“Inggris, Jangan Mendarat!”

mustopo

dr Moestopo

Tempo 08 November 1975. RAKYAT Surabaya, dipelopori oleh Badan Keamanan Rakyat, pimpinan Dr. Mustopo bekas Daidanco Gresik, berhasil melucuti Jepang. Gedung-gedung dan mobil-mobil ditulisi “Milik RI”.

“Senjata-senjata Pun kita bagikan begitu saja. Anak belasan tahun membawa senjata. Panser dan tank-tank pun menderu-deru keluar masuk kampung dikendarai oleh supir-supir mobil atau truk”, tutur Prof. Dr. Mustopo mingu lalu di rumahnya jalan Juanda Bandung. Dan sesungguhnya Surabaya mulai demam sejak insiden bendera di hotel Yamato lihat: Bendera Itu Tak Boleh Di sana lagi). Apalagi setelah Bung Tomo membentuk Barisan Pemberontakan Rakyat (BPRI) pada tangal 12 Oktober, dan sehari kemudian mendirikan Radio Pemberontakan.

Berkumandang dari jalan Mawar sesudah mahrib dalam berbagai bahasa (juga bahasa-bahasa daerah) radio itu hanya bermodalkan alat-alat sederhana milik teknisi Hasan Basri ditambah sedikit peralatan Domei dan “hasil curian” Arie Rahman. Berkat radio itulah pasukan-pasukan yang semula sama sekali tak terkoordinir merasa punya ikatan.

BKR, Polisi Istimewa, lasykar-lasykar rakyat, BPRI Pemuda Republik Indonesia, organisasi-organisasi pemuda lainnya, ulama, Santri-santri, tukang becak, kusir delman, para pedagang, pemuda-pemuda kampung yang berani mati. Meski tidak sehebat Radio Pemberontakan, Dr. Mustopo pun memiliki pemancar sendiri. Maka ketika Brigade Infantri 49 pimpinan Brigjen AWS Mallaby mendarat di Perak, Mustopo berteriak-teriak: “Nica, Nica, Nica, jangan mendarat. Ingeris, jangan mendarat, kamu tahu aturan. Inggeris, kamu pintar, sudah sekolah tinggi. Kamu tahu aturan, jangan mendarat. Nica, Nica, Nica.. “

Dokter gigi ini membedakan antara Ingeris dan Nica. Nica membonceng tentara Sekutu untuk kembali menjajah kita. Maka tulis Ktut Tantri: Bagaimana cara mereka menyelundup? Dengan mencat mukanya menjadi coklat, sehinga terlihat seperti India atau orang Nepal hal ini diketahui setelah tiga orang prajurit yang disangka Gurkha telah tertangkap. Dan panas terik menyebabkan cat mukanya meleleh. Orang Indonesia heran melihat salah seorang dari tawanan itu orang kulit putih yang bermuka hitam.

Dr. Mutopo tentu saja sekarang tidak lagi berpakaian seragam hitam-hitam. Aktif di bidang pendidikan, bapak dari 9 anak ini selalu necis. Rambutnya dicukur pendek, tidak lagi gondrong. Selalu berdasi, sebagai ganti “perhiasan” yang ia pakai 30 tahun lalu: 2 selempang peluru di bahu, 2 granat 2 pistol di pinggang, 2 belati tergantung di paha, sepucuk karaben siap memberondong. Inilah seragam “jenderal lokal ekstremis” yang pernah mengaku sebagai Menteri Pertahanan ad interim ketika menghadapi Inggeris di Surabaya (menurut Brigjen Drs Nugroho Notosusanto Ka Pasjarah ABRI, Menteri Keamanan Rakyat yang resmi diangkat Presiden waktu itu adalah Sulyoadikusumo).

Dalam pertempuran 10 Nopember yang terjadi kemudian, Dr. Mustopo tak lagi punya peranan. Sebab menjelang Bung Karno ke Surabaya, ia ditangkap oleh para pejuang dan ditahan oleh grup Sabaruddin yang terkenal sebagai algojo di Sidoarjo. Alasannya tak begitu jelas. Yang pasti, 29 Oktober ia dipanggil oleh Bung Karno untuk “dipensiun sebagai jenderal”. Dan sejak itu ia pulang ke rumahnya di Gresik.

Toh orang masih terkenang akan film dokumenter PFN: jenderal koboi ini duduk di hidung mobil Buick hitam, keliling kota sembari melambai-lambaikan samurai… Tak Disambut Sesungguhnya Surabaya bukannya tak mengambil jalan damai. Tapi perundingan yang diusahakan oleh Gubernur Suryo, Residen Sudirman, Walikota Doel Arnowo juga ketua BKR Dr. Mustopo, berkali-kali dilanggar oleh Ingeris. Bahkan ada kesan mereka mengangap rendah martabat kita. “Pernah satu kali saya mengulurkan tangan kepada salah seorang angota delegasi Sekutu di hotel Yamato, tidak disambut”. tutur Dr. H. Ruslan Abdulgani yang ketika itu menjadi angota delegasi RI (kemudian sekretaris Biro Perhubungan RI-Sekutu).

Dua orang utusan Mallaby, kapten Donald dan letnan Gordon Smith yang mengunjungi Gubernur Suryo pun bertindak kurang sopan. Karena Gubernur tak mungkin memenuhi undangan Mallaby datang ke kapal perang, keduanya lansung berdiri – pulang tanpa pamit. Untung malamnya Dr. Mustopo dapat menemui Kolonel Pugh hinga dapat disepakati: tentara Ingeris menghentikan gerakannya sampai garis 800 meter dari pesisir Tanjung Perak.

Paginya perundingan dilanjutkan di jalan Kayoon, menelurkan 3 keputusan: Hanya Jepang yann dilucuti, bukan TKR. Inggeris akan membantu memelihara keamanan dan ketertiban. Tentara Jepang yang dilucuti akan diangkut melalui laut. Sesuai dengan persetujuan, Inggeris melanjutkan pendaratan. Tapi malamnya mereka menduduki penjara Kalisosok dan melepas semua tawanan Belanda. Esok harinya Inggeris boleh mengunjungi tempat-tempat interniran Belanda dan tawanan Jepang. Tapi siang harinya beberapa kapal terbang menjatuhkan surat-surat selebaran: penduduk diperintahkan menyerahkan senjata Jepang kepada tentara Inggeris. Ini jelas tidak sejiwa dengan persetujuan 26 Oktober.

Mallaby sendiri terkejut, mungkin langsung disebarkan dari Jakarta tanpa setahu dia. Tapi sebagai prajurit, ia mentaati perintah atasan. Maka Surabaya pun bangkit berjaga-jaga. 8 Oktober jam 11 pagi Dr. Mustopo memberi tahu lasykar rakyat, bahwa Inggeris akan melucuti mereka. Sementara TKR mundur keluar kota menjaga segala kemungkinan, “sekarang terserah kepada kesatuan-kesatuan pemuda dan rakyat lainnya”, kata Dr. Mustopo.

Jam 4 sore, dengan persetujuan Dr. Mustopo lasykar rakyat melawan Inggeris. Jam 5.30 Radio Pemberontakan berkumandang menantang perang sembari menggugah semangat perlawanan rakyat. Baik pidato Bung Tomo (BPRI) maupun Sumarsono (PRI) selalu didahului lagu Indonesia Raya. Dan beberapa detik kemudian Surabaya menjelma menjadi lautan api. Muncul Bung Karno TKR pun mulai merembes ke dalam kota. Pertempuran sengit terjadi sekitar Gedung Radio Surabaya dan jalan Kayoon, begitu pula sekitar jembatan Wonokromo. Di sekitar Kebun Binatang, untuk pertama kalinya rakyat menyaksikan pasukan Gurkha bertahan di atas pohon-pohon besar di tepi jalan. Bekas-bekas pegawai AL Jepang menghantam Inggeris yang menguasai daerah pelabuhan dengan meriam pantai dari Kedung Cowek, Surabaya timur laut. Inggeris sendiri tidak berani menggunakan AL dan AU nya, khawatir akan mengorbankan tawanan Belanda dan Jepang.

Inggeris mulai terjepit. Sorenya beherapa kapal terbang menjatuhkan perlengkapan yang mereka butuhkan. Sebagian jatuh di tangan rakyat–peluru dan mitraliyur. Pos demi pos pertahanan Inggeris pun terkepung. Kalau saja malam itu mereka tidak minta pimpinan RI datang ke Surabaya menghentikan perang, Brigade Infantri 49 yang terkenal sebagai The Fighting Cock itu lumat menghadapi perlawanan yang tak memperhitungkan korban.

Maka Senin pagi 29 Oktober, ketika lapangan terbang Morokrembangan dikepung, sebuah pesawat Inggeris mendarat. Hujan peluru tak bisa lagi dicegah. Tapi ketika yang muncul Bung Karno membawa bendera merah putih disusul Bung Hatta dan Menpen Amir Syarifuddin, hujan peluru pun mereda. Jam 19.30 tercapai persetujuan gencatan senjata.

Adapun isi surat selebaran akan dirundingkan esok harinnya dengan Jenderal DC Hawthorn, Panglima Inggeris untuk pulau Jawa, Madura, Bali dan Lombok. Ini persetujuan ketiga kalinya dalam tempo beberapa hari saja. Perundingan tingkat tinggi 30 Oktober dilanjutkan di Gubernuran. Hadir antara lain: Gubernur Suryo, Residen Sudirman, Walikota Doel Arnowo, Sungkono (ketua BKR kota), Atmadji, Sumarsono, Bung Tomo, Presiden dan Wakil serta Menpen. Dari fihak Inggeris: Brigjen Mallaby, Kolonel Pugh dan Jenderal Hawthorn. Pertemuan berjalan tegang. Setiap orang bicara tanpa tedeng aling-aling.

Di luar, dentuman meriam Inggeris masih terdengar. Dan di keliling Gubernuran, dekat ruang perundingan, beberapa tank yang dikendarai para pemuda berputar-putar maju-mundur mengintimidasi pimpinan tentara Inggeris. Anehnya, yang takut malah para pejabat tinggi dari Jakarta. Hasil perundingan: isi selebaran dibatalkan dan Sekutu ditarik dari gelung-gedung pertahanannya, dipusatkan di kamp-kamp tawanan perang Darmo dan Tanjung Perak.

Biro Penghubung Indonesia-Inggeris dibentuk, yang siang itu juga melanjutkan perundingan setelah Bung Karno dan Hawthorn kembali ke Jakarta. Ruslan Abdulgani dan kapten Shaw ditunjuk sebagai sekretaris. “Karena Shaw berpangkat kapten, maka saya pun mendapat pangkat tituler kapten pula”, kata Ruslan. Inggeris Menyerah Saja Untuk menyiarkan isi persetujuan itu, Bung Tomo dkk memasang radio-radio rimbu di tengah beberapa medan pertempuran, agar pasukan-pasukan rakyat menghentikan tembak-menembak. Biro Penghubung pun memutuskan mendatangi sendiri medan pertempuran.

Jam 5 sore, 8 mobil beriringan menuju gedung Lindeteves. Karena di sana tembak-menembak sudah berhenti, mereka menuju ke gedung Internatio. Hari sudah mulai gelap. Tembak-menembak berhenti. Mobil dikerumuni ratusan pemuda bersenjata, menuntut agar pembesar Inggeris memerintahkan pasukannya menyerah saja. Residen, Walikota dan Sungkono naik ke atas kap mobil menyatakan, tuntutan itu tak mungkin dipenuhi. Baru besok pagi mereka akan diangkut ke pelabuhan.

Biro Penghubung menuju arah Jembatan Merah. Mendadak dari tikungan jalan antara Internatio dan gedung Telepon muncul sekelompok pemuda dan rakyat dipimpin seorang pemuda histeris. “Dia membawa bendera merah putih. Dengan bangga ia tunjukkan pada saya bahwa merahnya adalah darah tentara Inggeris. Mereka menyatakan tuntutan yang sama”, kata Ruslan. Setelah berunding dengan Mallaby, jenderal ini bersedia masuk ke dalam gedung Internatio agar anak-buahnya tidak lagi menembaki rakyat. Tapi begitu Mallaby keluar mobil, “segera didorong beramai-ramai oleh rakyat masuk kembali ke dalam mobil”, tutur Mayjen Sungkono di rumahnya jalan Gereja Theresia. Ketika itu ia sendiri berada 15 meter dari Mallaby berdiri.

Dan karena tembakan dari Internatio terus berhamburan, ia sembunyi di kolong mobil Mallaby Sampai jam 21.30. Ketika itulah ia mendengar Mallaby merintih. Sebelum Mallaby gugur, 3 orang anggota Biro Penghubung masuk ke gedung Internatio: kapten Shaw, Muhammad dan TD Kundan (warga negara India sebagai penterjemah) untuk menyampaikan pesan penghentian tembak nenembak. Ketiganya dipesan jangan terlalu lama di dalam. Sepuluh menit kemudian Kundan keluar. Ia berteriak, Muhammad dan Shaw memerlukan beberapa menit lagi. Beberapa detik kemudian sebuah granat yang jelas dilempar dari arah dalam gedung meledak. Disusul brondongan peluru dari lantai atas dan bawah gedung, tertuju ke arah mobil Biro Penghubung.

Kecuali Brigjen Mallaby, kapten Smith dan kapten Laughland, semua anggota Biro berada di luar mobil. Mereka meloncat ke Kali Mas mencari perlindungan…. “Saya tak bisa menilai, siapa yang membunuh Mallaby kita ataukah Inggeris. Apalagi ketika itu hari sudah mulai gelap. Sesungguhnyalah, Mallaby korban pertempuran. Ia berada tepat di tengah dua pihak yang sedang tembak menembak”, kata Brigjen Drs Nugroho Notosusanto. “Tapi saya menyaksikan sendiri dengan jelas bahwa yang mulai melepaskan tembakan adalah pasukan Inggeris”, kata Ruslan. Mallaby telah menjadi umpan bagi api pertempuran baru yang lebih dahsyat. Makamnya kini bisa dilihat di Menteng Pulo.

Esok harinya, Rabu 31 Oktober, Jenderal Christison selaku Panglima Tentara Sekutu untuk Asia Tenggara memperingatkan bangsa Indonesia: kalau pembunuh Mallaby tidak menyerah, AD, AL dan AU Sekutu akan bergerak. Dalam pidato radionya jam 7.30, Bung Karno pun mengutip Christison sambil memperingatkan “musuh kita bukan Sekutu melainkan Nica”. Tapi selama pertempuran itu telah ditemukan dokumen Operation Persil yang bertujuan menguasai seluruh Jawa Timur. Bahkan terdapat instruksi rahasia: “if you have to shoot, then shoot to kill” Tak ayal lagi, suhu ketegangan semakin menanjak.

Selama beberapa hari telah terjadi pertemuan antara Gubernur Suryo dengan Mayjen BC Mansergh, pengganti Mallaby. Juga kontak surat-menyurat. Tapi nada bahasa orang Inggeris selalu congkak dan menyalahkan fihak Indonesia. Akhirnya, Jum’at 9 Nopember, Mansergh menyampaikan ultimatum dan instruksi: semua orang, termasuk pemimpin-pemimpin Indonesia harus melaporkan diri di jalan Jakarta menjelang jam 18.00. Mereka harus berbaris mendekat dan meletakkan senjata dalam jarak 100 yard dari tempat pertemuan. Berjalan sambil mengangkat tangan, kemudian menandatangani dokumen penyerahan tanpa syarat.

Bagi orang-orang Indonesia, ini penghinaan tulen. Jam 19.30 Gubernur menghubungi Bung Karno. Presiden minta agar Surabaya menunggu hasil perundingan Menlu Subardjo dengan Pimpinan Tentara Inggeris. Jam 22.10 Walikota Doel Arnowo kontak lagi dengan Jakarta. Menlu Subardjo menjelaskan: kalau cukup kuat mengadakan perlawanan, terserah kepada Surabaya. Maka tepat jam 23.00 Gubernur Suryo pun bicara di corong radio. Pokoknya: Jakarta menyerahkan persoalan ini kepada kita. Kita menolak ultimatum Inggeris. Selamat berjuang. Maka sejak itu setiap orang pun merasa ingan. Sudah ada ketegasan: kita melawan! Dan malam itu di surau-surau orang berdoa dan membaca surat Yasin dari Qur’an.

Penjagaan gardu diperkuat. Seluruh kota diliputi ketegangan…. “Pertempuran 28, 29 dan 30 Oktober boleh dibilang hanya merupakan kemenangan taktis belaka, kemenangan pertempuran. Dalam perang, yang penting ialah kemenangan strategis, menenangkan perang. Bukan memenangkan pertempuran. Adapun pertempuran 10 Nopember justru sangat menentukan kemenangan strategis kita”, kata Brigjen Nugroho minggu lalu di Satria Mandala. “Ketika itu rakyat dan pemerintah dengan sadar melawan kekuatan yang lebih besar. Sebab kalau tidak melawan, lalu apalah arti kedaulatan Republik kita? Kecuali rakyat mulai percaya diri sendiri, dunia luar pun yakin akan kekuatan kita. Karena tekad menghadapi tantangan itulah, walaupun kemudian jatuh banyak korban, di situlah letak keberanian dan arti kepahlawanan pejuang-pejuang kita”.

Maka Idrus pun menulis dalam novelet Surabaya: Rakyat Indonesia di Surabaya yang dikuasai bandit-bandit hidup seperti prajurit di medan perang yang paling depan. Setiap waktu badannya dapat dilanggar peluru kesasar, setiap waktu ia dapat ditangkap dan setiap waktu ia dapat mengeluh berkepanjangan. Tapi sebelum itu mereka tidak mau mengeluh dan tidak mau menyerah. Seperti orang Jerman yang kalah perang, mereka tidak membungkuk-bungkuk seperti orang Jepang kalah perang. Dalam hatinya mereka bangga seperti orang-orang politik dulu digiring oleh Belanda masuk penjara..

Sumber : Majalah Tempo Online

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: