Category Archives: Partai Politik

Percikan-Percikan Persaingan (Pemilu 1977)

Tempo 09 April 1977. BERSAING itu memang sehat. Dan di Jakarta persaingan antara kontestan pemilu itu masih dianggap “cukup baik” oleh Gubernur Ali Sadikin Akhir Maret kemarin, tak kurang dari 4 pejabat tinggi negeri ini menyampaikan penilaian mereka. Waka Bakin Ali Murtopo merasa gembira kampanye berjalan seperti sekarang. Ia menganggap wajar kalau timbul sedikit insiden. “Tapi saya yakin akan berakhir dengan baik”, katanya. Secara pribadi Ali Murtopo menilai kampanye sekarang sanat bermutu. Sebelumnya adalah Kas Kopkamtib Sudomo yang beranggapan jalannya kampanye sekarang – selain tak bermutu – tidak juga mendidik rakyat. Tapi dia tokh beranggapan “ekses-ekses yang terjadi masih dalam batas-batas yang wajar”. Sudomo juga menambahkan: “Ini yang dinamakan romantika pemilu”. Continue reading

Advertisements

Antara Harapan, Keyakinan & Bayaran (Pemilu 1977)

Tempo 09 April 1977. ADA penyanyi dan pelawak yang untuk Golkar, ada yang untuk PPP. Ada juga yang dikabarkan kampanye untuk PDI – misalnya Surya Grup meskipun tidak bisa dipastikan kebenarannya. Berita yang tidak pasti macam itu termasuk hal yang membingungkan dalam masa kampanye ini. Supaya soalnya jelas, di bawah ini kami bawa pembaca menemui beberapa artis.

UPIT Sarimanah.

“Saya ini karyawan yang setia pada negara”, kata Upit Sarimanah pada Zulkifly Lubis dari TEMPO. Inilah alasan Upit memilih Golkar. Sebagai Kepala Seksi Kesenian Sunda RRI Studio Jakarta Upit yang lahir di Purwakarta 16 Aprii 1928 itu, tampaknya ingin konsekwen. Pesinden yang sudah 30 tahun berkecimpung di dunia perwayang-golekan itu, tampil di podium kampanye pemilu mengaku sebagai muballighot atau golongan ulama. Sebab pesinden nomor wahid ini sejak pulang menunaikan ibadah hajinya awal 1974, dijuluki orang sebagai ustadzah. Nama lengkapnya: Ustadzah Hajjah Upit Sarimanah. Ini ada kisahnya. Sepulang dari Mekah awal 1974, pada suatu majlis taklim Upit dirninta menceritakan pengalamannya selama menunaikan rukun Islam ke-V itu. Continue reading

“Apa Sih Kekuatan Oma Irama ?” (Pemilu 1977)

Tempo 09 April 1977. BERBEDA dengan waktu pemilu 1971, dalam pemilu tahun ini Golkar tak mengerahkan artis secara besarbesaran. “Kami tak lagi menggunakan sistim pengerahan artis Safari model 1971”, tutur drs. Moerdopo, bendahara DPP Golkar kepada TEMPO pekan lalu. Kurang biaya? “Bukan. Soal dana, kita kan golongan besar, banyak punya sponsor”, ujarnya. Mungkin betul. Tapi bisa diingat juga ucapan Ketua Umum Golkar Amir Murtono, di depan pers sehari sebelum masa kampanye berlaku. Ia menyatakan “dalam masalah biaya buat kampanye, Colkar juga mengalami kesulitan seperti parpol”. Ia mengungkapkan bahwa dari rencana biaya Rp 1,5 milyar, sampai saat itu baru terkumpul Rp milyar, termasuk bantuan Presiden yang Rp 175 juta. Continue reading

Kemarin ‘kan Bulan Nopember Jadi … (Perpecahan PDI)

Usep Ranawidjaja

Usep Ranawidjaja

Tempo 02 Desember 1978. NOPEMBER, tampaknya merupakan ‘bulan pecah’ bagi PDI. Jum’at 2 Nopember 1977, Achmad Sukarmadidiaja ‘memprakarsai’ reshuffle DPP PDI. Sanusi Hardjadinata dan Usep Ranawidjaja diganti oleh Mh. Isnaeni dan Sunawar Sukowati sebagai ketua umum dan ketua. Tapi waktu itu baik kelompok Sanusi-Usep maupun Isnaeni-Sunawar, jalan terus. Dan acara tudin-menuding juga jalan terus. 

Tapi Jum’at 24 Nopember kemarin, Sanusi gantian ‘membebas-tugaskan’ Isnaeni dan Sunawar sebagai 2 dari 15 ketua-ketua DPP PDI. Barangkali ingin dianggap ‘netral’, ia juga menyorot Usep. Tapi seperti bunyi surat Usep yang dibacakan Sanusi — bersedia mengundurkan diri kalau memang terbukti melanar ketentuan partai-menurut Sanusi, rekannya itu tidak melanggar. Jadi tak perlu dibebas-tugaskan. Jadinya, berita tentang PDI yang menonjol rupanya perpecahan melulu tanpa diketahui adanya perbedaan ide-ide yang penting.  Continue reading

Islam Setelah Pemilu 1977 …

Tempo 14 Mei 1977. HASIL penghitungan suara terbata-bata, sedikit. Dan PDI dan PPP tak puas. Tapi bagaimanapun juga, kenyataan yang terbayang dari hasil sementara pemilu 1977 sampai awal pekan ini adalah: hanya jumlah pencoblos partai-partai Islam, yang kini bergabung dalam PPP.
yang cenderung meningkat jumlahnya. Dibandingkan dengan pemilu 1971 Golkar turun dan PDI merosot, sementara PPP mungkin dapat tamballan kursi. Bahkan di DKI Jakarta. tempat yang dinilai paling “bebas dan rahasia” untuk memilih PPP menang dan Golkar kalah. Dan harga PPP pun boleh dibilang naik. Di DPR nanti suara terbanyak memang akan tetap berada di tangan Golkar dan ABRI, seperti dalam DPR sebelumnya. Continue reading

Pdi bukan kalah. tapi akan habis ? (Pemilu 1977)

Tempo 21 Mei 1977. MEROSOTKAH PDI? Kesan pertama, ya. Menurut angka Lembaga Pemilihan dan Umum sampai akhir pekan lalu, partai ini cuma mendapat 8,7% dari jumlah suara yang masuk, sementara dua kontestan lain berada di atas 20% (Golkar: 62,1%, PPP: 29,2%).
Sementara itu. di daerah seperti Nusa Tenggara Timur, misalnya, tampak penurunan presentase suara yang menyolok dibanding dengan dua pemilu sebelumnya. Juga di Maluku dan Sulawesi Utara. Namun para tokoh PDI, seperti misalnya dikatakan TAM Simatupang dari DPP PDI pekan lalu dalam diskusi dengan TEMPO, tidak setuju untuk memakai kata “kemerosotan”. Bahkan ketua Umum PMKRI Chris Siner Key Timu – seraya mengatakan bahwa dia bukan anggota PDI. dan menyatakan beberapa kritiknya kepada PDI – menegaskan bahwa “sebenarnya PDI justru menang, kemenangan moril”. Baginya kemenangan Golkar justru kemenangan dalam tanda kutip. Dengan fasilitas macam-macam dengan mengerahkan hampir semua menteri dan pejabat daerah, kata Chris, presentase suara Golkar malah kurang dibanding pemilu 1971. Sementara itu, BN Marbun, sarjana lulusan Jerman yang ikut berkampanye buat PDI di Sumatera Utara, PDI baru bisa dibilan merosot nanti kalau meman turun angkanya dalam pemilu 1982. Continue reading

… Dan Para Golkar Pun Menjawab (Pemilu 1977)

Tempo 28 Mei 1977. SETELAH mengundang beberapa tokoh PPP dan PDI untuk diwawancarai di kantor TEMPO, serombongan wartawan TEMPO atas permintaan – telah berkunjung ke MB DPP Golkar, Jl. Majapahit, Jakarta.
Mereka diterima oleh Cosmas Batubara, 38, sekretaris bidang organisasi David Napitupulu, 42, sekretaris bidang pemuda dan ketua umum KNPI dan Moerdopo, 41, bendahara. Selain ketiga anggota DPP itu, hadir pula empat anggota DPR dari Fraksi Karya: Sarwono Kusumaatmadja, 34 dulu ketua dewan mahasiswa ITB, Rachmat Witular, 36, Ida Ayu Utanzi Piddda, 33 dan Djoko Sudyatmiko, 33. Continue reading