Category Archives: militer

Baret Merah, Di Hari Yang Menentukan..

Sarwo-Edhi-Wibowo_mediumTempo 07 Oktober 1978. MELETUSNYA “Gerakan 30 September” 13 tahun lalu, penculikan dan pembantaian 7 jenderal dan kisah penumpasan pemberontakan PKI itu, sudah banyak dituiis dan sering diceritakan. Salah satu pelaku penting jam-jam itu ialah Komandan RPKAD yang ketika itu Kol. Sarwo Edhie Wibowo. Pekan lalu Susanto Pudjomartono dan Budiman S. Hartoyo mewawancarai Sarwo Edhie, kini Irjen Deplu berpangkat Letjen. 

 

Beberapa petikan penting: Oktober 1965 pagi saya dipanggil oleh Pak Harto untuk menghadap ke Kostrad. Yang diutus menemui saya adalah Letkol. Herman Sarens Sudiro. Ia membawa secarik kertas. Bunyinya: “Keadaan sangat gawat, pasukan supaya dikonsinyir. Dan lekas temui saya di Kostrad.” Ketika itu, sebelumnya, saya sudah mengirim beberapa perwira ke Kostrad. Ketika itu kita sedang mendengarkan RRI dan menganalisa. Tapi karena Herman Sarens berpakaian lengkap, pakai topi baja, naik kendaraan lapis baja, siap tempur, saya curiga, sebab dia katakan sudah beberapa hari pakai itu. Continue reading

Dendam Pemain Ludruk

Tempo 12 November 1977. JANGAN lupa tentang OTB.” Begitu kata Kolonel Leo Ngali, Asisten I Kowilham II Jawa-Nusatengara, ketika ditanya koresponden TEMPO Hamid Darminto mengenai terbongkarnya dua organisasi gelap yang dituduh ada hubungan dengan gerakan sisa-sisa PKI: “Sapu Angin” dan “Sangga Buana”.
Pangkowilham II. Letjen TNI Widodo mengungkap soal ini pekan lalu sehabis menghadap Presiden Soeharto. “OTB” adalah singkatan dari “organisasi tanpa bentuk” dan ini disebut sebagai taktik PKI setelah bubar. “Kita juga pernah membongkar gerakan semacam ini, yaitu kumpulan arisan ibu-ibu. Ternyata ibu-ibu yang arisan itu adalah isteri-isteri dari orang-orang PKI yang masih ditahan. Ini terjadi di Yogya dan ini adalah juga OTB”, tambah Lo Ngali. Sapu Angin itu sendiri adalah nama sebuah bukit di Kecamatan Kaloran. Continue reading

Gertak “rms” di hari panas

Tempo 4 Juni 1977. MEREKA dataNg lagi. Satu setengah tahuN setelah membajak keretaapi di Beilen dan menduduki gedung Konsulat Ri di Amsterdam.
Senin pagi 23 Mei jaun 09.00, gerombolan pemuda Maluku Selatan di Belanda melontarkan lagi aksi radikalnya di dua tempat: membajak kereta-api antar kota Assen-Groningen dan menduduki gedung sekolah dasar di Bovensmilde. Cuaca yang hangat dengan bersinarnya matahari di musim panas di negeri kodok ini, tidak berarti. Kampanye pemilihan umum tanggal 25 Mei, terhenti sejenak. Dan penduduk Belanda yang jumlahnya 9,5 juta orang itu terhenyak dan sadar, bahwa buah kolonialisme hasil tanaman nenek moyang semakin menjadi pahit rasanya. Continue reading

Awas atau aman

Tempo 28 Februari 1976 BERITANYA kembali bermula dari Radio Australia, khususnya siaran bahasa Inggeris ABC (Australian Broadcasting Commission), 17 Pebruari lalu ABC memberitakan bahwa gangguan gerilyawan OPM (Organisasi Papua Merdeka) telah meningkat menyusul penyerbuan ‘sukarelawan’ Indonesia di Timor-Timur.
Menurut koresponden ABC, Albert Asbury, hal itu telah dibenarkan oleh sumber-sumber intelijen Papua Nugini di Port Moresby, negeri tetangga yang langsung berbatasan darat dengan Irian Jaya, daerah operasi OPM. Tapi pasukan keamanan PNC sendiri tidak terlibat dalam masalah intern Irian Jaya — dan RI pada umumnya — karena mereka hanya berpatrol di perbatasan PNG. Ini dilegaskan oleh kalangan intel PNG membantah klaim gembong-gembong OPM di Senegal, Afrika Barat, bahwa serdadu-serdadu PNG telah menangkap 20 pelarian Irian Jaya yang menyeberang perbatasan, kemudian menyerahkannya pada pasukan Indonesia di Irian Jaya. Menurut versi OPM itu, orang-orang desa itu memasuki wilayah PNG hanya untuk mencari pertolongan pengobatan, tapi kemudian dibunuh tentara Indonesia sesudah diserahkan kembali. Menlu Adam Malik yang diwawancarai Reuter, membantah hahwa pemberontakan sedang berkecamuk di Irian Java. “Mungkin korban-korban itu justru merupakan anggota gerakan separatis di Papua Nugini yang mencoba lari ke wilayah Indonesia, kemudian terbunuh dalam usaha pelarian itu”, kata Malik. Menlu juga menegaskan, bahwa apa yang dinamakan “Pemerintah Revolusioner Irian Barat” yang berbasis di Senegal itu sebenarnya tidak ada. “Mungkin”, kata Adam Malik, “mereka itu adalah sisa-sisa RMS yang mencoba menjelek-jelekkan Indonesia di luar negeri”. Continue reading

Setelah proklamasi sepihak itu

Tempo 06 Desember 1975 JUMAT sore, 2 Nopember 1975 jam 14.15 WIB (atau jam 7.15 GMT) Fretilin telah memproklamirkan kemerdekaan Timor Timur.
Reuter dari Dili memberitakan, proklamasi sefihak itu ditandai dengan penurunan bendera Portugal di alun-alun Dili disusul dengan pengibaran bendera hitam-merah-kuning Fretilin, hening cipta semenit dan pembacaan teks proklamasi oleh ketua Fretilin FX do Amaral. Portugal, tidak menunggu lama untuk memberi reaksi. Hari itu juga, seperti dilaporkan oleh Dubes RI di Lisabon Ben Mang Reng Say kepada pemerintah Pusat di Jakarta, Portugal menyatakan turut mendukung proklamasi Fretilin. Alasan Lisabon konon karena “tidak tercapai kata sepakat soal tempat perundingan”. Sebaliknya alasan Fretilin memproklamirkan kemerdekaannya secara sefihak karena “Portugal terus bersikap enggan mengadakan perundingan perdamaian” dan didorong oleh “pergolakan di perbatasan”. Continue reading

“Nggak Ada Fretilin” (?)

Tempo 22 November 1975. KEPALA Bakin Letnan Jenderal Yoga Sugama Rabu malam minggu lalu dengan resmi memberitahukan Duta Besar Australia Richard Woolcot.
Bahwa nasib kelima wartawan Australia (seorang di antaranya warganegara Inggeris) diduga telah turut terbunuh dalam serangan gabungan tentara UDT- Apodeti-Kota ke Balibo pertengahan Oktober kemarin. Yoga menyatakan hal ini setelah pemerintah Indonesia menerima sepucuk surat resmi Presidium Apodeti, D. Guilhermo Maria Gonvalces. Surat yang bertanggal 3 Nopember itu telah memperinci kelima wartawan Australia itu sebagai berikut. Bahwa pada pertempuran tertanggal 22 Okober telah gugur 15 orang dari pihak Fretilin. Dari korban tersebut, terdapat 4 mayat orang kulit putih dalam keadaan terbakar. “Kami tidak begitu yakin apakah keempat orang kulit putih ini adalah wartawan Australia, karena tidak ada bukti yang nyata dan tidak bisa membuktikannya dengan jelas”, tulis Gonvalces. Continue reading

Setelah Ramadhan Usai

Tempo 18 Oktober 1975. FRANSISCO Xavier Lopez da Cruz senyum-senyum saja ketika ia ditanya tentang rencana aksi militer dari Gerakan Revolusioner Anti Komunis (MRAC) untuk merebut kembali wilayah Timor Timur.
“Anda semua sebaiknya menunggu beberapa hari lagi”, katanya kepada sekelompok wartawan Jakarta di markasnya di daerah Batugade. Ia pun kembali menghadapi mesin tik Hermesnya melanjutkan sisa-sisa pekerjaan. Tidak berapa jauh dari meja tulisnya, sebuah pesawat radio dipajang di antara timbunan-timbunan karung-karung pasir yang dipakai buat berlindung. Hanya pesawat itulah yang menghubungkan Lopez dengan dunia luar, termasuk berita-berita dari lawan utamanya Fretilin. Janji Lopez ternyata tidak meleset. Selagi para wartawan menikmati ketuat Idul Fitri setelah bulan Ramadhan usai, kabar dari perbatasan menyebutlan telah terjadinya pertempuran sengit. Continue reading