Rebut Piala Thomas, Republik Indonesia Masih Ada

KOMPAS, Senin, 25 Mei 1998  .Hongkong, Kompas. Kemelut politik yang memuncak dalam dua pekan terakhir ini serta gonjang-ganjing ekonomi yang belum mereda, benar-benar membuat nama Indonesia terpuruk di dunia internasional. Namun para pebulu tangkis putra Indonesia membuat dunia harus tetap memandang keberadaan negeri ini setelah hari Minggu (24/5) merebut Piala Thomas.

 Regu putra Indonesia memperpanjang dominasinya sebagai tim bulu tangkis terbaik di dunia setelah menaklukkan regu Malaysia 3-2. Inilah gelar ke-11 bagi Indonesia sepanjang sejarah Piala Thomas, tiga kali terakhir bahkan secara berturut-turut.

Ucapan terima kasih pantas disampaikan kepada pasangan Rexy Mainaky/Ricky Subagdja, Hermawan, dan Sigit Budiarto/Candra Wijaya. Mereka mampu memperlihatkan penampilan terbaik untuk memastikan kemenangan tim Indonesia yang sempat ketinggalan setelah tunggal pertama Indonesia, Hariyanto Arbi dipaksa menyerah pemain terbaik Malaysia, Ong Ewe Hock 14-18, 7-15.

    Dunia olahraga lagi-lagi muncul sebagai “penyelamat” nama baik bangsa. Di tengah keprihatinan yang melanda negeri ini, bulu tangkis mampu mengangkat harkat bangsa yang memungkinkan kita untuk bisa berjalan tegak.

    “Indonesia … merah darahku… putih tulangku… bersatu dalam semangatmu,” begitulah syair lagu karya Gombloh yang dengan penuh semangat dinyanyikan pendukung Indonesia. Ketika lagu kebangsaan Indonesia Raya diperdengarkan, tidak ada seorang pun warga Indonesia yang tidak menyanyikannya.

 

Obat penawar

    Manajer Tim Agus Wirahadikusumah dengan tegas mengatakan, keberhasilan tim Piala Thomas Indonesia merupakan obat penawar bagi bangsa Indonesia yang sedang menghadapi masa-masa sulit. Proses keberhasilan ini bisa menjadi contoh bahwa persatuan dari semua suku dan agama apapun merupakan kekuatan.

    “Jangan mengkotak-kotakkan bangsa dengan batasan suku dan agama,” tegas manajer tim Agus Wirahadikusumah kepada wartawan Kompas, Brigitta Isworo.

    Agus menambahkan, “Dalam suasana kesenduan dan kesedihan yang mencengkeram kita karena suasana di Tanah Air, kami bisa membuktikan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang kuat. Hendaknya keberhasilan menjadi yang terbaik ini menjadi contoh.”

    Ketua Umum KONI Pusat Wismoyo Arismunandar juga menegaskan, keberhasilan ini pantas menjadi pelajaran bagi bangsa Indonesia bahwa persatuan merupakan kekuatan untuk menjadikan yang tidak mungkin menjadi mungkin.

    “Saya berterima kasih kepada pengurus, pelatih, dan pemain yang telah berbuat yang terbaik dalam suasana bangsa yang sedang kurang baik,” ujar Wismoyo. “Mereka telah menunjukkan daya juang tinggi, pantang menyerah, dan ingin berbuat sesuatu yang berarti bagi bangsa, mengangkat kehormatan bangsa tinggi-tinggi.”

 

Tidak menyangka

    Ledakan kegembiraan seakan merubuhkan gedung, begitu pasangan Candra/Sigit memastikan kemenangan regu Indonesia. Candra, Sigit, dan Agus dipanggul dan dielu-elukan di tengah-tengah lapangan, begitu pengembalian bola dari Tan Fook menyangkut di net. Semua berurai air mata, karena tidak menyangka bahwa Indonesia yang para pemainnya gagal merebut satu pun gelar di Jepang Terbuka, All  England, dan Swiss Terbuka berhasil merebut Piala Thomas tiga kali berturut-turut, 1994, 1996, 1998.

    Dengan sukses ini Indonesia mengulang sukses antara tahun 1957-1964, serta sukses Malaysia antara 1948-1955, dan juga keberhasilan Cina tahun 1986-1990 dengan berhasil tiga kali berturut-turut merebut Piala Thomas. Antara tahun 1969-1979 Indonesia sempat merebut empat kali berturut-turut.

    “Sejak semula saya tegaskan, kami tidak memilih-milih lawan, pokoknya kita akan sikat semua lawan yang kita hadapi. Ini semua adalah hasil dari proses selama dua bulan bersama-sama dengan anak-anak setiap hari untuk meningkatkan interaksi, kekompakan, di semua lapisan dari manajemen, pelatih, pemain,” tegas Agus.

    Dia mengucapkan terima kasih pada dukungan semua pihak yang dalam kondisi sulit juga memberikan dukungannya baik secara langsung di lapangan maupun dengan doa.

    Agus juga menambahkan, bahwa PB PBSI akan memberikan bonus sebesar Rp 1 milyar, yang akan dibagikan kepada seluruh pemain anggota tim Piala Thomas-Uber. “Akan segera dibagikan. Kami harus konsisten, tidak menunda-nunda janji,” tegasnya.

    Tim akan berangkat dari Hongkong pukul 16.00 WIB dan tiba di Tanah Air pukul 22.00 WIB. “Keesokan harinya kami akan diterima Presiden Habibie,” ujarnya.

Tunggal kedua

    Kunci keberhasilan tim Indonesia terletak pada kemenangan tunggal kedua Hendrawan atas Yong Hock Kin 18-14, 10-15, 15-5. Dua ganda yang di atas kertas memang diketahui kuat karena menempati peringkat dua dan keempat dunia, memastikan memetik dua angka lainnya.

     Ricky A. Subagdja/Rexy Mainaky mengulang suksesnya di Olimpiade Atlanta dengan meredam Cheah Soon Kit/Yap Kim Hock dengan 15-3, 18-15, sedangkan Candra Wijaya/Sigit Budiarto menjadi penentu kemenangan dengan merebut poin ketiga dari Lee Wan Wah/Choong Tan Fook 15-11, 15-12.

    Pelatih tunggal putra Indra Gunawan mengungkapkan, “Saya bangga Hendrawan sudah berani bermain di beregu.”

    Hendrawan sebenarnya mendekati titik kemenangan di set kedua dengan unggul 9-5 dari Hock Kin. Namun ia banyak melakukan kesalahan sendiri sampai akhirnya disamai 9-9, ketinggalan 10-12 dan kalah 10-15. “Di set kedua saya yakin menang, jadi maunya main sebagus-bagusnya dikeluarkan semua, tapi ternyata malahan banyak salah sendiri,” ujarnya.

    Dengan berkaca-kaca usai memenangi pertandingan, Hendrawan mengakui, motivasi lain didapatnya dari manajer tim Agus. “Pak Agus sering mengatakan, kita ini bukan bangsa yang kalah. Dalam situasi bangsa yang serba tidak menguntungkan, kita harus bisa membuktikan kita bukan orang-orang kalah. Ini motivasi bagi saya untuk membuktikan itu, juga membuktikan bahwa saya mampu,” tutur Hendrawan, semifinalis All England 1998 yang merasa sudah akan dikeluarkan dari pelatnas awal tahun lalu.

Hari gagal

    Indonesia gagal meraih angka pertama dari partai pertama ketika Hariyanto Arbi lagi-lagi gagal memetik angka, seperti di semifinal melawan Cina. Hari mengatakan, dia banyak mati sendiri karena kakinya terasa berat.

    “Sebenarnya sudah terasa lebih enak kaki saya sekarang. Tapi saya memang ragu-ragu untuk menurunkan bola,” tambahnya.

    Di set kedua, Hari tertinggal 2-7 lalu menyusul 5-7 lalu melakukan unforced error sampai kedudukan 5-9, 5-12 ketika dia melakukan kesalahan sendiri dengan bola melebar.

    “Smes saya balik terus, padahal saya pikir sudah mati. Akhirnya malah saya banyak mati sendiri,” katanya. “Ketika tertinggal 3-7 saya ingin mempercepat tempo namun ternyata malah berbalik saya yang banyak membuang bola,” tegasnya.

    Ong Ewe Hock mengakui, “Mengalahkan Hari tidaklah gampang. Saya hanya berusaha agar dia tidak dalam posisi untuk menyerang. Dia tidak boleh dibiarkan berdiri tenang. Jadi saya berusaha menggerakkan dia terus ke segala sudut lapangan.”

    Beruntung di tengah suasana tegang, pasangan Ricky/Rexy mampu menyamakan kedudukan menjadi 1-1 dan diikuti oleh Hendrawan dan juara dunia ganda 1996, Sigit/Candra.

Hasil Pertandingan: Indonesia-Malaysia 3-2: Hariyanto Arbi-Ong Ewe Hock (Mas) 14-18, 7-15; Ricky Subagdja/Rexy Mainaky-Cheah Soon Kit/Yap Kim Hock (Mas) 15-3, 18-15; Hendrawan-Yong Hock Kin 18-14, 10-15, 15-5; Candra Wijaya/Budiarto Sigit-Lee Wan Wah/Choong Tan Fook 15-11, 15-12; Joko Suprianto-Roslin Hashim 10-15, 15-11, 2-15.

Sumber : Koran Kompas

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: