Padamu Pahlawan tak Seorang Berniat Pulang, Tidur

HAWA sangat dingin menyusup tulang. Diselubungi gelap gulita, saya duduk dalam sebuah kereta api amunisi yang menembus malam menuju ke Wonokromo…. ajar mulai menyingsing. Sepur terus menderu dalam gerimis. Muka prajurit-prajurit duduk di dekat saya yang menjadi pengantar dinamit untuk pahlawan-pahlawan Surabaya pucat lesi kelihatannya. Barangkali kurang tidur… Malam hari di dekat garis pertempuran. Mortir dari laut bergegar di atas kepala..

Langit merah warnanya. Bulan purnama raya, tulis reporter Rosihan Anwar dalam Harian Merdeka, 1945. Dan subuh pagi itu, Sabtu 10 Nopember 1945, Surabaya hanya tampaknya saja masih lelap. Namun ketegangan sudah mencekam beberapa hari sebelumnya. Meja, kursi, lemari, ambin, bangku panjang, batang-batang pohon, apa saja — melintang di jalanan. Di setiap sudut kota berpasan-pasang mata siap dengan keris, senapan, bambu runcing, geranat, golok, pistol, pedang, karabin, tombak, sumpitan, panah berbisa. Juga beberapa tank dan meriam rampasan.

Di setiap pintu orang menyediakan nasi bungkus, pisang goreng, ubi rebus, teh, kopi. Tak seorang berniat tidur. Beberapa menit kemudian, tepat jam 6, gemuruh kapal terbang mulai terdengar dari arah utara. Sengaja terbang rendah menjatuhkan puluhan bom, disertai dentuman meriam dari kapal-kapal besar di Tanjung Perak. Surabaya dibom oleh Inggeris selama tiga hari tiga malam terus-menerus. Ratusan demi ratusan jatuh.

Jalan-jalan bermandi darah. Perempuan dan anak-anak mati tereletak di selokan-selokan. Kampung-kampung menjadi lautan api dan rakyat berlarian kebigungan sawah-sawah untuk menyelamatkan diri. Tapi rakyat Indonesa tidak menyerah, tulis Ktut Tantri dalam Revolusi di Nusa Damai. Sementara itu suara Bung Tomo yang nyaring tinggi berkumandang terus lewat Radio Pemberontakan:

“Ayo, maju terus! Allahu Akbar! Selama banteng-banteng Indonesia masih berdarah merah yang dapat membikin secarik kain putih menjadi merah dan putih, selam itu tidak akan suka kita membawa bendera putih untuk menyerah kepada siapa pun juga. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”

Dan sesungguhnya, ini bukanlah revolusi arek-arek Suroboyo saja. Sebab yang bererak adalah semua suku bangsa Indonesia di kota itu. “Ketika itu Surabaya adalah Indonesia. Nasib Republik ditentukan di Surabaya”, kata Bung Tomo minggu lalu di rumahnya jalan Besuki Jakarta. Dalam usia setengah abad, nada suaranya masih keras tinggi seperti dulu. Matanya pun masih suka melotot bundar bersemangat. Cuma tentu saja tidak lagi gondrong. Kumis tipis dan ketawanya yang mengikik yang masih tersisa (juga masih pendek tapi sudah gemukan).

“Selamat Berjuang” Hari itu, di Yogya sedang berlangsung Kongres Pemuda I yang diselenggarakan oleh kelompok Amir Syarifuddin, Wikana dan Adam Malik (yang dihadiri pula oleh pimpinan tertinggi RI) yang kemudian melahirkan Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia).

PukuI 11 pagi diterima tilpon interlokal dari Surabaya. Berita yang dibawanya menggemparkan. Tentara Ingeris pagi itu sudah mulai menembaki tempat-tempat pertahanan pemuda Surabaya dari jurusan laut dan udara…. Sumarsono, seorang pemimpin pemuda dari Jawa Timur, berlari depan mimbar dan mengmumkan hari itu juga, bahwa pemuda-pemuda pejuang dan Jawa Timur harus segera kembali ke front Surabaya. Maka berdirilah pemuda-pemuda tersebut dari tempat duduk mereka, dan secara demonstratif berbaris ke luar.
Di antara mereka tampak Boes Effendi yang pakai sepatu kaplaars…. Saya duduk diatas pangung Societeit Mataram dekat pintu keluar yang dilalui oleh Boes Effendi dan kawan-kawannya dari Jawa Timur. “Selamat berjuang”, saya ucapkan kepada Boes. Suasana haru meliputi ruangan tempat Kongres Pemuda bersidang. Mereka semua akan menuju ke front pertempuran menghadapi muntahan bom dan peluru tentara Sekutu tulis Rosihan.

Benar. Yang mereka hadapi adalah Brigade 49 pimpinan Brigjen Mallaby (berkekuatan 6.000 orang) dan Divisi India ke-5 pimpinan Mayjen Manserh (berkekuatan 24.000 orang) lengkap dengan kekuatan altileri berat, kapal perang cruiser Sussex, 4 kapal perusak dan 12 kapal terbang Mosquito’s. Tapi berkat suara Radio Pemberontakan (yang disiarkan pula oleh pemancar Sala pimpinan Maladi dan kemudian oleh studio-studio seluruh Indonesia), berbondong-bondong pemuda pejuang dari seluruh Jawa mengalir ke Surabaya.
Kalau saja ketika itu alat transport cukup baik, pasti menggelombang pula bala-bantuan dari luar Jawa. Di Surabaya lonceng tanda bahaya sudah dipukul orang. Maka bagai disiram minyak tanah, api pertempuran pun menjilat-jilat, berkobar di mana-mana. Inggeris tak begitu banyak maju. Front sebelah timur Kali Mas sulit ditembus. Sampai 21 Nopember puluhan gedung penting – rata dengan tanah. Beberapa kapal terbang musuh jatuh terbakar. Tak sedikit anak-anak belasan tahun menggendong bom menabrakkan diri pada truk penuh berisi pasukan Inggeris. Atau meloncat naik ke atas tank dan meledakkannya. Musuh mundur ke Morokrembangan dan Tanjung Perak, menunggu bantuan.

Tapi di Jakarta, tak kurang dari 400 serdadu India dan Pakistan beragama Islam mengucap dua kalimah syahadat dan membangkang diberangkatkan ke Surabaya. Akhirnya mereka diasingkan ke pulau Onrust. Para pejuang sudah nyaris menguasai seluruh kota. Tapi tanggal 22 Nopember Inggeris mulai melancarkan serangan balasan, setelah bala bantuan berupa 8 kapal terbang Thunderbolts, 4 Mosquito’s dan 21 tank Sherman didaratkan di Surabaya. Dan sehari kemudian beberapa kota yang diduga menjadi sumber bantuan tenaga bagi Surabaya dibombardir.

Setapak demi setapak para pejuang mulai mengundurkan diri ke luar kota. Itupun tak berarti melepaskan Surabaya begitu saja. “Setiap hari kami masih mengganggu mereka. Kita yakin, sekali waktu kota itu pasti bisa kita rebut kembali”, kata Bung Tomo. Semula Inggeris memang mengira akan berhasil menaklukkan sebuah kota macam Surabaya dalam tiga kali 24 jam saja. Ternyata mereka harus bertempur selama 21 hari. Itupun dengan susah payah. Dan dengan korban tak sedikit. “Padahal persenjataan kita tidak seimbang. Barisan kita pun tak terorganisir, tidak terlatih sama sekali. Sedang pasukan musuh memiliki persenjataan lengkap dan kuat, berpengalaman dalam Perang Dunia II”, tambahnya.
Maka gerilya pun jalan terus: Tapi sementara itu Sekutu (yang diboncengi oleh Nica) mulai merembes ke seluruh tanah air. “Sampai akhirnya perundingan Linggarjati menelorkan gencatan senjata”, ujar Bung Tomo lagi. “Itulah sebabnya saya menentang Linggarjati….

” ………………. Wajah sunyi setengah tengadah Menangkap sepi padang senja Dunia tambah beku di tengah derap dan suara menderu Dia masih sangat muda

* Hari itu 10 Nopember, hujan pun mulai turun Orang-orang ingin kembali memandangnya Sambil merangkai karangan bunga Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya ………………. (Pahlawan Tak Dikenal/Toto Sudarto Bachtiar).

Sumber : Arsip Tempo Online

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: