Tango Kaisar dari Napoli, Argentina Juara Dunia 1986

maradonaTempo 5 Juli 1986. STADION Azteca, Meksiko, bagaikan diserbu suporter Argentina. Suara teriakan: “Argentina … Argentina . . . Argentina . . .,” terdengar gemuruh beberapa kali, begitu Dieo Armando Maradona, kapten tim Argentina, menerima piala kemenangan dari Presiden Meksiko Miguel de la Madrid.

Wajah bintang Argentina itu cerah ketika menerima piala emas yang menjadi lambang supremasi sepak bola dunia itu. Lalu, disaksikan lebih dari seratus ribu penonton, anak muda berambut ikal lebat yang tengah dipuja publik sepak bola itu mencium Piala FIFA yang baru diterimanya. Presiden Madrid, yang ketika menyerahkan tropi tadi didampingi tamunya, Kanselir Jerman Barat Helmut Kohl, sang Presiden FIFA Jao Havelange, tersenyum lebar dan kemudian bertepuk tangan melihat tingkah pahlawan Argentina itu.

Dengan piala di tangan, turun dari tribun kehormatan, ia disambut teman-temannya dan suporter Argentina. Lalu bersama piala emas 18 karat, seberat 5 kg, yang ada di tangannya, Maadona langsung diarak ke seputar stadion. Dari atas gendongan pendukungya Il Re de Napoli, Kaisar Napoli itu, nama julukannya setelah bergabung dengan klub Napoli, Italia, mengacung-acungkan trofi — berbentuk tangan seorang wanita sedang menjunjung bola — yang baru direbut timnya.

Ribuan suporter berjingkrak-jingkrak, membunyikan gendang, trompet, dan mengibar-ngibarkan bendera Argentina menyambut arak-arakan itu. Para wartawan foto berebut mengabadikan peristiwa bersejarah: Maradona tersenyum cerah sambil mengangkat trofi dan beberapa kali berpelukan dengan Jorge Burruchaga, penyerang berkostum nomor 7 yang jadi penentu kemenangan Argentina. Serupa dengan Maradona, Burruchaga, 24, pemain bertubuh atletis — tinggi 176 cm dan berat 71 kg — dan ini main di klub Nantes, Prancis, juga dipanggul para suporter Argentina. Sekitar satu jam Maradona dan Burruchaga, yang diramalkan akan jadi salah satu andalan Argentina di kejuaraan Piala Dunia 1990 di Italia, beserta kawan-kawannya merayakan kemenangan gemilang itu di Stadion Azteca.

Saat-saat manis tak ayal memang tengah direguk bintang sepak bola yang di negerinya dijuluki El Pibe de O’ro, Si Anak Emas, dari Buenos Aires ini. Pelbagai hadiah dan kehormatan diterimanya seusai kejuaraan di Meksiko. Pemerintah Argentina sudah memutuskan akan menganugerahinya gelar “Warga Teladan”. Ini penghargaan yang hanya pernah diberikan kepada penulis terkemuka Argentina Ernesto Sabato, penyanyi tango Hugo del Caril, dan pembalap mobil Juan M. Pangio.

Bersamaan dengan mengalirnya hadiah, bonus, dan penghargaan itu, pelbagai sanjungan terus dilambungkan tokoh-tokoh bola buat pemuda ajaib ini. “Dia pemain yang jenius. Tapi jangan dianggap sebagai Pele,” ujar Joao Havelange, Presiden FIFA. “Sebab, keduanya memiliki sifat dan ciri permainan yang berbeda,” tambah Havelange, kelahiran Brasil itu. Memang dengan Pele alias Edson Arantes do Nascimento pemain legendaris kelahiran Rio de Janeiro yang mengantarkan Brasil merebut gelar juara dunia tiga kali (1958, 1962, 1970) itulah Maradona kini dibanding-bandingkan orang.

Suara orang Brasil tampaknya bisa tercermin dari pendapat Joao Havelange. Tapi, suara orang Argentina tak terlalu meleset kalau dikutip dari pendapat Roberto Bonneli, 46, penulis sepak bola beken koran La Razon yang terbit di Buenos Aires. Maradona, menurut Bonneli, lebih besar dari Pele. “Pele merebut tiga Piala Dunia baru jadi legenda, sedangkan Maradona cukup satu.”

Lalu kata orang Argentina itu lagi, “Dunia mengatakan Pele memainkan sepak bola samba (nama tarian khas rakyat Brasil). Maradona sepak bola tango (nama tarian khas rakyat Argentina). Tapi, mana lebih sulit samba atau tango ? Menari samba Anda cukup memainkan pinggul, tapi kalau tango Anda harus tahu steps.”

Kendati demikian, Pele punya gerak kaki yang memukau kiri atau kanan, dan sundulan kepalanya yang mematuk seperti ular Cobra, sedangkan Maradona hanya bermain dengan kaki kirinya. Kelemahan lain Maradona dibandingkan Pele, superstar Argentina ini mau berbuat licik untuk memasukkan gol (ingat kelicikannya menggolkan bola dengan tangan kanan ketika timnya berhadapan dengan Inggris), sedangkan Pele, pemain yang sudah mencetak 1.000 gol lebih ketika aktif bermain bola, tidak.

Tapi Maradona bukan tanpa pendukung. Alan Hubbard, bekas redaktur majalah olah raga Sports Illustrated dan kini jadi penulis tetap di koran The Straits Times, menilai apa yang dilakukan bintang Argentina itu membikin gol dengan tangan — wajar saja. Kalaupun ia datang kepada wasit dan mengaku dengan jujur seperti seorang George Washington, menurut Hubbard, wasit belum tentu membatalkan gol yang sudah disahkannya. “Wasit memutuskan sesuatu berdasarkan apa yang dilihatnya atau pada apa yang dilihat penjaga garis. Bukan apa yang dikatakan pemain,” tulis Hubbard. Sebagai orang Inggris, penulis ini mengakui tim negerinya memang kalah karena Argentina memiliki seorang pemain yang memiliki seni bermain bola yang bagus, dan bisa membangkitkan semangat serta kekompakan pada tim seperti yang sudah diperlihatkan Maradona.

“Saya kira, meskipun Inggris pun mengikat kedua tangan Maradona ke belakang dan juga mengikat salah satu kakinya, mereka tak bakal bisa mengalahkan Argentina,” tulis penulis olah raga itu. Kenapa? Ia mengatakan dari studi yang pernah dilakukan terhadap Maradona ketika sedang bermain diketahui bahwa bagian yang paling berperan di anatomi tubuhnya ketika menggocek lawannya adalah pinggul. Pinggul pemain yang bertubuh gempal ini bisa digerakkannya berputar dengan cepat.

Dan memang itulah Maradona. Lahir di Lanus, kawasan kumuh di Buenos Aires, ia kini disebut sebagai pemain bola paling berbakat dalam 10 tahun terakhir ini. Bersaudara delapan orang, ia anak seorang buruh kereta api yang bermukim di sebuah rumah sempit di Villa Fioritto juga di kawasan ibu kota Argentina, 20 tahun lalu. Gemar bermain bola, ia bertemu dengan pemandu bakat dari klub Argentinos Juniors Fransisco Cornejo pada usia sembilan tahun. Pelatih inilah yang terpesona pada bakat mainnya waktu itu, dan meminta izin ayahnya untuk melatih Maradona main bola.

Atas persetujuan ayahnya, Maradona kemudian dititipkan pada seorang kaya yang suka sepak bola di Buenos Aires. Dan memang bakat anak ini luar biasa. Dalam usia 16 tahun saja ia sudah terpilih sebagai pemain nasional. Dan setahun kemudian terpilih memperkuat tim Piala Dunia Argentina ke kejuaraan Piala Dunia 1978. Tapi, ia tak jadi dipasang Pelatih Cesar Mennoti pada kejuaraan itu. Ini membuatnya kecewa dan tak mau bicara dengan Menotti sekitar enam bulan.

Sejak itu pula ia kemudian memutuskan untuk terjun ke sepak bola profesional. Berpindah dari satu klub ke klub lain di Argentina, ia kemudian pindah ke Spanyol pada 1982. Yakni, usai gagal mempertahankan gelar Piala Dunia yang direbut pada 1978. Di Spanyol dia bergabung dengan klub terkenal Barcelona dengan uang transfer US$ 8 juta. Dan di klub ini ia makin matang.

Pada 1984, ia ditarik klub Napoli, Italia. Sejak itu pula nama Maradona melesat sebagai superstar baru. Di Italia, terutama di Napoli, kota yang menjadi markas klubnya, ia amat populer. Selama ini sudah ada sekitar 100 bayi yang lahir dan kemudian dinamai orangtua mereka dengan nama lengkapnya atau penggalan ketiga namanya.

Tak hanya terkenal, anak muda penggemar penyanyi pop AS Michael Jackson ini — seperti Jackson ia juga memakai anting berlian di kuping kirinya — berubah menjadi seorang milyarder. Di Napoli, dia tinggal bersama pacarnya, Claudia, gadis Argentina, di sebuah rumah mewah yang luas, lengkap dengan kolam renang dan beberapa mobil mewah.

Ramalan pelatih pertamanya Fransisco Cornejo benar. Diego Maradona memang kemudian membantu orangtuanya. Dia membangunkan buat mereka sebuah rumah besar dan terbilang mewah di Buenos Aires. Sedangkan sang anak meneruskan kariernya di Eropa sebagai pemain bola bayaran. Dan sambil juga bisnis. Ia, misalnya, memiliki beberapa perusahaan yang digerakkan teman-teman atau orang kepercayaannya di Spanyol, Italia, dan Prancis. Di Spanyol, semua urusan bisnis ia serahkan pada teman akrabnya sejak kecil Cysterpiller. Tapi, Maradona Productions, begitu nama perusahaan itu, sempat rugi sekitar Rp 2,5 milyar. Dan Maradona kemudian berpisah dengan teman kecilnya itu dan menunjuk seorang temannya yang lebih tua Guilermo Coppola untuk jadi pimpinan.

Piala dunia, bisnis bola, dan …

Maradona jadi bintang kejuaraan piala dunia di meksiko. dengan cemerlang membawa timnya jadi juara. kejuaraan ini bak pasar pemain-pemain bayaran. ada yang tarifnya naik atau sebaliknya. ada pelatih yang dipecat.(or)

TAHUN ini tahun Maradona …. Kehormatan itu agaknya pantas diberikan kepada Diego Armando Maradona, 25, kapten tim Argentina. Sebab, dialah memang bintan kejuaraan sepak bola Piala Dunia ke-13 di Meksiko. Namanya bahkan terus jadi bahan perbincangan di pelosok dunia setelah berakhirnya pesta kejuaraan akbar empat tahun sekali itu Minggu pekan lalu.

Pelbagai pujian dilontarkan orang pada jutawan muda yang masih bujangan ini. Bukan semata-mata karena keberhasilannya menaikkan lagi pamor timnya — juara dunia 1978, yang tersisih tragis karena terdepak sebelum semifinal di Kejuaraan Dunia 1982 — ke jenjang juara. Melainkan lebih banyak karena penampilannya yang memikat: gesit, tak kenal lelah, dan cerdik menggemaskan sewaktu bertarung di lapangan hijau.

Empat gol diborongnya tatkala meloloskan Argentina ke final. Dan gol-gol itulah (dua gol ketika mengalahkan Inggris 2-1 di perempat fmal, dan dua gol lainnya sewaktu menumbangkan Belgia 2-0 di semifinal) yang mula-mula membuat dia jadi buah bibir. Memang, di samping ada yang memuji, banyak juga yang mencibir, terutama untuk gol pertama yang dimasukkannya lewat “sundulan tangan kirinya” ketika melawan Inggris. Namun, mereka kemudian toh memuji gol kedua yang dibuatnya — waktu itu ia melewati sedikitnya lima pemain belakang Inggris termasuk kiper ternama Peter Shilton.

Gol inilah — yang kemudian diulanginya dengan cara yang tak begitu jauh berbeda ketika menjebol gawang Belgia — yang dinilai Panitia Pertandingan termasuk di antara gol terindah yang tercipta di Meksiko. Untuk itu, bersama Miguel Nugrete, penyerang tim Meksiko yang juga membuat gol yang bagus ketika Meksiko mengalahkan Bulgaria 2-0 di putaran kedua, Maradona akan diberi hadiah khusus. Panitia membuatkan semacam prasasti dari logam yang ditempelkan di Stadion Azteca, Kota Meksiko. “Untuk mengenang suatu permainan yang luar biasa oleh seorang pemain di Kejuaraan Piala Dunia 1986,” kata Jaime de Haro. Administratos Stadion Azteca.

Buat Maradona ini tentulah sekadar hadiah tambahan. Sebab pelbagai bonus dan hadiah lainnya bakal diterima pemain termahal di dunia ini seusai kejuaraan ini. Dari panitia pertandingan saja tim finalis masing-masing bakal menerima sekitar Rp 1,5 milyar. Para pemain Argentina akan membagi rata separuh dari Jumlah itu. Separuhnya lagi merupakan bagian Federasi Sepak Bola Argentina. Sedangkan dari pemerintah Argentina bonus tambahan sudah dijanjikan, tapi belum disebutkan besarnya.

Yang jelas, hampir semua negara peserta memang menjanjikan bonus khusus buat kesebelasan mereka jika membuat prestasi bagus di Meksiko. Besarnya bervariasi. Dari puluhan hingga ratusan juta rupiah jika para pemain bisa mencapai final. Italia, juara 1982 yang tersingkir, misalnya, sudah menyediakan bonus sekitar Rp 125 juta buat setiap pemainnya, jika mereka mampu mempertahankan piala kejuaraan.

Bukan hanya bonus resmi itu yang ditunggu sekitar 500 pemain dari 24 tim yang bertarung di Meksiko. Tapi, ada yang lain: tawaran bayaran lebih tinggi dari para pemilik klub bayaran. Ratusan pemilik klub datang atau mengirimkan wakil mereka, guna mengincar dan kemudian menarik pemain yang menonjol di kejuaraan ini. Tarik-menarik di antara klub-klub inilah yang ditunggu para pemain.

Sebab, bergaji sekitar Rp 2,5 milyar setahun — ini di luar perolehan sebagai bintang iklan di pelbagai perusahaan — Maradona, misalnya, mungkin saja keluar dari klubnya sekarang Napoli, Italia, jika ada tawaran lebih tinggi dari pemilik klub lain. Pemilik Napoli mungkin tak keberatan, jika klub yang berrninat itu mau membayar uang pindah di atas Rp 8,3 milyar, dana yang dikeluarkannya ketika menarik Maradona dua tahun lalu. Sampai kini, inilah rekor jumlah uang pindah tertinggi yang pernah dibayar sebuah klub profesional.

Bisnis sepak bola bayaran memang salah satu penghangat kejuaraan dunia. Kejuaraan dunia memang selalu menjadi “pasar” yang dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh klub-klub dan terutama oleh para pemain sendiri. Inilah tempat bagi pemain untuk “pamer” kebolehannya bermain bola, sekaligus promosi “menjual diri” untuk memperoleh tawaran tarif setinggi-tingginya.

Sebelum kejuaraan di Meksiko dibuka, misalnya, bahkan sudah terjadi sejumlah transaksi antarklub atas sejumlah pemain. Umpamanya, klub Racing, Prancis, tiba-tiba membeli dengan uang pindah sekitar Rp 4 milyar, gelandang berbakat Uruguay, Enzo Fracescoli, 24, dari klub River Plate, Argentina. Pemilik Racing rupanya cemas, pemain yang sudah lama diincarnya itu bakal naik tarif pindahnya, jika ia main bagus ketika membela negerinya di Meksiko. Ini juga yang dikhawatirkan pemilik klub AC Milan, Italia, sehingga berani menarik Giuseppe Galderissi, 24, ujung tombak klub Verona, untuk menggantikan Paolo Rossi. Milan mengikat Galderissi sebelum Piala Dunia dengan uang pindah sekitar Rp 3 milyar. Klub ini sebelumnya juga sudah menarik pemain muda lainnya Claudio Borghi, 21, dari klub Argentinos Juniors, Argentina, dengan uang pindah-sekitar Rp 2,2 milyar. Claudio ditarik Milan, karena ia santer disebut-sebut sebagai calon pengganti Maradona, maestro kejuaraan di Meksiko itu.

Italia memang dikenal sebagai ladang paling menarik bagi pemain bola bayaran di Eropa. Kendati baru mengizinkan masuknya pemain bayaran dari luar Italia sejak 1980, Liga Pro Italialah — dibandingkan Liga Pro Inggris, misalnya — yang terbanyak menampung pemain-pemain beken dunia. Sekarang saja tercatat dua pemain besar, Maradona dan Platini, bernaung di klub-klub Divisi I yang terbilang kaya: Napoli dan Juventus.

Selain didukung perusahaan-perusahaan raksasa — Juventus, misalnya, oleh perusahaan raksasa FIAT — hampir semua klub itu mampu membiayai diri mereka. Ini karena adanya kompetisi yang teratur dan minat menonton sepak bola yang tinggi di negeri itu. Dari hasil pertandingan itu saja setiap tahun setiap klub di sana bisa mengumpulkan sekitar Rp 7 milyar per musim pertandingan. Ditambah pemasukan dari hasil penjualan hak siaran televisi yang terkadang bisa menyumbangkan sekitar Rp 2 milyar pada klub-klub kaya, tak usah heran jika sebuah klub besar seperti Napoli, misalnya, mampu membayar seorang Maradona sekitar Rp 2,5 milyar per tahun.

Selain Maradona, sejumlah nama lain juga sudah menikmati hasil kejuaraan dunia. Empat tahun lalu, salah seorang di antara mereka adalah Paolo Rossi, pahlawan Italia ketika menjuarai Piala Dunia. Ia kini main di klub AC Milan dan sudah hidup tenang sebagai jutawan, yang berpenghasilan sedikitnya Rp 200 juta setahun. Lalu Michel Platini, kapten tim Prancis di Meksiko. Ia jua tenar setelah kejuaraan di Spanyol empat tahun lalu. Kin main di klub Juventus, Italia, ayah du anak ini sudah memiliki lima lapangan bol dan 30 lapangan teni serta rumah-rumah ukuran mewah di Prancis. Bergaji sekitar Rp 400 juta setahun, Platini tampaknya bakal melesat naik dalam tarif pindah dari terakhir sekitar Rp 3 milyar — setelah timnya tampil sebagai salah satu semifinalis di Meksiko.

Tak semua agaknya pemain menerima nasib sebaik mereka. Beberapa pemain harus mau menerima nasib turunnya pendapatan dan tarif uang pindah. Ini karena menurunnya kemampuan mereka. Salah satu contoh, Paolo Rossi yang melesat sejak Kejuaraan Dunia 1982, tapi mungkin melorot setelah kejuaraan sekarang. Ketika tampil gemilang sebagai pegol terbanyak empat tahun lalu, dia sempat diminta dengan uang pindahan sekitar Rp 4 milyar. Tapi kini karena kemampuan sudah berkurang — ia ternyata tak dipakai sama sekali oleh Pelatih Enzo Bearzot memperkuat Italia di Meksiko — ia harus puas mendengar kepindahannya dari Verona hanya dibayar sekitar Rp 2,7 milyar.

Nasib serupa bakal diterima emain lain, seperti Socrates dan Zico dari Brasil, serta Boniek dari Polandia, bintang-bintang yang seangkatan dengan Platini. Dan tempat mereka secara berangsur bakal diduduki beberapa bintang baru yang mulai bersinar di Meksiko. Mereka di antaranya, Garry Lineker, 25, salah satu pencetak gol terbanyak (6 gol) dari Inggris. Ujung tombak klub Everton, Inggris, ini bahkan kini sedang diperebutkan dua klub Spanyol, Barcelona dan Real Madrid. Lalu, Igor Belanov, 25, ujung tombak Uni Soviet yang sudah menyatakan niat mau main di Eropa. Agennya Holger Klemme mengatakan pemerintah Soviet mengizinkan Belanov main di luar negeri, jika diberi uang pindah sekitar Rp 2 milyar. Belanov pencetak 4 dari dari 9 gol yang dibuat timnya hingga putaran kedua. Dia memang salah satu pemain yang membikin hattrick (mencetak tiga gol berturut-turut dalam satu pertandingan) ketika melawan Belgia sekalipun kalah 4-3, di perdelapaBerlangsung sebulan sejak 31 Mei lalu, kejuaraan yang menghasilkan pemasukan sekitar Rp 200 milyar — dari penjualan karcis dan hak siaran televisi saja — ternyata cukup melecut beberapa negara untuk berbuat lebih baik di kejuaraan berikutnya. Marokko, misalnya, yang membuat sejarah baru ketika tampil sebagai negara Afrika pertama yang bisa lolos ke babak kedua putaran final Piala Dunia sejak 56 tahun silam, tampak bersemangat untuk meningkat prestasi sepak bola mereka. Raja Hasan II bahkan sudah mengizinkan dibukanya sepak bola bayaran di negeri itu. Bahkan dia pula yang meminta bawahannya agar mengajukan permohonan kepada Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA), agar menunjuk Marokko jadi tuan rumah kejuaraan 1994, setelah Italia. Raja yang senang bola ini juga telah meminta pelatih kelahiran Brasil yang memimpin tim Marokko ke Meksiko, Jose Faria, agar terus melatih di negeri itu.

Seperti halnya pemain, tarif pelatih juga banyak ditentukan oleh prestasi mereka di kejuaraan dunia. Mereka memiliki andil yang sama — mungkin lebih besar dari pemain — untuk bisa berbuat banyak di setiap kejuaraan. Itu sebabnya ada juga pelatih yang bernasib buruk gara-gara gagal di Meksiko.

Irak, salah satu wakil Asia bersama Korea Selatan, misalnya, langsung memecat pelatih asal Brasil, Evaristo Macedo, yang mereka kontrak untuk Piala Dunia 1986, begitu tim mereka gagal. Dan Uday Hussein, anak sulung Presiden Saddam Hussein, yang memimpin Persatuan Sepak Bola Irak, sudah mengatakan niatnya tak lagi memakai pelatih dari Brasil. Ia merencanakan akan mencari pelatih dari Jerman Barat. Wakil-wakil Asia memang belum satu pun bisa lolos ke putaran kedua Piala Dunia ke-13.

Kejuaraan ini memang masih tetap didominasi tim Eropa dan Amerika Latin. Ada 14 negara Eropa dan 5 wakil Amerika Latin bertempur sejak putaran pertama. Dihantui oleh kecemasan pada teror dari luar dan trauma pada kerusuhan yang menewaskan 39 orang di Stadion Heysels, Belgia, tahun lalu, FIFA rupanya agak mengetatkan — lewat instruksi mereka pada 36 wasit yang diturunkan di kejuaraan ini — pengawasan di kejuaraan ini. Sayang, beberapa wasit kerap tergelincir dalam memberikan putusan hingga beberapa tim merasa dirugikan.

Tapi yang mencolok dan dikecam “absurd” dan secepatnya harus diganti, seperti diteriakkan Maradona, ialah diterapkannya ketentuan yang dimulai sejak 1982: adu penalti. Ketentuan ini diharuskan pada tim-tim yang bertanding setelah putaran kedua. Jika hasil pertarungan mereka tetap seri di perdelapan final, kendati waktu bertanding sudah diperpanjang 2 x 15 menit, maka hasil akhir ditentukan dengan penalti. Dan, ternyata, tiga dari empat pertandingan di perempat final harus diakhiri dengan cara ini. Hasilnya mengecewakan. Brasil kalah 3-4 (skor sebelumnya 1-1) dari Prancis. Spanyol kalah 5-6 (sebelumnya 1-1) dari Belgia dan Meksiko kalah 1-4 (sebelumnya 0-0) dari Jerman Barat.

Banyak yang kecewa pada hasil adu nasib ini. “Sungguh tak adil,” jerit Nugrete, satu-satunya algojo Meksiko yang berhasil memasukkan gol ketika adu penalti, dengan wajah seperti mau menangis setelah timnya kalah. Pelatih Prancis Henri Michel sendiri mengakui ia tak begitu puas karena harus menang penalti. “Sebaiknya memang dilakukan pertandingan ulang,” kata Michel, di sela pekik riang anak-anak asuhannya setelah menang.

Kubu Brasil dan jutaan penggemar mereka amat terpukul karena kekalahan tak enak itu. Dikabarkan enam orang meninggal karena serangan jantung dan seribu orang terpaksa dirawat di rumah sakit gara-gara timnya kalah. Dan bukan mereka saja yang kecewa. Striker andalan Singapura yang pernah main di klub Galatama Niac Mitra, Surabaya, Fandi Ahmad, misalnya, langsung terbang dari Meksiko seusai pertandingan Prancis-Brasil. “Saya tak bersemangat lagi menonton, karena tim favorit saya kalah,” kata Fandi, yang ditugasi Berita Harian, koran Melayu yang terbit di Singapura, meliput keuaraan bergengsi itu, kepada wartawan TEMPO Amran Nasution.

Meskipun banyak yang berang pada sistem adu nasib itu, Pelatih Brasil Tele Santana, yang sudah mengundurkan diri, menerima kekalahan anak asuhannya. “Jika sebelumnya kita sudah menerima ketentuan tersebut, mengeluh akibat kekalahan itu bisa terdengar seperti berharap minta dimaafkan,” kata pelatih yang empat tahun alu juga gagal membawa Brasil ke tahta juara itu.

Piala Dunia sudah dipertandingkan 13 kali. Enam kali diadakan di kawasan Amerika Latin, tujuh kali di daratan Eropa. Tapi, belum sekali pun tim-tim Eropa pernah jadi juara bila kejuaraan diadakan di Amerika Latin. Sebaliknya, tim Amerika Latin, diwakili Brasil, pernah sekali, pada 1958 merebut gelar juara di Stockholm, Swedia. Brasil waktu itu mengalahkan Swedia di final 5-2 (2-1).

Dominasi Latin akan berakhir? Ternyata tidak. Di Stadion Azteca, Minggu pekan lalu, Argentina tampil sebagai juru selamat. Didukung kuat sekitar 110.000 penonton tim dari negeri tango ini mematahkan tim yang seakan-akan akan bangkit untuk merebut mahkota juara dunia, Jerman Barat. Melalui pertarungan yang ketat Argentina menang 3-2.

Stadion termegah di Kota Meksiko kontan gemuruh ketika Maradona dan kawan-kawan memastikan kemenangan mereka. Ini yang pertama, Argentina, juara dunia 1978 — dimenangkan di kandang sendiri — merebut gelar juara dunia di rumah lawan. Maka ribuan suporter mereka yang menyaksikan pertandingan final langsung berbaur dengan tim mereka untuk merayakan kemenangan itu. Peluk-tangis tampak di kubu tim Argentina. Pelatih Carlos Bilardo, arsitek kemenangan siang itu tak sanggup menahan keharuannya dan menangis. “Jangan tanya apa-apa dulu. Saya belum bisa bicara karena gembiranya,” kata pelatih yang pernah dikecam para penggemar bola di negerinya itu.

Pesta kemenangan bola itulah yang menyambut Maradona dan kawan-kawan di Buenos Aires. Rakyat berpenduduk sekitar 28 juta jiwa itu sejak. malam kemenangan di Stadion Azteca hanyut dalam kegembiraan. Semua surat kabar menerbitkan edisi khusus guna mengelu-elukan Maradona dan Pelatih Carlos Bilardo. Beberapa daerah mengumumkan libur umum Senin pekan ini guna memberikan kesempatan bagi warga meluapkan sukacita mereka.

“Kalian memberi contoh yang baik: memberikan kami kebahagian yang kami inginkan,” kata Presiden Argentina dalam pesan khusus kepada Pelatih Carlos Bilardo dan anggota timnya lewat siaran televisi. Sayang, kegembiraan itu harus dibayar mahal. Sedikitnya tiga orang dinyatakan tewas karena peluru dan terhimpit massa yang berkerumun berdesak-desak di beberapa tempat di ibu kota Argentina. Ratusan oran ditankap dan kemudian ditahan polisi Argentina, karena sambil berpesta mereka membuat rusuh: melempari toko-toko. Keadaan hampir sama pernah pula terjadi di Meksiko ketika tim mereka menang sampai menjelang semifinal.

Kalah dan menang tetap ada korban. Ini agaknya tradisi yang bakal terus berlanjut setiap diadakan kejuaraan sepak bola yang menghabiskan duit puluhan juta US dolar. Baik yang dikeluarkan oleh negara peserta untuk membiayai tim mereka. Lebih-lebih yang harus dihabiskan penyelenggara kejuaraan itu.

Sudah berlangsung 56 tahun apa yang kali ini dihasilkan di kejuaraan yang berlangsung di Meksiko? Jika ditilik dari sisi kompetisi, bisa jadi tak banyak yang berubah. Dua kubu Amerika Latin dan Eropa yang tetap bersaing untuk merebut supremasi. Yang dulu dilambangkan lewat sebuah piala yang pada awalnya bernama Jules Rimet. Piala ini kemudian jadi milik Brasil karena tim mereka bisa memenangkannya selama tiga kali, terakhir 1970.

Sedangkan kubu lain Asia dan Afrika hingga piala ini diganti pada 1974 dengan trofi baru dengan nama Piala FIFA — kini dinilai berharga US$ 35.000 — tetap belum bisa berbicara banyak. Hanya ada sedikit kemajuan, ketika tim Marokko dari Afrika Utara bisa lolos untuk pertama kalinya hingga putaran kedua.

Dalam hal pola permainan tim ada petunjuk tim-tim Eropa lebih dinamis. Ini bisa dilihat dengan tampilnya beberapa muka baru seperti Denmark, yang tampil dengan gaya permainan yang menyerang, semacam total football yang pernah diperlihatkan tim Belanda pada 1974. Lalu, penampilan agresif tim Uni Soviet yang mengesankan. Kedua tim ini memang belum beruntung lolos mencapai semifinal. Namun kehadiran mereka setidak-tidaknya mungkin bisa menghangatkan persaingan di lapangan hijau pada kejuaraan mendatang.

Dengan itu boleh diharap mutu permainan para pemain bisa pula naik. Pertandingan pun enak ditonton. Sesungguhnya, sejak dimulai FIFA dulu, tujuan seperti itulah yang dicapai sepak bola selain sports juga suatu tontonan.

Ini sebenarnya tujuan yang hendak dicapai ketika kejuaraan dimulai 1930 di Montevideo, Uruguay. Waktu itu kubu tuan rumah yang sempat dua kali juara olimpiade, memang, telah mendemostrasikannya terutama buat para tamu dari Eropa: apa itu sepak bola gaya Amerika Selatan.

Tapi perkembangan keadaan selanjutnya membuat sepak bola jadi korban. Pertama kali sepak bola jadi alat propaganda politik ketika kejuaraan dilaksanakan di Italia pada 1934. Waktu itu, Benito Mussolini, pimpinan fasis Italia, menggunakan ajang ini untuk mencari pendukung di antara negara-negara peserta Piala Dunia. Ini tak disetujui sang juara bertahan Uruguay. Mereka memboikot kejuaran ini.

Bahkan sampai penyelenggaraan kedua di Prancis (1938), kejuaraan Piala Dunia terus diliputi suasana perang. Usai Perang Dunia II kejuaran dimulai lagi, pada 1950. Inilah tahun munculnya Brasil, negara tetangga Uruguay. Ia jadi tuan rumah, dan dengan gaya permainan mirip penari samba, tarian khas rakyat negeri itu, langsung menyaingi juara dunia pertama Uruguay — yang kembali jadi kampiun untuk kedua kalinya sebagai juara kedua.

Tapi, masa jaya Amerika Latin itu tak lama. Eropa kemudian bangkit. Diwakili Jerman Barat yang merebut gelar juara dalam kejuaraan yang dilaksanakan di Swiss, 1954. Tahun kebangkitan Eropa ini diperkuat Hungaria, lewat penyerang terkenal mereka Puskas pada kejuaraan 1958 di Swedia. Pemain ini menampilkan gaya permainan menyerang yang dilengkapi dengan keterampilan teknik yang tinggi.

Namun, persaingan jadi sengit karena Amerika Selatan juga memunculkan pemain-pemain berbakat. Waktu itu dengan seorang pemain berkulit hitam, Pele, Brasil mencetak rekor baru merebut gelar juara pertama kali di bumi Eropa setelah menggulingkan tuan rumah Swedia 5-2 di final. Kejuaraan ini bisa disebut sebagai tahun awal kejayaan sepak bola Brasil. Dengan Pele dan gaya main samba sebagai modal mereka.

Pada 1962 kemasyhuran Pele dan Brasil merata ke mana-mana ketika mereka mengukuhkan supremasi dengan menjuarai untuk kedua kalinya Piala Dunia. Brasil tampil lagi sebagai juara di Cili, negara tetangganya. Tapi, persaingan dengan Eropa bukan berarti reda. Sebab, pada 1966 muncul kekuatan baru Eropa, Inggris, negeri tempat lahirnya sepak bola. Jadi tuan rumah, Inggris menjuarai kejuaraan ini setelah mengalahkan Jerman Barat.

Tapi, empat tahun kemudian Brasil dengan pemain legendaris Pele membuat rekor baru. Ia tampil sebagai negara yang mampu untuk ketiga kalinya menjuarai kejuaraan Piala Dunia, yang dilangsungkan di Meksiko, 1970.

Sepak bola berkembang setelah itu. Seiring dengan perkembangan perekonomian, sepak bola tambah menyala sebagai ladang bisnis. Sepak bola bayaran berkembang dan sejumlah bintang-bintang tumbuh menjadi jutawan. Mereka itulah pemain besar dari Eropa yang datang untuk menggantikan Pele. Di antaranya Johan Cruyff dari Belanda dan Franz Beckenbauer dari Jerman Barat. Dan di kejuaraan 1974 mereka bertemu. Tahun pertemuan para superstar itu dimenangkan Jerman Barat yang tampil untuk kedua kalinya sebagai juara.

Sepak bola bergulir terus. Dan setelah kemenangan Argentiria pada 1978 para superstar nyaris tak tampak. Malah ketika Italia tampil sebagai juara 1982 boleh dikatakan tak ada bintang baru di lapangan hijau. Hingga kejuaraan tahun ini yang tetap belum mencatat munculnya banyak bintang baru. Memang, agaknya, kian lama kian sulit mencetak pemain superstar seperti Pele, Cruyff, dan Beckenbauer. Yang mulai tampak bersinar sendiri di puncak kini baru Diego Maradona.

Tahun ini bisa dibilang tak banyak bintang yang muncul. Ini bukan mustahil sepak bola akan cenderung tak akan memunculkan banyak superstar. Cocok dengan perkiraan Bora Milutinovic, pelatih tim Meksiko, bahwa kini sepak bola cenderung menampilkan permainan tim, bukan perorangan. Sehingga bukan tak mungkin pula di kejuaraan empat tahun mendatang di Italia, bintang tetap akan dipegang Maradona. Waktu itu ia belum 30.

Marah Sakti, Laporan Amran Nasution (Meksiko) dan Sapta Adiguna (Paris)

Bilardo dan sejumlah arsitek

Carlos salvador bilardo, 46, pelatih kesebelasan argentina, berhasil membawa asuhannya jadi juara. sebelumnya pernah dicerca dan nyaris mengundurkan diri. perjalanan karier bilardo. (or)

PERTARUNGAN di Meksiko tak hanya menguras tenaga 254 pemain yang turun ke lapangan sejak 31 Mei lalu di delapan kota besar di kawasan Amerika Tengah itu. Tapi, terutama merupakan batu ujian terberat bagi 24 manajer tim atau pelatih mewakili negara mereka di kejuaraan bergengsi ini.

Maklum, mereka harus membawa pasukannya selama sebulan bertanding dari satu kota ke kota lain di negeri yang berudara tipis tapi bersuhu panas itu. Lebih-lebih bagi finalis, tak kurang dari enam kali pertandingan harus dilakukan. Dan semua pertandingan gara-gara kepentingan komersial: agar bisa disiarkan malam hari di Eropa hingga dapat pemasukan hak siaran televisi, terpaksa dilangsungkan di siang bolong waktu Meksiko. Yakni, antara pukul 12.00 untuk pertandingan pertama dan pukul 16.00 pertandingan kedua. Padahal, selama ini tim-tim di Eropa, misalnya, kebanyakan sering bertanding malam hari.

Dengan keadaan medan serupa itu, bisa dimengerti jika para pelatih bekerja lebih keras mengatur siasat untuk bisa membuat timnya mampu menaklukkan medan dan lawan-lawannya. Hasilnya, cukup mengejutkan, tim-tim Eropa yang semula diperkirakan bakal kalang kabut menghadapi medan berat itu bisa berjaya. Bisa mengisi tiga dari empat tempat di semifinal. Masing-masing diwakili Jerman Barat, Prancis, dan Belia. Sedangkan negeri Amerika Latin hanya diwakili Argentina.

Bagaimana para pelatih menyiapkan tlm hingga bisa mencapai sukses? Dan apa yang terjadi pada pelatih kawakan yang gagal? Inilah ceritanya:

CARLOS BILARDO, 46

Dia menggantikan Cesar Louis Menotti pelatih yang mengarsiteki Argentina tampil sebagai juara dunia pada 1978 — empat tahun lalu. Yakni, setelah Menotti gagal mempertahankan gelar yang diraihnya di kejuaraan dunia di Spanyol. Dan malah agak tragis, karena Argentina yang juga diperkuat Maradona tak mampu meloloskan diri ke semifinal sekalipun.

Menotti langsung mengundurkan diri, dan jabatan kosong ini kemudian diserahkan pada Carlos Salvador Bilardo. Bertubuh jangkung dengan ciri khas hidung besar, Bilardo, nama panggilannya sehari-hari, amat diremehkan banyak pengamat bola di negerinya ketika baru saja menyandang gelar pelatih nasional. Maklum, sebagai pelatih dia sebenarnya belum istimewa. Malah baru sekitar setahun sebelumnya dipecat sebagai pelatih nasional Kolombia, negara tetangga Argentina, karena gagal meloloskan tim negeri itu ke putaran final Piala Dunia 1982.

Tapi, setelah itu dia sukses membawa klubnya Estudientes de la Plata sebagai juara liga utama Argentina 1982. Antara lain karena prestasinya ini dokter lulusan Universitas Buenos Aires ini dipercaya Federasi Sepak Bola Argentina.

Pemain bola sejak kecil, Bilardo adalah pemain yang suka berpindah klub sejak main di amatir dan profesional. Tak kurang tiga klub profesional di Argentina, San Lorenzo de Almagro, Deportivo de Espanola, dan Estudientes, pernah dimasukinya sebelum berhenti untuk menekuni profesi pelatih pada 1971. Profesi dokter untuk sementara ia tinggalkan karena kegilaannya pada bola.

Toh Bilardo pernah nyaris mengundurkan diri karena derasnya kecaman yang diterimanya ketika sedang menyiapkan tim nasional Argentina untuk Piala Dunia 1986. Adalah Menotti sendiri di antaranya yang ikut mengecam dial karena menerapkan sistem permainan Eropa ke tubuh tim nasional. Yakni, sistem penjagaan orang per orang di barisan pertahanan, dibantu seorang pemain tengah yang bagus dalam meliput bola dan bisa cepat mengatur serangan. Gaya ini diterapkan pelatih Italia Enzo Bearzot ketika tampil sebagai juara dunia 1982.

Sistem yang menurut Menotti, 48, “tak berasal dari Amerika Selatan” itu juga ditolak oleh sejumlah pelatih klub profesional di Argentina. Bilardo mereka tuntut mundur, karena dinilai mulai “ngaco”. Hanya berkat campur tangan Federasi Sepak Bola Argentina, Bilardo tak jadi mundur.

Bekerja keras mencari pemain ke sana kemari, untuk diterapkan pada programnya, akhirnya Bilardo tahu kunci utama keberhasilan konsepnya itu ada pada seorang pemain tengah Maradona. Maka, ia pun mengintip perkembangan permainan bintang mereka Maradona di pertandingan antarliga Italia. Merasa cocok, ia kemudian berhasil menarik minat pemain bintang itu untuk bergabung di tim nasional. “Piala Dunia 1986 akan jadi milik Argentina, kalau kamu ikut jadi pemain. Dan Maradona adalah nama pemain yang bakal paling sering disebut,” itu janji Bilardo pada Maradona sebelum bergabung.

Dan itu ternyata terbukti sekarang. Tapi, orang Argentina rupanya cukup sportif. Di Stadion Azteca ketika berlangsung pertandingan final melawan Jerman Barat, misalnya, di antara pelbagai poster yang dibawa para pendukung tim juara itu, terdap sebuah yang berukuran lebar dengan huruf yang terbaca hingga ke tempat Bilardo dan pemain cadangan duduk. Isinya permintaan maaf dari mereka yang mungkin dulu pernah mengecam sang pelatih yang sukses itu: “Bilardo, Sorry”.

Prestasi di balik keringat

Gary lineker, 25, inggris, mencetak gol terbanyak pada piala dunia di meksiko. mendapat hadiah sepatu emas. bbrp top scorer sejak 1930. maradona dan manuel negrete mendapat hadiah pencetak gol indah.(or)

SIAPA pencetak gol terbanyak di Meksiko? Gelar itu tak jatuh ke tangan Maradona. Kapten kesebelasan Argentina itu, bersama Careca dari Brasil, dan Emilio Butragueno dari Spanyol, harus puas di kedudukan nomor dua dengan masing-masing 5 gol setelah Gary Lineker, 25, ujung tombak tim Inggris yang berhasil menjaringkan gol sebanyak 6 buah. Dengan begitu, pencetak gol terbanyak Divisi I Liga Inggris dari klub Everton itu berhak menerima hadiah sepatu emas Adidas. Gol-gol Lineker itu sama banyaknya dengan yang diciptakan Paulo Rossi (Italia), sebagai pencetak gol paling banyak di Kejuaraan Dunia 1982.

Bagi Inggris yang dikalahkan oleh Argentina di perempat final ini merupakan yang pertama kali seorang pemainnya menjadi pencetak gol terbanyak selama 13 kali kejuaraan dunia berlangsung. Sejak kejuaraan yang berlangsung setiap empat tahun sekali itu dimulai tahun 1930, baru Argentina dan Brasillah yang pernah menampilkan dua pemainnya sebagai pencetak gol terbanyak. Argentina melalui Stabile (8 gol, 1930) dan Mario Kempes (6 gol, 1978). Brasil oleh Leonidas (8 gol, 1938) dan Ademir (7 gol, 1950).

Namun, gol yang paling banyak dalam kejuaraan dunia dicetak oleh pemain Prancis, Fontaine, dengan 13 gol pada tahun 1958. Sementara itu, gol paling sedikit yang dicetak oleh top scorer terjadi pada kejuaraan dunia tahun 1934, hanya 4 gol yang dibikin oleh Schiavio (Italia), Conen (Jerman), dan Nejedly (Cekoslovakia). Baru di kejuaraan yang berlangsung di Italia itulah terdapat lebih dari satu orang pencetak gol terbanyak.

Kejuaraan Dunia memang selalu memberikan kejutan. Selain pencetak gol terbanyak yang muncul selalu orang baru, gol yang tercipta pun sering terjadi begitu cepat. Kalau di Meksiko, Emilio Butragueno (Spanyol) membutuhkan waktu 63 detik untuk membobolkan gawang Irlandia Utara, maka sebelum itu Bryan Robson kapten kesebelasan Inggris, hanya perlu 27 detik untuk membikin gol ke gawang Prancis pada kejuaraan 1982. Ia memperbarui rekor yang diciptakan oleh Olle Nyberg (Swedia) ketika melawan Hungaria dengan waktu 30 detik pada 1938. Tapi Butragueno merupakan satu-satunya pemain dalam kejuaraan di Meksiko yang mampu membikin 4 gol sekaligus dalam sebuah pertandingan ketika lawan Denmark (5-1). Sebelumnya yang mampu ada delapan orang termasuk Fortaine.

Kejutan lain yang baru muncul di kejuaraan Meksiko adalah penghargaan kepada pemain yang membikin gol indah. Bagaimana kriterianya tidak jelas benar. Namun, panitia pelaksana telah memberikannya kepada Maradona dan pemain Meksiko, Manuel Negrete, 26. Penghargaan berupa Plaqiue yang di atasnya terukir nama pemain yang akan ditempel di Stadion Azteca, Mexico City, itu diberikan kepada Maradona pada gol yang dibikinnya ketika melawan Inggris. Operan pendek yang datang dari Burruchaga itu dibawanya melewati lima pemain termasuk Kiper Peter Shilton, sebelum disarangkannya ke dalam gawang.

Sedangkan Negrete memperoleh penghargaan itu karena gol yang dibikinnya ketika melawan Bulgaria. Bola setinggi lutut hasil umpan dari sayap kiri di daerah kotak penalti langsung disambar kaki kirinya ke arah gawang, sembari menjatuhkan diri. Kiper lawan cuma bengong menyaksikan bola menerpa jaring gawang.

Menurut beberapa pengamat bola, kedua gol itu masih kalah indah dibanding gol yang diciptakan Pele, ketika Brasil melawan Swedia, 1958. Saat itu dia terkepung di kotak penalti lawan yang dijaga ketat. Ketika Zagalo mengoperkan bola kepadanya, Pele, yang saat itu membelakangi gawang musuh, menerima bola dengan dada. Lalu dengan pahanya bola dilontarkan ke belakang melewati dua pemain lawan. Bola belum sempat menyentuh tanah, ketika Pele berbalik dalam beberapa detik dan langsung menyambarnya dengan satu tendangan keras ke arah gawang.

Pele memang belum ada duanya sampai kini. Maradona, sekalipun menjadi bintang di kejuaraan Meksiko, menurut banyak pengamat, belum mampu menyamai pemain Brasil itu dalam banyak hal. Pele misalnya, sudah main di kejuaraan dunia 1958 pada umur 17. Umur paling muda yang main dalam kejuaraan dunia. (Di Meksiko yang paling muda umur 20, antara lain Kim Soo Sung dari Kor-Sel dan Papin dari Prancis. Sementara itu, pemain paling tua yang main untuk kejuaraan dunia adalah Pat Jennings, 41, di Meksiko barusan). Dan Pele, sekalipun belum pernah menjadi top scorer, bersama Uwe Seeler (Jerman Barat) merupakan pemain yang paling sering mengikuti kejuaraan dunia sebanyak 4 kali. Dari jumlah itu, Brasil 3 kali menjadi juara dunia, rekor yang cuma disamai Italia.

Tapi memang bukan zaman Pele jumlah gol terbanyak dalam sebuah kejuaraan dunia terjadi. Gol terbanyak terjadi 1982 di Spanyol dengan jumlah gol 146. Tapi karena mulai tahun itu terdapat 52 kali pertandingan, gol rata-rata yang terjadi pada setiap pertandingan adalah 2,8 gol. Di Meksiko jumlah itu menurun menjadi 131 buah dengan rata-rata gol setiap pertandingan 2,52 gol. Apakah ini pertanda pemain depan tidak produktif mencetak gol, atau barisan belakang cukup tangguh, tentu tak bisa segera disimpulkan. Yang pasti, pada kejuaraan 1954 di Swiss, sekalipun jumlah gol seluruhnya 140, karena jumlah pertandingan cuma 26 kali, rata-rata gol yang terjadi pada setiap pertandingan termasuk paling tinggi, 5,38 gol.

Kejuaraan Meksiko, selain mencatat paling sedikit rata-rata gol yang terjadi dalam setiap pertandingan, sebaliknya tercatat paling banyak kartu merah diberikan wasit, 8 buah. Padahal, di Spanyol cuma tercatat 5 kartu merah, salah satunya yang diberikan kepada Maradona. Bisa saja disimpulkan, permainan sekarang semakin lebih kasar dibanding kejuaraan sebelumnya. Yang jelas, di kejuaraan 1934, 1950, dan 1970 — yang terakhir ini berlangsung juga di Meksiko — tak satu pun kartu merah sempat dikeluarkan wasit.

Sejumlah protes untuk tim baju hitam

Bbrp wasit yang tidak akurat pada kejuaraan piala dunia meksiko. 3 wasit mendapat kecaman dari para suporter yang kalah dan mereka harus dikawal. diantaranya, jesus diaz palacio dan chris bambridge. (or)

BEBERAPA wasit terpaksa dikawal lebih ketat. Tindakan ini mau tak mau harus dilakukan petugas keamanan di Meksiko selama kejuaraan Piala Dunia ke-13 berlangsung. Sepekan sebelum kejuaraan bergengsi itu berakhir, misalnya, petugas keamanan harus mengawal kepulangan tiga wasit — Jesus Diaz Palacio dari Kolombia, Chris Bambridge dari Australia, dan Alan Snoddy dari Irlandia Utara — dari hotel hingga ke bandar udara Monterrey. Ini karena sejak usai menyelesaikan tugas mereka, ketiga wasit itu terus-terusan mendapat ancaman dari suporter yang kalah.

Jesus dari Kolombia dianggap suporter Meksiko merugikan tim mereka. Yakni, ketika tim tuan rumah itu bertanding di perempat final melawan Jerman Barat. Jesus membatalkan gol yang dibuat Abuela Cruz, 20, salah satu penyerang andalan Meksiko, di pertandingan penentuan lawan Jer-Bar karena ia menilai pemain itu sudah berdiri offside sebelum memasukkan gol. Pertandingan berakhir seri 0-0. Meksiko kemudian kalah dalam adu penalti (1-4).

Pelatih Meksiko, Bora Milutinovic, seusai pertandingan langsung mencela keputusan Jesus itu. “Bagaimana bisa offside, jika di belakang Cruz masih ada seorang pemain Jerman,” teriaknya emosional. Dikutip pers setempat. Pendapat Bora ini rupanya membakar emosi sejumlah pendukung Meksiko.

Dan wasit dari Kolombia itu sampai dijegat ratusan orang Meksiko di bandar udara ketika akan kembali ke negerinya. “Badut tak punya malu” dan “Berapa kau dibayar orang Jerman untuk mengalahkan kami?”. Itu antara lain jerit emosional yang diserukan berulang-ulang oleh massa yang membanjiri airport. Untung, polisi dan petugas keamanan lainnya sigap.

Ada 36 wasit yang diminta Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) untuk memimpin secara bergantian 52 pertandingan di Meksiko. Mereka adalah wasit pilihan dari lima benua. Hanya enam di antaranya wasit dari Asia dan Afrika. Tiga dari Asia: Shizua Takada (Jepang), Jamal Al Sjarif (Syria), Al Falaj (Arab Saudi), dan tiga lagi dari Afrika: Ali Bennacceur (Tunisia), Idrissa Traore (Mali), Edwin Pichon-Ackon (Mauritania). Selebihnya dari Eropa, Amerika, dan Australia.

FIFA menentukan persyaratan selain harus memiliki sertifikat dan pengalaman memimpin pertandingan internasional, para wasit yang seluruhnya berumur 40-60 itu juga harus menjalani tes kesehatan. Maklum, selain akan memimpin pertandingan dunia, mereka juga harus bekerja di negeri yang berudara tipis dan panas dengan temperatur 5 sampai 38 derajat Celsius.

Ada 53 wasit yang dites, dan 45 yang lulus. Mereka inilah sembilan di antaranya jadi cadangan — yang diminta bertugas dengan bayaran sekitar Rp 100.000 per hari. Ditambah fasilitas tiket pulang-pergi dan jaminan akomodasi serta konsumsi selama di Meksiko, apa yang diperoleh para wasit ini memang jauh di bawah penerimaan pemain. Tapi ironisnya dengan tanggung jawab luar biasa berat.

Kehormatan dipercaya memimpin “pertandingan besar” di Piala Dunia itulah yang lebih banyak mendorong para wasit. “Kami memang dilahirkan sebagai bagian dari sepak bola,” kata George Courtney, 44, wasit dari Inggris yang memimpin perebutan juara ketiga Prancis vs Belgia. Ayah seorang anak ini sehari-hari bekerja sebagai guru kepala SD di County, Durham, Inggris. Dia tercatat telah memimpin 20 pertandingan internasional, di antaranya final kejuaraan Eropa UEFA Cup, kejuaraan sepak bola Asia, dan Piala Dunia di Meksiko yang pertama. Gemar atletik, golf, sepak bola, dan membaca, Courtney termasuk satu-satunya dari 100 wasit terbaik yang biasanya bertugas memimpin pertandingan di Liga Utama Inggris yang diundang FIFA. Di Inggris sendiri kini tercatat sekitar 18.000 wasit. Dan Courtney, wakil mereka, boleh dianggap sukses menjalankan tugasnya.

Paling tidak jika dibandingkan dengan wasit lain, seperti Christ Bambridge, Ali Bennaceur, Joel Quiniou, dan sejumlah lain yang dicerca banyak orang di Meksiko. Bambridge dari Australia dikecam kubu Spanyol karena tak mengesahkan gol hasil tendangan penyerang mereka Michel ketika Spanyol bertanding lawan Brasil di hari kedua. Gol ini memang amat sulit diketahui. Sebab, bola bergerak begitu cepat. Tendangan Michel kena mistar dulu, sebelum — menurut pihak Spanyol — memantul ke daerah dalam gawang dan kemudian mental kembali ke lapangan permainan. Lewat rekaman televisi yang dipelankan, ternyata bola memang masuk ketika memantul dari mistar gawang. Namun, wasit tak melihat kejadian itu. Demikian juga penjaga garis.

Pelbagai ketidakjelian wasit tercatat juga merugikan Uni Soviet, misalnya, ketika bertanding melawan Belgia. Paling tidak satu gol yang dibuat pemain Belgia, ketika keduanya bertemu di putaran kedua, dinilai pelatih Soviet dan beberapa pengamat offside. Selain tak akurat, ada juga wasit yang dianggap mengeluarkan keputusan tak adil. Misalnya wasit Joel Qoiniou dari Prancis. Wasit ini dituding terang-terangan oleh manajer tim Uruguay Omar Borras sebagai “pembunuh” karena mengeluarkan pemainya Jose Batista dari lapangan ketika mereka bertanding lawan Skotlandia. Kesal, karena di pertandingan sebelumnya seorang pemainnya Miguel Bossio juga dikanumerahkan wasit, Borras kemudian menyerbu wasit ke lapangan. Ia juga mengecam keras korps wasit seusai pertandingan dengan Skotlandia itu. Akibatnya, ia dihukum tak boleh duduk di bangku cadangan pada pertandingan berikutnya, dan tim Uruguay sendiri kemudian dihukum denda sekitar Rp 15 juta.

Setumpuk kekecewaan memang dialamatkan ke Korps Baju Hitam kali ini. Dan FIFA tak bisa lain harus membela mereka. “Wasit mungkin saja salah, karena itu manusiawi. Tapi keputusan tak akan kami ubah,” kata Andreas Marce Varela, salah seorang anggota Komisi Tehnik FIFA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: