Pertandingan itu Terlalu Berat Untuk Semua

KOMPAS, Senin, 20 Mei 2002. SEGALA macam perasaan campur aduk memenuhi hati sebagian besar pencandu bulu tangkis yang hadir di Tianhe Gymnasium, Minggu (19/5), begitu Indonesia mengalahkan Malaysia dengan skor tipis 3-2 di final Piala Thomas 2002. Sebelum pukulan Hendrawan masuk ke lapangan Muhammad Roslin Hashim yang mengubah skor menjadi 8-7, 7-2, 7-1 sekaligus membawa Indonesia merengkuh kembali Piala Thomas, hanya ada satu rasa yang ada, yaitu ketegangan tiada tara.

Ketegangan yang begitu memuncak juga dirasakan oleh para juru foto yang meliput di tepi lapangan pertandingan. Para pewarta foto yang sebagian besar berasal dari dua negara yang bertemu di final, Indonesia dan Malaysia, bahkan saling berbisik bahwa mereka tidak seperti menunggu momen-momen penting dan indah untuk direkam ke dalam kamera masing-masing.

 Perasaan yang mereka alami lebih seperti menunggu kelahiran seorang bayi. Saat para pemain tengah menjalani pertarungan, tidak jarang para pewarta foto itu memilih untuk menundukkan kepala agar tidak melihat apa yang terjadi di arena dibanding merekam kejadian yang mungkin akan luar biasa.

    Baru ketika permainan memasuki skor-skor yang menentukan kekalahan atau kemenangan, fotografer Malaysia dan Indonesia itu serentak mengangkat kamera masing-masing dan membidikkannya ke lapangan.

    Usai pertarungan partai kedua antara Candra Wijaya/Sigit Budiarto yang menang atas Chan Chong Ming/Chew Choon Eng yang membuat kedudukan menjadi 1-1, Kompas memutuskan untuk pergi sejenak ke luar arena menenangkan diri di luar gimnasium.

    Ternyata di pelataran sudah berkumpul sejumlah rekan dari Malaysia. Sebagian di antaranya tengah mengisap rokok dalam-dalam sambil terdiam. “Tak kuat saya lama-lama di dalam. Bisa heart attack nanti,” ujar seorang fotografer dari salah satu harian Kuala Lumpur seraya menepuk-nepuk dadanya.

    Di dalam gimnasium, pemimpin proyek Piala Thomas Lutfi Hamid juga memutuskan untuk tidak duduk di deretan bangku tim. Dia memilih mojok di sudut sebuah tangga tribun. Berulang kali kepala Lutfi tertunduk sambil menengadahkan tangan untuk berdoa. “Tanpa bantuan Tuhan, tidak mungkin kita bisa menang. Ini semua bantuan Tuhan,” katanya.

   ITU baru gambaran dari orang yang menonton. Para pemain dari kedua kubu yang seluruhnya bertanding bak singa luka tentu mengalami perasaan yang jauh lebih dahsyat. Marleve Mainaky yang kalah di partai pembuka dari Wong Choong Hann 5-7, 5-7, 1-7 juga memilih untuk menunggu partai kedua dan ketiga di luar arena.

   “Saya juga tidak kuat, Mas. Saya tadi berdiri saja di sana (koridor penghubung dari pintu masuk ke dalam arena pertandingan-Red),” kata Mainaky di pelataran luar. Dia cukup sedih dengan kegagalannya memenangi pertandingan.

   “Saya minta maaf, Mas. Saya sudah usahakan yang terbaik yang saya bisa, tetapi permainan dia (Wong Choong Hann-Red) kali ini bagus sekali,” ujar Mainaky yang di dua game pertama lebih dulu unggul 5-0 dan 5-3.

   Sesungguhnya tidak hanya Mainaky yang mengalami tekanan psikologis. Wong juga merasakan hal yang sama. “Marleve bermain bagus, agresif sekali. Saya sampai harus terus mengingatkan diri untuk tenang dan tenang. Akhirnya saya berhasil juga,” kata Wong tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala.

   Sigit usai mengalahkan Chong Ming/Choon Eng juga terlihat begitu lemas. Dia duduk bersandar di kursi dalam ruang istirahat pemain sambil menyelonjorkan kaki. Sigit hanya bisa melambaikan tangan ketika disampaikan kata selamat.

   Pemain yang sempat merasakan beban psikologis paling berat agaknya adalah Taufik Hidayat, atlet asal Klub SGS Bandung yang berusia 20 tahun. Di lapangan, Taufik sempat gusar atas keputusan wasit Nahathai Sornprachum dari Thailand. Dua kali Sornprachum dinilai mengambil keputusan yang merugikan ketika smes Taufik dinyatakan keluar dan sebuah servis diputuskan fault.

   Taufik yang kecewa bahkan sempat memukulkan raketnya ke lantai hingga patah. Akhirnya Taufik menyerah dari Lee Tsuen Seng 7-1, 5-7, 2-7, 7-2, 3-7. Sampai di ruang istirahat atlet, pemain tunggal kedua itu langsung berteriak keras mengeluarkan seluruh emosinya.

   Saat Indonesia memastikan kemenangan, emosi Taufik kembali dimuntahkan dengan menangis tersedu-sedu. “Untuk kamu, ada gilirannya nanti. Kamu bisa menjadi pemain besar dan saya akan membantumu,” bujuk pelatih fisik Paulus Pasurney.

   Tidak hanya Taufik yang bercucuran air mata di saat Indonesia memastikan diri mempertahankan gelarnya tersebut. Trikus Harjanto, Halim Haryanto, dan Bambang Suprianto juga tidak henti meneteskan air mata. Mata para atlet dan pelatih kembali berkaca-kaca ketika mereka menyanyikan Indonesia Raya mengiringi naiknya Sang Saka Merah Putih. (YNS/ISW)

KOMPAS, Senin, 20 Mei 2002

UNTUNG SAJA MASIH ADA HENDRAWAN

Guangzhou, Kompas . Hujan deras yang mengguyur Guangzhou dan membasahi pelataran Tianhe Gymnasium adalah hujan berkat bagi tim Indonesia yang berhasil mempertahankan Piala Thomas. Kejadian bersejarah itu membuat Hendrawan meneteskan air mata ketika sebagai tunggal ketiga ia menjadi penentu kemenangan Indonesia atas tim Malaysia setelah ia mengalahkan Muhammad Roslin Hashim dengan 7-8, 2-7, 1-7, yang diakhiri dengan pengembalian bola Roslin yang keluar.

    Dengan kemenangan 3-2 atas tim Malaysia, Minggu (19/5), Indonesia mengukir sejarah baru bulu tangkis dengan merebut lima kali berturut-turut Piala Thomas. Dengan kemenangan itu, catatan pertemuan Indonesia-Malaysia menjadi 6-2 untuk kemenangan Indonesia sepanjang putaran perebutan Piala Thomas digelar.

   Disaksikan sekitar 6.000 penonton yang memadati Tianhe Gymnasium, dari 8.000 kapasitas tempat duduk, Hendrawan berlari ke sudut menjauhi teman-temannya yang semuanya langsung mengejarnya. Hendrawan yang menangis tersengguk-sengguk, dipanggul anggota tim lainnya, dibawa berlari keliling seperempat lapangan. Semua pemain berurai air mata.

   Ketua Umum PB Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Chairul Tanjung juga ikut menitikkan air mata. Semua pendukung tim Indonesia berurai air mata, di antaranya tampak mantan Ketua Umum PB PBSI, yang juga mantan Wakil Presiden, Try Sutrisno, dan mantan Ketua Umum PB PBSI yang pertama, Padmosumasto.

   Chairul Tanjung atas kemenangan tim ini mengatakan, hasil ini tentu menegangkan karena pertandingan tadi berlangsung begitu ketat. “Kami prediksi Indonesia bisa menang 3-1 dan menurut perhitungan Taufik bisa menang. Namun, tadi emosinya terganggu,” katanya sebagaimana dilaporkan wartawan Kompas Brigitta Isworo dan Yunas Santhani Azis dari Guangzhou, kemarin malam.

   Begitu Indonesia berhasil mempertahankan Piala Thomas, Presiden Megawati Soekarnoputri langsung menghubungi Tanjung melalui telepon genggam Duta Besar RI untuk Republik Rakyat Cina AA Kustija. Kepada Tanjung, Presiden mengucapkan selamat kepada seluruh tim atas keberhasilan mereka yang sangat membanggakan bangsa Indonesia.

   Di tengah keharuan akibat kegembiraan tersebut, Taufik Hidayat menangis tersedu-sedu berisi penyesalan. Dia dipeluk oleh rekan-rekannya dan anggota tim lainnya, mulai dari Marleve Mainaky, Sigit Budiarto, Candra Wijaya, Halim Haryanto, dan sejumlah pelatih dan ofisial. “Sudah Fik, lupakan saja kekalahan itu, kita sudah menang,” ujar Lutfi Hamid, chef de mission tim Piala Thomas.

   Selama merayakan kemenangan di lapangan, lagu Auld Lang Syne dimainkan korps musik militer. Lagu itu juga dialunkan sebelum partai final dimainkan dan ternyata bukan menjadi lagu perpisahan Piala Thomas dengan Indonesia. Rasa haru yang dalam menyergap, apalagi saat lagu kebangsaan Indonesia Raya dimainkan untuk mengiringi naiknya bendera Merah Putih.

Bukan pahlawan

   Apa yang diungkapkan pertama oleh Hendrawan ketika ditanya wartawan tentang penampilannya yang luar biasa di partai penentuan, dan selama tiga kali Piala Thomas selalu menyumbangkan poin di saat-saat kritis, dia menolak sebutan pahlawan bagi dirinya.

   “Saya bukan pahlawan dan saya juga bukan pemain terbaik Indonesia. Saya bisa bermain di Piala Thomas ini karena support dari teman-teman saya sesama pemain dan pengurus yang selalu mendukung saya,” ujarnya merendah.

   Pertarungan antardua “musuh bebuyutan” ini berlangsung ketat dengan keunggulan poin bagi Malaysia lebih dulu, 2-1. Peluang Malaysia dibuka oleh Wong Choon Hann yang merebut poin pertama bagi Malaysia dengan mengalahkan Marleve Mainaky. Mengawali pertandingan, sebenarnya Mainaky sudah tampil agresif dan dengan gampang merebut angka demi angka sampai 5-0.

   Mendadak Wong mulai mengejar ketertinggalannya dan bola-bolanya pun semakin berbahaya. Mainaky yang mencoba mengajak adu drive malahan berbalik tertekan sehingga angka mulai bergulir untuk Wong karena Mainaky mulai banyak melakukan kesalahan sendiri. Set pertama  ditutup untuk kemenangan Wong, 7-5.

   Mainaky tetap berusaha menekan lebih dulu sehingga sempat unggul 4-2. Namun, bola-bola Wong semakin tajam, sementara pengembalian drive-drive Mainaky selalu menjadi senjata makan tuan. Angka berkejaran dari 4-3 menjadi 4-4 karena Mainaky banyak melakukan kesalahan sendiri. Set ini akhirnya kembali ditutup Wong dengan 7-5.

   Mainaky rupanya tidak bisa bangkit lagi sehingga semakin lama pukulannya semakin tidak akurat, dan set ketiga berlangsung singkat untuk kemenangan Wong, 7-1. Sepanjang pertandingan, setidaknya dua kali servis Mainaky menyangkut di net, yaitu satu kali di set kedua dan satu kali di set ketiga.

   “Saya bermain buru-buru karena sudah merasa enak tadi di set pertama. Namun, di set kedua ternyata dia bermain amat bagus dan agresif. Saya masih kalah cepat dari dia,” ujar Mainaky.

   Pertarungan antara pasangan Malaysia, Chew Choon Eng/Chan Chong Ming, dan Sigit Budiarto/Candra Wijaya merupakan pertandingan yang tidak seimbang meskipun pada awalnya Candra maupun Sigit beberapa kali melakukan kesalahan sendiri. Tanpa banyak kesulitan, mereka menang 7-3, 7-4, 7-2.

Protes

   Set ketiga yang diharapkan bisa direbut Indonesia melalui Taufik Hidayat ternyata lepas setelah melalui pertarungan yang cukup menegangkan dan diwarnai protes. Unggul di set pertama dengan cukup mudah dari Lee Tsuen Eng yang mengalahkannya di Swiss Terbuka 2001 lalu dengan 7-1, Taufik mulai dengan gerakan-gerakan akrobatnya, misalnya dengan memukul dari balik kaki dan dari balik kepala yang mengundang decak kagum penonton.

   Semula Tsuen Seng direncanakan tim Malaysia menjadi pemain ketiga, tetapi karena Muhammad Hafiz Hashim mengalami cedera, dia naik menjadi pemain kedua, sementara tunggal ketiga diisi Muhammad Roslin Hashim.

   Lalu terjadilah insiden itu, yaitu ketika pada posisi 2-4 di set ketiga untuk keunggulan Lee, smes Taufik dinyatakan tidak terlihat oleh penjaga garis, dan diputuskan keluar oleh wasit pertandingan,  Nahathai Sornprachum. Keputusan itu memancing Taufik melakukan protes kepada wasit pertandingan, namun protesnya tidak dihiraukan.

   Insiden kedua terjadi saat posisi 0-0 di set kelima ketika servis Taufik dinyatakan tidak masuk padahal, menurut Taufik, servisnya sudah terkena raket Lee. Ketika ditanya soal itu, Lee mengatakan, “Saya tidak terpengaruh dengan kondisi itu. Malah saya melihat Taufik berubah wajahnya menjadi tegang, jadi saya ambil keuntungan dari kondisi itu.” Alhasil, posisi menjadi 2-1 untuk keunggulan tim Malaysia.

   Di partai keempat, ganda kedua Indonesia yang merupakan pasangan “gado-gado” Trikus Harjanto-pemain ganda campuran-dengan Halim Haryanto diperkirakan menjadi titik lemah Indonesia. Namun, ternyata mereka tampil bagus dan, walaupun sempat mendapat perlawanan ketat, bisa menambah poin Indonesia menjadi 2-2, setelah menang 8-7, 7-8, 7-1, 7-3.

   Di set penentuan, Hendrawan bermain dengan mantap, sementara Muhammad Roslin Hashim, yang di awal pertarungan bermain taktis dan sempat bangkit dari situasi tertinggal 1-4 di set pertama dan berbalik unggul 6-4, ternyata tidak dapat menyelesaikan set pertama dan kalah 7-8. Set kedua dia langsung tertinggal 5-0, kalah 2-7. Di set ketiga, Hendrawan tinggal memetik hasil karena Roslin bermain buruk dan menang 7-1. Keseluruhan pertarungan berlangsung 34 menit.

   “Ganda kedua diharapkan bisa memberikan poin. Sayang itu meleset.  Demikian juga dengan Roslin. Ternyata pressure terlalu tinggi bagi Roslin sehingga dia tidak bisa main. Namun, itu bukan alasan,” ujar Misbun Sidek, pelatih kepala klub Nusa Mashuri. Sebaliknya, Roslin sendiri mengaku tidak ada beban dalam pertandingan tersebut. “Saya memang menyangka Hendrawan akan bermain di luar kebiasaan, yaitu bermain cepat. Tetapi kali ini permainan saya memang tidak akurat.”*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: