Sayang, Tak Ada “Juara Kembar” (Sepakbola Pra Olimpiade 1976)

Tempo 06 Maret 1976 RASA hormat dan haru mengiringi langkah Team Pre Olimpik Indonesia meninggalkan lapangan. Harap dicatat: Kamis malam tanggal 26 Pebruari 1976, Stadion Utama Senayan Indonesia dikalahkan Republik Rakyat Korea dalam undian tendangan penalti 4-5, setelah perpanjangan waktu kedudukan masih bertahan 0-0. Malam final yang memakan waktu 2 jam itu Iswadi dkk berhasil menggoreskan tinta emas dalam lembaran sejarah sepakbola nasional.

Mereka bukan saja berhasil memperhankan mutu permainan seperti yang pernah diperlihatkan pada babak pertama ketika berhadapan dengan Malaysia. Lebih dari itu mereka berhasil meningkatkan daya juang yang mereka pernah kobarkan ketika berhadapan dengan Korea dalam pertandingan sebelumnya. Sehingga lupalah suporter PSSI akan kesilapan yang pernah mereka buat dalam pertandinganmelawan Singapura, Papua Nugini dan seterusnya. 

Tapi toh rasa penasaran masih mengiang-ngiang. Mengapa Indonesia harus kalah? Mengapa Waskito sial terus . . .sampai tua? Mengapa tendangan Risdianto membentur tiang? Dan mengapa harus Anjas Asmara yang ditunjuk untuk mengambil tendangan penentuan, bukan Risdianto? Tragisnya kekalahan Indonesia justru tidak terjadi dalam pertarungan permainan, di mana mereka berhasil mengatasi tekanan Kesebelasan Korea yang lebih kekar dan kompak. Tapi di kotak daerah penalti: di mana bahasa nasib, peran Dewi Fortuna, kekuatan gaib sampai ramalan dukun, lebih berhak bersuara.

“Akhirnya kehendak Tuhan yang menentukan”, kata kebanyakan penonton yang masih tawakal. Tertahan Jin Syahdan, jalan menuju ke undian penalti agaknya telah dirintis sejak siang hari menjelang pertandingan. Seperti biasa Coerver beserta Hendriks dan Ilyas bersama para pemain berbincang-bincang dalam teori permainan. “Sudahlah Ris, kamu ini cuma 10 persen. Tak mungkin berbuat banyak terhadap kedua poros halang mereka”, ujar Coerver pada Risdianto entah berseloroh entah serius. Risdianto yang berwatak tak acuh, tak pula menunjukkan reaksi terangsang, meski sukar pula ditebak perasaan apa yang bergolak dalam lubuk hatinya.

Sampai pada waktu Wasit Toshio Asami menentukan undian penalti, Kapten Iswadi masih berkonsultasi dengan Coerver. Siapa saja urutan algojonya?” Tanya Iswadi Coerver memastikan: Iswadi, Junaedi, Waskito, Oyong dan . . . Anjas. Tersebut nama Anjas keraguan pun mulai muncul. “Apalagi Anjas sendiri telah berterus terang, bahwa kaki kirinya yang bekas terkilir kurang kuat menopang tendangan penalti”,kata Ilyas pada TEMPO. Dalam momen yang kritis, Iswadi meneruskan komandonya menurut rencana.

Dan tembakan kaki kanan Anjas yang menyudut ke kiri memang terlampau tipis dan lemah. Tertahan oleh Jin In Chol …. Kesudahannya, orang hanya menyesalkan mengapa bukan Risdianto, yang dalam tendangan penentuan berikutnya dengan bagus menaklukkan Jin. Meskipun Oyong dan terakhir Suaib juga luput menguasai gawang Jin. “Biarlah kesalahan itu saya terima”, kata Anjas yang telah memperlihatkan permainan cemerlang.

lswadi kemudian menambahkan: “Bagaimana kalau yang lain tidak berani melakukan tendangan ke-5? Sayalah yang salah”. Penyesalan Iswadi nampak ketika ia meninggalkan lapangan berlari, sambil meraung-raung seperti orang kesurupan Senja itu PSSI turun dengan kostum baju hijau celana putih. Warna yang pernah ditolak mereka ketika berhadapan dengan Korea dalam pertandingan pertama.

Meskipun mereka rata-rata bermain baik, gejala-gejala kurang beruntung nampak membayang dari awal sampai akhir pertandingan. Dalam tos pembukaan pertandingan (kick-off), Indonesia kalah tos. Begitupun dalam tos undian penalti untuk menentukan siapa yang mengambil lebih dulu, Indonesia pun kalah Akhirnya tos penentuan pun kalah. Barangkali, seandainya undian tendangan penalti belum berhasil menampilkan pemenang, dan selanjutnya undian ditentukan lewat tos sekeping uang logam, tidak mustahil kalah juga. Jadi, siapa yang mau disalahkan?

Balas Dendam Team Pre Olimpik 1976 gagal menuju Montreal. Gagal berdiri sejajar dengan Team Olimpik Indonesia ke Melbourne 1956 Tapi ia berhasil menegakkan fondamen baru dalam dunia persepakbolaan kita sesuai dengan tuntutan zaman. Selama kehadiran Coerver, pergolakan dalam tubuh PSSI seolah tak pernah reda. Untuk membentuk team yang kuat ia ingin merombak sendi-sendi konven sionil ke arah modernisasi yang nampaknya tidak begitu ramah buat sementara pimpinan PSSI yang berkuasa sekarang. Baik atau buruk ia dengan jujur memperlihatkan kadarnya.

Ia membentuk “Dewan Pemain” — terdiri dari Iswadi, Risdianto, Junaedi, Oyong dan Ronny — untuk bertindak atas nama para pemain dan cadangan dalam memperjuangkan perbaikan nasib. “Kedua kaki kalian adalah periuk nasi kalian hari ini dan jaminan kalian di hari tua”, motto Coerver. “Saya merasa tidak sampai hati kalau kalian hanya mendapat begitu sedikit jika dibandingkan dengan bayaran yang saya peroleh”. Ia selalu mengirang-ira pendapatan yang masuk dalam setiap pertandingan dan menanyakan berapa jumlah yang diterima para pemain. Sampai ada sementara Pengurus yang menuduhnya: memanjakan, merusak pemain dengan uang. Meskipun lebih bijak kalau pimpinan PSSI menjajagi ulah Coerver dulu sebelum kontrak diteken.

Team Pre Olimpik Indonesia dengan kegagalannya berhasil memenangkan dukungan moril masyarakat sepakbola. Tapi lebih penting dari itu adalah perjuangan mereka dalam hal perbaikan nasib, yang sangat menentukan hari esok sepakbola Nasional. Jikalau dulu orang mulai ragu menjadi pemain nasional, kini rasa bangga itu bangkit kembali. Saya yakin angkatan muda sepakbola Indonesia akan berlomba-lomba menjadi pemain nasional”, kata Ilyas. Perhitungan asisten Coerver itu bukan tak beralasan. Karena setiap kali menang mereka mendapat bonus Rp 70 ribu. seri 50 ribu dan kalah 25 ribu. Untuk pertandingan final mereka khusus “memaksa Bardosono meneken kontrak menang Rp 2,5 juta kalah Rp 1 juta

Perbuatan mereka nampak sewenang-wenang, meski jika diingat sebelumnya tak kurang pula mereka mengalami tindakan sewenang-wenang dari pimpinan PSSI. Untuk mengakhiri suasana”balas dendam” ini alangkah baik jika masyarakat sepakbola bersama pimpinan PSSI yang sekarang memikirkan pelembagaan dari semua pengalaman yang “positif’ ini. Bahwasanya publik rela membayar untuk tontonan yang bermutu. Dan hasil pertandingan sepantasnya dikembalikan kepada para pemain dan pembinaan secara konkrit.

Jaminan Hidup Coerver Sabtu yang lalu pulang ke negeri Belanda. Berdasarkan kontrak ia akan kembali lagi ke Indonesia dan mengakhiri kontrak pertamanya pada pertengahan Mei 1976 ini. “Tapi kini semuanya tergantung pada tuan-tuan pimpinan PSSI”, katanya ada TEMPO sebagai ucapan perpisahan. “Saya merencanakan mengadakan kursus asisten pelatih dulu. Tapi nampaknya pimpinan PSSI belum siap dengan bahan-bahan yang saya minta distensil

Coerver sangat kagum dengan publik sepakbola Indonesia. “Tak pernah saya jumpai publik yang begitu solider dengan team nasionalnya, tapi juga obyektif’, katanya. Tapi untuk memulihkan kejayaan sepakbola Indonesia dewasa ini. Ia membutuhkan banyak asisten pelatih. “Terlalu banyak pemain alam yang berbakat yang perlu dibina”

Tapi ia pun tak kurang menyesali sikap pimpinan PSSI terhadap pelatihnya sendiri. “Mereka kurang mendapat jaminan hidup Jumat malam sebelum berangkat meninggalkan Jakarta, ia sempat mampir ke Ketua Umum Bardosono. Konon antara lain untuk memperjuangkan bonus yang diterima pemain dapat dinikmai pula oleh asisten pelatih, pembantu umum, dokter dan masseur team. Biarlah semua pihak merasa senang, seperti halnya 120.000 penonton dengan besar hati menerima kenyataan kekalahan Team Pre Olimpik Indonesia. Karena apa boleh buat dalam turnamen yang baru usai itu tak ada “Juara Kembar”.

Sumber : Arsip Tempo Online

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: