Kemarin ‘kan Bulan Nopember Jadi … (Perpecahan PDI)

Usep Ranawidjaja

Usep Ranawidjaja

Tempo 02 Desember 1978. NOPEMBER, tampaknya merupakan ‘bulan pecah’ bagi PDI. Jum’at 2 Nopember 1977, Achmad Sukarmadidiaja ‘memprakarsai’ reshuffle DPP PDI. Sanusi Hardjadinata dan Usep Ranawidjaja diganti oleh Mh. Isnaeni dan Sunawar Sukowati sebagai ketua umum dan ketua. Tapi waktu itu baik kelompok Sanusi-Usep maupun Isnaeni-Sunawar, jalan terus. Dan acara tudin-menuding juga jalan terus. 

Tapi Jum’at 24 Nopember kemarin, Sanusi gantian ‘membebas-tugaskan’ Isnaeni dan Sunawar sebagai 2 dari 15 ketua-ketua DPP PDI. Barangkali ingin dianggap ‘netral’, ia juga menyorot Usep. Tapi seperti bunyi surat Usep yang dibacakan Sanusi — bersedia mengundurkan diri kalau memang terbukti melanar ketentuan partai-menurut Sanusi, rekannya itu tidak melanggar. Jadi tak perlu dibebas-tugaskan. Jadinya, berita tentang PDI yang menonjol rupanya perpecahan melulu tanpa diketahui adanya perbedaan ide-ide yang penting.  

Sementara masingmasing kelompok saling menuding lawannya sebagai ‘melanggar konstitusi partai’, memang terkesan bahwa PDI ternyata diatur dan diricuhkan oleh segelintir pimpinan di atas saja. Antara PNI Masih tetap seperti dulu, Isnaeni-Sunawar memegang kartu mandataris DPP PNI likwidasi sebelum fusi, sedang Sanusi menggunakan legalitasnya sehagai mandataris kongres I PDI. Biang perpecahan kali ini pun masih tetap yang dulu-dulu juga: ketidak-serasian antara tokoh-tokoh bekas PNI. Dalam perpecahan pertama dulu, kelompok Sanusi-Usep dituduh tidak segera menampilkan calon Presiden, dalam hal ini Soeharto, menjelang SU MPR. Bahkan Usep disinyalir anti dwifungsi ABRI.

 

Perpecahan makin meruncing, ketika Sanusi-Usep tidak menyetujui Isnaeni ‘terpilih’ sebagai Wakil Ketua DPR-RI. Sekarang apa tuduhan Sanusi? Banyak. Antara lain: Isnaeni-Sunawar telah membentuk beberapa DPD dan DPC PDI tandingan di beberapa daerah tanpa setahu Sanusi: DKI, Bandung, Lampung, Palembang, Klaten, Sukoharjo. Hal ini dianggap melanggar konsensus 3 Agustus 1978. Dalam rapat 3 Agustus itu disepakati untuk tidak membentuk DPD dan DPC tandingan, sebaliknya sedapat mungkin mempersatukan.

 

27_sanusihardjadinata

sanusihardjadinata

 

Tak sampai 24 jam setelah pengumuman Sanusi, maka Sunawar ‘mengangkat’ Isnaeni menggantikan Sanusi sebagai ketua umum DPP PDI. Sanusi ganti ‘dibebas-tugaskan’. Kalau Sanusi, dengan legalitas sebagai mandataris kongres I PDI merasa berhak menyempurnakan susunan DPP, maka Sunawar yang mengaku mandataris DPP PNI in-likwidasi merasa berhak mengganti Sanusi yang berasal dari PNI dengan unsur PNI lainnya, yaitu Isnaeni. Yang amat menarik adalah posisi Hardjantho kini. Dulu berdiri di belakang Isnaeni-Sunawar, kali ini Hardjantho yang dalam DPP mengetuai Kelompok Kerja Organisasi, membenarkan tindakan Sanusi. Ia merasa dibikin repot dengan munculnya DPD dan DPC tandingan.

 

Dalam setiap rapat, posisi Sanusi kuat. Kecuali dia sendiri, 5 dari 9 unsur PNI yang duduk dalam DPP memihaknya: Usep, Hardjantho, Notosukardjo, Abdul Madjid, Aberson sementara yang pada Isnaeni ialah Sunawar dan Adi Pranoto saja. Ke-9 tokoh PNI ini juga tidak sepakat ketika membicarakan susunan Panitia Kongres II PDI yang direncanakan Maret mendatang. Kelompok Sanusi menghendaki DPE yang 29 orang itu otomatis sebagai panitia. Barangkali alasannya: karena fusi PDI sudah dianggap tuntas. Jadi tak perlu lagi memperhatikan unsur bekas partai yang kini fusi.

 

Sementara itu kelompok Isnaeni menginginkan susunan baru, 11 orang, terdiri dari PNI 3 orang (Isnaeni, Sunawar, Hardjantho), sedang Katholik, Parkindo, IPKI, Murba masing-masing 2 orang. Tapi Hardjantho menolak. Kabarnya Isnaeni-Sunawar sebagai “Presidium Panitia Kongres” malah sudah bertemu dengan Mensesneg dan Pang Kopkamtib segala, hingga DPP PDI bersidang berkali-kali. Dalam rapat intern unsur PNI, 23 Nopember lalu, kegawatan itu memuncak. Bahkan konon ada yang mengajak PDI bubar saja. “Ada yang mengajak supaya lapor bubar saja pada Pak Hato,” kata sumber TEMPO.

 

Lalu apa kabar Marsusi? Ketua DPD PDI Jawa Timur ini, dalam perpecahan tahun lalu dikenal sebagai ‘jago bicara’ di pihak Isnaeni-Sunawar. Tapi kali ini, ternyata ia lebih suka lihat angin dulu. “Saya akan lebih berhati-hati,” katanya. Lain halnya dengan Ipik Asmasubrata, ketua DPD PDI Jakarta Raya (tandingan) yang sejak dulu memihak Isnaeni-Sunawar. “Ini semua gara-gara Hardjantho yang berambisi jadi ketua umum. Dialah ‘senopati’nya,” katanya lantang pekan lalu. Dengan menyebut ‘senopati’, barangkali ia menuduh Hardjantho sebagai dalang kericuhan. Yang jadi pertanyaan orang luar ialah benarkah bapak-bapak ini tidak merasa malu?

 

Sumber : Arsip Majalah Tempo Online

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: