Category Archives: Musibah

Hari Terakhir di Morotai

Nakamura

Nakamura

Tempo 04 Januari 1975. TERUO Nakamura, 57 tahun, sisa prajurit Jepang dari Perang Dunia II, akhirnya berhasil dikeluarkan dari liang persembunyiannya selama 30 tahun di pegunungan Galoka, Morotai.Dia adalah prajurit ketiga dalam tahun tujuhpuluhan ini yang sempat menggemparkan dunia, karena ketahanan mereka untuk tidak menyerah. Pada tahun 1972, Yokoi keluar dari persembunyiannya di Pulau Guam. Kemudian menyusul Onoda di Pulau Lubang, Pilipina. Buat Indonesia sendiri sesungguhnya peristiwa ini sudah didahului dengan keluarnya 9 prajurit Jepang dari hutan persembunyian, di Maluku pada tahun limapuluhan. 

Seratus Tahun

Munculnya kesembilan prajurit tersebut ketika itu lebih didorong oleh kehendak mereka sendiri untuk mencari hubungan, dengan dunia luar. Setelah tiga hari berjalan kaki, turun dari hutan, mereka sampai di tepi pantai. Kepada tiga orang penduduk yang mereka jumpai di pantai itu, mereka bertanya apakah tentara Amerika Serikat masih ada di daerah itu. Dijawab bahwa tak seorang serdadu Sekutu yang masih tinggal di daerah Morotai tersebut. “Sekarang Indonesia sudah merdeka”.
Continue reading

Advertisements

Bencana Kedua Di Kolombo (Jemaah Haji Indonesia)

Tempo 25 November 1978. CUACA buruk, Rabu malam pekan lalu, menyelimuti bandar udara antar bangsa Kutanayake, 25 km dari Kolombo, ibukota negeri pulau Srilangka. Hujan lebat dan badai. Laju angin utara 11,4 km perjam dan lembab udara mencapai 100%, lampu-lampu landasan pun padam, hingga jarak pandang cuma mencapai 6 km. Continue reading

Mencari, Menanti, Mencari …(Peristiwa Tinombala)

Tempo. 16 April 1977. KOTA Palu masih gelap. Bukit-bukit dan lereng yang mengitari lebih dari seperdua ibukota Propinsi Sulawesi Tengah ini diliputi kabut tebal. Tapi tak lama kemudian matahari mulai menusuk celah-celah bukit itu.
Dan waktu itulah, ketika jam setempat menunjukkan pukul 05.45 hari Jum’at 1 April 1977, sebuah pesawat Twin Otter milik Merpati meninggalkan landasan lapangan terbang Mutiara, beberapa km di luar kota Palu. Pesawat itu mencoba menyusuri kembali jejak Twin Otter tipe DHC/ BWY milik Merpati yang hilang dalam penerbangan Palu-Toli-Toli 4 hari sebelumnya. Ketua SAR Nasional, Marskal Madya Dono Indarto, yang ada di dalam pesawat pencari itu bersama beberapa anggota SAR lainnya dan beberapa orang wartawan mula-mula duduk dengan tenang. Tetapi beberapa menit kemudian, ketika Gunung Sidoley (tinggi 5.800 kaki) mulai tampak, ia bangkit memasuki kokpit memberi beberapa petunjuk kepada Kapten Elly Sumarno yang mengemudikan pesawat. Continue reading

Gempa itu memang parah

Tempo 31 Juli 1976. GEMPA bumi di Irian Jaya telah menewaskan lebih dari 400 orang di samping paling sedikit 5000 orang yang hilang tertimbun runtuhan. luga penyakit berjangkit.
Terjadi di Kawasan pegunungan Jayawijaya akhir bulan lalu gempa bumi itu menimpa wilayah 150 x 50 km persegi dan sekitar 90 x 32 km persegi di antaranya mengalami bencana amat parah. Malapetaka itu telah menggoncangkan 3 buah kecamatan, yaitu Kecamatan Kurima, Okbibab dan Oksibil dengan jumlah penduduk lebih dari 85.000 jiwa. Pembantu TEMPO di Jayapura, Abdul Bari TS, sayang sekali tak sempat turut meninjau langsung tempat kejadian itu. Hambatan utama tentu pada sulitnya alat perhubungan karena satu-satunya cara menuju sana hanya dengan pesawat udara. “Sedangkan berat badan saya 80 kg”, tulis Abdul Bari. “Ini berarti kalau saya turut juga jadi penumpang pesawat yang jumlahnya terbatas itu, akan mengurangi jumlah angkutan bahan makanan yang seharusnya didrop untuk para korban yang sangat membutuhkannya”. Continue reading

Hilang Di Puncak Adam (Kecelakaan Pesawat Haji)

Tempo 14 Desember 1974. LIMABELAS menit lagi DC-8 Martinair yang dikemudikan kapten penerbang Lamme yang 58 tahun dan berkacamata itu mendarat di lapangan terbang Bandaranaike.
Terbang malam di atas pebukitan Tajuh Perawan di jantung negeri Srilangka, pesawat itu menerima clearence unluk turun dari ketinggian 8000 menjadi 2000 kaki. Di bawah pesawat itu menganga medan yang ganas dengan bukit dan jurang yang curam. Sesungguhnya Lamme sudah kenal betul dengan daerah itu, sebab sudah berkali-kali dia lalui. Malahan setelah Perang Dunia II dia pernah bekerja sebagai penerbang untuk pemerintah Srilangka. Continue reading

Sar untuk sar

Tempo 08 Juni 1974. KERANGKA pesawat TNI-AU Grumman Albatros bernomor PB. 511 yang jatuh Minggu siang tanggal 26 Mei yang lalu di Sulawesi Tengah sudah ditemukan dari udara oleh Team SARAURI yang menggunakan pesawat Hercules sejak Selaa petang tanggal 28 Mei.
Tapi sampai hari Sabtu pekan lalu, team SAR-AURI yang dipimpin oleh kapten udara Don Haryono dengan bantuan satuan-satuan ABRI dan penduduk setempat, masih juga belum berhasil mencapai tempat kecelakaan pesawat yang malang itu. Di samping karena sulitnya medan yang harus dilalui dengan berjalan kaki melewati tebing-tebing curam sepanjang kl. 15 Km dari desa terdekat Baleroa ke tempat kecelakaan, juga disebabkan oleh hujan terus-menerus turun. Continue reading

“baa…baak” selanjutnya senyap

Tempo 04 Mei 1974  BA …. Baak …. ” selanjutnya senyap. Itulah suara terakhir kapten pilot Donald B. Zinke pengemudi pesawat Pan Am Boeing 707 yang sempat direkam oleh I Wayan Nuastha, 24 tahun, petugas dinas malam menara kontrol lapangan udara internasional Ngurah Rai, Denpasar.

Barangkali ia akan mengucap “Bali Tower, Bali Tower” — melanjutkan percakapannya yang sejak beberapa menit berlangsung — memberitahu keadaan dan kedudukan pesawat serta minta dibim-bing buat mendarat. Waktu itu jam menunjuk 22.29 WIB. Nuastha berusaha kontan lagi tapi tiada jawabam Pada jam 22.30 — saat yang tepat pesawat merencanakan mendarat — ia memanggil-manggil lagi pesawat yang berkode PA-812. Tetapi sepi. Tidak Dinyalakan Pusat Pengawas Wilayah Penerbangan Ngurah Rai yang waktu itu dijaga Mulyadi pun sia-sia menghubungi Zinkc. Continue reading