Category Archives: sejarah

Bung Tomo Mundur

Tempo 20 Desember 1975. KEPADA Indonesi Times Bung Tomo msnyampaikan pengumuman yang paling berharga bulan ini: “Saya ingin menyatakan kepada para wartawan bahwa inilah wawancara saya yang terakhir mengenai 10 Nopember”. Sikap Bung Tomo ketika itu sudah ogahan, kata koran itu. Dia merasa bahwa peranannya dalam Revolusi cuma kecil saja. Nah, jadi mulai sekarang para kulitinta harus cari bintang-bintang baru. Sebab masih ada jutaan lainnya.

Bagi pemimpin rakyat yang sejati dan rendah hati, lama-lama memang susah hidup dengan adat-upacara setiap 10 Nopember itu: selalu dirinya jadi pusat perhatian dan sanjungan, selalu dirinya jadi tempat bertanya dan sumber sejarah. Pengalaman demikian memang nikmat, suatu kemewahan yang kebanyakan pemimpin tidak suka lepaskan begitu saja. Betapa tidak. Ini menjamin nama harum sepanjang hidupnya, dan tinta emas sesuah mati. Dan siapa tahu, mungkin juga monumen dan mausoleum dan harum kemenyan. Continue reading

“Inggris, Jangan Mendarat!”

mustopo

dr Moestopo

Tempo 08 November 1975. RAKYAT Surabaya, dipelopori oleh Badan Keamanan Rakyat, pimpinan Dr. Mustopo bekas Daidanco Gresik, berhasil melucuti Jepang. Gedung-gedung dan mobil-mobil ditulisi “Milik RI”.

“Senjata-senjata Pun kita bagikan begitu saja. Anak belasan tahun membawa senjata. Panser dan tank-tank pun menderu-deru keluar masuk kampung dikendarai oleh supir-supir mobil atau truk”, tutur Prof. Dr. Mustopo mingu lalu di rumahnya jalan Juanda Bandung. Dan sesungguhnya Surabaya mulai demam sejak insiden bendera di hotel Yamato lihat: Bendera Itu Tak Boleh Di sana lagi). Apalagi setelah Bung Tomo membentuk Barisan Pemberontakan Rakyat (BPRI) pada tangal 12 Oktober, dan sehari kemudian mendirikan Radio Pemberontakan. Continue reading

Padamu Pahlawan tak Seorang Berniat Pulang, Tidur

HAWA sangat dingin menyusup tulang. Diselubungi gelap gulita, saya duduk dalam sebuah kereta api amunisi yang menembus malam menuju ke Wonokromo…. ajar mulai menyingsing. Sepur terus menderu dalam gerimis. Muka prajurit-prajurit duduk di dekat saya yang menjadi pengantar dinamit untuk pahlawan-pahlawan Surabaya pucat lesi kelihatannya. Barangkali kurang tidur… Malam hari di dekat garis pertempuran. Mortir dari laut bergegar di atas kepala..

Langit merah warnanya. Bulan purnama raya, tulis reporter Rosihan Anwar dalam Harian Merdeka, 1945. Dan subuh pagi itu, Sabtu 10 Nopember 1945, Surabaya hanya tampaknya saja masih lelap. Namun ketegangan sudah mencekam beberapa hari sebelumnya. Meja, kursi, lemari, ambin, bangku panjang, batang-batang pohon, apa saja — melintang di jalanan. Di setiap sudut kota berpasan-pasang mata siap dengan keris, senapan, bambu runcing, geranat, golok, pistol, pedang, karabin, tombak, sumpitan, panah berbisa. Juga beberapa tank dan meriam rampasan. Continue reading

Potret 10 Nopember 1945

 Tempo 08 November 1975. 10 NOPEMBER 45 adalah peristiwa besar yang membutuhkan reportase besar pula seandainya waktu itu keadaan pers kita telah memadai.

Sayang, reportase lengkap tentang itu tak pernah ada. Maklumlah, siapa yang sempat dalam keadaan demikian? Bersyukur kita bahwa ada potret-potret, kini tersimpan di Ipphos meski tak lengkap, dari rentetan pertempuran heroik itu. Tapi para wartawan tak sepenuhnya lalai. Ke Surabaya misalnya waktu itu datang Rosihan Anwar, masih 23 tahun, bersarna Muhammad Supardi keduanya reporter Merdeka. Reportasenya kemudian dijadikannya bahan dalam bukunya yang kecil tapi penting, kisah-kisah Zaman Revolusi terbit tahun lalu oleh Pustaka Jaya. Tapi toh Rosihan sendiri mengakui kekurangan dalam reportasenya itu. Continue reading

Pidato Lengkap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno Tanggal 17 Agustus 1945

Selama ini masyarakat hanya mengenal teks proklamasi yang dibacakan Soekarno secara singkat pada pagi hari tanggal 17 Agustus 1945 di kediamannya, Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta. Padahal ketika menyatakan proklamasi, Soekarno yang didampingi Mohammad Hatta juga berpidato.

Berikut ini pidato lengkap Soekarno ketika memproklamasikan kemerdekaan atas nama bangsa Indonesia, sebagaimana dimuat dalam Berita Negara Republik Indonesia Tahun II No. 7, 15 Februari 1946:

Continue reading

Penyiaran Teks Proklamasi

domeiTempo 16 Agustus 1975. Saudara Waidan B. Palenewen di zaman pendudukan Jeang adalah kepala Bagian Radio Kantor Berita Domei di Jakarta.Ia bersama-sama marconis F. Wua adalah orang yang menyelenggarakan penyiaran teks Proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 pagi Teks itu diterimanya dari seorang wartawan yang bernama Syachruddin – sekarang almarhum. Berikutt ini adalah kisah penyiaran teks Proklamasi itu, yang kami petik dari karangan lebih panjang yang ditulis saudara Waidan B. Palenewen khusus untuk TEMPO:

TIGA PULUH tahun lamanya saya membungkem, mengira bahwa sumbangan saya terhadap Nusa dan Bangsa Indonesia itu soal biasa saja selaku kewajiban manusia Indonesia terhadap bangsanya. Tetapi lama kelamaan terfikirkan oleh saya akan kemurnian sejarah yang harus kita wariskan kepada generasi muda, yang akan menjadi jembatan pula antar generasi mendatang. Lahirlah ketetapan hati nurani saya untuk membeberkan peranan saya pada detik-detik Proklamasi itu.

Saya katakan di atas tadi kemurnian sejarah karena ternyata ada oknum-oknum tertentu yang ingin mengaburkan sejarah tersebut untuk kepentingan pribadi. Sekali lagi saya tekankan, bahwa saya menulis karangan ini bukan untuk mencari keuntungan pribadi akan tetapi semata-mata untuk pemurnian sejarah. Syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. kami sampai pada saat menulis ini masih dilindungi olehNya. Demikian juga halnya dengan marconis F. Wua yang puluhan tahun terpisah dari saya masih dilindungi olehNya sehingga bertemu dengan saya kira-kira tiga minggu yang lalu. Continue reading

Kenangan Manis, Sebuah Sejarah (KAA 1955)

TKAA1empo 28 April 1979. RUANG pameran Gedung Kebangkitan Nasional di jalan Abdurrachman Saleh, Jakarta, Senin pagi lalu tampak sepi. Hampir tidak ada pengunjung yang menonton Pameran Foto dan Dokumentasi Konperensi Asia-Afrika yang diselenggarakan Panitia Peringatan Tri-Windu Konperensi Asia-Afrika 18-24 April lalu.

 

Kurang dari 200 nama tertulis di buku tamu pameran. Suasana ceramah yang berlangsung di ruang pertemuan tidak jauh berbeda. Hanya 18 orang yang hadir dalam ceramah yang diberikan oleh Ubani, bekas Dubes Indonesia untuk Siria. Walau yang hadir sedikit, penceramah sendiri kelihatan bersungguh-sungguh. Beberapa pemuda yang hadir tampak membawa buku pinjaman dari perpustakaan Idayu yang bertempat di kompleks yang sama. Tertarikkah mereka pada peringatan Konperensi AA? “Iseng saja, mas, habis dari perpustakaan Idayu. Daripada bengong di rumah,” tutur salah satu dari mereka. Continue reading