Thomas-Uber Bersanding Lagi

KOMPAS Minggu, 22 Mei 1994. Jakarta, Kompas. Mengharukan! Membanggakan! Sulit memang untuk diucapkan dengan kata-kata keberhasilan yang dicapai para atlet bulu tangkis Indonesia dengan menyatukan kembali dua piala lambang supremasi bulu tangkis beregu, Piala Thomas dan Piala Uber, setelah terpisah sejak tahun 1975, di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (21/5) malam.

Hasil 3-0 yang dibuat Ardy B Wiranata dengan mengalahkan Ong  Ewe Hock 15-11, 15-5, menjadikan regu Indonesia kembali meraih Piala Thomas untuk kesembilan kalinya, yang terakhir kali didapat tahun 1984 Sekaligus hasil itu juga menyatukan dengan Piala Uber yang malam sebelumnya berhasil direbut Susi Susanti dkk. dengan mengalahkan Cina 3-2 di tempat yang sama.

 Sebenarnya Indonesia yang memiliki pemain tunggal dan ganda terbaik di dunia, jauh diunggulkan atas Malaysia. Namun sebelum pukulan forehand Ong melebar pada saat Ardy memimpin 14-5, kubu tuan rumah yang duduk di bangku tetap dilanda ketegangan. Barulah melihat Ardy menang, mereka beramai-ramai berlari ke tengah lapangan untuk membopong sang penentu kemenangan.

    Dua angka sebelumnya diberikan Haryanto “Smes 100 Watt” Arbi yang menaklukkan Rashid Sidek 15-6, 15-11 dalam waktu sekitar 50 menit, serta pasangan Bambang Supriyanto/Gunawan yang perlu tiga set sebelum akhirnya mengalahkan Cheah Soon Keat/Soo Beng Kiang dengan 15-10, 6-15, 15-8.

    Pertandingan sendiri langsung dihentikan setelah kedudukan 3-0 itu. Meskipun sebenarnya dalam rapat tahunan Federasi Bulu Tangkis Internasional, peraturan itu baru akan diterapkan dalam kejuaraan yang akan datang. Maka partai Ricky A Subagja/Rexy Mainaky dengan Yap Kim Hock/Tan Kim Her dan Hermawan Susanto dengan Foo Kok Keong, tidak ditampilkan.

Joko diganti

    Indonesia pada awalnya sempat dianggap setengah berjudi saat menurunkan Haryanto Arbi sebagai tunggal pertama menggantikan Joko Suprianto. Sebenarnya Hary, begitu dia biasa dipanggil, paling ditakuti Rashid, hanya saja karena dialah satu-satunya pemain Indonesia yang kalah saat jumpa Korsel di semifinal, maka dikhawatirkan beban psikologis bisa mempengaruhi Hary. Ternyata adik kandung Hastomo Arbi dan Eddy Hartono ini, tadi malam tampil dengan percaya diri.

    Joko sendiri memang dikenal kurang “nyaman” kalau berjumpa dengan Rashid. Apalagi penampilannya saat ini sedang tidak dalam kondisi puncak. Jika kalah, dikhawatirkan secara moral pemain akan down, sehingga ditetapkan Haryanto menjadi pemain pertama.

    Di awal set pertama Haryanto Arbi langsung menggebrak dengan smes-smes lompatnya. Tindakannya itu membuat Rashid gagal mengembangkan permainan dan cenderung defensif dan kurang leluasa. Hary pun tampak tidak khawatir bakal kehabisan stamina seperti ketika dia dikalahkan Kim Hak-kyun, karena benteng Rashid tidak begitu kokoh.

    Dalam kondisi itu Hary terus memimpin, setelah 1-1, menjadi 7-1. Hanya sesekali pindah servis, namun set pertama berlangsung cepat. Dari 10-6, Hary menyudahi menjadi 15-6 dengan dua kali pindah servis.

    Pada set kedua, di paruh akhir Hary mulai kedodoran. Ini tidak lain disebabkan terjadinya perpindahan servis sampai 10 kali saat Hary memimpin 2-0. Meskipun terus memimpin, 4-0, 8-2, 13-5, angkanya sempat tersendat. Bagaikan mendapat “angin kedua” Rashid mulai mengejar, sampai kedudukan 14-11. Hary perlu tiga kali match-point sebelum menang 15-11, ketika sebuah smes Hary yang masuk tidak diambil Rashid yang kecapaian.

Menang strategi

    Meskipun sempat menghawatirkan karena faktor Bambang yang kerap berbuat salah, pasangan pertama Indonesia Bambang/Gunawan akhirnya menang juga atas Cheah Soon Keat/Soo Beng Kiang. Kalahnya mereka di set kedua sehingga terjadi rubber-set terutama akibat menurunnya secara drastis kemampuan fisik pasangan tuan rumah itu sehingga  tampil ultra defensif.

    Tetapi, kemenangan terbaik tadi malam dicatat Ardy. Ketepatan strateginya membuat Ong Ewe Hock yang sampai semifinal tampil begitu baik, bagaikan tidak berdaya. Ong hanya dapat bertahan sampai sekitar 10 menit pertama, karena mulai kedodoran akibat permainan reli panjang yang dikembangkan Ardy. Ong yang amat suka diserang karena liputan lapangannya yang relatif baik, menjadi frustrasi.

    Melayani reli dia kecapaian, tetapi menyerang dia takut menjadi bumerang. Walaupun perebutan angka alot, misalnya karena Ong sering melakukan smes spekulasi untuk memancing Ardy, Ardy akhirnya memimpin jauh 13-6. Tetapi rupanya Ardy agak terburu-buru ingin menang sehingga Ong sempat merebut lima angka menjadi 13-11 sebelum Ardy menang 15-11.

    Di set kedua, Ong betul-betul melorot, membuat Ardy memimpin 8-0 terutama akibat pemain Malaysia itu malas mengejar bola dan hampir selalu berspekulasi. Ardy coba mempercepat, Ong mulai pula main smes, sehingga Ong mendapat angka, 8-2. Mulai dari sini Ardy praktis tidak mendapat perlawanan sampai akhirnya menang dengan 15-5 yang membuat Piala Thomas dan Piala Uber kembali bersanding di Tanah Air untuk kedua kalinya.

Kecam penonton

    Sampai dua jam setelah pertandingan usai, tim Malaysia belum meninggalkan kamar ganti pakaian. “Saya tidak mengerti apa keinginan penonton Indonesia. Tanpa bantuan mereka saja, Indonesia bisa menang. Kami tidak ingin bertanding lagi karena bisa membahayakan pemain kami,” kata manajer tim Malaysia, Punch Gunalan.

    Ketika pertandingan Ardy Wiranata melawan Ong Ewe Hock berakhir, penonton memang seperti melampiaskan kegembiraan dengan melemparkan segala yang dimiliki. Pelatih Malaysia, Yang Yang dan

Cheng Changjie sempat basah kuyup terlempar air minum. “Apalagi yang mereka maui? Hidup kami?” kata ofisial Malaysia agak emosional.

    Chef de mission Soemaryono sempat menjumpai tim Malaysia di kamar ganti. Soemaryono meminta maaf atas perlakuan penonton. “Saya meminta maaf karena tindakan mereka,” kata Soemaryono

sambil memberi salam.

    “Kami akan tetap tinggal di sini kalau perlu sampai pagi. Kami tidak ingin membahayakan jiwa para pemain kami,” kata Gunalan lagi.

    Pertandingan memang tampaknya tidak dapat dilanjutkan karena penonton memenuhi lapangan dan tidak bergerak sama sekali. Mereka terus mengeluarkan teriakan-teriakan yang mencemooh tim Malaysia. (arb/sw/win/hcb)

Sumber : Koran Kompas

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: