Tengkorak Manusia Geger Pecinan

Tempo 27 Oktober 1972. Puluhan tengkorak manusia ditemukan di Jl. Kopi Jakarta kota. Diduga itu adalah tengkorak orang Cina yang dibunuh pada tahun 1740 oleh Belanda yang dikenal sebagai geger pecinan. Konon 10.000 Cina terbunuh.

 TERSEBUTLAH dalam riwayat: kira-kira 10.000 orang Cina – tua, muda, perempuan, bayi telah dibunuh dalam suatu operasi pembantaian di daerah Roa Malakka, Batavia, oleh fihak Belanda pada 9 Oktober 1740. Peristiwa yang lebih di kenal dengan sebutan geger pecinan ini terjadi di masa kekuasaan kongsi dagang Belanda atau VOC dengan Adrian Valckenier sebagai Gubernur Jenderal.

Mendadak, 232 tahun kemudian, atau awal Oktober lalu, beberapa penggali lobang fondasi dari rencana pembangunan sebuah toko bertingkat dijalan Kopi 2A di daerah Kota, Jakarta, menemukan beberapa tengkorak. Tak ayal lagi Dinas Museum & Sejarah DKI Jakarta serta Lembaga Purbakala & Peninggalan Nasional segera datang. Dan temyata hasil-hasilnya memang menarik. Penggalian antara 3 sampai 13 Oktober itu berhasil memperoleh 83 tengkorak manusia, serta tulang-tulang tubuh lain yang belum dihitung jumlahnya.

Yang menarik untuk dicatat pada 10 lobang penggalian yang, memendam tengkorak atau rangka ini terdapat pula rantai-rantai besi, borgol, uang logam serta benda-benda keramik Cina. Sebagian rangka dalam keadaan terbekuk – kepata bertemu kaki sedang yang lain banyak tertusuk paku sehingga memberi kesan disalib. Bagaimanakah asal mula penjagalan besar-besaran itu? Benatkah tengkorak-tengkorak tadi merupakan bekas-bekas peristiwa yang diceritakan? – Kapal ditenggelamkan.

Dikisahkan, dalam buku-buku sejarah berbahasa Belanda yang sudah kuning, bahwa Gubernur Jenderal JP Coen yang mulai membangun Batavia pada 1619, melihat posisi strategis Batavia tan mencitacitakannya sebagai kota dagang nan ramai. la berusaha menarik hati orang-orang Cina di. Banten tan lain-lain agar mau pindah ke situ. Di masa belakang, terjadilah yang tidak mereka bayangkan sebelumnya. Ternyata jumlah orang Cina di Batavia sudah mencapai puluhan ribu.

Pejabat Belanda Reverhost bahkan memperkirakan jumlah 80.000. Ini sangat mencemaskan pimpinan VOC, tan karenanya diumumkanlah satu ketetapan pada awal abad 18, bahwa imigrasi Cina dari Tiongkok dibatasi paling banyak 100 orang per kapal. Demikian pula arus masuk dari kota-kota lain. Sekalipun begitu pelanggaran masuk sering terjadi. Akibatnya pengangguran Cina-Cina yang cukup besar bilangannya mulai melahirkan kegawatan-kegawatan sosial. Misalnya pengacauan jalan Bekasi-Tanjung Priok oleh 100 Cina, atau percobaan membunuh penjaga-penjaga rumah tahanan untuk membebaskan sahabat-sahabat sesama Cina, pada awal 1740 yang sebenarnya disebabkan oleh keputusan-keputusan pihak Belanda yang melarang orang-orang Cina mencari pekerjaan atau membuat warung atau toko di desa-desa.

Sementara kekacauan-kekacauan Cina terus terjadi pada 25 Juli 1740 sidang dewan tertinggi penguasa Belanda mengeluarkan maklumat yang membikin geger orang-orang Cina di Batavia. Cina-cina penganggur akan dibuang ke Banda, Srilangka dan Tanjung Harapan. Afrika. Sedang sebagian lagi, termasuh yang sudah bekerja, bakal dipulangkan ke tanah leluhur – sementara di sana sendiri sejak 1712 dalam dinasti Yung Ching berlaku pules satu maklumat larangan kembali ke tanah Cina, dengan ancaman hukuman mati. Ini kepanikan di kalangan Cina tambah diperpanas oleh berita-berita burung, bahwa kapal-kapal pengangkut Cina-Cina buangan ini sengaja ditenggelamkan Belanda di tengah laut atau, kalau tidak, orang-orang Cina dalam kapal tadi dilempar ke laut.

Sangat edan Tak pelak lagi, orang-orang Cina jadi murka tak hanya yang di Batavia, tapi juga kota-kota lain di Jawa. Maka dari luar Batavia mereka berbondong menuntut balas. Mereka berharap bisa bergabung dengan teman-teman di datam kota yang sudah siap melancarkan pemberontakan. Melihat gelagat ini Gubernur Jenderal Valckenier, yang memerintah sejak 1737, pada 9 Oktober 1740 mengajukan dua usul pilihan pada sidang tertinggi VOC: membersihkan orang-orang Cina dari dalam kota atau sekedar memberi ciri-ciri khusus pada rumah-rumah Cina untuk pengawasan.

Sidang memilih yang kedua. Walau begitu pada hari itu juga Valckenier melihat: Cina-Cina dalam kota telah bergabung dengan penyerang-penyerang luar kota dalam pemberontakan. Valckenier yang merasa kewalahan kemudian mengambil keputusan yang sangat edan. Seluruh Cina di Batavia harus dibunuh. Rumah-rumahnya dimusnahkan. Dan terjadilah pembantaian masal, di sekitar Kali Besar daerah Roa Malakka, Batavia, Kanon-kanon menembaki perkampungan Cina di situ dari seberang sungai Kali Besar.

Pasukan-pasukan Belanda menyerbu membakari rumah, memancung dan menembak setup Cina yang diketemukan. Disiksa, diseret dan dilempar ke sungai. Perempuan, anak-anak, amoi-amoi yang genit, orang-orang tua jompo, sama rata sama rasa. Sementara jeritan maut terdengar di seluruh sudut Batavia, di sungai Kali Besar ratusan mayat merobah warna air dengan darah. Inilah geger pecinan yang kemudian, dimasa belakang, menarik sarjana Johannes Theodorus Versemen untuk mengungkapnya dalam satu desertasi doktor di Universiteit Leiden pada 1938: “De Cineezen to Batavia en de Troebelen vary 1740 Tak ada keterangan sangat pasti berapa ribu Cina yang terbunuh dalam penjagatan 9 Oktober 1740 ini – walau kebanyakan orang memperkirakan jumlah 10.000.

Seperti itu juga, sebenarnya belum ada pemastian secara ilmiyah, bahwa yang diketemukan dalam penggalian-penggalian ini daerah Kota kemarin memang sebagian korban-korban pembunuhan itu. Walaupun dua sarjana Australia dari Nederland yang menjenguk ke Jalan Kopi 2A itu menguatkan dugaan tersebut. Kepala Arkeologi Islam dari Lembaga Purbakala Drs. Uka Candrasasmita menganggap “perlu diselidiki lebih cermat karena pendapat dua sarjana tadi mungkin kurang teliti”.

Dan yang diharapkan mengadakan penyelidikan seteliti mungkin adalah Dr: Yacob MD, satu-satunya palaentolog Indonesia – yang merintis dan memimpin proyek pleo anthropologi di Indonesia dan ketua Seksi Anthropologi agawi Fakultas Kedokteran UGM. Doktor asal Aceh ini bakal meneliti atas dasar metode-metodenya, tentang ada-tidaknya hubungan antara dua peristiwa yang terpisah 232 tahun: pembunuhan di tahun 1740, dan penemuan tengkorak-tengkorak di tahun 1972.

Sumber : Arsip Majalah Tempo Online

One thought on “Tengkorak Manusia Geger Pecinan

  1. nur azizah March 5, 2011 at 2:32 am Reply

    hal ini sangat bermanfaat dalam perkembangan ilmu sejarah….
    jadilah bangsa yang berilmu agar kita maju….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: