Emas Dari Kido/Hendra, Ganda Campuran Korea Selatan Lebih Bagus

KOMPAS, Senin, 18 Agustus 2008. Beijing, Kompas. Kegembiraan meledak di tribun penonton Indonesia ketika smes Hendra Setiawan tak mampu dikembalikan pasangan China, Cai Yun/Fu Haifeng. Markis Kido menjatuhkan diri di lapangan dan pelatih Sigit Pamungkas berlari ke lapangan untuk merayakan kemenangan kedua pemainnya.

Momen bersejarah di Beijing University of Technology Gymnasium, Sabtu (16/8), itu mengantarkan medali emas pertama, dan satu-satunya, bagi kontingen Indonesia di Olimpiade Beijing 2008. Bulu tangkis, cabang yang diharapkan mempertahankan tradisi medali emas Olimpiade, memenuhi target mereka saat Kido/Hendra menaklukkan Cai Yun/Fu Haifeng, 12-21, 21-11, 21-16.

 “Kami bangga bisa mempertahankan tradisi emas dan meneruskan prestasi yang sudah diraih Ricky (Subagja)/Rexy (Mainaky)serta Candra (Wijaya)/Tony (Gunawan) di Olimpiade. Ini juga hadiah untuk ulang tahun kemerdekaan Indonesia,” ujar Kido setelah pertandingan.

   Game pertama berjalan berat sebelah untuk keunggulan pasangan China yang mendapat dukungan penuh dari ribuan penonton. Namun, di dua game berikutnya Kido/Hendra ganti mengendalikan permainan. Saat keduanya telah menemukan pola permainan asli mereka, Cai Yun/Fu Haifeng tak mampu berbuat banyak dan menyerah dengan mudah.

   Kemenangan ganda Indonesia mendapat pesan khusus dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan ibu. “Selamat untuk double Indonesia. Kami bangga menyaksikan Merah Putih berkibar dan Indonesia Raya berkumandang. Salam sayang kami dari Tanah Air untuk seluruh tim, SBY dan Ani.”

   Pagi harinya, Maria Kristin Yulianti menambah panjang kejutan yang dibuatnya saat mengalahkan pemain China, Lu Lan, 11-21, 21-13, 21-15. Terlambat panas di game pertama, Maria membuat Lu Lan pontang-panting di dua game berikutnya dan merebut banyak angka dari pukulan silang. Tanpa ekspresi berlebihan, Maria hanya mengepalkan tangan dan tersenyum sebelum menyalami pelatih Hendrawan. Di sisi lain lapangan Lu Lan menunduk dan tak mampu menahan tangisnya.

   “Saya kecewa. Maria tampil lebih stabil sepanjang pertandingan. Saya malah membuat lebih banyak kesalahan dan bertambah gugup,” ujar Lu Lan.

   Maria sendiri tidak menyangka melangkah sejauh ini. “Setelah menang melawan Tine Rasmussen (Denmark) di perempat final, saya lebih percaya diri. Tak ada yang menyangka saya bisa meraih hasil ini,” ujarnya.

   Hasil berbeda diraih dua pasangan ganda campuran Indonesia di semifinal. Nova Widianto/Liliyana Natsir mengalahkan He Hanbin/Yu Yang (China), sementara Flandy Limpele/Vita Marissa ditaklukkan Lee Yong-dae/Lee Hyo-jung (Korea Selatan). Namun, pada laga penentu kemarin kedua pasangan Indonesia ini harus mengakui keunggulan lawan masing masing.

   Duet Lee/Lee tampil luar biasa dan menang dua game langsung atas Nova/Liliyana, 21-11, 21-17. Nova/Liliyana tak mampu keluar dari tekanan lawan dan tampakkebingungan mengatasi kekuatan dan kemampuan teknik Lee Yong-dae, pemain putra Korsel.

   “Saya lebih yakin dibandingkan semifinal. Namun, lawan jauh lebih bagus, muda, dan bertenaga. Saat tertinggal jauh kami serba salah, main cepat salah, main lambat juga salah. Biasanya pemain Korea bisa diajak adu teknik, tetapi Lee Yong-dae bagus sekali,” ujar Nova.

   Adapun Flandy/Vita gagal meraih perunggu karena dikalahkan He Hanbin/Yu Yang, 21-19, 17-21, 21-23. Flandy, pemain paling senior di tim bulu tangkis, gagal menambah koleksi medali perunggu yang diperolehnya di Athena 2004 bersama Eng Hian.

   Hasil ini menutup karier Flandy, yang bersama peselancar I Gusti Made Oka Sulaksana menjadi atlet Indonesia yang empat kali berturut-turut tampil di pentas laga Olimpiade. (J Waskita Utama, dari Beijing)

 

KOMPAS,  Senin, 18 Agustus 2008

INDONESIA RAIH SATU EMAS BULU TANGKIS

Beijing, Kompas. Saat yang dinantikan selama empat tahun akhirnya datang juga, Indonesia Raya berkumandang di Olimpiade Beijing 2008. Bendera Merah Putih pun dikibarkan di Beijing University of Technology Gymnasium, mengiringi keberhasilan Markis Kido/Hendra Setiawan meraih emas ganda putra, Sabtu (16/8).

   Bulu tangkis pun mempertahankan tradisi medali emas yang selalu direbut Indonesia sejak Olimpiade Barcelona 1992. “Ini beban yang berat untuk pengurus, pelatih, dan atlet, tetapi akhirnya target ini bisa dipenuhi,” ujar Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia Sutiyoso seusai peringatan Hari Ulang Tahun Ke-63 RI di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing, Minggu.

   Namun, kesempatan meraih emas kedua gagal dimanfaatkan Nova Widianto/Liliyana Natsir. Pada final ganda campuran, kemarin, pasangan nomor satu dunia ini menyerah kepada Lee Yong-dae/Lee Hyo-jung (Korea Selatan), 11-21, 17-21, dan harus puas dengan medali perak. Maria Kristin Yulianti melengkapi koleksi medali bulu tangkis Indonesia dengan satu keping perunggu dari tunggal putri. Maria, yang pencapaiannya melebihi perkiraan banyak pihak, menundukkan unggulan ketiga asal China, Lu Lan, 11-21, 21-13, 21-15.

   Peluang terakhir merebut medali perunggu lain terlepas karena pasangan Flandy Limpele/Vita Marissa dikalahkan pasangan tuan rumah, He Hanbin/Yu Yang, 21-19, 17-21, 21-23, dalam perebutan juara ketiga nomor ganda campuran.

   Dengan hasil ini, Indonesia berbagi tempat kedua dengan Korea Selatan di cabang bulu tangkis dengan 1 emas, 1 perak, dan 1 perunggu.

   Tuan rumah China memenuhi target mereka untuk merebut minimal 3 medali emas ditambah 2 perak dan 3 perunggu.

   Tambahan satu set medali membuat Indonesia meraih total 1 emas, 1 perak, dan 3 perunggu sehingga untuk sementara berada di urutan ke-30 perolehan medali. Perolehan ini satu perunggu lebih baik daripada yang diperoleh Indonesia di Olimpiade Athena 2004 dan Olimpiade Atlanta 1996.

   Dari cabang atletik, Dedeh Erawati berhasil mempertajam rekor nasional. Dedeh mencetak rekornas di SEA Games 2007 dengan catatan waktu 13,51 detik, menjadi 13,49 detik di arena olimpiade.

   Sementara itu, perenang Amerika Serikat, Michael Phelps, berhasil memenuhi ambisinya untuk melampaui rekor Mark Spitz. Perenang berusia 23 tahun ini meraih 8 medali emas, atau 1 medali emas lebih banyak daripada yang diraih Spitz di Olimpiade Muenchen, Jerman.

   Di arena olimpiade ini, Phelps paling tidak berhasil mempertajam  10 rekor olimpiade dan dunia. Dengan hasil ini, Phelps menjadi satu-satunya peserta olimpiade yang meraih 14 medali emas olimpiade. (WAS/MBA)

Sumber : Koran Kompas

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: