Perjanjian Camp David Mesir – Israel

Camp-David_waTempo 31 Maret 1979. DOA dan kerja keras Presiden Carter lima hari di Timur Tengah memperlihatkan hasilnya awal pekan ini. Yaitu Presiden Sadat dan Perdana Menteri Begin menandatangani perjanjian damai Israel-Mesir di Gedung Putih. Di tengah kemarahan sebagian besar pemimpin negara Arab, Sadat secara resmi mengakui Israel setelah 30 tahun menolak kehadirannya lewat 4 perang besar mahal dan menelan banyak jiwa. 

 

Di Washington Sadat dan Begin dieluh-eluhkan sebagai “pahlawan perdamaian.” Tapi yang secara langsung menikmati perjanjian damai itu Carter sendiri. Ketika bertolak ke Timur Tengah awal Maret, popularitas Carter sudah melorot hingga cuma 37%. Kebijaksanaan dalam negerinya — inflasi dan pengangguran — dan kegagalannya di Iran secara bersama membuatnya tidak populer.

 

Dengan nyali yang besar, Carter menerobos kemacetan pelaksanaan persetujuan Camp David. Di Mesir ia diterima Sadat yang sangat butuh damai. Di Israel Carter berhasil meyakinkan Begin akan kesempatan bagus lewat kesempatan damai yang tersedia. Para ahli masih belum melaporkan perkembangan terakhir popularitas Carter selepas kunjungannya ke Timur Tengah. Tapi bisa dipastikan grafiknya bakal menaik. John

 

hite, Ketua Komite Nasional Partai Demokrat — dan seorang pendukung Carter –berkata pekan silam “Saya menasehatkan orang-orang Republik itu untuk mencari isyu baru dalam menyerang Carter. Isyu lama, pemimpin lembek, kini tidak laku lagi.” Tim Hagan, seorang tokoh Demokrat dari Ohio bahkan lebih yakin. Spekulasinya: “Carter akan menyingkirkan semua mereka yang berniat memperebukan kursi kepresidenan pada pemilu mendatang. ”

 

Ketika suasana pesta masih meliputi Gedung Putih, awan gelap kemarahan menggantung rendah di Timur Tengah. Pernyataan keras dan kasar beterbangan ke alamat Sadat dan Carter. Para pemimpin Arab saling berkunjung dan berdiskusi mengenai langkah mereka untuk menggagalkan Sadat “menjual Palestina kepada Carter dan Begin.” Amarah Arab Liga Arab bersidang di Mogadishu ketika Sadat masih dalam perjalanan ke Washington. Di sana memang belum diambil keputusan apa pun, tapi bahwa Liga Arab akan memindahkan pusatnya dari Kairo nampaknya tidak merupakan spekulasi lagi.

 

Di Bagdad pertemuan sedang dipersiapkan. Tapi di Suria bahkan sebelum pesta bermula di Washington, Menlu Andrei Gromyko secara mendadak sudah mendarat. Selama 3 hari pembesar Moskow ini secara amat intensif berunding dengan Presiden Assad dan Pemimpin Palestina Yasser Arafat. “Kami adalah sahabat Suria dan semua bangsa Arab. Kami di sini membicarakan langkah pencegahan terhadap pengkhianatan Presiden Sadat kepada bangsa Arab,” kata Gromyko. Di Beirut, sepulangnya dari Damaskus, Yasser Arafat menjelaskan: “Saya telah menyarankan agar dilakukan boikot ekonomi terhadap Mesir.”

 

Para wartawan mencatat bahwa itulah untuk pertama kalinya Arafat yang moderat itu berbicara keras mengenai Mesir. Arafat bukan satu-satunya orang Palestina yang menyatakan kemarahan terhadap perjanjian damai Mesir-lsrael. Bersama dengan tokoh-tokoh Palestina di perantauan, di wilayah pendudukan Israel sendiri terjadi reaksi yang bahkan berbentuk huru-hara. Di berbagai kota di tepian Barat terjadi demonstrasi. Tentara dan kendaraan Israel dilempari batu, 2 orang Palestina tewas tertembak. “Perjanjian itu tidak akan menghasilkan apa-apa,” kata Elias Freij, walikota Bethlehem. ,”Pemerintahan sendiri yang mereka setujui di Washington itu tidak serius. Israel pasti tidak akan memberi kesempatan,” kata Dr Haydar Abdel Shafi, ketua Palang Merah Gaza.

 

Orang Palestina punya alasan kuat untuk pesimis. Beberapa hari sebelum berangkat ke Washington, Begin dengan tandas membantah tafsiran Perdana Menteri Mesir, Dr Mustafa Khalil, terhadap perjanjian damai itu. Kata Begin “Dr Khalil, Israel tidak akan kembali ke tapal batas sebelum perang tahun 1967. Kedua, Dr Khalil — perhatikan ucapan saya — Yerusalem yang bersatu sekarang ini, tidak akan dibagi dua lagi. Ketiga, Dr Khalil, di Yudea, Samaria dan Gaza tidak akan pernah berdiri sebuah negara Palestina.”

 

Di Kairo, keesokan harinya, dengan dingin Dr Khalil memberikan komentarnya “Jangan terlalu menaruh di hati ucapan pembesar Israel itu. Yang penting apa yang tertulis dalam persetujuan damai.” Naskah yang disepakati memang menyebut akan adanya saat pemerintahan sendiri bagi orang-orang Palestina, tapi di sana Israel tidak secara jelas diikat dengan batas waktu. Bahkan ketentuan mengenai proses ke arah masa persiapan saat berdirinya pemerintahan itu masih sejak semula merupakan kalimat-kalimat yang ditafsirkan secara berbeda oleh kedua belah pihak.

 

Keseretan perundingan damai Mesir-lsrael sejak September hingga kunjungan Carter awal Maret ini terutama karena Kairo-Yerusalem belum sepakat mengenai hal yang secara langsung menyangkut kepentingan mereka. Ini terbukti dari kenyataan bahwa dalam hal yang menyangkut orang Palestina dan hari depan mereka, tidak ada perubahan dari naskah asli persetujuan Camp David, yang dari semula memang amat tidak menguntungkan orang-orang Palestina itu. Tafsiran Begin Dalam keadaan demikian, kemarahan orang Palestina dan para pemimpin Arab mudah dimengerti.

 

Tapi yang nampaknya juga harus dimengerti adalah posisi Sadat. Perekonomian Mesir yang amat parah — inflasi 20 persen dan defisit perdagangan lebih dari 2,5 milyar dolar – memaksa presiden Mesir itu untuk menjauhi perang dan mengejar damai. Mesir selama ini memang menerima bantuan sebesar 3 milyar dolar dari Arab Saudi dan negara Teluk Parsi lainnya. Tapi bantuan yang cuma cukup untuk konsumsi bagi penduduk Mesir yang berkembang cepat, tidak akan pernah bisa diharapkan menolong ekonomi yang terus memburuk.

 

“Untuk pembangunan ekonomi, Mesir perlu memperkuat nilai uangnya. Untuk itu perlu investasi modal asing. Dan modal asing cuma akan masuk jika ada prospek damai dan stabilitas politik.” Demikian analisa Abdel Moneim Qaissuni, penasehat ekonomi Sadat. Dengan bantuan ekonomi — juga militer — dari Amerika Serikat (sekarang 8 milyar dollar setahun, ditambah nantinya sesudah damai 2 milyar bantuan militer dan setengah milyar lagi untuk ekonomi selama 3 tahun) Sadat melihat perjanjian damai itu sebagai jalan keluar.

 

Di Washington, beberapa jam sebelum menandatangani perjanjian damai itu, ia menyempatkan diri untuk bertemu dengan sejumlah pengusaha besar sebagai jalan keluar. Di Washington, beberapa jam sebelum menandatangani perjanjian damai itu, ia menyempatkan diri untuk bertemu dengan sejumlah pengusaha besar. Masihkah dipertanyakan apakah nantinya Mesir — dengan kedutaan Israel di Kairo — tenang membangun ekonominya. Negara-negara Arab radikal dan orang-orang Palestina berjanji menggagalkan perdamaian itu, bahkan berniat membunuh Sadat, atau paling sedikit mengusahakan penggulingannya. Yang pasti mudah mereka lakukan adalah mengisolir Mesir secara ekonomis dan politik.

 

Tapi usaha seperti ini rasanya sudah diperhitungkan Mesir. Yang nampaknya bakal berat bagi Sadat ialah jika ternyata kemudian ia tidak berhasil dengan cepat mengatasi masalah dalam negeri Mesir — politik maupun ekonomi — sementara Israel terus pula berkeras kepala memaksakan tafsirannya terhadap persetujuan damai seperti yang selama ini mereka lakukan.

 

Sumber : Arsip Majalah Tempo Online

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: