Usaha Mengamankan Piala (Piala Thomas 1973)

Rudy Hartono

Rudy Hartono

Tempo 26 Mei 1973. Persiapan pemain bulu tangkis regu Thomas Indonesia sudah mantap. Namun Pujianto bekas pelatih teknik team piala Thomas mengharapkan para pemain tak bersikap takabur terhadap kekuatan lawan. SIAPA yang bisa merebut Piala Thomas dari Indonesia? Hampir semua orang — baik yang ahli maupun yang awam tidak merasa ragu, lawan mana yang mampu mengalahkan regu Piala Thomas Indonesia. Dengan kata lain, dewasa ini Indonesia secara relatif memiliki material pemain yang jauh lebih mantap dalam menghadapi lawan-lawannya di babak final turnamen Piala Thomas (25 Mei — 3 Juni 1973) Keyakinan ini bukan saja datang dari penggemar-penggemar bulu tangkls di warung-warung kopi, malahan diakui pula oleh bekas pemain-pemain Piala Thomas yang laln.

Insentif.

Sejak Indollesia pertama kali merebut Piala Thomas dari tangah Malaya di tahun 1958, kemudian berturut-turut mempertahankannya pada tahun 1961 di Istora, tahun 1964 di Tokyo, lalu menyerah pada Malaysia akibat “skandal Istora”, tapi bangkit kembali merebut lambang suprenasi bulutangkis dunia itu pada tahun 1970 — nampaknya kedudukan PBSI tidak pernah sekokoh tahun ini. Ferry Somanville dan Eddy Yusuf misalnya, memberi komentarnya bahwa “kita harus mempersiapkan diri secara maksimal sebab bukan tidak mungkin akan terjadi sesuatu yang di luar perhitungan” Hanya sikap rendah musti mereka agaknya yang menyelimuti rasa “terlalu yakin untuk menang”.

Perasaan serupa agaknya melanda pula bekas pemain Piala Thomas, Pudjianto. Tidak seperti tahun-tahun 1967 dan 1970, bekas pelatih teknik team Piala Thomas ini memilih peranan di bclakang layar. “Kalau kita diharuskan memilih antara dua cadangan Iie atau Johan, mana yang saudara pilih”, katanya pada TEMPO. Pudjianto berusaha menutupi rasa takaburnya dengan mengajukan alternatif yang se-detail-detailnya, agar kemenangan Indonesia benar-benar sip! Tapi apa mau dikata, Iie begitu mendengar ia tersisihkan dari team inti terus minggat pulang kampung. Indratno, pasangan ganda Rudy 3 tahun lalu tidak juga sangsi akan potensi regu PBSI sekarang “Tahun 1964 kita memiliki regu yang kuat juga, tapi lawan pun gila Denmark masih memiliki double duuia Finn Koberro/Hammergaard Hansen” Indratno yang sekali-sekali masih menjenguk Rudy cs berlatih di Istora mengingatkan. Juga tahun ini bukan saja regu lawan tidak sedahsyat yang dulu-dulu, terlebih lagi “persiapan tahun ini luar biasa” Apa yang Iuar biasa? “Insentifnya”, jawhnya singkat.Damlawan Saputra, satu-satu nya bekas pemain Piala Thomils pertama Indonesia yang resmi bercokol dalam team sebagai pelatih tcknik, hanya menyimpulkan bahwa “yang bimbang akan kekuatan kita justru Pengurus Besar”.

Team Dukun

Tcrnyata rasa bimban pengurus Besar bukan tidak beralasan, meski apakah alasaan itu bisa diterima akal sehat atau semata-mata mistik dan dan psikologis sifatnya Faktor-faktor non teknis seperti yang pernah dikemukakan Ketua Umum PBSI, Sudirman di forum pers bahwa “Kita menempuh segala upaya termasuk pengamanan mistik terhadap para pemain untuk mempertahankan Thomas Cup”, dapat di terima dengan toleransi meski ada pula yang menyanggah dengan’ cemooh non sense. Mistik atau bukan, bahwa kultur warisan nenek-moyang kita agaknya selalu mendapat tempat terhormat dalam setiap perjuangan bangsa (baca Projek Nasional), merupakan kenyataan tidak dapat dibantah. Dengan catatan bahwa dongeng atau cerita-cerita sihir yang berinti pada mistik, kedukunan dan sebangsanya bukan mustahil sedang menggoda mental para pemain yang akan turun ke gelanggang.

Dalam hubungan ini Ramli Rikin, tokoh kawakan (wasit) PBSI mempunyai alasan sendiri untuk menyimpan percikan nostalgia dari peristiwa Piala Thomas 1961 dan 1967 — peristiwa kekalahan Kim Bie/King Gwan dan “Skandal Senayan” sampai ke liang kubur (lihat box: Kisah M & 4 Benggali). Maka sekarang dapat disimpulkan, konon untuk mengamankan Projek Nasional ini secara nonteknis dan mistik, team dukun pun ikut dipersiapkan PBSI di belakang layar.

Watergate.

Tapi andaikata terjadi sebaliknya, tidak bijak pula mencari kambing hitam pada unsur dukun. Team Manager Sukada dan Non Playing Captain Stanley Gouw, tak luput dari intaian. Keunggulan teknik, fisik dan mental para pemain serta dukungan kondisi objektif lainnya seperti bermain di gelanggang dan di muka publik sendiri — kurang diimbangi oleh pimpinan team yang berpengalaman atau paling tidak sekelas dengan almarhum Moh. Irsan. Demikian pendapat sementara peninjau. “Saya dipilih dan diminta oleh PB, bukan saya yang mencalonkan diri sendiri”, kata Stanley pada TEMPO, ‘siapapun di antara kita yang terpilih menjadi Captain, harus dianggap sebagai penunjukkan terhadap diri kita berempat”. Stanley mengajukan konsensus tersebut pada ketiga rekan pengasuh lainnya: Willy Budiman, Ridwan dan Darmawan, sebelum penetapan siapa di antara ke-empat pengasuh resmi itu ketiban rezeki non playing captain. Sukada, juga terbilang baru dalam keluarga PBSI, nampaknya lebih sibuk mengurusi soal-soal keuangan termasuk penjualan tiket –untuk memenui kebutuhan linansil team. Tapi sebagai Komandan TC Piala Thomas Indonesia, nampaknya ia tidak ambil pusing dengan ocehan orang. “Lihat saja nanti”, begitu katanya. Apa lagi? “Asal tidak terjadi peristiwa semacam Watergate kita tidak akan kalah!” Begitu hebat keyakinannya terhadap regunya, tapi hegitu dalam pula perasaan was-was akan perpecahan yang mungkin timbul dari dalam tubuh PBSI sendiri. Adakah dalam mempertahankan Piala Thomas ada unsur-unsur partai Republik dan Demokrat yang saling cakar-cakaran? Wallahualam bissawab.Sukada agaknya hanya minta restu dan persatuan untukmenunaikan missinya.

Buka kartu.

Untuk memenangkan Piala Thomas ke-5 kalinya — pertama diperebutkan sejak 1949 — bagi Indonesia jalan ke situ nampaknya sudal licin-klimis. Team dan para cadangan telah pula diungsikan ke suatu apartemen di Wisma Aneka. Kerikil-kerikil tajam yang masih bertaburan agaknya berujud pada kondisi Muljadi dan pendatang baru Amril Nurman. Sementara tanda tanya mengenai diri pemain ganda Tjuntjun, diimbangi oleh pemain teras Rudy. Hari-hari terakhir membuka kartu, nampaknya pimpinan dan tokoh-tokoh PBSI terus berunding untuk menyusun komposisi terbaik. Bukan tidak mungkin dalam menghadapi Thailand di hari pertama, Amril akan diturunkan sebagai tunggal kedua melawan Sangob atau Bandid — dua lawan yang pernah di kalahkan sebelumnya. Sedang Muljadi diperhitungkan dengan mudah akan melalap tunggal ketiga lawam Penilaian ini berdasarkan bahwa regu Thai tidak akan berbeda dengan regu yang mengalahkan Malaysia dalam kwalifikasi interone dua bulan yang lalu. Tapi mendadak Bangkok Post mengumumkan ke-6 pemain Thai, tanpa Pitchai Kongsiritavorn — tunggal ke-tiga yang dikalahkan P.Gunalan dalam kwalifikasi interzone sebelumnya. Lengkapnya mereka terdiri atas: Sangob, Bandid, Chaisah Thongdesri Sila Ulao, Thonchai Pongpoon dan Pornchai Sukuntaniyom.

Sedangkan dalam menghadapi final dengan perhitungan Denmark akan muncul sebagai pemenang pemenang dari India atau Kanada — akan dihadapkan dengan pasangan yang agak ekstrim. Pertimbangan ini berdasarkan pengalaman bahwa pemain Denmark masih jerih terhadap Iie Sumirat dan Christian yang disebut belakangan pernah mengalahkan Svend Pri di All England 1973. Setelah Iie mengundurkan diri, Christia dinilai cocok untuk mengalahkan Elo Hansen, sementara Muljadi dipusatkan untuk meraih satu angka dari Flemming Delfs. Akan Amril sendiri agaknya pimpinan PBSI masih bambang apakah pendatang baru ini dapat mengatasi tekanan mental dalam pertandingan final. “Kecuali ia menunjukkan prestasi luar biasa melawan Thailand”, kata seorang pengurus. Akan halnya dengan Denmark di duga akan tetap pada pasangan: Svend Pri, Henning Borch dan Elo Hansem Ganda: Borch/Hansen dan Bacher/Peterson. Akhirnya persiapan yang demikian sempurna dari segi teknis team, nampaknya menuntut pula kerapihan penyelenggaraan Organizing Committee dalam hal ini ditangani secara ex-offio oleh PB PBSI. Tentu saja faktor penonton dan petugas ikut menentukan suksesnya babak final Piala Thomas ke-3 di Istora Senayan –lepas dari siapa nantinya yang akan muncul sebagai juara.

Sumber : Majalah Tempo Online

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: