Iie Mengatrol. Piala Itu Masih … (Final Thomas Cup 1979)

timnas-tc1976_blogTempo 09 Juni 1979. PARA pecinta olahraga bulutangkis, baik yang menonton di layar tv atau menguping siaran langsung dari radio maupun 11.000 orang yang hadir di Istora Senayan,Jakarta 2 Juni malam bagaikan koor menarik nafas lega: Ketika Rudy Hartono menamatkan perlawanan Flemming Delfs, dan sekaligus memastikan kemenangan regu Indonesia (5-0) mempertahankan Piala Thomas untuk ketujuh kalinya.

Tapi pertarungan di final melawan regu Denmark, di mulai hari sebelumnya, bukan tak mendebarkan. Ketegangan tak hanya menggerayang di lapangan, juga di tempat para offisial duduk. Lihatlah, ketika Iie Sumirat mengawali pertandingan melawan Svend Pri. Begitu ia kehilangan set pertama di tangan lawan, orang mulai memperbincangkan strategi PBSI mengenai pemasangan Iie, serta membandingkannya dengan waktu menampilkan Lius Pongoh — pemain muda yang untuk pertama kali ikut tim Piala Thomas — di semi final.

Main Kartu

Mengapa? Iie, 29 tahun, dikenal sebagai pemain bermental tak stabil. Ia sempat minggat 5 hari dari pelatnas lantaran namanya tak tercantum dalam susunan regu untuk pertandingan sebelumnya. Sebaliknya, Lius. Ia bahkan memperlihatkan permainan mengesankan sewaktu melawan Jepang. Tim Indonesia menang 9-0 – 2 angka di antaranya diraih oleh Lius dari tangan Masao Tsuchida (15-5 dan 18-13) serta Kinji Zeniya (11-15, 15-7, dan 154). “Segala sesuatunya mengenai pemasangan Iie telah kita perhitungkan secara matang,” kata Willy Budiman, bekas pemain yang ikut menentukan tim. Willy mengemukakan alasan, antara lain untuk menjinakkan Pri dibutuhkan pemain yang berpengalaman.

Pilihan lain, tak ada. Kecuali memasang Iie, selain terampil bermain tunggal, juga bisa diandalkan di partai ganda. Bagaimana mengatasi sikapnya yang gampang goyah? “Kami selalu membesarkan hatinya,” lanjut Willy. Tak heran, setiap Iie melakukan kesalahan di lapangan, ia selalu berpaling pada pelatih Tahir Jide. Setelah ia melihat pelatihnya mengangguk, seakan memaafkannya, baru dirinya tampak yakin lagi. Hal itu ternyata banyak menentukan. Satu demi satu, ia mulai mengumpulkan angka dan memenangkan set kedua. Juga dalam set penentuan. Bisa difahami, bila Iie meloncat-loncat histeris, dan menangis di pelukan Tahir, begitu ia menghabiskan perlawanan Pri. Pertandingan berakhir 11-15, 15-7, dan 15-10. Iie, yang semula dianggap orang merupakan titik kelemahan tim, ternyata mengatrol semangat kawan-kawannya.

Regu Denmark yang berharap pertandingan malam pertama itu akan berakhir 3-1 terpaksa menelan kekalahan 4-0. “Rasanya tak ada lagi peluang untuk meraih satu angka pun,” kata pelatih Tom Bacher. Denmark maju ke final setelah menundtlkkan tim India 7-2. Di Hotel Borobudur, para pemain Denmark memang tampak seperti tak bernafsu lagi menghadapi pertandingan lanjutan. Mereka maupun pelatihnya tampak santai saja, dan menghabiskan waktu untuk main mini golf dan main kartu. “Udara panas di Jakarta betul-betul membuat kami tersiksa,” kata Delfs. “Ternyata waktu 1 minggu di Kuala Lumpur tak banyak menolong.”

Tim Denmark sebelum ke Jakarta terlebih dahulu singgah di Kuala Lumpur untuk menyesuaikan diri dengan udara tropis serta melakukan pertandingan percobaan di sana. Tapi Pri, 33 tahun, dikenal sebagai pemain untuk segala cuaca pun tak kurang tersiksa kali ini. Tak cuma udara panas itu yang merongrongnya, juga usianya. Ketika berhadapan dengan Liem Swie King, ia terpaksa minta ofisialnya untuk mengurut paha kanannya yang kejang. “Tidak pernah sebelumnya saya begini,” kata Pri. Pasar tarohan di Jakarta memang bukan untuk Denmark. Tapi yang meramalkan kesudahan 9-0 juga tak banyak. Perkiraan orang adalah sekitar 8-1 7-2, dan 0-3. Angka yang hilang diperhitungkan 2 dari Iie, dan 1 dari Rudy. Dugaan itu ternyata tak berbalik banyak setelah Iie menghajar Pri di malam pertama. Siangnya, sebelum pertandingan hari kedua, mereka masih saja disangsikan.

Yang tak ragu umumnya adalah orang luar. “Saya percaya angka 9-0 tak terlalu sulit buat Indonesia,” kata pemain Kanada, Ian Johnson. Tim Kanada, juara zone Pan Amerika, ditundukkan oleh Jepang (9-0) di ronde pertama.

Habis-habisan

Di kubu tim Indonesia, di Hotel Hilton, suasana tetap optimis. Sekalipun Johan Wahyudi, pasangan Tjuntjun di partai ganda terserang flu, dan tak mungkin dipasang. “Pokoknya, malam ini saya akan bermain habis-habisan,” kata Iie. Malam itu ia akan turun melawan Morten Frost Hansen, dan sekaligus menggantikan posisi Johan. Tekad itu memang, dibuktikan Iie. Disaksikan oleh ayahnya, Atik Sujana, dan isterinya, Osye, ia memang bermain mantap. Sekalipun di set pertama, lawannya sempat memprotes keputusan wasit, dan mengalahkan Iie. Tapi, berbeda dengan biasanya, Iie sama sekali tak banyak terpengaruh oleh sikap musuh itu. Ia tak hanya memenangkan partai itu, juga bersama Tjuntjun menundukkan pasangan Hansen dan Steen Fladberg.

Iie yang semula diragukan, akhirnya memberikan andil 3 angka kemenangan (1 angka di bawah King) buat tim Indonesia. “Seandainya Lius yang diturunkan mungkin keadaannya akan lain,” kata Willy. “Sebab ia spesialis tunggal.” Tim Indonesia yang dipilih untuk menghadapi Denmark adalah Liem Swie King, Iie Sumirat, Rudy Hartono, Christian, Tjuntjun, dan Johan Wahyudi. Pergeseran pemain dari regu yang turun di semi final, cuma antara Iie dan Lius Pongoh. Bagi Indonesia maupun Denmark, ini adalah pertarungan ke-4 dalam turnamen Piala Thomas — semuanya berakhir dengan kemenangan untuk Indonesia. Tiga pertandingan sebelumnya adalah di Singapura (1958), di Tokyo (1963), dan di Jakarta (1973). Angkanya, 6-3, 5-4 dan 8-1.

Tapi penonton masih saja diliputi rasa penasaran. Sejak Rudy ditundukkan oleh Pri di Istora Senayan, 6 tahun lalu, dan satu-satunya kekalahan tim Indonesia, pecandu bulutangkis kepingin melihat keduanya bertarung lagi di forum yang sama. Tahun 1976 di Bangkok, harapan itu dipunahkan oleh tim Malaysia yang menyisihkan Denmark di semi-final. Kali ini, Rudy yang tampak tak begitu siap. “Masalahnya, bukan saya ketemu Pri atau tidak, tapi bagaimana mempertahankan Piala Thomas,” elak Rudy diplomatis. Dalam 2 kali pertandingan, ia dipasang sebagai tunggal ke-3 dan bermain masing-masing 1 kali. Kondisi fisik Rudy yang tak lagi prima itulah. sebelumnya juga menyebabkan orang mengingat ‘tragedi Istora Senayan’, 1967. Regu Indonesia, waktu itu, yang tak begitu kokoh akhirnya tergelincir di atas topangan sorak-sorai penonton yang mengejek. “Sejak peristiwa 1967, penonton di Istora Senayan tampak makin sportif,” kata Honorary Refeere, Herbert Scheele. Ia adalah orang yang menghentikan pertandingan, 12 tahun lalu itu. “Dukungan mereka terhadap tim sendiri tak lagi merugikan lawan,” katanya

Sumber : Arsip Majalah Tempo Online

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: