“Apa Sih Kekuatan Oma Irama ?” (Pemilu 1977)

Tempo 09 April 1977. BERBEDA dengan waktu pemilu 1971, dalam pemilu tahun ini Golkar tak mengerahkan artis secara besarbesaran. “Kami tak lagi menggunakan sistim pengerahan artis Safari model 1971”, tutur drs. Moerdopo, bendahara DPP Golkar kepada TEMPO pekan lalu. Kurang biaya? “Bukan. Soal dana, kita kan golongan besar, banyak punya sponsor”, ujarnya. Mungkin betul. Tapi bisa diingat juga ucapan Ketua Umum Golkar Amir Murtono, di depan pers sehari sebelum masa kampanye berlaku. Ia menyatakan “dalam masalah biaya buat kampanye, Colkar juga mengalami kesulitan seperti parpol”. Ia mengungkapkan bahwa dari rencana biaya Rp 1,5 milyar, sampai saat itu baru terkumpul Rp milyar, termasuk bantuan Presiden yang Rp 175 juta.

Kabarnya karena itu Bucuk Suharto, tokoh Artis Safari dan pemimpin perusahaan film Golkar (PT Safari Sinar Sakti Film), tak jadi mengerahkan artis buat berkampanye. Tak disetujui DPP. Padahal sudah diajukannya setahun lalu. Tapi Moerdopo memang punya alasan lain. Yakni sistim itu sudah diduga akan ditiru pihak lain. Selain itu menurut dia, pengerahan artis dan regu kesenian buat kampanye sekarang ditekankan kepada kekuatan daerah masingmasing. Sebab menurut Moerdopo, strategi pengerahan regu kesenian ke daerah-daerah di 1971 itu telah menghasilkan kemenangan ganda. Pertama memenangkan Golkar. Kedua “menanamkan benih” artis-artis dan grup kesenian di daerah-daerah. Hasilnya di tahun 1977 ini tak perlu lagi ia mengerahkan artis-artis dari Pusat. Cukup yang ada di daerah-daerah saja. Itu menurut Moerdopo.

Sedang menurut Mus Mualim, anggota Bagian Sosial Budaya DPP Golkar, “DPP Golkar tidak lagi membiayai kampanye artisartis”. Hal itu kini dibebankan kepada daerah-daerah. “Kami tak terlalu ngoyo”: katanya kepada Adi Putra dari TEMPO. Suami Titiek Puspa ini menambahkan bahwa ada juga yang ikut kampanye di daerah tapi tak sebanyak 1971. Ia menyebut misalnya Frans Daromez di Manado, Titiek Puspa di Jawa Timur, Muchsin & Sandhora dan Benyamin S. di Jakarta. Kepergian mereka ke daerah itu pun agak “kebetulan”.

Menurut Moerdopo, Frans Daromez berkampanye sampai 20 Maret di Sulut karena kebetulan “pulang kampung. Benyamin dan Grace Simon pernah berkampanye di Banjarnlasin dengan mendompleng undangan Kodam setempat. Ateng dan Iskak bersama penyanyi Vivi Sumanti berkampanye di Irian Jaya nunut undangan Pemda setempat. Betapapun juga, menurut Moerdopo, “tak ada artis atau grup kesenian yang kini besar, bisa dipisahkan dari jasa Golkar”. Seorang staf Moerdopo bahkan menyatakan bahwa di tahun 1960-an kehidupan para artis berantakan, sampai datang regu Safari yang kemudian memperhatikan mereka. “Artis menikmati kemenangan Golkar”, katanya karena Golkar “membukakan banyak jalan”.

Diakui oleh Moerdopo, bahwa PNI dulu (1971) pernah terkenal karena menampilkan grup reognya. Tapi dibandingkan dengan tim Safari Golkar, katanya itu belum apa-apa. Juga bila kini Partai Persatuan Pembangunan dapat menampilkan Oma Irama, bagi Moerdopo itu belum jadi ukuran kehebatan kampanye PPP. “Apa sih kekuatan Oma Irama”, cetusnya. “Tak mungkin menandingi tim Safari 1971”. Dan memang, tampaknya PPP cuma mampu menampilkan Raden Haji Oma Irama itu. Sampai awal April ini, cuma “raja dang-dut” itu satu-satunya artis penyanyi yang giat jadi “gong” partai bertanda-gambar Ka’bah itu. Menurut H. Muzaini Ramli, Ketua Lajnah Pemilihan Umum Ummat Islam (LPUI) DPD PPP DKI Jakarta, PPP memang akan mengerahkan artis-artis. Juga cabang-cabang PPP di daerah-daerah “akan berbuat serupa”, katanya.

Tapi sampai Sabtu pekan lalu, Muzaini masih enggan menyebutkan siapa saja mereka. Tampaknya memang banyak hambatan yang dihadapi PPP DKI Jakarta dan daerah. Dana amat cekak. Kebanyakan artis yang bersedia kampanye memang menyatakan lillahi ta’ala. Tapi toh biaya angkutan perlu. Sementara itu PPP tak bisa berkutik bila artis yang sudah digarapnya “dibajak orang lain”, seperti dikatakan Muzaini. Karena itu, kecuali menyebut Oma Irama yang memang pendirian dan tekadnya kuat tetap berpihak pada PPP, Muzaini tak berani terang-terangan mengumumkan sebelumnya siapa artis yang akan tampil buat PPP.

Sebab gejala saling memperebutkan artis memang muncul selama masa kampanye ini. Kasus Benyamin S dan Muchsin & Titik Sandhora agaknya dapat merupakan contoh. Kabarnya, jauh sebelum Benyamin dan Muchsin & Sandhora tampil di kampanye Golkar, pihak PPP DKI, seperti diakui Muzaini, sudah melakukan pendekatan kepada mereka bertiga. Tapi tampaknya PPP kalah sigap. Benyamin jadi muncul di kampanye Golkar, meski memberikan kesan “asal nongol”. Muchsin-nya Titiek Sandhora lebih yakin: ia agak menyesali Oma Irama yang PPP (lihat: Antara Harapan).

Golkar – yang memegang banyak kunci ke pelbagai kesempatan – memang bisa lebih mampu membujuk. Artis Safari atau resminya Team Kesenian Safari Golkar 1971 itu, beranggotakan tak kurang dari 324 orang artis dan “ofisiar’. Terdiri dari para penyanyi, pelawak, penari dan pemain band atau orkes. Bandnya saja berjumlah 13 buah. Antara lain Koes Plus, Kumbang Cari, The Brims, Dharma Putra, Los Suita Rama dan OK Bintang Jakarta. Jumlah penyanyinya tak kurang dari 60 orang. Di antaranya Lilies Suryani, Nurseha, Rosa Lesmana, Minggus Tahitu, Taty Saleh, Yetty Wijaya, Melky Guslaw Nanny Triana, Fenty Effendy, Tiar Ramon, Elly Kasim, Lily Sarief, Titiek Puspa, Betty Djuhara dan Alfian.

Pendeknya semua penyanyi dan pelawak (sudah tentu termasuk almarhum Bing Slamet dan teman-temannya yang dikenal sebagai Kwartet Jaya), yang pada waktu itu menghiruk-pikuki dunia musik dan lawak. Tak ketinggalan pula Rofiqoh Dharto Wahab, dengan orkes rebana Johansyahnya, dengan anggota 11 orang. Di tahun 1971, dengan memakai tak kurang dari 14 pesawat terbang milik perusahaan Bouraq dan Seulawah, Artis Safari yang dikomandoi Bucuk Suharto itu selama dua bulan penuh, sejak 5 Mei 1971, didrop ke seantero pojok tanah air. Terbagi 13 kelompok, paling sedikit selama seminggu satu kelompok menjelajahi suatu daerah. Daerah itu sudah diteliti keadaan dan selera warganya – agar setiap kelompok bisa diterima dan cocok dengan keinginan penduduk setempat.

Mereka ternyata mendapat sambutan hangat dari rakyat yang butuh hiburan. Dengan jaminan pengangkutan dan tempat menginap di hotel, tentu saja para artis itu merasa tak ada alasan buat tak senang hati untuk ikut serta. Lagipula antusiasme artis-artis itu mengikuti kampanye pada waktu itu tak dapat dilepaskan dari keadaan di masa sebelumnya Seperti kata Mus Mualim: “Tahun 1963-1964 (masa “demokrasi terpimpin “Orde Lama – Red.) tak ada kebebasan mencipta, tak ada sarana tempat menyalurkan hasil ciptaan. Hingga setelah itu timbul semangat untuk ikut kampanye, karena mengharapkan keadaan yang lebih baik”.

Tapi di samping soal kemerdekaan itu – yang memang diinginkan orang kreatif seperti Mus Mualim — ada daya tarik lain bagi kebanyakan artis show business yang gemar gemerlapan. Uang saku Rp 1000 sehari untuk satu orang pada waktu itu masih boleh dibilang bagus. Apalagi seperti dikatakan Moerdopo dengan wajah cerah: “Pakai pesawat terbang dan dapat pakaian seragam siapa yang tak senang?” Hingga tak aneh bila menurut Moerdopo, sampai sekarang hampir “tak ada artis yang menyatakan tak mendukung Golkar”. Meski sebenarnya hubungan antara para artis dengan Team Artis Safari cuma bersifat kekeluargaan. “Tak ada ikatan disiplin organisasi apapun” kata A. Hudiyono, Sekretaris Artis Safari.

Status Team Artis Safari itu sendiri dalam tubuh Golkar hanyalah sebagai task force (satuan tugas) pada waktu kampanye pemilu 1971 itu saja. Seusai masa kampanye, mereka kembali bebas main di mana saja dan dengan siapa saja. Dan bila mereka main, Team Artis Safari tak pernah mengotak-atik honor me
reka sepeser pun. Menurut Hudiyono, “keterikatan mereka hanyalah secara moril saja”. Maksudnya karena mereka pernah bergabung dalam rombongan raksasa para artis dan menjelajah Indonesia.

Bagaimana dengan para artis yang bergabung dalam Papiko (Persatuan Artis Penyanyi Ibukota), yang berdiri awal 1972? Sebagian besar anggota Papiko yang 250 orang itu, tentu juga pernah punya hubungan dengan Team Artis Safari. Papiko merupakan organisasi prof dengan ikatan disiplin organisasi, berupa iuran Rp 250 sebulan. Namun demikian, menurut penyanyi Wirdaningsih 25 tahun, sekretaris Papiko, “tak ada larangan bagi anggotanya buat aktif berkampanye untuk salah satu kontestan”. Secara organisasi, Papiko belum dihubungi oleh salah satu peserta pemilu. “Bila diajak, kita bersedia saja, siapanun yang mengajak”, tutur Wirdaningsih. Papiko organisasi netral. Ia tak merasa keberatan seorang anggotanya dihubungi langsung oleh panitia pemilu. Nah, siapa mau pesan?

Sumber : Arsip Majalah Tempo Online

One thought on ““Apa Sih Kekuatan Oma Irama ?” (Pemilu 1977)

  1. agustion August 30, 2015 at 4:44 am Reply

    waktu itu Golkar memang didukung banyak seniman, dengan alasan macam macam. Golkar memang tengah berjaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: