Category Archives: Hukum

Perampok Bertampang Banci (Johny Indo)

Tempo 05 Mei 1979. Johanes Hubertus Eijenboom (27 tahun) seorang yang tampan. Lagak lagunya lembut. Sedikit pun tak mencerminkan keberanian untuk berbuat sesuatu yang keras. Bahkan untuk model iklan rokok pun, menurut pimpinan biro iklan Intervista yang membayarnya untuk itu, ia tak cukup jantan. 

 

“Dia kebanci-bancian,” kata orang biro iklan tadi. Johny Indo — begitu namanya disebut, karena ia Indo Belanda — hanya dipasang sebagai peran pembantu dalam iklan rokokArdath. Yang diketahui oleh Toto dari Intervista si Johny tampak putus asa. “Ia betul-betul sedang membutuhkan uang,” kata Toto. Melamar pekerjaan di berbagai kantor selalu gagal. Sedangkan honorariumnya sebagai model yang belum ternama memang tak cukup memberinya penghasilan bagi isteri dan ke 4 anak perempuannya. Belum terhitung bagi 2 atau 3 pacarnya. Itu saja yang diketahui teman-temannya. Dukun Wanita Continue reading

Advertisements

Suny, Setelah 3 x 24 jam

Tempo 14 Januari 1978. SORE itu, 6 Januari lalu, ada pesta kecil di rumah Jl. Jenggala 11 Kebayoran Baru. Suasana prihatin lebih terasa dalam pesta yang dihadiri keluarga dekat si empunya rumah. Tiba-tiba telepon berdering. Ada ucapan selamat ulang tahun pada Risna, anah keempat keluarga itu, yang menginjak usia 7 tahun. Yang menelpon adalah Ismail Suny, ayah Risna, yang sejak 3 Januari lalu ditahan Laksusda Jaya. Continue reading

Sudomo: Pada Titik Yang Tak Bisa …

Tempo 01 Oktober 1977. TEPAT jam 7 pagi Sabtu pekan kemarin, sebuah sedan hijau tua Valiant B 2017 DA berhenti di halaman Markas Kopkamtib, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta.
Seorang lelaki berstelan safari putih-putih bergegas turun, mendaki tangga berlapis karpet plastik merah, masuk ke kantornya. Tiga vulpen Parker kuning keemasan terselip di lengan kiri. Rambutnya yang tipis disisir rapi ke belakang sudah berseling dengan warna putih. Ia adalah Sudomo, ketua Opstibpus, yang hari itu genap berusia 51 tahun 4 hari. Ada hadiah istimewa buat sang Laksamana: seuntai syair, ditulis oleh Ka Puspen Hankam, Brigjen Darjono SH. Tapi hadiah paling berharga diterima dari Letkol (L) Chaeruddin Lubis, salah seorang Dan Satgas Opstibpus. Continue reading

Ratu Adil Akan Diadili (Kasus SAWITO )

Tempo 30 Juli 1977 R. SAWITO Kartowibowo, 46, orang yang dituduh mau ‘menggulingkan Kepala Negara’ dengan ‘gerakan Sawito’, menjelang bulan Puasa awal Agustus nanti akan diajukan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
Diamankan bulan September 1976, ia sudah 10 bulan ditahan di RTM. Berkas perkaranya yang setebal 10 sentimeter bersampul kuning, minggu lalu diserahkan oleh Kejaksaan Tinggi Jakarta kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Ia dituduh melakukan tindak pidana subversi (primer), merencanakan makar menggulingkan Kepala Negara (subsider), menyerang nama baik Kepala Negara (lebih subsider), menyiarkan kabar bohong (lebih subsider lagi). Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, HM Soemadijono SH sendiri akan tampil sebagai hakim ketua didampingi dua hakim anggota: John Z. Loudoe SH dan Anton Abdurrachman Putera SH. Sedang P Mappigou SH dan Julius Dahlan SH (keduanya dari Kejaksaan Agung) bertindak sebagai jaksa penuntut umum dan jaksa pengganti. Meskipun ada tujuh saksi yang akan diajukan, tapi tokoh-tokoh seperti Hatta, Hamka, Kardinal Darmoyuwono TB Simatupang dan RS Sukanto – yang dulu menandatangani ‘Dokumen Sawito’ – menurut Jaksa Agung Ali Said tidak akan diajukan sebagai saksi. Continue reading

Ramai-ramai keluar

Tempo 18 Oktober 1975. RUMAH di pojok jalan HOS Cokroaminoto itu tampak banyak dikunjungi orang hari Ahad kemarin. Buyung Nasution, tuan rumah yang masih gondrong berpeci itu, kelihatan sibuk menerima tamunya siang itu.
Ada apa nih? “Sekedar sukuran di antara keluarga dan sanak famili”, kata Ria isterinya. Bagi Buyung, pembebasannya mempunyai arti tersendiri. Bukan karena ia kembali bisa memimpin LBH. Tapi seperti katanya-pada TEMPO, doa saya terkabul agar bisa bermalam takbiran bersama keluarga, berziarah dan ber-lebaran sebagaimana orang bebas lainnya”. Demikian juga bagi ke- 11 mahasiswa yang dibebaskan oleh Jagung Ali Said, selepas “cuti” Lebaran bagi mereka selama 4 hari. Dan berikut ini adalah cuplikan wawancara yang dilakukan Harun Musawa bersama Slamet Djabarudi dengan pengacara terkenal dan beberapa mahasiswa itu. Continue reading

Memburu pemerkosa sum kuning

Tempo 1 Desember 1973. Henry, mahasiswa, 20, dan slamet, penjual sate, 24 th masing-masing dijatuhi hukuman 4,5 th karena terbukti bersalah sebagai pemerkosa sum kuning. atas putusan itu timbul berbagai pertanyaan.
TANGGAL 18 September 1970 malam, di asrama mahasiswa Angkatan Darat Ngadiwinatan rencana penculikan dan pemerkosaan dirapatkan. Di situ hadir: Henry Berty Pangemanan, Slamet, Eko Bambang Soeseno, Thomas Mudjihardjono, Bambang Supribadi, Budi Subarman, Hubertus Supangkat, Pristono, Prijo Petruk, Aan, Asmi, dan Sigit Prasetjo. Acara sidang: menculik perempuan dan kemudian memperkosa. Ini disusul dengan pertemuan kedua. Semua hadir, kecuali Sigit Prasetyo. Selesai pertemuan operasi dimulai. Rombongan pertama berkendaraan station wagon Inemuat: Henry, Slamet, Eka, Tomy Bambang dan Budi. Rombongan kedua menggunakanJeep, anggota: Aan, Supangkat, Prijo Petruk, Pristono dan Asmi. Dalam perjalanan Station Wagon di muka. Jeep di belakang. Setibanya di Patuk, Henry dan Slamet menculik Sumarijem, langsung memasukkannya ke dalam mobil. Terus dibius. Atas petunjuk Slamet rombongan menuju arah Prambanan. Continue reading

Islam dan ruu perkawinan ruu perkawinan, aksi dan reaksi ruu perkawinan, aksi dan reaksi

Tempo 8 September 1973. Sidang pleno terbuka dpr membahas ruu perkawinan. berbagai tanggapan menolak, karena ruu bertentangan dengan ajaran islam, hak azasi manusia. ruu digodok sebelum sampai ke tangan presiden atau dpr-ri.

SIDANG pleno terbuka DPR tanggal 30 Agustus minggu lalu agaknya istimewa baik suasananya maupun bentuk pengamanannya. Dua jam sebelum sidang yang dipimpin wakil ketua DPR Domo Pranoto itu dibuka pada jam 09.15 dengan jumlah anggota hadir berdasarkan absen sebanyak 242 orang sekitar gedung telah dijaga ketat oleh polisi-polisi bersenjata, sementara di dalam gedung petugas-petugas keamanan berpakaian sipil nampak sibuk dengan pesawat walkie-talkie di tangan. Hal ini bisa dimengerti mengingat bahwa RUU Perkawinan — yang pagi itu akan dijelaskan Menteri Kehakiman Prof. Seno Adji selaku wakil pemerintah kepada sidang plepo DPR – telah menimbulkan reaksi yan kian tajam dan kadangkala berlebihan dari golongan-golongan yang tidak menyetujuinya. Di samping liwat pernyataan pers, khotbah-khotbah di mesjid-mesjid dan radio, DPR sendiri telah tidak luput dari kunjungan delegasi-delegasi yang menyampaikan pernytaan penolakan terhadap RUU tersbut. Hanya sehari sebelum sidang pleno itu sendiri berlangsung, suatu delegasi 20 orang dari Generasi Muda Islam Indonesia telah datang menemui Domo ranoto dan membacakan tuntutan mereka “agar RUU perkawinan itu dicabut mentah-mentah”. Continue reading