Taufik Genapi Kemenangan Indonesia (Piala Thomas Th.2000)

Kuala Lumpur, Kompas. 22 Mei 2000. Begitu bola drive Taufik Hidayat (18) jatuh menyusur di dalam garis lapangan sebelah kanan Ji Xinpeng, usailah sudah perjalanan panjang perjuangan Tim Piala Thomas Indonesia. Taufik dan kawan-kawan bermain gemilang, menggilas Cina 3-0 di final Piala Thomas, di Stadion Putra, Kuala Lumpur (Malaysia), hari Minggu. Sungguh sebuah kemenangan penutup yang manis, setelah di semifinal mereka lolos lewat pertarungan ketat melawan Denmark.  Dengan kemenangan itu, para pemain menyamai rekor merebut Piala Thomas empat kali berturut-turut, mengulang sukses dalam periode tahun 1970-1979. Selain itu, mereka pun mencetak rekor baru, yakni 12 kali merebut Piala Thomas. Demikian diberitakan wartawan Kompas Brigitta Isworo semalam.

Indonesia menerapkan prinsip don’t change the winning team ketika menurunkan susunan pemain yang sama dengan ketika melawan Denmark. Tunggal pertama adalah Hendrawan, disusul ganda pertama Rexy Mainaky/Tony Gunawan, tunggal kedua Taufik Hidayat, lalu ganda kedua Candra Wijaya/Sigit Budiarto, dan terakhir tunggal ketiga Marlev Mainaky.

Taufik, anggota tim yang termuda, langsung dipanggul para ofisial Indonesia. Orangtuanya, pasangan Enok-Haris Aris, berurai air mata ketika Taufik menyalami mereka. Mereka pun lalu bertangisan. Dan, para pemain melakukan victory lap, dengan mengusung bendera merah-putih.

Final berlangsung di hadapan sekitar 12.000 penonton. Walaupun jumlah pendukung Indonesia lebih kecil dibandingkan pendukung Cina, suara mereka cukup vokal. Dalam waktu 189 menit, Indonesia memboyong kembali Piala Thomas, lambang supremasi bulu tangkis putra.

Sukses Indonesia mendapat sambutan hangat masyakarat di Tanah Air. Hari Minggu kemarin, Kompas menerima puluhan telepon dari pembaca yang mengucapkan selamat dan bangga dengan prestasi Hendrawan dan kawan-kawan.

Bahkan, seorang pembaca, FX Oerip S Poerwopoespito, datang ke kantor redaksi Kompas untuk menyerahkan uang sebesar Rp 2 juta. “Ini tolong disalurkan untuk pemain Piala Thomas,” kata Oerip, yang mengaku sangat kagum menyaksikan perjuangan pantang menyerah tim Piala Thomas.

“Saya bangga dan terharu para pemain sudah berjuang sampai titik darah penghabisan. Untuk mencapai sasaran yang lebih tinggi, yaitu Olimpiade, saya berharap kondisi mereka dipertahankan,” ujar Manajer Tim Soemaryono.

Sementara Ketua Umum PB PBSI Jenderal Subagyo Hadisiswoyo mengatakan, “Saya sangat surprise. Anak-anak sudah membuktikan semangat tidak mau kalah yang amat tinggi. Mereka telah membuktikannya di pertandingan ini. Saya menilai kerja sama tim amat baik.”

Manajer Tim Cina Li Yongbo mengemukakan, “Tim Indonesia adalah tim terbaik dalam pengalaman. Tetapi saya puas dengan penampilan atlet-atlet saya karena mereka bisa mencapai final lagi setelah yang terakhir tahun 1990. Tim kami tidak siap secara mental dan teknis untuk ke final.”

Sangat tegang

Usai pertandingan di kamar ganti, Taufik mengakui amat tegang saat turun di partai ketiga dalam posisi 2-0 untuk Indonesia. Saya ingin sekali menjadi penentu kemenangan,” katanya.

Taufik, yang baru kali ini memperkuat tim Piala Thomas, merasa amat bangga, “Saya bangga sekali kita bisa mempertahankan Piala Thomas ini,” lanjutnya.

Dia mengaku, di set kedua, permainannya menjadi tidak akurat lagi karena terlalu bernafsu mengakhiri perlawanan setelah unggul 13 lebih dulu. “Tetapi setelah skor 14-14, saya sadar harus bermain safe. Dan ternyata Ji Xinpeng yang banyak melakukan kesalahan sendiri,” ujarnya.

Di set pertama, Taufik menang cukup alot, dengan 15-9. Pertarungan berjalan mendebarkan di set kedua, ketika Taufik sudah unggul 13-10 dan seperti terkunci di angka itu.

Dalam situasi yang mencekam itu, para penonton semakin menggila memberikan dukungan. Suasana menjadi hiruk-pikuk ketika terjadi perpindahan bola. Dan Taufik menyia-nyiakan kesempatan, bolanya ke luar lapangan.

Pada kesempatan kedua servis, Taufik memetik angka melalui netting tipis. Dia lalu menutup set kedua dengan 17-14.

Buka peluang

Pintu kemenangan Indonesia dibuka Hendrawan yang dengan tenang dan taktis mengalahkan Xia Xuanze. Diwarnai permainan net dan bola-bola kedut, Hendrawan berkutat dulu sebelum menang di set ketiga, 11-15, 15-7, 15-9.

Di set ketiga, Xia yang sudah dua kali mengalahkan Hendrawan di All England dan Swiss Terbuka berusaha mempercepat tempo di set ketiga. Pancingannya sempat berhasil ketika dia unggul tipis, 7-5. Namun, Hendrawan tidak menyerah, skor disamakannya 7-7 dengan 11 kali pindah bola.

“Memang, kecepatan dan serangannya lebih bagus dibandingkan saya. Oleh sebab itu, saya mengajaknya bermain reli panjang untuk menghabiskan kondisi fisiknya,” ujar Hendrawan. Dia mengaku, sebenarnya juga merasa lelah, namun tetap memaksa diri.

Begitu angka pertama lolos ke Indonesia, para pemain Cina bermain dalam tekanan tinggi. Pasangan Yu Jinhao/Chen Qiqiu tampil tidak sekuat saat menghadapi pasangan Korea Selatan, Kim Dong-moon/Ha Tae-kwon, di babak penyisihan grup. Pasangan Cina ini akhirnya menyerah 15-9, 15-2 dalam waktu 43 menit.

“Mereka memang main tidak normal, nampak goyah. Mereka tegang sekali,” ujar Rexy. Rexy mendapat motivasi karena melihat rekan-rekannya mengalami cedera. Mereka yang cedera adalah Tony yang pergelangan kaki kirinya bengkak, juga Marlev yang sempat tertarik otot kakinya. Hendrawan juga mengaku kedua kakinya sakit setelah di semifinal bermain tiga set melawan Peter Gade-Chritensen.

Sementara itu, Pelatih Kepala Christian Hadinata mengatakan, susunan ganda putra yang diacak merupakan strategi demi mengamankan ganda kedua. Sebab, ganda kedua Cina, Zhang Jun/Zhang Wei, lebih kuat dibandingkan ganda pertama, Yu Jinhao/Chen Qiqiu.

“Kami ingin mengamankan dua ganda. Kalau sampai kecurian di ganda seperti ketika menghadapi Denmark, akan bahaya. Dua ganda kita ini rata kekuatannya. Mereka tidak lemah. Tingkat kualitasnya tidak jauh beda dari pasangan aslinya,” ujar Christian. Pasangan asli Rexy adalah Ricky Soebagdja.

“Saya yakin kita bisa menang begitu Hendrawan menang di tunggal pertama. Dengan tertinggal satu poin, ganda pertama Cina merasakan tekanan yang cukup besar,” tambah Christian.

Sejak ikut Piala Thomas tahun 1982, Cina dan Indonesia sudah delapan kali bertemu. Indonesia menang lima kali, sisanya Cina yang menang.

Indonesia menang di final tahun 1984 di Kuala Lumpur, di pertandingan Grup A tahun 1994 di Jakarta, juga di pertandingan Grup A tahun 1996 di Hongkong, di semifinal tahun 1998 di Hongkong, dan di Grup Kuning, pekan lalu, di Kuala Lumpur. Sedangkan Cina menang di final tahun 1981 di Birmingham, final tahun 1986 di Jakarta, dan pertandingan Grup A tahun 1992 di Kuala Lumpur. (joy)

 HASIL LENGKAP

   Indonesia     3   Cina    0

   Hendrawan Vs Xia Xuanze 11-15 15-7 15-9

   Taufik Hidayat Vs Ji Xinpeng 15-9 17-14

   Tony Gunawan/Rexy Mainaky Vs Yu Jinhao/ Chen Qiqiu 15-9 15-2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: