Category Archives: Bola Nasional

Pengaturan Skor Pertandingan

acub zainal

Tempo 14 Juli 1979. DENGAN Galatama, semula diharapkan terhapus rongrongan suap. Ternyata tidak Jafeth Sibi, kapten kesebelasan Perkesa 78, dituduh telah menerima sogokan sebesar Rp 1,5 juta dari JSG untuk pertandingan melawan Cahaya Kita di stadion Menteng, Jakarta, 5 Juni lalu. Akibatnya, Perkesa 78 bubar.

Awal pekan ini Jafeth masih terdaftar dalam tim PSSI Utama yang tengah mengikuti turnamen Merdeka Games di Kuala Lumpur. Dari pengakuan rekannya yang diperiksa polisi memang terungkap adanya permainan duit. JSG membenarkan pula bahwa ia telah mendrop uang sebanyak yang dituduhkan, untuk beberapa pemain Perkesa 78. Melalui Jafeth, mereka yang disebut-sebut kebagian rezeki adalah Yulius Woff, Baso Ivak Dalam, serta kedua adiknya — Frederick Sibi dan Saul Sibi. Jumlah untuk mereka, menurut pengakuan Saul, masing-masing Rp 80.000. Ia juga membenarkan bahwa mereka sebelum bertanding telah menerima instruksi dari Jafeth, sang kapten, supaya mengalah, maksimal bermain seri, dengan Cahaya Kita. Perkesa 78 memang kalah 1-0. Continue reading

Sayang, Tak Ada “Juara Kembar” (Sepakbola Pra Olimpiade 1976)

Tempo 06 Maret 1976 RASA hormat dan haru mengiringi langkah Team Pre Olimpik Indonesia meninggalkan lapangan. Harap dicatat: Kamis malam tanggal 26 Pebruari 1976, Stadion Utama Senayan Indonesia dikalahkan Republik Rakyat Korea dalam undian tendangan penalti 4-5, setelah perpanjangan waktu kedudukan masih bertahan 0-0. Malam final yang memakan waktu 2 jam itu Iswadi dkk berhasil menggoreskan tinta emas dalam lembaran sejarah sepakbola nasional.

Mereka bukan saja berhasil memperhankan mutu permainan seperti yang pernah diperlihatkan pada babak pertama ketika berhadapan dengan Malaysia. Lebih dari itu mereka berhasil meningkatkan daya juang yang mereka pernah kobarkan ketika berhadapan dengan Korea dalam pertandingan sebelumnya. Sehingga lupalah suporter PSSI akan kesilapan yang pernah mereka buat dalam pertandinganmelawan Singapura, Papua Nugini dan seterusnya.  Continue reading

Kiper Itu Dipanggil Kembali (Ronny Pasla)

Tempo 10 Februari 1979. BELUM berakhir karir sepakbola bagi Ronny Pasla, 31 tahun.

Kini ia diizinkan lagi main. Dan ternyata PSSI memerlukannya. Empat bulan lalu ia dijatuhi hukuman selama 5 tahun oleh pimpinan PSSI, karena terlibat dalam kasus suap di Merdeka Games, Kuala Lumpur, pertengahan 1978. Untuk sementara, ia belum mengenakan kembali kostum kiper PSSI. Tapi PSSI memberinya tugas melatih diperbantukan pada pelatih nasional, Endang Witarsa — khusus untuk menangani penjaga gawang dalam pelatnas PSSI. 

Empat bulan silam, Ronny menyangka karirnya di lapangan hijau telah berakhir. Ia tidak diperkenankan memperkuat klub, perserikatan, maupun kesebelasan nasional, selama menjalani masa hukuman 5 tahun tersebut. “Rasanya waktu itu pahit sekali,” cerita Ronny. Dalam rapat pengurus harian PSSI, 26 Januari, dicapai kata sepakat untuk merubah hukuman Ronny terdahulu. Masa skorsingnya diturunkan dari 5 tahun menjadi 2 tahun dengan masa percobaan 1 tahun, berikut klausul yang memperbolehkannya untuk bermain bola lagi di lingkungan PSSI. Continue reading

Strategi Jonata ( Persija Juara PSSI 1979)

Tempo 20 Januari 1979. KEMENANGAN lebih dekat bagi PSMS. Dalam final 13 Januari di Stadion Utama Senayan, Jakarta, ia cukup dengan skor 0-0 untuk menjadi juara. Tapi malam itu Persija mencetak satu-satunya ol, dan berhasil menjuarai kompetisi divisi utama PSSI 1978/79. Walaupun juara, prestasi Persija dari 7 pertandingan sebelumnya tidaklah begitu menggembirakan — menang 4, seri 1 dan kalah 2 –dibandingkan degan PSMS yang menang 4, seri 3 dan tanpa kalah. Maka menjelang final itu, pekulasi orang telah tidak menjagoi Persija. Namun pelatih Marek Jonata dari Persija pada paginya mengumpulkan seluruh pemainnya. Di suatu kamar Hotel Asri, Senayan, Jonata menuangkan strateginya. Continue reading

Panggilan Segar Bagi Pelatih (berdirinya GALATAMA)

Tempo 20 Januari 1979. PROFESINYA tak lagi bakal menyedihkan. Klub non-amatir yang terhimpun dalam Liga Sepakbola Utama (Galatama) telah meniupkan angin segar bagi pelatih nasional, Sinyo Aliandu, 39 tahun. Ia dikontrak oleh klub Tunas Jaya dengan bayaran Rp 400.000 per bulan mulai Januari ini. Jika dibandingkan dengan apa yang diterimanya sewaktu melatih tim nasional, angka penghasilan itu memang sedap. Di PSSI, ia hanya mendapat honorarium Rp 150.000 per bulan. Maka ia memilih dunia Galatama. “Melihat prospek yang baik dari Galatama, saya yakin bahwa orang bisa hidup dari melatih,” ujar Sinyo. Continue reading

Ronny Pasla Tak di Sana Lagi

Tempo 21 Oktober 1978. KARIR Ronny Pasla, 30 tahun, sebagai penjaga gawang tim nasional PSSI selama 10 tahun agaknya berakhir. Rapat pengurus harian PSSI, Jumat 13 Oktober menjatuhkan hukuman selama 5 tahun atas dirinya sehubungan dengan kasus suap di Merdeka Games yang lalu. Selama menjalani masa hukuman tersebut, ia tidak diperkenankan untuk memperkuat klub, perserikatan, maupun kesebelasan nasional.
Bersama Ronny, PSSI juga menurunkan sanksi atas diri Suaeb Rizal, Timo Kapisa, dan Robby Binur untuk kasus serupa. Hanya saja hukuman untuk mereka lebih ringan. Mereka cuma diskors selama 2 tahun dengan masa percobaan 1 tahun. Kepada mereka tidak dikenakan ketentuan tidak diperbolehkan untuk mengikuti pertandingan klub, perserikatan, atau memperkuat tim nasional. Akan halnya Iswadi Idris dan Oyong Liza, meski mereka tidak terpilih ke Merdeka Games, pengurus harian PSSI menurunkan hukuman pula buat mereka. Keduanya diskors atas perbuatan menerima suap pada beberapa pertandingan di dalam negeri. Continue reading

Persija Baru, Lho (vs Sao Paolo Selection 1978)

Tempo 14 Oktober 1978. INI Persija baru, tapi mungkin belum bisa dikatakan ini baru Persija. Muncul di stadion utama Senayan, Jakarta hari Jumat, 6 Oktober malam dengan hampir separuh pemain junior, tim Persija gagal menang terhadap kesebelasan Sao Paolo Selection dari Brazilia. A.A. Rake adalah kiper. Sekalipun ia telah berusaha keras meyakinkan penonton bahwa dia cukup mampu untuk mengimbangi Ronny Pasla maupun Sudarno, namun ketrampilannya kurang ditopang oleh kecermatan mengambil posisi maupun dalam menangkap bola Pertandingan baru berjalan 15 menit ia nyaris harus digotong ke luar akibat bertabrakan dengan pemain lawan. Ia cuma turun setengah main. Rake kemudian digantikan oleh Sudarno. Sudarno juga bermain tak mantap. Di mana Ronny Pasla? Kasus suap di Merdeka Games agaknya tak memungkinkan dia tampil di depan umum. Kwartet Baru Pemasangan pemain baru tidak hanya dilakukan pelatih dari Polandia, Jonata, untuk pertahanan terakhir saja. Continue reading