Category Archives: Demonstrasi

Mereka Ziarah, Lalu Mengerek

Tempo 21 Januari 1978. TERIK matahari membakar kampus “Ganeca” ITB Bandung. Tak kurang dari 3.000 mahasiswa berkumpul di sana Senin siang kemarin. Selembar spanduk merah terpampang di mulut pintu kampus. Bunyinya serem, senada dengan pernyataan mereka: “Tidak mempercayai dan tidak menginginkan Suharto kembali sebagai Presiden Republik Indonesia.” Mereka juga menuntut agar fraksi-fraksi dalam MPR menampilkan tokoh-tokoh nasional sebagai calon Presiden. Di sana juga beredar sebuah buku putih “Perjuangan Mahasiswa” yang mengkritik strategi dan kebijaksanaan pembangunan. Continue reading

Advertisements

Di Kampus Yang Resah, Ada Apa & Salah Siapa

Tempo 26 November 1977. KAMPUS ITB Rabu malam 16 Nopember. Tak begitu jauh dari Student Centre, di halaman terbuka, ratusan mahasiswa bergerombol. Umumnya mengenakan jaket warna-warni.Ada yang duduk santai sembari omong-omong. Tapi ada pula yang berwajah tegang, seakan lagi menunggu pengumuman ujian. “Kita sedang menunggu siapa yang bakal keluar sebagai pemenang,” kata seorang. Rupanya mereka sedang menanti hasil akhir perhitungan suara, siapa yang akan terpilih sebagai ketua DM yang baru. Peristiwa ini cukup penting rupanya.

Baru pertama kali dalam sejarah ITB, ketua DM dipilih langsung oleh mahasiswa, tak lagi lewat para senator dalam Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM). MPM kini hanya berwenang menampilkan tiga calon kontestan. Seorang mahasiswa bertubuh kecil, gesit, berambut agak gondrong tampak mondar-mandir mengintip perhitungan suara di papan tulis. Berpakaian hitam-hitam seperti tukang sate Madura, ia banyak dielu-elukan mahasiswa. Seorang wartawan kampus membidikkan kamera. Continue reading

Dengan Percikan Api

02 Maret 1974. EKOR huru-hara 15 Januari rupanya tidak pendek. Berbagai desas-desus dan bentuk-bentuk perang urat syaraf lainnya terlempar ke sana-sini “yang tujuannya mengalihkan opini masyarakat”.
Misalnya disebutkan seakan-akan pemerintah telah bertindak sewenang-wenang tanpa mengindahkan hukum. Dan banyak lagi. Tetapi untuk memben-dung semua kabar angin inilah Kepala Staf Kopkamtib Laksamana Sudomo pekan lampau secara pasti menyatakan semua itu sebagai “tidak benar”. Sudomo menunjuk Ketetapan MPR nomor X tahun 1973 pasal 2 sebagai landasan hukum bagi pemerintah untuk menye-lesaikan semua persoalan yang berhubungan dengan kerusuhan 15 Januari itu. Dengan pijakan itu pulalah menurut Sudomo, ke-778 orang yang ditahan — dari jumlah seluruhnya 8 orang — telah dibebaskan. Sisanya yang 42 orang lagi itu masih terus dalam pengusutan karena urusan mereka dapat digolongkan tindak pidana subversi. Continue reading

Musibah bagi Golongan Menengah (Peristiwa MALARI 74)

Tempo 26 Januari 1974. 15 januari 1974 terjadi demonstrasi mahasiswa yang tidak senang modal & tingkah laku pengusaha Jepang di Indonesia. Diikuti huru-hara yang didalangi eks tokoh PSI & ditunggangi eks Masyumi. (nas)

DI tengah suasana masih tegang dan belum menentu, sekitar jam 16.30 hari Rabu 16 Januari minggu lalu gubernur Ali Sadikin muncul di kampus UI jalan Salemba Jakarta. Ia nampak lesu dan wajahnya yang jauh dari bayangan gembira memantulkan keletihan yang sangat. “Jakarta sudah dalam keadaan lumpuh dan kritis” kata Ali Sadikin di tengah beberapa pimpinan mahasiswa UI yang mengitarinya. “Pengrusakan-pengrusakan sudah berjalan dua hari. Sekarang apa rencana mahasiswa selanjutnya” Ketua Dewan Mahasiswa UI Hariman Siregar yang nampak tak kurang lelahnya menjawab: “Kami sendiri sedang kebingungan. Kejadian ini sama-sekali di luar dugaan kami”. Continue reading

Gelombang Penangkapan Baru

Tempo 27 Oktober 1973. Penangkapan terhadap tokoh-tokoh angkatan muda Siliwangi (AMS) terus berlanjut karena berkaitan dengan peristiwa 5 Agustus di Bandung. Beberapa perwira kodam VI Siliwangi disinyalir terlibat G30S/PKI.

BARANGKALI benar juga sisa-sisa PKI yang mendalangi peristiwa 5 Agustus di Bandung, seperti pernah dilaporkan Men Hankam Jenderal Panggabean di hadapan DPR. Setidak-tidaknya inilah pula yang diakui Jenderal Sumrahadi, Kepala Pusat Penerangan Hankam, ketika kepada pers dikatakannya bahwa memang telah terjadi penahanan-penahanan terhadap beberapa perwira pertama dan menengah di lingkungan Kodam VI Siliwangi. “Ini adalah hasil pembersihan rutin dalam tubuh ABRI dari sisa-sisa G.30.S/PKI”, katanya. Pengakuan Sumrahadi menyusul pengakuan dari fihak Kodam Siliwangi sendiri, meskipun tidak menyebutkan namanama mereka yang ditahan, kecuali menambahkan bahwa “penangkapan perwira-perwira itu tidak ada hubungan nya dengan penahanan beberapa tokoh Angkatan Muda Siliwangi”. Continue reading

11 Maret 1966 – 11 Maret 1972 …

Demonstrasi mahasiswa & gerakan pemuda 1966 dulu dituduh ditunggangi “CIA” & dianggap “kanan”. kini penguasa khawatir, aksi-aksi anak muda dipengaruhi “kiri baru” dari barat. tapi kebenarannya masih diuji.
ENAM tahun jang lalu, para mahasiswa jang berdemonstrasi dituduh penguasa “ditunggangi CIA” dan tokoh-tokoh mahasiswa luarnegeri menganggap gerakan pemuda 1966 sebagai “kanan”. Enam tahun kemudian, tjukup terasa kechawatiran penguasa bahwa aksi-aksi anak muda kini dipengaruhi “Kiri Baru” dari Barat. “Djangan berkiblat ke Barat”, demikian diserukan Djendral Sumitro awal tahun ini. Continue reading

Dari Sumitro, Dengan Peringatan …

komkamtibTempo 22 Januari 1972. Pangkopkamtib jenderal sumitro melarang aksi-aksi protes. kegiatan mahasiswa tak dilarang. segala bentuk kritik hendaknya disalurkan melalui jalur yang ada. SIAPA jang menggerakkan aksi-aksi pemuda-mahasiswa jang menentang projek Miniatur Indonesia? Pertanjaan ini banjak diutarakan sedjak Presiden Soeharto menjebut-njebut adanja orang “dibelakang lajar” penggerak aksi-aksi protes itu ketika meresmikan RS Pertamina jang lalu. Menteri Dalam Negeri Amirmachmud mentjoba membuatnja lebih djelas ketika mendjawab pertanjaan pers berkata: “Setiap jang tahu ABC-nja politik tentu tahu siapa jang dimaksud Presiden”. Soalnja tidak semua orang tahu dengan jang disebut abc-nja politik itu, seperti djuga ternjata tidak semua orang mengerti tjara berdemokrasi. Tapi berbeda dengan Amirmachmud, Aspri Presiden Majdjen Ali Murtopo berbitjara lebih singkat namun lebih djelas “Kopkamtib jang tahu”, katanja mendjawab pertanjaan jang sama dari pers. Continue reading