Malam Itu Perpisahan dengan Cruyff.

johan-cruyff-signed-photoTempo 18 November 1978. BAGI 65.000 pembeli karcis, belum terhitung mereka yang menyaksikan lewat layar tv, pertandingan antara kesebelasan Ajax dan Bayern Muen chen di stadion Olympiade, Amsterdam (7 Nopember) mungkin merupakan tontonan yang tak akan pernah ditemui lagi. Malam itu adalah perpisahan pemain pujaan mereka dan dunia. Johan Cruyff, 31 tahun, selanjutnya akan menggantungkan sepatu bola, menghindari turnamen resmi. 

 

Cruyff, malam itu, setelah 5 tahun bergabung dengan klub Barcelona dari Spanyol kembali mengenakan kostum Ajax – klub di mana ia mengawali karir. Kesebelasan Ajax, juara Eropa 3 kali, malam itu ternyata tak berkutik di kaki pemain Bayern Muenchen. Delapan gol bersarang di jala mereka tanpa balas — 3 dicetak oleh Paul Breitner, 3 dari kaki Rummeninge dan 2 lagi lewat tendangan Gerd Mueller. ” Ini adalah suatu pertandingan perpisahan yang tidak menyenangkan,” kata Cruyff seusai permainan. Kabar Besar Lepas dari gagalnya Cruyff memperlihatkan ketrampilan di hari perpisahannya, dirinya akan tetap merupakan pribadi menarik dari lapangan hijau.

 

Ia dilahirkan dari sebuah keluarga miskin. Orangtuanya adalah pemilik kantin. Ia mulai mengenal permainan sepakbola pada usia 5 tahun, ketika ayahnya, Manus Cruyff menghadiahinya sepasang sepatu bola. “Setiap sore, sehabis sekolah, aku langsung pergi ke jalan main sepakbola ” cerita Cruyff mengenang masa lalunya. Lima tahun kemudian ia sudah bergabung dalam tim bocah kesebelasan Ajax. Ia diterima tanpa melalui ujian. “Suatu kabar besar bagiku. Karena setiap tahun, ratusan anak memasukkan permohonan untuk menjadi anggota klub Ajax. Dan setelah melalui ujian dalam suatu pertandingan, hanya 5 dari 6 pemain terbaik yang diterima, lanjut Cruyff yang memilih karir berbeda dengan adiknya, Hennie. Adiknya sekarang bergerak dalam bidang bisnis.

 

Johan-CruyffDibebaskannya Cruyff dari seleksi masuk bukan tanpa dasar. Pelatih klub Ajax muda, salah seorang di antaranya bernama Jany van der Veen, telah mengenal ketrampilannya di lapangan. Sebab Cruyff memang telah lama menghabiskan hari-hari senggangnya di tempat pemain Ajax berlatih. Bahkan pada usia 6 tahun, ia sudah sering, meski belum secara resmi menjadi anggota klub, memperoleh kesempatan bermain bersama-sama kelompok usia 12 – 13 tahun. Dua musim setelah diterima menjadi anggota klub Ajax, ia termasuk dalam barisan utama tim junior B. Pada usia 16 tahun, ia bahkan sudah menanda-tangani kontrak sebagai pemain bayaran di kelompok pemain muda. Ia mendapat gaji 60 gulden (sekitar 12.000 rupiah) seminggu.

 

Dari bayaran itu ia membantu ibunya yang menjanda sejak ayahnya meninggal 4 tahun sebelumnya. Kendati Cruyff tergabung dalam grup pemain junior, ia tak jarang dipakai di kelompok pemain senior. Debut pertamanya dalam barisan pemain dewasa ini adalah pada pertandingan kompetisi antara Ajax melawan klub GVAV, 2 Pebruari 1964. Dalam pertandingan tersebut, Ajax menderita kalah 3-1. Tapi, “satu-satunya gol untuk Ajax, akulah yang menciptakannya,” ujar Cruyff. Sejak itu ia bermain penuh untuk kesebelasan senior.

 

Jika dibandingkan dengan pemunculan Pele dari Brasilia, Cruyff memang sedikit terlambat tampil di tingkat sepakbola internasional. Pele sudah memperkuat tim nasional dalam Kejuaraan Piala Dunia 1958 di Swedia pada umur 18 tahun. Tapi pemunculan Cruyff di final Kejuaraan Piala Dunia 1974 di Muenchen telah memberikan gambaran tersendiri bagi dirinya. Namanya tak ayal disejajarkan orang, bahkan ada yang menyebutnya lebih baik, dibandingkan Pele. Kartu Kuning Tidak heran ketika kedudukan klub Barcelona terancam, dalam kata perpisahannya manager Vic Buckingham menyarankan kepada pimpinan klub, Agustin Montal untuk membeli Cruyff. “Belilah dia, berapapun harganya,” kata Buckingham. Perhitungan Buckingham ternyata benar. Setahun setelah Cruyff bergabung dengan mereka, klub Barcelona berhasil menjadi juara liga sepakbola Spanyol kembali.

 

Tapi, sayang, Cruyff yang pernah menjadi motor tim nasional Belanda ke final Kejuaraan Piala Dunia 1974 tidak turun di gelanggang yang sama di Argentina, Juni 1978. Tak jelas alasannya, mengapa ia menolak memperkuat tim nasional Belanda. Kabar selentingan yang terdengar, ia mau bermain untuk negerinya, jika Ratu Juliana sendiri yang memmta dirinya bermain. Tingkah Cruyff, yang menjadi topik pembicaraan, bukan itu saja. Di lapangan, ia dikecam sebagai pemain yang gemar memprotes wasit. Tidak jarang ia harus dikeluarkan dari lapangan akibat perilaku itu. Lihat saja, ketika final Piala Dunia 1974. Ia terpaksa diberi kartu kuning oleh wasit, gara-gara ia memprotes pimpinan pertandingan.

 

Tapi Cruyff dengan segala polanya itu tetap disanjung, dikenang, dan tak jarang diancam penggemar sepakbola. Ketika ia menyatakan tekad untuk pindah ke klub Barcelona, salah seorang pemujanya di Belanda mengancam akan menculik isteri dan anaknya.

 

Cruyff menikah dengan Danny, puteri jutawan Cor Coster. Ia, dikaruniai 2 orang puteri, Chantal dan Suzie, serta seorang putera, Jordie. Di Spanyol nasibnya pun tak berbeda. Dalam hal pendapatan, ia dibeli oleh klub Barcelona seharga 2 juta dollar AS. Perkara ancaman maupun maki-maki, terutama bila klubnya kalah, baginya sama saja. “Antara puji dan maki itu cuma terletak antara 1 gol saja,” kata Cruyff Setelah mengundurkan sebagai pemain, ia bercita-cita menjadi konsultan sepak bola.

 

Sumber : Arsip Majalah Tempo Online

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: