari kancah kebudayaan. Sitor sendiri kemudian tersingkir, dalam tahanan, sejak awal Orde Baru sampai ia dibebaskan kembali hampir empat tahun yang lalu. “Bung Karno adalah seniman. Ia mempunyai rasa seni dan indah sendiri. Tapi tak berarti ia tak menyukai rasa indah orang lain. Ia sangat toleran dalam hal ini.

Saya pernah diperkenalkan kepada Presiden Nasser dari Mesir, “Ini penyair kenamaan Indonesia, tapi saya tak suka sajak-sajaknya.” . . . Saya yakin, beliau tak pernah suka membaca karya sastra. Kalau karya seni lainnya, lukis, patung, film, sandiwara, musik, dia senang dan bisa menikmati. Saya sangat kagum pada pemikiran Bung Karno mengenai masalah kebudayaan. Ia orang Jawa yang mengerti kebudayaan Jawa. Tapi ia bisa mencerminkan rasa nasionalnya dan suku lain tidak merasa tersinggung . . . Jangan diartikan, nasionalisme Bung Karno sekedar mengusap-usap arca atau memuja masa lampau.

(Sebagai pemimpin) Bung Karno terlalu mendasarkan diri pada gerak spontan. Ini didasarkan latar belakangnya sendiri. Ia dilahirkan sebagai tokoh secara spontan, tanpa melalui kaderisasi formil dalam organisasi. Maka Bung Karno kurang membenahi organisasi dan terlalu yakin akan munculnya tokoh secara spontan seperti dirinya. Ia kurang memikirkan organisasi, itulah kelemahannya. Tapi sebagai ideolog dan pemikir beliau belum tersusul oleh orang lain.

Hewawati Diah

Hewawati Diah

HERAWATY DIAH Tokoh wartawan wanita yang kini aktif di bidang usaha ini — juga isteri B.M. Diah, pemilik harian Merdeka — tak begitu siap untuk mengingat-ingat catatannya tentang Bung Karno dalam satu wawancara singkat. “Yang saya ingat sewaktu jadi redaktur Merdeka sekitar tahun 50-an, dia begitu berperhatian kepada orang banyak, terutama wartawan. Dalam perjalanan di dalam negeri, dia menyuruh kami makan di ujung meja dekat gubernur, sehingga wartawan dapat mendengar langsung apa yang dikatakan oleh pemimpin republik. Dan ia selalu ingat nama orang.

Di masa akhirnya ia tak mau mendengarkan nasehat baik dari kawan-kawannya, dan seakan-akan menggali kuburannya sendiri. Ketika di masa belakangan saya melihat ketimpangannya, saya pernah bertanya kepada Abdul Kadir Pringgodigdo, teman lamanya. Pak Pringgo menjawab: “Kalau Bung Karno kini senang akan foya-foya, terlalu sering ke luar negeri, itu karena di masa mudanya dia tak merasakan hal itu. Ketika tualah semua itu dikejarnya.” Teman-temannya selalu memberikan “maaf” kalau Bung Karno berbuat yang berlebihan. Dia memang selalu penuh atensi dan gallant kepada wanita. Biarpun dengan wanita yang sudah tua.

Harry Tjan

Harry Tjan

HARRY TJAN SILALAHI Anggota Dewan Pertimbangan Agung termuda ini, 45 tahun, di masa muda adalah tokoh terkemuka organisasi mahasiswa Katolik PMKRI. Di tahun 1965-1966 ia tak lagi tokoh mahasiswa, sudah sarjana hukum dari UI dan orang penting dalam Partai Katolik, tapi ia dekat dengan anak-anak muda yang waktu itu aktif menghadapi Orde Lama — dan kian lama kian terus terang menentang Presiden Sukarno. Bersama Almarhum Subchan, tokoh NU, Harry aktif memimpin komando “pengganyangan Gestapu.” Harry sendiri merasa bahwa Bung Karno tak mengenalnya. “Bung Karno adalah putera dari jamannya. Ia telah menjawab panggilan jamannya dengan gemilang dan baik. Tapi, seperti tokoh lainnya, setelah jamannya berubah, tentu saja peranannya juga bergeser.

Seorang yang besar ahli melukis tapi lantas disuruh membuat patung ya mungkin tidak bisa — padahal waktu itu yang laku adalah patung. Demikianlah ibaratnya Bung Karno. Di samping itu, umur Bung Karno (menjelang 1965) juga sudah tua, dan semakin kurang dinamis. Dalam karya besarnya persatuan bangsa, ia ternyata tak bisa menghilangkan unsur-unsur yang bisa menyeleweng, meskipun sudah diberitahu. Menurut saya, setelah terjadinya Gestapu, kita semua telah berusaha meyakinkan Bung Karno untuk membubarkan PKI, menghukum para pelaku Gestapu dan dalang-dalangnya. Tapi nampaknya Bung Karno malu mundur — maklum “penyakit” orang tua.

ganis harsono

ganis harsono

GANIS HARSONO Bekas diplomat terkemuka yang kini berumur 57 tahun ini, pernah jadi deputi Menteri Luar Negeri, sekarang mungkin akan lebih dikenal melalui bukunya yang terbit di Australia, Recollections of an Indonesia Diploma, kenangan seorang diplomat Indonesia dari masa politik luar negeri yang aktif ke segenap penjuru dunia di bawah Bung Karno dan Menteri Luar Negeri Subandrio. Ganis menyertai perjalanan Bung Karno di AS dan Uni Soviet, dan menjadi “penghubung” Presiden dengan pers dunia. “Saya punya pendapat bahwa seorang pemimpin dapat produktif hanya dalam masa satu windu, delapan tahun. Bung Karno juga demikian. Ia benar-benar mulai memimpin 1957, dan setelah delapan tahun ia “meninggal” — dalam tanda kutip.

Selama delapan tahun itu ia berhasil mengajak teman-temannya untuk membereskan banyak hal. Setelah itu, ia harus menyiapkan penggantinya. Siapa penggantinya? Nonsens bila orang mengatakan itu Aidit, atau Subandrio, atau Ruslan Abdulgani. Orang tidak akan memilih satu orang. Dia akan memilih satu kekuatan yang ampuh, dan itu ABRI. Kini saya bisa katakan (peresmian makam) Blitar merupakan tonggak sejarah baru. Tidak buat rakyat. Tapi bagi yang sedang menjalankan pemerintahan. Dengan adanya Blitar, segala ruwet renteng itu hilang. Tak perlu lagi menyebut-nyebut Orla, Orba. Kalau ada orang yang membandingkan Orba dengan Orla, berpendapat Orla jelek Orba bagus, orang itu harus ditest kesungguhannya.

moh. roem

moh. roem

MOH. ROEM Tokoh diplomat Indonesia di masa perundingan dengan Belanda ini, yang juga tokoh partai Masjumi yang kemudian dinyatakan “terlarang” oleh Bung Karno, kini 71 tahun. Di tahun 1960-an bersama beberapa orang lain, antara lain wartawan Mochtar Lubis, dipenjarakan pemerintah Sukarno. Roem sendiri menyatakan bukan orang yang termasuk kalangan intim dengan Bung Karno. “Ia intim dengan guru saya, Haji Agus Salim,” kata Roem. Saya memang dipenjarakan oleh Bung Karno, tapi semua orang menyatakan saya tak benci Sukarno, seperti Syahrir juga — yang meninggal dalam tahanan Sukarno –tak membenci Bung Karno. Saya pikir-pikir memang tak ada gunanya. Cuma membawa penyakit saja.

Ada cerita dalam penjara. Subadio Sastrosatomo yang juga dipenjara tiap malam menuruti pesan ibunya jangan tidur sebelum jam 12, karena harus berdoa sedikit di luar kamar. Doanya: “Mudah-mudahan Tuhan mengampuni dosa Sukarno” Karena ibunya tahu, nanti anaknya bisa benci sama Sukarno. Dan saya bagaimana? Saya memang tidak senang dipenjarakan. Sukarno memenjarakan orang tak bersalah itu haram. Tapi saya tidak memintakan ampun kepada Tuhan. Barangkali memang lebih baik sebagai orang Islam saya memintakan ampun, tetapi saya tidak sebegitu baiknya. Lagipula saya berpikir mengapa mintakan doa pengampunan bagi orang yang tidak merasa bersalah.

Bung Karno memang kurang senang kepada Masjumi dan pemimpinnya, sebab kami tak mau mengakui demokrasi terpimpin. Bung Karno menghubungkan kami dengan pemberontakan PRRI. Padahal sebagai partai Masjumi menganggap PRRI tak sesuai dengan UUD. Tapi Bung Karno sendiri, dengan mengangkat diri sendiri sebagai formatir kabinet waktu itu, juga tak sesuai dengan UUD. Bagaimana menyelesaikannya? Damai. Tapi Bung Karno yang menjadi diktatur membubarkan ini dan itu. Kini penilaian saya terhadap Bung Karno tetap, tak perlu saya ubah. Waktu Bung Karno dipuja-puja orang, saya tahu dia orang besar. Tapi saya tak pernah ikut-ikut, seperti juga saya tak perlu ikut menginjak-injak dia dulu.

soejatmoko

soejatmoko

SOEDJATMOKO Soedjatmoko, 55 tahun, bekas Dubes Indonesia di AS dan budayawan terkenal, berbicara tentang Bung Karno: “Bung Karno menganjurkan saya untuk masuk politik, setelah 1945. Tapi ada dua hal yang dia pesan. Pertama, katanya, “Kamu jangan masuk PSI.” Waktu itu saya belum PSI, dan baru masuk PSI menjelang pemilu pertama 1955. Kedua, dia katakan, “Kamu mesti kawin.” Saya katakan kepadanya saya waktu itu tidak sedang jatuh cinta. Dia berkata: “Kamu janji pada saya bahwa kamu akan terima pilihan saya untukmu.” Saya tertawa dan menjawab “Bung, kita ‘kan berjuang untuk menegakkan kemerdekaan, dan bukan untuk menyerahkannya kembali — kepada Bung.” Bung Karno menjawab “Ah, kamu . .”

Dia marah kepada saya di tahun 1958. Ketika itu dia minta saya ikut masuk dalam kabinet. Saya memang menolak. Saya baru bertemu kembali dengan beliau setelah 11 Maret 1966. Ketika itu saya baru kembali dari sidang umum di PBB, sebagai wakil ketua delegasi Indonesia. Roeslan Abdulgani ketuanya. Saya waktu itu melapor kepada Bung Karno karena dia masih menjabat sebagai presiden. Ia menanyakan secara mendalam, apa sebenarnya yang sedang terjadi di RRC dengan pecahnya “revolusi kebudayaan” (sekitar 1966). Siapa yang akan tampil sebagai pemenang? Dia berkata: “Kalau Mao yang menang, itu berarti revolusi-revolusi besar di dunia masih belum habis.” Jawaban saya: Mao kira-kira akan menang, tapi kekuatannya mulai rapuh. Waktu itu Bung Karno tampak prihatin sekali tentang yang terjadi di RRC — dan juga di Indonesia.

Sukarno adalah seorang romantikus tapi juga seorang visioner yang besar. Dalam pandangan dunianya dia tak salah. Saya kira malah banyak benarnya. Cuma terlalu pagi untuk bisa dijadikan landasan, hingga akibatnya Indonesia jadi terisolir. Banyak kejadian di dunia kini misalnya sudah terbayang dalam pandangannya dulu. Tapi garis pertumbuhan suatu bangsa tak hanya ditentukan oleh seorang semata, betapa besarnya pun orang itu.

KARNA RADJASA Hubungan dengan Bung Karno secara langsung terjadi setelah ia berusia sekitar 15 tahun. Ketika Ali Sastroamidjojo (ayahnya) menjadi Menteri PPK ia sering mengantar ibunya ke istana, bertemu ibu Fat. “Waktu itu Bung Karno masih di Yogyakarta, dan kami diajak makan bersama. Saya masih ingat, nasinya jagung.” Hubungan yang dimulai sejak masa kanak-kanaknya kemudian berkembang sampai ia dewasa.

Sepulang dari AS pada 1955, Karna sering bertemu dengan Bung Karno, terutama pada 1960, ketika Bung Karno selalu menghindari untuk bicara politik dengan Ali Sastroamidjojo. “Rupanya. Bung Karno menghendaki agar Pak Ali selalu membenarkan gagasannya. Ini yang tidak bisa diterima Pak Ali,” kata Karna. Peranan sebagai “perantara” itu kemudian berlanjut, ketika Karna Radjasa kadang diminta untuk bicara soal partai dengan Bung Karno. “Terutama pada 1963-1964 waktu saya menjadi salah satu pimpinan DPP PNI,” katanya. Tapi ia berkesan Bung Karno itu menaruh rasa hormat kepada ayahnya. “Barangkali itu disebabkan Pak Ali punya dukungan kuat di kalangan muda partai,” tambahnya. Karna berpendapat dalam kehidupan sehari-hari Bung Karno itu tidak hipokrit. “Ia polos, blak-blakan, jujur,” katanya. “Tapi dalam politik mengapa ia tak berterus terang dengan orang-orang yang dekat atau kawannya?” tanyanya. “Ini yang sampai sekarang saya tidak mengerti.”

Sumber : Arsip Majalah Tempo Online

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: